
Satu setengah jam kemudian.
"Wow kamu cantik sekali!" seru Jack sambil menatap wajah Olivia tidak berkedip. Dia tidak menyangka setelah penampilan Olivia berubah wanita itu bahkan terlihat lebih cantik dari Dianaz.
Perawatan yang diberikan oleh salon langganan Milanie itu telah sukses membuat kulit Olivia terlihat lebih cerah dan fresh.
"Terimakasih atas pujiannya Tuan," ucap Olivia sambil tersenyum lalu menunduk.
"Daddy benar, mommy sekarang terlihat lebih cantik," timpal Elves.
"Terima kasih sayang. Kau ikut-ikutan saja," ucap Olivia sambil mencubit pipi Elves gemas.
"Sumpah mommy! Elves tidak bohong," ujar anak itu sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk piss.
"Iya deh. Nyonya Melanie belum selesai?" tanya Olivia kemudian.
"Mana bisa mommy selesai perawatan secepat ini. Mommy tuh paling cepat dua jam. Pokoknya dia mah maunya ini itu. Kalian jalan-jalanlah di sekitar tempat ini saja biar tidak sumpek jika duduk terus menunggu mommy," saran Jack agar Elves tidak bosan.
"Baik Dad, ayo mommy!" Elves menarik tangan Olivia dan berjalan-jalan mengitari bangunan salon yang begitu luas.
Setengah jam mereka berkeliling dan sekarang Elves sudah merasa kelelahan.
"Kita kembali ke daddy, Elves capek." Anak itu merengek.
"Baiklah."
Akhirnya Olivia menggendong tubuh Elves kembali ke sisi Jack.
"Oma belum selesai juga Dad?" tanya Elves dengan suara yang sudah mulai melemah. Sepertinya anak itu sudah mengantuk berat.
"Belum mungkin sebentar lagi," ujar Jack.
"Tuan sepertinya Elves sudah sangat mengantuk, bagaimana kalau saya membawa dia ke mobil terlebih dulu?"
"Ide yang bagus. Tidurkan dia di sana dan kamu makanlah! Ada kotak makan di dalam mobil, tadi siang Elves membelikannya untukmu."
"Baik Tuan.
Olivia beranjak ke mobil diikuti Jack dibelakangnya.
"Tuan ke sini juga?"
"Iya pintu mobilnya aku kunci," ujar Jack sambil memasukkan kunci ke lubangnya lalu memutar dan membuka pintu.
"Oh ya makanannya ada di sana!" tunjuk Jack pada kursi di depan tempat duduk Melanie.
"Iya Tuan, terima kasih"
Jack mengangguk dan Olivia menidurkan tubuh Elves sedangkan Jack kembali ke dalam salon untuk menemui Milanie. Pria itu ingin melihat apakah mommy-nya itu masih lama atau sudah selesai.
__ADS_1
Olivia yang memang sudah sangat lapar setelah menaruh tubuh Elves langsung mengambil makanan yang ditunjuk Jack tadi lalu duduk di samping Elves sambil melahap makanannya.
Sementara menunggu Milanie yang belum selesai-selesai juga, Jack berjalan-jalan ke butik yang berada di samping salon. Butik dan salon tersebut terletak dalam satu area karena merupakan milik satu orang.
Di dalam butik Jack langsung mencari beberapa setel pakaian yang sekiranya cocok untuk Olivia baik dari segi model maupun ukuran. Tidak sulit bagi Jack untuk menebak ukuran Olivia karena tubuh wanita itu persis dengan mendiang istrinya.
"Kalau tidak pas bisa ditukar kan Mbak?"
"Bisa Tuan apalagi Tuan Jack adalah salah satu langganan kami."
"Oke saya ambil lima setel ini!"
"Baik saya bungkus."
Jack William mengangguk. "Oh ya saya juga mau membeli setelan baju yang cocok untuk Elves."
"Silahkan!" Pelayan di butik pun menunjukkan beberapa setelan pakaian yang imut untuk anak. Ada setelan suspender, setelah Hoodie maupun setelan jas dan kemeja.
"Yang ini saja deh mbak kayaknya imut kalau dipakai Elves," tunjuk Jack ke arah setelan suspender.
"Hanya ini saja Tuan?"
"Ya, model yang lainnnya itu Elves sudah ada dan masih banyak yang belum kepakai."
"Oh baik, saya juga bungkus dulu."
"Kamu dari mana saja?"
"Beli baju buat Olivia sama Elves."
"Mommy nggak dibeliin?"
"Takut nggak cocok kan biasanya seperti itu, Mommy terlalu pemilih."
"Nggak apa-apa kamu Transfer uangnya saja!"
"Hah?!" Jack terbelalak.
"Kenapa?"
"Mommy sudah menghabiskan berapa juta di salon dan itu pakai uang saya semua dan sekarang minta ditansfer lagi?"
"Ayolah Jack masa sama mommy perhitungan dan sama Olivia malah nggak?!"
"Bukan begitu Mom, Jack hanya bingung saja, terus uang di rekening mommy mau diapain kalau Mommy minta Jack terus?"
"Untuk tabungan hari tua," jawab Melanie membuat Jack menggeleng. Rupanya sang mommy belum sadar kalau dirinya sudah tua.
"Ya sudah deh nanti Jack transfer."
__ADS_1
"Nah gitu dong, ayo kita pulang!"
Jack mengangguk lalu menuntun sang ibu menuju mobil.
Sampai di sana ternyata Olivia sudah menyelesaikan makanannya.
"Dia juga perawatan?" tanya Milanie melihat rambut dan wajah Olivia lebih cerah.
"Iya, tapi perawatan singkat nggak kayak Mommy yang sampai berjam-jam."
"Ayolah Jack jarang-jarang kamu mengajak mommy ke salon. Kamu jarang ada waktu untuk mengantar mommy ke tempat ini."
"Jack memang Jarang mengantar, tapi Pak sopir sering," goda Jack sambil tersenyum dan sang mommy hanya tertawa.
Meskipun Jack tidak ikut mengantarkan, tetapi pria itu tahu kalau sang mommy rutin ke salon setiap bulan dari tagihan kartu kreditnya.
Sudah yuk masuk Mom, kasihan Elves sudah terlelap di dalam mobil.
Mereka pun masuk ke mobil dan langsung pulang ke rumah.
"Sudah biarkan saya yang menggendong Elves saja," ujar Jack saat melihat Olivia hendak menggendong tubuh putranya. Jack berpikir kalau Olivia pasti akan kesulitan membawa tubuh Elves yang sudah tertidur itu.
Akhirnya Olivia mengangguk dan mundur ke belakang. Setelah Jack membawa tubuh Elves, barulah Olivia menyusul Jack di belakangnya.
Saat tubuh Elves sampai di atas kasur, Olivia lalu membuka sepatu dan kaos kaki anak itu sedangkan Jack William kembali ke mobil.
Beberapa saat kemudian pria itu kembali ke kamar Elves.
"Ini untukmu." Jack William menyodorkan beberapa paperbag ke tangan Olivia.
"Apa ini Tuan?"
"Pakaian untukmu, pakailah! Baju ini lebih layak dari baju-baju yang kamu miliki! Maaf bukannya mau meremehkan ataupun sombong, tapi saya yakin Reza akan lebih menyayangimu jika kau berpenampilan cantik. Jangan biarkan pelakor menghancurkan rumah tanggamu." Setelah mengatakan kalimat panjang itu Jack William meninggalkan kamar Elves begitu saja.
Di dalam kamar Elves, Olivia terbelalak.
"Jadi dia benar-benar tahu semua tentang masalah rumah tanggaku?"
"Oh ya yang di dalam paper bag yang warna cokelat itu punya Elves." Wajah Jack William dari balik pintu membuat Olivia kaget sampai mengusap dada.
"Astaghfirullah hal adzim, Tuan ngagetin saja," protes Olivia sedangkan Jack kembali pergi tanpa rasa bersalah padahal dirinya hampir saja membuat orang lain jantungan.
Olivia menarik nafas panjang sebelum akhirnya kembali ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri.
Namun, bukannya langsung masuk ke dalam kamar mandi, Olivia malah melihat-lihat dulu baju pemberian Jack William.
"Ternyata Tuan Jack adalah majikan yang perhatian juga," ujar Olivia sambil menatap setelan baju yang dipegangnya.
Bersambung.
__ADS_1