
"Olivia bangun, sudah subuh!" Jack mengguncang tubuh Olivia karena mendengar suara orang adzan samar-samar dari mesjid yang sedikit jauh dari kediaman mereka.
Olivia hanya melenguh panjang kemudian tertidur lagi.
"Oliv, bangun!"
"Daddy! Ada apa?"
Ternyata bukannya berhasil membangunkan Olivia malah membangunkan putranya sendiri.
"Daddy mau ngajak Mommy ninggalin Elves ke kamar sebelah seperti semalam?" tanya Elves karena Jack tidak menjawab.
Jack hanya menggaruk kepala mendengar pertanyaan dari Elves.
"Nih anak kenapa jadi seposesif seperti ini ya dengan Olivia? Perasaan dari dulu nggak gini amat deh," batin Jack.
"Ayo Daddy mau ngapain?"
"Astaga nih anak, Daddy cuma mau bangunin Mommy kamu biar shalat subuh."
"Oh."
"Mommy! Mommy bangun! Subuh!" seru Elves sambil mengguncang tubuh Olivia.
"Ada apa Elves?" Seketika Olivia langsung duduk mendengar suara Elves.
"Yaaa ... kalau dia yang bangunin gampang bangunnya giliran aku nggak ada respon," protes Jack dengan ekspresi cemberut.
Elves tersenyum mendengar keluh kesah Jack.
"Mas tadi bangunin Olivia?" tanya Olivia dan Jack menjawab dengan anggukan.
"Sorry tadi aku nggak dengar Mas mungkin karena masih mengantuk," ucap Olivia merasa bersalah.
"Yasudah nggak apa-apa."
"Tapi ada apa ya?" tanya Olivia bingung, rasanya masih sebentar dia tidur, tapi kenapa dua orang pria di hadapannya sudah membangunkan Olivia.
"Sudah waktunya shalat subuh Oliv," jelas Jack.
"Oh, kalau begitu Mas yang jadi imam ya!" pinta Olivia.
Jack menelan ludah mendengar permintaan Olivia. Dia yang jarang shalat semenjak kepergian Dianaz merasa tidak pantas menjadi imam shalat.
"Saya belum siap Oliv," tolak Jack dengan halus.
"Yasudah nggak apa-apa," ucap Olivia padahal di raut wajahnya tergambar jelas kekecewaan.
Olivia menginginkan seperti keluarga lainnya dimana punya suami yang bisa menjadi imam di rumah setiap melakukan shalat fardhu. Meskipun tidak harus selalu di setiap shalat lima waktu karena Olivia sadar Jack tidak akan selalu ada di rumah.
Olivia kecewa karena Jack tenyata sama saja tidak bisa memenuhi keinginannya itu.
"Yuk Elves kita ke kamar mandi!" ajak Olivia.
Elves mengangguk dan langsung turun dari ranjang.
Jack memperhatikan putranya yang begitu nurut dengan Olivia hingga Elves keluar dari kamar mandi dengan wajah segar karena habis mengambil wudhu' dibantu oleh Olivia.
Di belakangnya menyusul Olivia dengan wajah yang fresh pula.
"Bentar ya El, mommy ambil pakaianmu dulu!" Olivia berjalan cepat ke keluar kamar kemudian kembali dengan baju koko dan peci di tangan kanan dan mukena di tangan kirinya.
Dengan cekatan Olivia memasangkan baju koko dan peci ke badan Elves. "Anak Mommy ganteng banget."
"Terima kasih Mommy," ucap Elves sambil tersenyum manis.
"Sama-sama Sayang." Olivia balas tersenyum manis.
"Masyaallah." Jack merasa sangat tepat memilih Olivia sebagai ibu sambung untuk putranya. Dia bukan hanya mengurusi kebutuhan Elves tiap harinya, tetapi juga menanamkan kewajiban dalam agama semenjak dini.
"Ya Allah maafkan hamba yang sering lalai ini." Jack menghembuskan nafas berat. Dia sadar selama ini salah. Kata orang non muslim yang masuk Islam biasanya akan lebih rajin beribadah dibandingkan sebagian banyak orang yang sudah memeluk agama itu sejak lahir. Namun, kenapa itu tidak berlaku padanya setelah kepergian Dianaz?
"Astaghfirullahadzim." Jack mengusap wajahnya.
"Olivia tunggu!"
__ADS_1
"Olivia yang sedang memakai mukena langsung menoleh. "Ada apa, Mas?"
"Kita shalat berjamaah, aku yang jadi imamnya!"
Olivia mengangguk lalu tersenyum senang.
"Tunggu aku ke kamar mandi dulu ya!"
"Iya Mas, silahkan. Kita duduk dulu ya El!"
"Oke Mommy."
Setelah Jack sudah siap mereka pun langsung melakukan shalat berjamaah. Setelah salam Olivia langsung mencium tangan Jack diikuti Elves kemudian.
"Aku ke dapur dulu ya Mas," pamit Olivia.
"Ngapain?"
"Masak buat kalian. Sekarang kalian 'kan sudah menjadi suami dan anakku jadi sudah seharusnya saya memasak untuk kalian berdua, bukan?"
"Tidak usah Oliv, kemarin aja waktu jadi pengasuh Elves kamu tidak masak, masa sekarang harus turun langsung ke dapur?"
"Nggak apa-apa Mas, sesekali 'kan tidak apa-apa."
"Tapi kita baru menikah aku pikir masakan sudah disiapkan oleh para bibi dan kamu pasti akan dilarang untuk memasak."
"Kalau begitu Olivia buatkan minuman saja ya? Elves kan juga harus minum susu hangat."
"Oke, kalau begitu buatkan aku kopi susu saja."
"Baik Mas."
***
Sudah dua hari dua malam ini Elves semakin tidak bisa lepas dari Olivia membuat Jack hanya bisa pasrah dan mengalah.
Melanie dan nenek dari Olivia sudah sering membujuk Elves agar bersama mereka supaya Jack dan Olivia ada waktu berduaan. Namun, Elves menolak keras.
"Sudah Mom nggak apa-apa, suatu saat Elves juga tidak akan menempel terus seperti ini pada Olivia," ujar Jack pada Melanie dan Olivia sendiri hanya mengangguk sambil tersenyum.
Olivia yakin saat ini Elves hanya takut kasih sayang Olivia padanya akan direbut oleh sang Daddy, tetapi suatu saat nanti pasti Elves tidak akan seperti ini lagi.
Saat sedang asyik-asyiknya mengobrol di ruang tamu, ponsel Jack berdering.
"Siapa?" tanya Melanie.
"Frans Mom, mungkin ada yang mau ditanyakan, sebentar ya Oliv?" Jack bangkit dari duduknya melihat Olivia mengangguk.
Dia mengobrol serius lalu kembali ke samping Olivia dengan wajah yang terlihat lesu.
"Ada apa, Mas?" Olivia sudah bisa menebak pasti ada sesuatu yang tidak beres dari raut wajah Jack.
"Perusahaan yang di luar kota ada masalah Oliv dan akan sulit diselesaikan kalau aku tidak menangani langsung," terang Jack.
"Yasudah nggak apa-apa, Mas pergi saja."
"Tapi kamu sama Elves?"
"Kami 'kan sudah biasa ditinggalkan," ucap Olivia lalu terkekeh.
"Kan keadaannya sudah berbeda."
"Sudah ah, pergi sana! Kalau sudah kelar 'kan lebih cepat juga kembalinya."
"Baiklah," ucap Jack lalu berbalik dan melangkah ke arah tangga diikuti Olivia di belakangnya. Wanita itu membantu Jack untuk bersiap-siap.
"Pergi dulu ya istriku," pamit Jack sambil melirik sebentar ke arah pintu. Mengetahui Elves tidak mengikuti keduanya, pria itu langsung mengecup kening sang istri dilanjutkan ke kedua pipi Olivia.
"Hati-hati ya, Mas," ucap Olivia.
"Pasti," ucap Jack sambil melangkah ke arah pintu kemudian berhenti secara mendadak.
"Ada yang ketinggalan?" tanya Olivia sambil melihat ke arah Jack yang menaruh tasnya di lantai.
Jack mengangguk.
__ADS_1
"Katakan apa biar saya ambilkan!"
Jack tidak menjawab, melainkan berjalan mendekat ke arah Olivia.
"Ini yang ketinggalan," ucap Jack langsung mendekap erat tubuh Olivia lalu mengelus rambut wanita itu dan mengecupnya beberapa kali.
"Astaga!"
"Mumpung nggak ada Elves."
Olivia hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Jack.
"Kalau ketahuan dia kita seperti keciduk sedang selingkuh," ucap Jack kemudian, lalu terkekeh begitu juga dengan Olivia.
"Pasti aku akan sangat merindukanmu. Jaga diri baik-baik ya," ucap Jack sebelum pergi.
"Iya Mas, insyaallah."
Jack pun berpamitan pada semua orang.
Beberapa jam kemudian ponsel Olivia berdering. Wanita itu segera mengangkatnya.
"Mas Jack sudah sampai?" Olivia pikir Jack ingin memberitahukan keadaannya yang sudah sampai di kantor.
"Oliv apakah aku boleh meminta bantuan?"
"Ada apa, Mas?"
"Tolong ambilkan map yang berwarna biru yang aku letakkan di bagian paling atas meja kerja dan antar ke kantor ya pada Frans biar dia yang membawa map itu ke sini. Kalau kamu tidak bisa mengantarkan sendiri cukup titipkan saja pada pak sopir."
"Baik, Mas."
"Oke terima kasih ya."
"Iya, sama-sama."
Olivia langsung naik ke atas dan masuk ke ruang kerja Jack. Setelah mendapatkan map berwarna biru itu Olivia langsung mengubah panggilan teleponnya menjadi video call dan menanyakan apakah benar map yang dipegangnya itu yang diinginkan oleh Jack.
Setelah benar dia langsung membawanya keluar dari rumah.
"Mau kemana, Nak?" tanya Melanie melihat Olivia terburu-buru.
"Mau mengantarkan map yang ketinggalan ini Mom ke kantor. Mas Jack menyuruh saya mengantarkan pada Frans."
"Baiklah minta antar saja pada pak sopir yang standby di luar!"
"Baik Mom."
"Mommy ikut!" Elves mengejar langkah Olivia dan akhirnya ikut bersama Olivia ke kantor sang Daddy diantar oleh sopir keluarga mereka.
"Hai Oliv, apa kabar?" sapa Reza melihat Olivia melintas di hadapannya.
"Baik," jawab Olivia tanpa menoleh sedikitpun pada Reza karena dirinya memang sedang terburu-buru.
"Oliv!" teriak Reza. Namun, kali ini sengaja memang Olivia tidak meladeni mendengar suara yang memanggilnya itu adalah suara Reza. Wanita itu merasa malas.
"Ayo El, naik ke atas!"
"Olivia!" seru Reza sambil menarik tangan Olivia sehingga pintu lift yang tadinya terbuka tertutup kembali sebelum Olivia sempat masuk ke dalamnya.
"Ada apa sih? Saya sedang terburu-buru," kesal Olivia.
"Terburu-buru atau memang ingin menghindar dariku?"
Olivia menatap tajam Reza kemudian menggeleng, tidak paham dengan pemikiran Reza.
"Aku tahu kamu masih mencintaiku," ucapan Reza membuat Olivia muak.
"Maka aku dengan senang hati akan menerima dirimu lagi, aku tahu kamu tidak mencintai Tuan Jack, kan? Kau hanya terpaksa menikah dengannya."
"Maaf saya tidak punya banyak waktu. Ayo El!" Olivia hendak melangkah masuk lagi ke dalam lift, tetapi segera ditahan oleh Reza dengan cara menarik tubuh Olivia sehingga wanita itu hampir saja terjatuh. Namun, Reza segera menangkap tubuh Olivia sehingga posisi mereka persis seperti orang yang berpelukan.
"Wah ada yang bisa dijadikan bahan nih," ucap Meilin tersenyum licik.
Wanita ini segera mengambil gambar keduanya dengan ponsel.
__ADS_1
"Tunggu kehancuranmu Olivia! Sebentar lagi kau akan mendapatkan kemarahan Tuan Jack bahkan akan mendapatkan surat cerai untuk yang kedua kalinya." Meilin tertawa jahat dalam hati.
Bersambung.