
Setelah selesai berganti pakaian dan merias diri Olivia langsung menyusul Jack William ke bawah.
Saat Olivia sampai di lantai bawah, Elves yang melihat dirinya langsung menyusul.
"El kamu mau ke mana?" tanya Melanie melihat cucunya mengikuti langkah Olivia berjalan menuju pintu utama rumah.
"Sst! Oma jangan berisik, Elves mau ikut sama Mommy Olivia."
Melanie yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengangguk dan mengawasi cucunya dengan ekor matanya.
"Mau ke mana lagi sih mereka? Sudah mau malam juga," protes Melanie. Namun, dirinya terus melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk meminta dibuatkan minuman yang hangat-hangat oleh pembantunya.
"Sudah siap?" tanya Jack saat Olivia sudah masuk ke dalam mobil.
"Belum Daddy," sahut Elves dan terlihat berusaha membuka pintu mobil.
"El kenapa kamu ikut?" protes Jack.
"Memangnya Elves nggak boleh ikut mommy? Terus kenapa daddy malah boleh ikut?"
Olivia malah tersenyum mendengar pertanyaan polos dari anak asuhnya sedangkan Jack tampak menepuk jidat.
"Terus Elves pikir mobil ini akan bergerak kalau tidak ada yang nyetir?"
"Kan ada Pak sopir yang bisa mengantar mommy. Jangan-jangan Daddy ingin merebut mommy Olivia dari Elves ya!" Anak itu bersedekap dada sambil tersenyum sinis.
Jack hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Terus mau kamu apa?"
"Ikut!"
Jack menatap Olivia dan wanita itu mengangguk.
"Baiklah ayo masuk!" perintah Jack dan Elves tersenyum senang lalu masuk ke dalam saat pintu mobil dibuka kembali oleh Olivia.
Satu jam dalam perjalanan akhirnya Olivia sampai juga ke rumah Reza.
"Saya antar sampai di sini saja ya," ucap Jack saat Olivia baru turun dari mobil.
"Iya Tuan, terima kasih sudah mengantarkan saya."
__ADS_1
"Sama-sama."
Olivia melangkah ke arah pintu rumah. Namun, Elves menyusul Olivia.
"El jangan, kau tidak boleh ikut Mommy!" teriak Jack dan Elves sama sekali tidak mendengarkan.
"Itu dia Ma Olivia. Ya begitulah dia setiap hari, keluyuran dari pagi sampai petang." Terdengar suara Reza dari dalam rumah membuat Olivia menghentikan langkahnya sejenak.
Wati membuka pintu.
"Assalamualaikum, Ma."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, darimana saja kamu? Kenapa pulang hampir malam begini?" Wati langsung mencecar Olivia dengan pertanyaan. Dari raut wajah mertuanya itu Olivia tahu bahwa Reza pasti sudah mengadu macam-macam.
"Dari bekerja Ma," jawab Olivia santai. Dia tahu apabila dijelaskan nanti pasti Wati akan mengerti keadaannya. Mertuanya itu orang baik pasti pikirannya akan lebih terbuka daripada Reza sendiri.
"Ngapain kerja? Bukankah Reza sudah mencukupi kebutuhan kamu?"
"Ma, Mas Reza itu ...."
"Gajinya kecil Ma, ya gaji saya kecil jadi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan Olivia," potong Reza.
"Ya ampun Oliv, dikemanakan saja sih uangmu sampai gaji Reza tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian berdua."
"Itu tidak benar Ma, apa yang dituduhkan Mas Reza tidak benar. Saya terpaksa bekerja karena Mas Reza tidak memberikan uang belanja sepeserpun untuk Olivia," bantah Olivia akan penjelasan Reza.
"Terserah mama mau percaya atau tidak pada Reza, tapi mama bisa tanya sendiri sama tetangga-tetangga yang ada di sekitar sini, bahkan sudah beberapa hari ini Olivia tidak pulang ke rumah dan Reza membersihkan rumah dan memasak sendiri."
"Benar itu Olivia?"
"Tapi Ma, itu karena ...."
"Yang saya tanyakan benar tidaknya?!" bentak Wati dan Olivia terlonjak kaget melihat Wati tiba-tiba berubah kasar seperti itu.
"Ya benar," jawab Olivia tegas.
"Sudah kusangka." Wati terlihat menggelengkan kepala.
"Tapi itu Olivia terpaksa karena Mas Reza mengusir Olivia."
"Bohong Ma, itu hanya alasan saja. Mana buktinya kalau aku mengusirmu?"
__ADS_1
"Saya memang tidak punya bukti, tapi demi Allah Ma, saya bersumpah Mas Reza benar-benar mengusir saya karena dia tidak mau saya melarang dia berselingkuh dengan Meilin."
"Tutup mulutmu Olivia! Kalau kamu yang berselingkuh jangan melemparkan kesalahanmu padaku!" teriak Reza.
"Tapi itu kenyataannya Mas, kamu telah berselingkuh dengan kakakku sendiri!" bentak Olivia.
"Apa kau punya bukti menuduhku seperti itu?"
"Aku memang tidak punya bukti, tapi aku punya banyak saksi. Kalau Mama tidak percaya Mama bisa tanyakan saja Ma pada teman sekantor Mas Reza. mereka semua tahu skandal perselingkuhan antara Mas Reza dengan Meilin."
"Hmm, kalau mama bertanya ke sana itu bukanlah tempat yang tepat. Bagaimana mereka akan mengatakan yang sejujurnya jika pemilik perusahaan sudah merekayasa semuanya." Reza tersenyum sinis.
"Apa maksud Mas Reza?" tanya Olivia tidak mengerti.
"Apa hubungannya dengan pemilik perusahaan tempatmu bekerja?" tanya Wati juga tidak paham.
"Mama lihat ini!" Reza mengulurkan beberapa lembar foto ke arah Wati.
"Pria itu adalah pemilik perusahaan tempatku bekerja sekaligus selingkuhan Olivia," ujar Reza dengan begitu menggebu hingga membuat Olivia terlonjak kaget.
"Itu tidak benar Ma, itu fitnah."
Wati menatap satu persatu lembaran foto yang diberikan oleh Reza dimana foto itu diambil saat Olivia dan Jack juga Elves berlibur bersama. Ada pula foto Jack William yang memegang tangan Olivia di pinggir jalan saat Olivia sedang mencari rumah kontrakan.
"Aku tidak percaya padamu Olivia. Kupikir kamu berbeda dengan Marisa ibumu, ternyata sama saja. Bahkan kau lebih murahan daripada Marisa."
Mendengar perkataan Wati, Olivia terdiam sambil meneteskan air mata.
"Mommy!" teriak Elves lalu anak itu memeluk Olivia karena melihat baby sister nya itu menangis.
"Tuh kan Ma, Mama lihat sendiri bahkan anak pria itu terlihat akrab sekali dengannya."
"Sekarang saya setuju Rez jika kamu menceraikannya. Tidak ada alasan lagi bagi Mama untuk menolak keputusanmu," ujar Wati yang langsung membuat senyuman melengkung di bibir pria itu.
"Ceraikan secepatnya! Wanita seperti itu tidak pantas dipelihara sebagai seorang istri." Setelah mengatakan kalimat itu Wati langsung pergi.
"Kalau Mas Reza ingin menceraikan ku kenapa tidak langsung ceraikan saja, tidak perlu mengarang fitnah murahan seperti tadi. Bukankah aku sudah pernah meminta cerai pada Mas Reza?"
"Kamu pikir segampang itu Oliv? Tidak! Perceraian ini harus terjadi tanpa harus mencoreng nama baikku di depan kedua orang tuaku." Reza terkekeh.
"Dasar laki-laki pengecut. Ku tunggu surat cerainya! Ayo El kita pulang!" Olivia menarik tangan Elves keluar dari rumah.
__ADS_1
Bersambung.