Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 27. Menjadi Baby Sister


__ADS_3

"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Olivia. Wanita itu mencoba memejamkan mata tetapi tidak berhasil terlelap. Matanya memang terpejam tetapi pikirannya kemana-mana.


Saat tengah gelisah Olivia mendengar suara anak kecil yang seolah semakin mendekat ke arah kamar rawatnya.


"Kakak! Kakak!"


Seperti suara Elves," gumam Olivia lalu membuka mata. Tenyata setelah ditunggu-tunggu tidak ada yang membuka pintu. Suara Elves yang tadi seolah terdengar dari balik pintu menghilang begitu saja.


"Mungkin aku kesepian makanya sampai berhalusinasi seperti ini." Olivia menyimpulkan sendiri lalu terkekeh sendiri. Hidup bersama Reza sedikit membuatnya stres.


"Mana ibu kok lama banget ya?" Ibu yang dimaksud Olivia di sini adalah pelayan di rumah Jack William yang ditugaskan untuk menjaga dirinya sejak tadi siang.


"Kenapa aku jadi tidak sabaran seperti ini sih? Sudah tahu ibu tadi bukan cuma izin shalat tapi juga izin makan. Ya, pasti lama lah."


Tiba-tiba saja Olivia melihat televisi layar datar yang menempel di dinding. Wanita itu mengarahkan pandangannya ke segala penjuru untuk mencari keberadaan remote-nya, tetapi ternyata remote yang dia cari ada di dekat kepalanya.


"Ya ampun ini yang aku cari-cari dari tadi." Olivia pun memilih channel yang menayangkan acara yang sesuai dengan keinginan hatinya.


"Ampun gosip terus, hidupku sudah penuh dengan masalah mengapa harus memikirkan masalah orang lain juga?" Olivia memencet tombol remote untuk mencari acara lain.


Pilihannya kini jatuh pada salah satu acara petualangan. Lumayan meskipun Olivia tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang ada dalam layar televisi paling tidak dia melihatnya lewat layar kaca.


"Kakak nonton apa?" tanya Elves yang tiba-tiba saja berdiri di samping Olivia.


Olivia yang fokus pada acara televisi sontak saja langsung menoleh pada Elves.


"Jadi kamu benar-benar ada di rumah sakit ini?"


Elves mengangguk dan menaruh satu keranjang buah di atas sebuah meja.


"Tadinya Elves mau beliin camilan untuk kakak tapi kata Daddy kakak nggak suka dan nggak boleh makan camilan. Buah lebih sehat katanya."


Olivia mengangguk meskipun dalam hati memberontak.


"Siapa bilang aku tidak suka dan tidak boleh makan camilan? Camilan yang asin dan pedas-pedas malah makanan favoritku." Tentu saja kata-kata ini hanya dilontarkan dalam hati oleh Olivia sebab kalau sampai terdengar oleh Elves bisa saja anak kecil itu akan protes pada daddy-nya.


"Kakak nonton acara petualangan," sahut Olivia. Elves mengangguk dan langsung duduk di samping Olivia dengan sedikit melompat sebelumnya.


"Kenapa kembali ke sini dan kenapa belum tidur? Ini sudah malah loh," protes Olivia. Bukannya ia tidak suka Elves datang menemuinya, tetapi tepatnya lebih khawatir dengan keadaan anak itu.

__ADS_1


"Dia tidak mau tidur dari tadi dan ngotot ingin kembali ke sini," jelas Jack William yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dan berjalan ke arah Olivia.


"Jangan begitu dong Elves.Kalau sudah malam tidak boleh keluyuran kemana-mana. Sudah waktunya tidur loh."


"Aku mau tidur sama Kakak, malas tidur tiap malam ditemani Oma." Elves mengerucutkan bibirnya.


"Kalau begitu bagaimana kalau mulai malam ini tidur sama daddy saja?" Jack menawarkan diri meskipun sudah beberapa kali ditolak oleh Elves.


"Ogah daddy kalau tidur mendengkur, berisik, Elves juga nggak bisa tidur," tolak anak itu.


Mendengar kalimat penolakan dari Elves putranya, Jack William hanya geleng-geleng kepala sambil terkekeh. Olivia pun meringis lalu tersenyum.


"Jadi Elves maunya apa?"


"Malam ini tidur sama kakak ini dulu sebab besok kalau Kak Olivia sudah pulang Elves tidak akan bisa bertemu lagi."


"Oh jadi itu alasan kamu merajuk dari tadi?" tanya Jack William baru sadar kenapa putranya benar-benar ngotot ingin bertemu dengan Olivia malam ini juga padahal Jack William sudah menjanjikannya besok menjenguk Olivia.


Elves hanya mengangguk.


"Kan kakak punya handphone? Elves bisa menghubungi nomor kakak kalau ingin bertemu. Nanti kakak akan bertemu Elves di sela-sela kakak berjualan, atau kalau boleh kakak nanti mampir ke rumah Elves."


"Elves boleh kan tidur di sini Kak?" Elves meminta izin pada Olivia.


"Jangan! Kamu tidurnya banyak gerak nanti takut terkena tulang punggung Kak Olivia yang patah. Tidur di sini saja ya biar saya pesankan ranjang lain," bujuk Jack William.


Elves menggeleng.


"Sudah nggak apa-apa Tuan biar Elves tidur di di sini saja," ujar Olivia.


"Tapi–"


"Tidak apa-apa."


Jack William menghela nafas.


"Baiklah tapi hati-hati jangan sampai gerakan tidur Elves menghambat kesembuhanmu."


Olivia mengangguk dan Elves sudah memejamkan mata. Olivia mengelus-elus kepala Elves.

__ADS_1


"Kamu suka anak kecil?" tanya Jack William sambil memotong buah apel di tangannya melihat Olivia begitu perhatian kepada putranya.


"Iya Tuan."


"Bagaimana kalau kamu menjadi baby sister Elves saja? Dengan begitu kamu tidak perlu berjualan lagi dan saya berjanji akan membayar kamu sepuluh kali lipat dari hasil berjualan kamu biasanya. Bagaimana?"


"Bagaimana ya Tuan?" Olivia tampak berpikir.


"Aku mohon jangan menolak! Elves sangat membutuhkan baby sister untuk mengurusi segala keperluan dan menemani bermain. Dia tidak punya seorang ibu untuk untuk sekedar menemaninya bermain dan aku sendiri terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sehari-hari dia hanya bermain dengan Omanya karena tidak ada satu baby sister yang betah dengan Elves dan Mommy, tapi saya lihat sepertinya Elves menurut padamu."


"Saya sih sebenarnya mau Tuan, tapi Mas Reza mungkin saja tidak akan menyetujuinya."


"Kalau masalah dia biar aku yang membujuknya nanti, dia pasti mau. Kamu tenang saja, kamu tidak perlu menginap di rumah saya sebab kamu juga punya suami yang harus diurus. Setiap pagi kamu boleh datang ke rumah jam 8 atau 9 setelah Reza berangkat kerja dan menyelesaikan semua pekerjaan rumahmu. Malamnya kau cukup menunggui Elves sampai tidur lalu kau boleh pulang. Kau tenang saja Elves paling malam tidurnya jam 7. Sekarang saja yang rewel jam 7 belum tidur."


"Baiklah Tuan kalau Mas Reza setuju saya juga setuju." Sebenarnya Olivia bukan takut pada Reza hanya saja takut pria itu melaporkan kepada orang tuanya ataupun Marisa dan akan berimbas pada ketenangan sang nenek.


"Terima kasih," ucap Jack William sambil menyodorkan potongan buah ke mulut Olivia.


"Apa ini Tuan?"


"Buka mulutnya dan makanlah agar kau cepat sehat!"


Olivia mengangguk dan terpaksa membuka mulut lalu mengunyah potongan apel itu.


"Segar, bukan?"


Olivia mengangguk canggung. Namun, Jack William terus menyuapi mulut Olivia dengan potongan buah apel selanjutnya.


"Sudah Tuan."


"Makanlah biar cepat sehat dan bisa cepat menjaga Elves!"


"Tapi saya sudah kenyang Tuan."


"Ah baiklah. Akhirnya Jack William mengembalikan apel di tangannya ke dalam keranjang lalu mengelap tangannya dengan tisu basah.


"Minum dulu!" Jack William menyodorkan segelas air putih ke mulut Olivia.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2