
Esok hari saat Elves membuka mata ternyata Olivia sudah tertidur di sampingnya.
Anak itu bergerak dengan pelan turun dari ranjang. Dia ingin ke kamar mandi karena ingin buang air kecil tanpa harus membangunkan Olivia.
"Pelan-pelan Elves! Kasihan mommy, semalam tidak tidur," ujar Elves seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Elves tahu bahwa Olivia memang tidak tidur semalaman sebab saat dia membuka mata selalu saja melihat Olivia yang menatap iba kepadanya.
Elves turun dari ranjang dengan pelan sekali. Namun, tetap saja gerakan Elves membangunkan Olivia.
"Elves kamu mau ke mana sayang?" tanya Olivia sambil mengucek matanya lalu menatap Elves dengan penuh tanya.
"Mau pipis Mommy," sahut Elves.
Olivia mengangguk lalu duduk.
"Ayo mommy antar ke kamar mandi. Lain kali bangunin mommy saja. Kamu kan belum sehat juga, nanti bagaimana kalau jatuh di dalam kamar mandi?"
"Elves hanya tidak mau merepotkan Mommy, lagipula Elves juga akan hati-hati."
"Pokoknya kalau masih ada mommy di sini Elves harus diantar mommy. Elves masih kecil juga nanti cebokannya nggak bersih lagi."
Elves hanya mengangguk. Olivia langsung menggendong tubuh anak itu ke dalam kamar mandi dan membantunya membersikan *********** setelah selesai buang air kecil.
Keluar dari kamar mandi Olivia membaringkan tubuh Elves kembali dan dirinya pamit untuk membersihkan diri.
"Elves, mommy Olivia mau ke kamar mommy dulu ya. Mommy mau mandi sebentar setelah itu mommy kembali lagi ke sini."
"Baik Mommy."
Olivia mengangguk kemudian keluar dari kamar Elves menuju kamar lain yang juga ada di sebelah kamar itu.
Saat Olivia keluar, Jack memasuki kamar putranya.
"Bangun Elves sudah pagi!" Sekarang kita sarapan bersama dulu yuk, abis ini daddy mau berangkat ke kantor.
Elves menggeleng.
"Loh tumben nggak mau makan bareng sama daddy, bisanya kamu tuh nggak mau makan pagi kalau nggak bareng sama daddy."
"Elves nggak selera, lidah Elves terasa pahit."
Jack William mengernyitkan dahi.
"Tumben."
"Elves sakit, semalaman mommy nggak tidur."
__ADS_1
Sontak saja Jack William langsung meraba dahi putranya.
"Panas, kenapa nggak panggil daddy?" tanya Jack William kaget.
"Kan sudah ada mommy? Semalam Elves sudah dikasih obat oleh mommy."
"Elves, meskipun sudah ada mommy tetap saja kamu harus ngasih tahu daddy."
"Maaf Tuan semalam Bik Mona sudah ingin memanggil Tuan, tapi saya yang melarang karena takut mengganggu istirahat Tuan sebab Olivia pikir Tuan pasti lelah sehabis seharian bekerja."
"Lain kali jangan seperti itu lagi. Kalau terjadi sesuatu sama Elves kamu yang mau bertanggung jawab?!"
"Maaf Tuan." Olivia langsung menunduk mendengar suara majikannya yang sedikit meninggal. Dia tidak berani menatap Jack William sebab sudah dapat menebak wajah pria itu pasti terlihat murka saat ini.
"Maafkan kelancangan saya Tuan," ulangnya.
"Sudahlah sekarang ikut aku ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Elves!"
"Baik Tuan."
"Baiklah ayo!" Jack William langsung menggendong putranya menuju mobil sedangkan Olivia berjalan di belakang pria itu.
Sampai di dalam mobil jack William segera melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat dengan kecepatan yang tinggi.
"Tuan pelan-pelan Tuan!" Olivia sangat takut dengan kecepatan yang begitu tinggi. Dia juga berpikir Jack William melajukan mobilnya dengan cepat seperti ini karena marah padanya.
Jack William tidak menggubris perkataan putranya.
"Dad! Lihatlah mommy takut!" seru Elves.
Jack William Langsung menoleh ke belakang.
"Ah baiklah saya hanya ingin cepat sampai agar Elves segera ditangani," jelas Jack William sambil memelankan laju mobilnya kembali.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Kali ini Olivia yang menggendong tubuh Elves bukan Jack William lagi sebab Olivia tidak mau tanggung jawabnya diambil alih oleh majikan sebab dia dibayar. Dalam artian dia tidak ingin makan gaji buta nantinya.
"Mommy kalau lelah biar Elves gendong sama daddy saja," ujar Elves yang melihat Olivia seperti lemah pagi ini.
"Mommy nggak apa-apa, mommy masih kuat kok," sahut Olivia sambil tersenyum pada Elves dan anak itu balas tersenyum sambil mengangguk.
Jack William pun langsung membawa mereka ke dokter anak.
"Dia sakit lagi?" tanya dokter langganan Elves.
"Iya Dok," jawab Jack William. "Tolong segera tangani dia!" lanjutnya.
Dokter itu mengangguk. "Ayo berbaring sini!"
__ADS_1
Olivia pun langsung membaringkan tubuh Elvis di atas ranjang.
"Pasti makan snack sama cokelat lagi ya!" goda dokter tersebut sambil memeriksa Elves. Anak itu tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum saja.
Tubuh Elves rentan sakit, itulah alasan Melanie, sang oma tidak mengizinkan anak itu mengonsumsi makanan ringan dalam jumlah yang berlebihan. Namun, Elves akan tantrum jika keinginannya tidak dipenuhi bahkan anak kecil itu bisa kabur seperti saat pertama kali bertemu Olivia.
Yang paling merepotkan juga apabila Elves sakit dia tidak pernah mau minum obat. Kalau dulu biasanya dokter memberikannya sirup tapi semenjak dilarang, dokter lebih merekomendasikan obat untuk pasiennya dan itu sama sekali tidak disukai oleh Elves sehingga saat dia dipaksa minum obat dia akan kabur begitu saja. Jika tidak, dia akan menumpahkannya.
"Masih tidak bosen ya bertemu om dokter?" tanya dokter itu lagi, masih menggoda Elves.
"Elves masih senang kok bertemu Om dokter. Om dokter kan baik." Anak itu cengengesan.
"Sudah bisa minum obat?" tanya dokter tersebut sambil meraih obat di raknya.
Elves mengangguk.
"Bagus kalau begitu sebab kalau obatnya sampai dibuang lagi nanti om akan menyuntik bokon*mu saja," ancam dokter tersebut sambil menghaluskan beberapa obat kemudian membaginya ke dalam 10 helai kertas lalu melipat kertas yang telah terisi dengan obat yang dihaluskan tadi.
"Tenang Om dokter sekarang Elves sudah jago minum obat," jawab Elves begitu percaya diri.
"Ya, ya, ya harusnya memang seperti itu. Anak bandel tidak boleh takut sama obat."
Jack William hanya menggeleng mendengar percakapan antara dokter dan putranya.
Elves memang bandel meskipun dia demam, tetapi anak itu tidak pernah terlihat lemah saat sakit.
"Ini Obatnya." Dokter tersebut menyodorkan puyer ke tangan Jack William.
"Berikan pada dia saja!" Jack William menunjuk ke arah Olivia.
"Dia?"
Jack William mengangguk.
"Baby sister baru Elves," jelas Jack William.
"Beneran?" Dokter itu tidak percaya.
Jack William mengangguk lagi, kali ini disertai senyuman.
"Baby sister apa Nyonya?"
"Ya ampun dokter Mariano masih belum percaya juga? Dia tuh baby sister nya Elves. Kalau tidak percaya bisa tanyakan saja sendiri pada dia."
"Baik-baik saya percaya."
Dokter pun memberikan obat pada Olivia dan menjelaskan aturan minumnya.
__ADS_1
Bersambung.