Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 49. Tuhan Maha Penyayang


__ADS_3

Olivia dan Melanie menatap ke arah pintu.


"Tuan?!" Olivia kaget bercampur senang, bibirnya mengulas senyuman manis. Namun Olivia terlihat mematung sebab tidak begitu percaya dengan pemandangan yang tertera di depan mata.


"Kamu datang bersama siapa Jack?" tanya Melanie sambil menatap asing pada orang yang berada di depan Jack berdiri.


"Tanyakan saja pada Olivia!" suruh Jack pada sang Mommy.


"Nenek!" Akhirnya Olivia benar-benar percaya bahwa orang yang duduk di kursi roda tepat di depan Jack adalah neneknya sendiri.


"Oliv!" Mata tua itu memandang ke arah Olivia dengan bola mata yang sudah berkabut.


Olivia langsung berlari ke arah neneknya kemudian menyalami tangannya.


"Nenek tidak apa-apa? Kemana saja nenek semalam?" tanya Olivia sambil mengusap punggung neneknya.


"Dia ditemukan oleh seseorang, ditinggalkan sendirian di depan SPBU. Ada orang baik yang menolongnya dan membawa dia keluar kota. Tadi pagi saya mendapat telepon dari bibi bahwa kamu beberapa hari sibuk mencari neneknya. Jadi aku putuskan untuk memerintah beberapa orang untuk ikut mencari dan hasilnya sekarang nenekmu ada di sini."


"Terima kasih Tuan, Olivia tidak tahu harus membalas dengan apa. Olivia hanya bias berdoa agar Tuan dan keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT. Maafkan aku kalau selama ini sudah melalaikan tanggung jawab terhadap Elves."


"Aamiin dan tentang Elves tidak perlu minta maaf. Yang penting anak itu baik-baik saja karena saya tahu ini di luar kehendakmu."


"Terima kasih atas pengertiannya. Oh ya Tuan, untuk malam ini izinkan nenek beristirahat di sini dulu ya. Besok pagi Olivia akan mencarikan rumah kontrakan untuknya."


"Rumah kontrakan? Terus dia akan tinggal bersama siapa di rumah itu?"


"Rencananya saya akan kembali pulang setelah Elves tidur malam."


"Terus dari pagi sampai siang dia akan tinggal bersama siapa? Apa kamu mau ambil resiko kalau saja nenek tiba-tiba jatuh dan tidak ada yang menolong?"


Olivia tidak menjawab pertanyaan dari Jack sebab dia sendiri dalam keadaan bingung.


"Nanti saya akan carikan pengasuh yang mau digaji dibawah gaji saya." Setelah beberapa saat diam akhirnya Olivia mengambil keputusan.


"Kau yakin pengasuh itu akan benar-benar menjaga nenekmu? Kau tahu sendiri beberapa pengasuh Elves mengundurkan diri padahal tugasnya hanya menjaga Elves yang masih anak-anak dan gajinya lumayan besar untuk seorang pengasuh. Bagaimana kalau harus menjaga nenekmu dangdut gaji di bawah dirimu?"


Olivia terdiam untuk kedua kalinya.


"Bagaimana kalau nenek tinggal di sini juga?" tanya Jack menawarkan solusi.


"Memang boleh Tuan?" tanya Olivia antusias.


"Boleh tapi dengan satu syarat."


"Apa syaratnya? Apapun akan saya lakukan untuk bisa hidup bersama nenek."

__ADS_1


"Kehadiran nenekmu di sini jangan sampai merepotkan anggota di dalam rumah dan yang pasti jangan sampai kamu mengabaikan Elves."


"Baik Tuan saya setuju."


"Kalau begitu antar nenekmu ke kamar."


"Tuan bisakah saya meminta kamar yang lainnya? Kamar pembantu juga boleh."


"Kamar pembantu?" tanya Jack percaya Olivia meminta kamar pembantu untuk neneknya.


"Kenapa? Kamu tidak mau berbagi kamar?"


"Bu ... bukan Tuan."


"Terus?" Jack mengerutkan keningnya.


"Nenek 'kan pakai kursi roda jadi akan sulit jika harus naik turun dari lantai atas ke sini."


"Oh itu alasannya? Mari saya antar ke kamar tamu saja. Kasihan nenek pasti sudah kelelahan melakukan perjalanan panjang ke sana kemari mengikuti aktivitas saya hingga akhirnya kami pulang kemari."


"Baik Tuan."


"Mari Nyoya." Olivia kemudian mendorong kursi roda neneknya mengikuti langkah Jack menuju sebuah kamar.


"Kata bibi tidur sudah tidur Tuan."


"Oh begitu ya, kalau begitu saya akan ke kamar sambil melihat Elves di kamarnya. Kamu urusi saja nenek setelah itu mandi, kamu juga baru dari luar, bukan?". Jack bisa menebak dari penampilan Olivia yang terlihat kacau.


"Oliv, i .. ni rumah sia...pa?" tanya sang nenek terbata.


"Rumah majikan saya Nek. Nenek tenang saja majikan di sini baik-baik semua. Hanya saja saya minta satu hal pada nenek. Saya harap Nenek mengerti bahwa saya tidak bisa setiap waktu melayani Nenek sebab saya memiliki tugas untuk mengasuh anak dalam keluarga ini. Nanti Olivia akan perkenalkan Nenek dengan anak yang namanya Elves."


"Baik Oliv, Nenek paham," ujar sang nenek masih dengan suara yang terbata. Maklumlah neneknya itu terkena serangan stroke ringan.


"Nenek mandi dulu ya." Tanpa mendengarkan persetujuan neneknya dahulu Olivia langsung mendorong kursi roda menuju kamar mandi.


Sebentar saya hidupkan kran panasnya dulu biar nenek tidak kedinginan."


Setelah mencampur air panas dan air dingin menjadi air hangat Olivia dengan cekatan langsung memandikan neneknya. Setelahnya wanita itu beranjak ke dapur dan mengambil makanan kemudian menyuapi sang nenek.


"Sekarang nenek tidur ya! Olivia mau ke kamar Elves untuk mengecek keadaan anak itu."


"Iya Oliv, pergilah!"


Olivia mengangguk. Namun, sebelum pergi wanita itu membantu membaringkan neneknya di atas ranjang terlebih dahulu.

__ADS_1


"Kalau ada apa-apa bisa panggil bibi untuk menyampaikan pada Olivia," ujar Olivia lalu meninggal kamar neneknya menuju kamar Elves.


Sampai di pintu Olivia melihat Jack duduk di ranjang Elves. Melihat kedatangan Olivia Jack langsung menatap wanita itu.


"Elves sudah tidur," beritahunya.


Olivia mengangguk lalu berbalik.


"Eh Olive tunggu!" cegah Jack.


Akhirnya Olivia menghentikan langkahnya dan berbalik


"Ada apa Tuan?"


"Kemarilah saya ingin mengobrol sebentar!"


Olivia pun melangkah ke arah Jack dan duduk di samping pria itu karena Jack memang menepuk kasur di samping dia duduk.


"Ada apa dengan Elves Tuan? Apa ada yang salah?"


"Ini bukan masalah Elves tapi tentang nenekmu."


"Iya kenapa Tuan? Ada apa dengan nenek? Apakah Tuan ingin mengubah keputusan yang menampung nenek di rumah ini?"


"Jangan berburuk sangka Olivia. Saya hanya ingin membantu nenekmu agar sembuh. Bagaimana jika mulai besok kita bawa terapi?"


"Tuan, tapi saya tidak punya ua–"


"Kamu tidak perlu memikirkan apapun, hanya berikan saja persetujuan. Semua biaya pengobatan aku yang tanggung."


"Tuan serius?"


"Apakah aku pernah bercanda padamu?"


Olivia menggeleng. "Tidak," jawabnya.


"Baiklah jam 8 pagi kamu dan nenekmu harus sudah siap. Saya akan menelepon dokter," ucap Jack lalu bangkit dari duduknya dan menghubungi seseorang sambil melangkah keluar dari kamar Elves.


"Terima kasih banyak Tuan, semoga saja nanti saya bisa membalas budi baik Tuan dan Nyonya besar," gumam Olivia sambil menatap punggung Jack yang menghilang dari balik pintu.


"Terima kasih ya Allah, Engkau memang Maha pengasih dan Penyayang."


Olivia benar-benar bersyukur sebab Tuhan selalu memberikan jalan keluar dari setiap masalah hidup Olivia.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2