Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 23. Anak Kecil Yang Menggemaskan


__ADS_3

Sampai di rumah sakit Olivia segera ditangani.


"Oma bagaimana keadaan kakak itu?" Elves terlihat panik sambil menangis. Mungkin anak itu takut atau bahkan merasa bersalah sebab gara-gara dirinya Olivia malah tertabrak mobil dan pingsan.


"Kita tunggu informasi dari dokter dulu Elves," ujar sang oma.


"Bagaimana kalau kakak itu mati Oma, dia pasti akan menjadi hantu dan marah pada Elves," rengek anak itu kemudian sambil mengusap air matanya yang semakin deras saja.


"Tenanglah, kakak itu pasti selamat." Sang oma menenangkan sang cucu yang semakin menangis.


Elves mengangguk dan mengusap air mata di pipinya meski air mata masih bercucuran dari pelupuk matanya.


"Makanya Elves jangan suka ngambekan. Oma kan hanya melarang Elves agar tidak makan snack secara berlebihan, eh Elves malah berlari kabur-kaburan dari Oma dan pak sopir. Jadi gini kan, kakaknya itu malah ketabrak mobil."


"Maafkan Elves Oma, hiks, hiks, hiks." Bukannya diam, perkataan omanya itu malah membuat Elves semakin kencang menangis.


"Sut, sut, sut, jangan nangis! Oma salah ngomong ya?" Perempuan setengah tua itu menjadi panik.


"Bagaimana kalau Elves ditangkap polisi Oma? Hiks, hiks."


"Biar daddy kamu yang menggantikan," sahut Omanya itu sembarangan sebab terlalu panik melihat cucunya menangis terus dari tadi.


"Huwaaa, aku tidak mau Daddy dipenjara." Elves malas makin kencang menangis.


"Elves Oma cuma bercanda, jangan nangis dong sayang."


Saat cucu dan oma itu sedang berbicara, pintu ruang pemeriksaan tampak dibuka dari dalam. Terlihat seorang dokter yang berjalan menghampiri Elves dan Omanya.


"Yang mana keluarga pasien?" tanya dokter tersebut.


Pria pengendara mobil yang menabrak Olivia bangkit dari duduknya dari sebuah kursi dan berjalan ke arah dokter.


"Saya Dok," sahut Oma dari Elves dan pria yang menabrak Olivia itu secara bersamaan.


"Maaf saya harus menyampaikan bahwa pasien mengalami fraktur tulang atau tulangnya retak. Jadi untuk beberapa hari ini pasien tidak dianjurkan untuk banyak bergerak dulu."


"Baik Dok, apa yang bisa saya lakukan untuk kesembuhan pasien?" tanya perempuan setengah tua itu.


"Ya tentu saja harus melayani segala keperluan pasien dan menjaga pasien agar tidak banyak bergerak. Lebih baik saya sarankan untuk beberapa hari pasien dirawat di rumah sakit agar kami bisa memantau keadaannya," jelas dokter.


"Lakukan yang terbaik Dok, saya akan membayar semua biaya pengobatannya."


"Biar saya Nyonya yang mengurus, biarkan pasien ini menjadi tanggung jawab saya saja. Nyonya bawa pulang saja cucu Nyonya. Saya lihat tadi cucu Nyonya menangis terus. Mungkin cucu Nyonya takut dengan rumah sakit ataupun dokter," saran pria tersebut.

__ADS_1


"Saya nggak takut Om," bantah anak itu sambil mengerucutkan bibirnya. Dia tidak suka dikatakannya penakut kecuali memang hanya takut dengan hantu saja.


"Beneran tidak takut sama dokter?" tantang pria tersebut.


"Beneran, Pak dokter itu baik suka menyembuhkan pasien. Iya kan pak dokter?"


Dokter yang berdiri di pintu itu pun mengangguk sambil tersenyum.


"Tuh kan?"


"Adek kecil tahu nggak kalau pak dokter itu tuh punya jarum suntik yang besar banget dan jarum itu dikhususkan untuk menyuntik anak kecil yang nakal dan cengeng alias suka menangis "


Sontak saja Elves memandang wajah omanya untuk meminta penjelasan benar tidaknya perkataan pria yang berdiri di hadapannya kini dan Omanya malah mengangguk membenarkan perkataan pria tersebut yang sama sekali tidak benar.


Dalam hati Omanya itu berharap agar Elves tidak nakal dan ngambekan lagi juga tidak mudah menangis seperti sebelum-sebelumnya.


"Baiklah kalau anda yang mau menanggung semua biaya rumah sakit dan juga mau mengurus pasien, saya dan cucu saya akan pulang sekarang juga."


"Baiklah, serahkan saja semuanya pada saya insyaAllah saya akan mempertanggungjawabkan perbuatan saya yang telah tidak sengaja menabrak wanita yang ada di dalam itu."


"Oke, kalau begitu kita pulang sekarang ya Elves!" ajak Omanya itu, tetapi anak kecil itu menggeleng tidak mau.


"Kenapa? Sudah ada Om ini yang menjaga kakak di dalam," terang Omanya.


"Elves mau lihat keadaan kakak itu," rengek balita tersebut.


Elves merosot dari gendongan Omanya dan berlari ke arah ranjang rumah sakit dimana tubuh Olivia sekarang terbaring lemah.


"Kakak tidak apa-apa?" tanya Elves dengan raut wajah khawatir.


"Aku tidak apa-apa, adik ganteng baik-baik saja?" tanya balik Olivia.


Elves mengangguk.


"Maafkan Elves yang telah membuat kakak seperti ini."


"Nggak apa-apa, itu bukan salah kamu tetapi sudah takdir dari Tuhan Yang Maha Esa. Eh namamu Elves ya? Pasti ayahmu orang bule," tebak Olivia sambil menatap wajah Elves yang seperti kebule-bulean.


"Elves tidak tahu kakak bertanya apa," ujar anak tersebut polos. Elves duduk di pinggir ranjang.


"Maksudnya orang tua adik ganteng ini pasti orang luar. Luar negeri maksudnya."


Elves menggeleng. Dia tidak mengerti dengan luar negeri.

__ADS_1


"Oma apa yang dikatakan kakak ini? Elves tidak paham," ujar Elves sedangkan yang ditanyakan kini sedang melamun tatkala melihat dengan jelas wajah Olivia.


Dia benar-benar mirip dengan Dianaz menantuku. Apakah ini menantuku yang ternyata masih hidup dan lupa ingatan?


"Oma!"


"Ah iya, Elves tanya apa tadi?"


"Apakah daddy orang bule?"


"Ah, iya, iya. Daddy-nya Elves orang Eropa. Dia pindah ke negara ini karena mengejar almarhumah mommy Elves. Kehidupan rumah tangga mereka sukses dan sampai putra saya Jack membangun perusahaan di negara ini. Saya pun kemudian diboyong ke sini juga." Menjawab sambil menatap tidak berkedip ke arah Olivia.


"Oh, pantes saja Elves cakep kayak bule-bule."


Anak kecil itu bersedekap dada dan tersenyum manis ke arah Olivia.


"Oh ya Nak, namamu siapa?"


"Nama saya Olivia Nyonya."


Wanita itu mengangguk-angguk.


"Nama yang bagus, perkenalkan nama saya Melanie."


"Senang bertemu anda Nyonya Melani."


"Senang bertemu kamu juga Nak Olivia. Maafkan cucu saya ya sebab gara-gara dia kamu harus masuk rumah sakit."


"Tidak apa-apa Nonya. Ini semua kan hanya faktor ketidaksengajaan. Semuanya sudah ada yang mengatur."


Oma Melani mengangguk.


"Saya juga minta maaf ya Mbak bukan maksud saya ingin menabrak Mbak Olivia tapi saya terlambat menginjak rem."


"Iya tidak apa-apa Mas saya maafkan kok. Saya tahu Mas nya tidak sengaja."


Pria itu mengangguk.


"Sebaiknya Om pulang saja biar Elves yang menjaga kak Olivia," suruh Elves pada pria yang berdiri di sampingnya.


"Kamu mengusir Om?" tanya pria itu tidak percaya.


"Mimpi apa aku semalam, anak masih bau ketuban malah berani-beraninya mengusir saya," ujar pria tersebut gemas dengan tingkah Elves.

__ADS_1


"Om tidak boleh menyukai kak Olivia!" Anak kecil itu memeluk Olivia seolah dirinya dan Olivia adalah satu keluarga yang tidak ingin terpisahkan.


Bersambung.


__ADS_2