
"Maafkan mommy ya! Mommy ganti dengan celengan punya mommy," ujar Olivia sambil mengambil celengan yang sempat dibelinya dulu sebab dia berniat saat gajian bisa menyisihkan uangnya sedikit karena dia tidak memiliki rekening bank untuk menabung.
"Tidak usah ini untuk Mommy saja," ujar Elves.
"Mommy tidak mau," tolak Olivia sambil memasukkan uang tabungan Elves ke dalam celengan miliknya.
"Kenapa dimasukkan lagi, kan mommy butuh uang?" Elves bingung dengan sikap Olivia.
"Ini uang Elves dan hak Elves bukan hak Mommy. Bagaimana kalau daddy marah?"
"Daddy tidak akan marah, Elves janji tidak akan memberitahu Daddy." Anak itu mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas membentuk piss.
"Tidak sayang." Olivia tetap tidak mau.
"Kalau begitu ambil saja nanti kalau mommy sudah punya uang ganti lagi," ujar Elves membuat Melanie mengangguk bangga dengan kepintaran cucunya.
Olivia terdiam sejenak, sepertinya usul Elves bagus juga.
"Tapi tidak, bagaimana kalau Tuan Jack mengetahui sebelum aku sempat menggantinya? Daripada aku kehilangan pekerjaan ini lebih baik aku kehilangan rumah itu," batin Olivia. Mungkin terlihat egois tapi itu demi kebaikan keluarganya juga. Jika Olivia dipecat belum tentu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan jika bertahan dia masih bisa mengontrak rumah untuk nenek dan ibunya.
Olivia menggeleng sambil tersenyum.
"Tidak sayang, mommy tidak butuh uang ini," ucap Olivia sambil terus memasukkan uang ke dalam celengan hingga habis tak bersisa.
"Sana simpan lagi ke tempatnya!" perintah Olivia sambil menyodorkan celengan itu ke hadapan Elves.
Elves dengan raut wajah kecewa menggeleng dan tidak menerimanya.
"Baiklah kalau begitu saya yang akan meletakkan di kamarmu." Olivia bangkit berdiri dan melangkah ke arah pintu.
Melanie yang melihat Olivia berjalan ke arahnya segera bersembunyi lalu mengikuti langkah Olivia ke arah kamar Elves dari belakang.
"Wah dia benar-benar jujur dan tidak ingin memanfaatkan kepolosan Elves," gumam Melanie saat melihat Olivia menaruh celengan itu di salah satu rak di kamar cucunya.
"Tunggu dulu! Mungkin Olivia takut Elves suatu saat akan mengadu. Bagaimana kalau aku jebak saja? Siapa tahu kali ini Olivia baru bisa ketahuan belangnya," ujar Melanie sambil mengangguk-angguk.
Wanita tua itu lalu berjalan ke arah kamar Jack dan membuka laci dimana ada kotak perhiasan milik Dianaz.
"Sepertinya ini akan lebih menggoda." Melanie mengeluarkan perhiasan dari kotaknya dan membiarkan kotaknya terbuka dan berantakan. Setelahnya dia menaruh obat sakit kepala tepat di samping perhiasan itu.
"Kelar. Aku ingin melihat reaksi Olivia ketika melihat ini." Buru-buru wanita itu keluar dari kamar Jack dan pura-pura mencari Elves di kamar Olivia.
"Ada apa Nyonya?" tanya Olivia yang melihat Melanie melihat ke arah kamarnya yang terbuka.
"Elves mana? Sudah waktunya makan siang, jangan sampai terlambat."
"Elves ada di sini. Iya Nyonya saya akan segera mengurus makan Elves."
Melanie mengangguk lalu pergi.
"Ayo El kita ke ruang makan!" Olivia mengandeng tangan Elves menuju ruang makan dimana Melanie sudah menunggu mereka.
Tanpa banyak bicara Olivia langsung mengambilkan makan dan menyuapi Elves karena sudah tahu akan makanan kesukaan anak asuhnya. Sementara Melanie fokus makan sendiri.
__ADS_1
Setengah jam berlalu akhirnya Elves menyelesaikan makanannya begitupun dengan Melanie.
"Aduh kepala saya pusing banget!" Melanie meringis sambil memijit keningnya.
"Nyonya kenapa?" tanya Olivia sambil berjalan ke arah Melanie lalu menyentuh kepala wanita tua itu.
"Kepalaku sakit banget Oliv, rasanya ingin pecah," ringis Melanie.
"Boleh saya pijit Nyonya?"
Melanie mengangguk dan berkata, "boleh."
Olivia pun mengangguk.
"Maaf." Olivia langsung memijit kepala Melanie.
"Enak sekali pijatanmu. Bisa pijitkan leher juga," ujar Melanie. Sepertinya wanita itu hampir lupa dengan rencananya yang ingin mengetes Olivia.
"Baik Nyonya."
Olivia pun berpindah ke pundak dan leher Melanie.
"Kau sungguh berbakat, mengapa tidak buka panti pijat saja?" tanya Melanie reflek.
Olivia malah tertawa mendengar pertanyaan Melanie.
"Kok malah tertawa?" protes Melanie sebab Olivia bukannya menjawab malah tertawa.
"Maaf lancang," sesal Olivia karena pasti Melanie menganggap dirinya malah menertawakan majikannya itu.
"Saya tidak mau menjadi tukang pijat karena takut yang datang malah para pria. Kan bahaya Nyonya? Apalagi kalau sampai istri-istri dari mereka berpikiran macam-macam," ucap Olivia polos.
"Lah kan bisa milih khusus untuk para wanita."
"Nyonya benar, tapi lain kali saja sebab saya tidak punya uang untuk menyewa tempat."
Mendengar pernyataan Olivia Melanie kaget sebab usulnya yang hanya basa-basi itu diterima begitu saja oleh wanita itu.
"Kau benar-benar mau melakukan itu kalau ada uang untuk sewa tempat?"
"Kenapa tidak Nyonya, bukankah pekerjaan itu halal?"
"Apakah gaji dari Jack kurang?" tanya Melanie kemudian.
"Tidak Nyonya gaji di rumah ini sudah banyak sekali malahan, hanya saja kebutuhanku yang banyak apalagi rumahku hampir ... ah, sudahlah. Apakah kepalanya sudah mendingan Nyonya?"
Tiba-tiba Melanie teringat akan rencananya.
"Sudah mendingan tapi rasanya kepalaku nggak akan sembuh kalau belum minum obat. Tolong ambilkan ya Olivia!"
"Baik Nyonya, obatnya ada di mana?"
"Di kamar Jack."
__ADS_1
"Di kamar Tuan Jack?" tanya Olivia heran.
"Iya sebab stok di kamarku sudah habis."
"Baik Nyonya."
"Ikut Mommy!" seru Elves.
"Elves jagain Oma aja ya!" pinta Melanie sambil meringis membuat Elves tidak tega meninggalkan Omanya. Anak itu mengangguk saja.
Olivia langsung berjalan cepat menapaki tangga. Sampai di kamar Jack wanita itu langsung menerobos masuk.
"Mana ya kotak obatnya?" Olivia mencari-cari keberadaan kotak obat di dinding kamar Jack, tapi tak mendapatinya juga.
Tiba-tiba matanya terarah pada sebuah laci di salah satu meja dekat tempat tidur.
"Mungkin Tuan Jack menyimpannya di sana." Segera Olivia mendekat.
"Maaf Tuan jika saya lancang, tetapi ini demi kebaikan Nyonya," ucap Olivia sambil menarik laci itu.
"Masyaallah cantik sekali." Perhiasan yang berkilau langsung membuat mata Olivia tertuju pada benda itu. Tangannya gemetar menyentuh perhiasan itu padahal dirinya hanya ingin melihat saja.
"Bentuknya juga bagus, ini pasti mahal sekali," ujar Olivia terpana dengan liontin dari berlian itu.
"Tapi mengapa diletakkan sembarangan seperti ini? Ah Tuan Jack begitu teledor, seharusnya perhiasan seperti ini diletakkan di lemari khusus." Olivia memasukkan kalung itu ke dalam kotaknya.
"Lalu obatnya mana ya? Ah ini dia." Setelah mengambil obat Olivia bergegas keluar dari kamar dan memberikan obat pada Melanie.
"Oh ya Nyonya saya boleh tidak izin keluar sebentar untuk mencari nenek saya?"
"Boleh, pergilah!"
"Saya khawatir akan keadaan Nyonya, tapi juga takut nenek saya kenapa-kenapa."
"Tidak apa-apa paling setelah minum obat kepala saya akan sembuh seperti sebelum- sebelumnya. Lagipula di sini ada bibi-bibi, kan yang bisa menjaga saya?"
"Benerannya Nyonya?"
"Ya pergilah sana asal Elves kau bawa." Melanie harus berjaga-jaga agar Olivia tidak kabur begitu saja. Dengan membawa Elves paling tidak wanita itu akan ribet jika harus melarikan diri. Melanie curiga sebab Olivia begitu terburu-buru setelah dari kamar Jack.
"Baik Nyonya, ayo El!"
Setelah Olivia dan Elves meninggalkan rumah, buru-buru Melanie melangkah ke arah kamar Jack untuk memeriksa perhiasan Dianaz yang dijadikan umpan tadi.
"Beneran perhiasan itu tidak ada?" Jantung Melanie jedag-jedug sebab perhiasan itu sudah tidak terlihat lagi di tempatnya.
Dengan gemetar dia meraih kotak perhiasan dan membuka.
Matanya terbelalak melihat perhiasan di dalamnya masih utuh.
"Ternyata Olivia hanya merapikannya saja." Melanie bernafas lega.
"Sepertinya saya semakin tertarik untuk menjadikan dia menantu. Dia benar-benar wanita yang jujur meskipun keadaannya sedang terdesak. Ah Jack, kapan kau move on dari Dianaz?" Wanita tua itu tersenyum senang.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus merencanakan sesuatu," batin Melanie.
Bersambung.