
Kau pikir keberadaanku di sini halu?" tanya Jack sambil lalu tersenyum saat Olivia menatap ke arahnya.
Olivia hanya menggeleng dengan senyum malu-malu.
"Gimana terima nggak?" tanya Jack memastikan. Lagi-lagi Olivia tidak tahu harus menjawab apa.
Jack menoleh ke belakang dan mengambil sesuatu.
"Jika kamu menerima cintaku maka ambillah bunga ini!" perintah Jack sambil menyodorkan bunga ke hadapan Olivia.
Olivia mengangguk lalu dengan wajah bersemu merah dia mengambil buket bunga dari tangan Jack.
"Terima kasih saya suka bunganya," ucap Olivia lalu mencium bunga di tangannya.
Jack hanya mengangguk lalu tersenyum.
"Sudah yuk turun!" ajak Jack saat melihat orang-orang ramai masuk ke dalam.
Olivia mengangguk dan keduanya turun dari mobil.
Jack mendekat dan menggenggam tangan Olivia membuat jantung Olivia jedag-jedug saja.
Saat mereka masuk beberapa karyawan Jack yang juga merupakan teman kerja Reza sudah memadati ruangan dan mengambil menu prasmanan.
"Sudah acara ijabnya?" tanya Jack pada salah satu karyawannya.
"Sudah Tuan."
"Oke, lanjutkan makan kalian!"
"Baik Tuan."
"Kita naik ke pelaminan," ajak Jack tanpa mau melepaskan genggaman tangannya. Dia tidak tahu bahkan Olivia hampir sesak nafas karena grogi ditatap semua orang.
"Selamat ya! Maaf saya telat karenakan baru kembali dari luar kota." Jack mengulurkan tangannya ke arah Reza kemudian Meilin. Namun, tangan yang satunya masih menggenggam tangan Olivia.
"Tuan!" Olivia melirik tangan kanannya yang dipegang oleh Jack sebab juga ingin mengucapkan selamat.
"Oh sorry lupa," ucap Jack lalu melepaskan genggaman tangannya.
"Selamat ya Mas Reza," ucap Olivia sambil mengulurkan tangan dengan senyum yang mengembang di bibir.
"Terima kasih," jawab Reza dengan ekspresi datar.
__ADS_1
Olivia mengangguk lalu beralih ke arah Meilin.
"Selamat ya Kak Meilin!" Sengaja Olivia mengeraskan panggilan kakak agar semua rekan-rekan kerja Reza tahu bahwa sebenarnya dirinya dan Meilin bersaudara.
"Semoga bahagia, sakinah mawadah warahmah," ucap Olivia lagi dan Meilin langsung menarik tangan Olivia hingga tubuh mereka berbenturan. Jack yang melihatnya menatap tajam ke arah Meilin.
Menjadi perhatian para tamu, Meilin langsung memeluk tubuh Olivia agar para tamu tidak berprasangka macam-macam.
Kemudian Meilin berbisik di telinga Olivia. "Jangan munafik kamu! Apa yang kamu ucapkan tadi berbanding terbalik 'kan dengan keinginan hatimu?"
Olivia membenarkan posisinya berdiri, tidak bersandar lagi pada tubuh Meilin.
"Aku wanita polos, jadi apa yang terlihat dari luar itulah dalamnya. Aku bergerak dan berbicara sesuai kehendak hati," ucap Olivia sambil terus menyunggingkan senyum termanisnya agar orang-orang percaya bahwa dirinya sama sekali tidak menyesal bercerai dari Reza.
Setelah menyalami kedua mempelai, Jack dan Olivia terus menyalami kedua mantan mertua Olivia dan juga kedua orang tua Meilin.
"Wah Tuan Jack terima kasih sudah hadir di pesta pernikahan anak saya padahal saya tahu Tuan Jack pasti sibuk," ucap Marta menyapa sang bos.
Ya Marta adalah seorang manager dari salah satu perusahaan cabang dari perusahaan Jack William.
"Sama-sama, saya sudah biasa meluangkan waktu jika ada salah satu karyawan yang menikah asal undangan sudah saya terima jauh-jauh hari."
Marta mengangguk. "Tuan memang atasan yang baik. Maaf siapa wanita yang berdiri di samping Anda?" tanya Marta sambil melirik ke arah Olivia dengan tatapan sinis. Dia ingin agar Jack memperkenalkan Olivia sebagai pembantunya agar semua orang tahu posisi Olivia yang sebenarnya dan yang terpenting Olivia tahu diri.
"Oh hanya pembantu ya! Hati-hati loh dengan pembantu Tuan. Saya dulu pernah mempunyai pembantu yang berkhianat, dia menusukku dari belakang padahal saya majikannya," sindir Marta sebab itulah posisi Marisa dulu sebelum menikahi suaminya.
"Waw dan perlu Tuan ingat juga seorang wanita yang suka mengkhianati suami hanya karena uang, dia bisa saja mencuri apabila melihat benda yang berkilau," timpal Wati. Yang dimaksud benda yang berkilau di sini adalah emas ataupun berlian.
Olivia menunduk. Dia takut Jack akan terprovokasi dengan perkataan dua wanita setengah baya di depannya.
"Kalau tentang itu kalian jangan khawatir, saya tahu wanita seperti apa yang bisa dipercaya dan seperti apa yang tidak." Jack melirik ke arah Meilin seolah menyindir wanita itu.
"Ya semoga saja suatu saat Tuan Jack tidak akan menyesal memilih pembantu seperti dia," ucap Marta lagi membuat semua orang yang tadinya fokus menikmati hidangan prasmanan langsung menatap ke atas pelaminan.
"Insyaallah saya tidak akan menyesal. Dulu Olivia memang pembantu, tetapi sekarang dia adalah calon Nyonya Jack William!" seru Jack dengan meninggikan suaranya karena sudah kesal mereka seolah ingin menghina Olivia.
"Apa! Nyonya?"
Semua tamu undangan terbelalak tidak percaya. Namun, ada juga yang tersenyum karena menganggap Olivia adalah wanita baik dan layak bersanding dengan Jack, atasan mereka.
"Jangan gembira dulu Olivia, Tuan Jack hanya tidak ingin kamu malu," bisik Reza.
"Kalau kalian tidak percaya saya bawakan undangan pernikahan kami untuk kalian. Ini satu undangan, tapi mewakili semuanya. Kalau ingin hadir semua silahkan. Kami tidak akan menolak dan sudah pasti akan menyediakan menu yang cukup." Jack mengulurkan undangan pernikahan ke tangan Meilin.
__ADS_1
Bukan hanya keluarga Meilin dan Reza beserta tamu yang terkejut, tetapi Olivia juga.
"Tuan?"
"Kita pergi dari sini Olivia!" Jack menggenggam tangan Olivia dan membawa wanita itu turun dari atas pelaminan.
"Nikmati makan kalian dan aku pamit duluan," ucap Jack sambil mengangkat tangannya ke atas saat beberapa karyawan mengentikan menyendok makanan mereka dan hendak menemui Jack.
"Baik Tuan." Mereka duduk kembali.
Marta menarik Meilin ke sisi pelaminan dan berbisik, "Bagaimana ini Meilin, kenapa kamu tidak mengatakan tentang mereka sebelumnya?"
"Meilin tidak tahu Bu bahwa Tuan Jack akan melamar Olivia. Yang Meilin tahu hubungan mereka hanya sekedar antara majikan dan pembantu."
"Ini tidak adil, dia kehilangan Reza tetapi mendapatkan yang lebih baik dari suami yang kau rebut," geram Marta.
"Ya sudah Bu biarkan saja, itu berarti sudah rezeki Olivia mendapatkan jodoh Tuan Jack."
"Tidak, ini tidak boleh terjadi! Kau harus merebut Tuan Jack dari Olivia!"
"Bu saya mencintai Mas Reza."
"Persetan dengan cinta, balas dendam kita belum terlampiaskan. Kau ingat tidak bagaimana ibunya dulu merebut ayahmu dari tangan kita?"
"Bukankah sudah cukup Bu, Meilin sudah merebut Mas Reza dari tangannya?"
"Tidak, dia belum menderita."
"Kalau begitu ibu suruh Koni saja!"
"Dia masih sekolah."
"Ya sudah hentikan balas dendam ini!"
"Tidak, kita harus melakukan sesuatu. Kalau kamu tidak ingin mendekati Jack dan mau menggoda berarti kita harus mencelakai Olivia agar tidak jadi menikah dengan Tuan Jack!" Marta mengepalkan kedua tangannya.
"Hei kalian bicara apa?" tanya Wati kepada besan dan menantunya.
"Ah tidak Jeng, saya hanya meminta setelah acara resepsi agar Meilin membawa Reza menginap di rumah kami dulu," bohong Marta sambil tersenyum manis padahal dalam hati sangat kesal dan ingin mengumpat.
"Menganggu pembicaraan orang saja," batin Marta.
Bersambung.
__ADS_1