
Lalu dengan cekatan dia mengirim video yang direkamnya tadi tanpa khawatir Jack akan tahu bahwa dirinya yang mengirimi video tersebut karena menggunakan ponsel lain.
"Lepaskan!" Olivia menyentak tangannya dari tangan Reza lalu menarik tangan Elves.
"Sekali lagi kau kurang ajar padaku, aku akan lapar Mas Jack," ancam Olivia lalu wanita itu masuk ke dalam lift tatkala melihat pintunya terbuka. Dia berpapasan dengan Frans yang ingin keluar.
"Nyonya Olivia?" Frans menahan pintu yang hampir tertutup.
"Saya ingin mengantarkan map ini," ucap Olivia sambil menyerahkan map berwarna biru ke tangan Frans.
"Thanks, saya akan segera mengantar pada Tuan Jack. Nyonya bisa bersantai di ruang kerja beliau dan saya pamit pergi!" Jack langsung keluar dari pintu lift yang kemudian langsung tertutup.
"El kita balik saja ya!"
"Nggak mommy, Elves sudah lama tidak jalan-jalan di sini."
"Ah baiklah kalau begitu kita ke atas." Olivia memencet nomor lantai teratas.
Di depan ruangan Jack dia disambut baik oleh sang sekretaris.
"Mau masuk ke dalam Nyonya?"
"Memang boleh?" tanya Olivia ragu meskipun dia sangat ingin masuk. Dia sebenarnya hanya berniat mengajak Elves keliling-keliling di lantai tersebut.
"Tuan Jack tadi menelpon dan mengatakan kalau Nyonya Olivia maupun Elves ke sini suruh masuk saja."
"Oke, kalau begitu kami masuk saja."
"Maaf Nyonya Olivia sekalian saya nitip tempat ini sebentar ya sebab saya harus turun ke lobby. Ada sesuatu yang harus saya urus."
"Baik."
"Terima kasih Nyonya."
"Sama-sama."
Sektretaris dari Jack pun melangkah pergi sedangkan Olivia masuk ke dalam tanpa menutup pintu agar kalau ada orang di luar dia bisa melihat sekaligus antisipasi siapa tahu ada karyawan yang mempunyai niat buruk terhadap perusahaan, Jack maupun Frans dan juga sekretaris yang baru saja pergi.
"Mommy duduk sini!" Elves duduk di tempat duduk Elves dan mengajak Olivia juga ikutan duduk.
"Mommy mau melihat-lihat keadaan di ruangan ini dulu El," tolak Olivia sambil memandang takjub ruangan Jack. Rapi, bersih, dan warna catnya yang cerah membuat Olivia betah.
"Kalau itu kamar daddy kalau malas pulang!" seru Elves sambil menunjuk ruangan di dalam ruangan kerja Jack.
"Memang Daddy pernah nggak pulang?"
"Pernah dulu saat sibuk, bahkan kata oma sejak kematian Mommy Dianaz, Daddy sempat beberapa hari tidak pulang."
__ADS_1
Olivia mengangguk-angguk mendengar penjelasan Elves.
"Ini kuncinya, kalau Mommy ingin masuk," Elves meraih kunci kamar itu yang diselipkan di bawah pot bunga.
"Kau malah tahu letak kuncinya?" Olivia heran.
"Iya Mommy, daddy pernah bilang kalau Elves ke sini dan daddy tidak ada, ambil kunci di sini dan tidur di dalam."
"Apa tidak apa-apa ya kalau Mommy juga ikut masuk?"
"Memang kenapa? Mommy, kan sudah menjadi Mommy Elves?"
"Tapi Mommy nggak berani kalau tanpa izin daddy kamu."
"Enggak apa-apa Mommy, Elves yang tanggung jawab," jawab anak itu sambil bersedekap dada.
Olivia hanya menggelengkan kepala. Anak kecil seperti Elves mana tahu arti tanggung jawab, begitu pikir Olivia.
"Hmm, Mommy nggak percaya. Kalau begitu tolong telepon daddy untuk Elves!" pintanya.
"Ngapain El, Daddy kamu pasti sibuk. Jadi, jangan ganggu dulu!"
"Sebentar saja Mommy, please!" Elves menyodorkan ponsel ke arah Olivia.
"Baiklah." Olivia yang tidak kuasa dengan desakan Elves langsung mengiyakan.
"Ada apa Oliv, kalian baik-baik saja, kan?" Jack bertanya dengan sedikit syok karena baru mendapatkan kiriman Video Olivia berada dalam pelukan Reza.
"Alhamdulillah, Mas. Oh ya Elves mau ngomong."
"Kamu nggak mau ngomong sesuatu padaku?"
"Mau ngomong apa ya, Mas?" Olivia tampak berpikir.
"Oh ya, jangan lupa jaga kesehatan. Sesibuk apapun Mas Jack di sana jangan sampai melupakan makan."
"Iya Oliv, tidak ada yang ingin kamu sampaikan lagi?"
"Tidak ada. Ini Elves sudah tidak sabaran ingin mengobrol denganmu."
"Hah! Baiklah," ucap Jack sambil menghela nafas berat. Sebenarnya dia berharap Olivia menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan Reza. Namun, dia kecewa Olivia tidak jujur dan tidak terbuka padanya.
"Halo Daddy!" Sapaan Elves dalam telepon langsung membuyarkan lamunan Jack.
"Halo Elves!"
"Kapan Daddy pulang?"
__ADS_1
"Kan Daddy baru berangkat? Ini juga masih dalam perjalanan belum sampai-sampai eh malah ditanyain kapan pulang," protes Jack membuat Elves langsung tertawa.
"Ada apa menelpon Daddy?"
"Elves cuma mau minta izin ngajak mommy ke dalam kamar Daddy yang ada di ruangan kantor."
"Oh itu, masuk saja."
"Oke Dad thanks. Assalamualaikum."
Sebelum Jack sempat membalas salam terlebih dahulu Elves menutup panggilan telepon.
"Ya ampun tuh anak." Jack hanya menggeleng lalu fokus menyetir kembali.
Setelah membuka kamar di ruangan Jack, Elves langsung merebahkan tubuhnya. Dia teringat saat Jack membawa dirinya bekerja dulu. Jack selalu menidurkan dirinya di ranjang tersebut jika Elves sudah mengantuk.
Berbeda dengan Elves yang fokus termenung. Olivia fokus pada lukisan wajah wanita di dinding tepat di atas kaki Elves yang berselonjor.
"Mengapa aku merasa lukisan itu mirip denganku?" Olivia terpaku sesaat. Dalam hati berpikir apakah Jack meminta seseorang melukis wajahnya tanpa sepengetahuan Olivia.
"Itu lukisan mommy dan gambar wajah Mommy," ucap Elves melihat Olivia tidak berkedip memandang ke arah lukisan.
"Oh seperti itu wajah mommy kamu?" Entah mengapa perasaan Olivia mendadak tidak nyaman.
"Iya Mommy, itu sih kata Daddy karena Elves tidak pernah melihat secara langsung. Kata Oma mommy meninggal setelah melahirkan Elves."
"Elves aku tinggal dulu ya, aku mau melihat ruangan kerja Daddy."
Elves mengangguk dan Olivia berjalan ke arah kursi kebesaran Jack. Tangannya terulur membuka laci di hadapannya entah kenapa Olivia penasaran dengan isi di dalamnya. Namun, dia urung karena merasa lancang jika harus membuka tanpa izin.
Saat hendak beranjak pergi Olivia menyadari ada bingkai foto yang terletak di atas meja kerja Jack.
"Dia?" Olivia meraih foto tersebut dengan tangan yang bergetar.
Olivia bukannya cemburu karena Jack masih meletakkan foto-foto Dianaz di kantor bukannya dirinya. Namun, yang membuat dia takut wajah mantan istri Jack yang benar-benar mirip dengannya.
Di luar Meilin meletakkan pesanan makan di meja sekretaris. Dia yang melihat raut wajah Olivia syok penasaran dengan apa yang dilihat oleh Olivia.
Meilin berjalan pelan masuk ke ruangan Jack dan mengintip dari belakang. Melihat foto yang dilihat oleh Olivia dia tersenyum senang.
"Baru sadar ya kalau Tuan Jack menikahimu hanya karena wajahmu yang mengingatkan dia akan Nyonya Dianaz? Heh kasihan sekali hidupmu! Sebenarnya Tuan Jack tidak pernah mencintaimu, tapi hanya menjadikanmu pelampiasan rindu pada mendiang Nyonya Dianaz," cibir Meilin.
"Pasti saat menidurimu dia akan menganggapmu Nyonya Dianaz."
Olivia terpaku mendengar ucapan Meilin. Dia mulai ragu dengan perasaan Jack terhadap dirinya.
"Sepertinya Meilin benar," batin Olivia tidak dapat menyanggah pendapat Meilin meskipun dia tahu Meilin sangat membenci dirinya.
__ADS_1
Bersambung.