
Lama Jack William duduk di kantin dan memainkan sendok saja karena dia tidak berselera untuk makan siang ini. kedatangannya ke kantin memang sekedar ingin bermata-matai Reza semata.
Lama Jack berdiam diri di sana dan baru pergi setelah Reza meninggalkan kantin.
"Ini untukmu!" Jack meninggalkan uang di atas meja sebagai imbalan kepada karyawan tadi yang telah membantunya agar posisi Jack tidak terlihat oleh Reza maupun Meilin.
"Terima kasih Tuan."
"Hmm." tanpa berlama-lama lagi Jack langsung kembali ke ruangannya dan memanggil Frans.
"Ada apa Tuan?" tanya Frans saat sudah sampai di depan Jack William.
"Cari tahu tentang keluarga Olivia! Maksud saya tentang nenek dan ibunya."
"Baik." Tanpa banyak pertimbangan Frans langsung menyatakan kesanggupannya.
"Ada lagi Tuan?"
"Tidak ada kau boleh kembali ke ruang kerjamu."
"Baik Tuan."
Di rumah, Olivia menjaga Elves sambil termenung.
"Mommy! Mommy! Lihatlah!" Elves menyodorkan buku gambar ke depan wajah Olivia dan itu langsung membuat Olivia tersadar.
"Ah apa Elves? Kamu bertanya apa tadi?" tanya Olivia dengan ekspresi terkejut.
Elves menggeleng. "Tidak Elves hanya mau memperlihatkan ini. Bagus tidak mommy?" tanya anak itu sambil memandang lekat wajah Olivia.
Olivia langsung menatap gambar dalam buku itu. Wanita itu terlihat kagum. "Ini hasil gambarmu?"
"Iya Mommy, bagus tidak?" tanya anak itu antusias.
"Bagus banget El," ucap Olivia begitu bangga, padahal Elves masih belum genap empat tahun dan belum bersekolah juga. Rencananya tahun ajaran baru ini Jack baru akan memasukkan putranya di sekolah paud.
"Beneran Mommy?" Anak itu terlihat senang.
"Iya sayang, kau berbakat tenyata."
"Terima kasih Mommy. Mommy tahu ini gambar siapa?"
"Gambar Elves sama daddy, iyakan?" tebak Olivia.
"Iya benar, dan yang ini?" tanya Elves lagi.
"Oma Melanie dan yang ini Mommy Dianaz, iya, kan?"
"No, ini mommy Olivia," ujar Elves sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Dan yang ini baru Mommy Dianaz." Elves menunjuk seorang wanita yang seolah terbang di atas mereka sambil melayangkan senyuman.
"Oh." Olivia tidak bisa berkata-kata lagi, dia benar-benar tidak menyangka Elves sepandai itu dalam melukis. Sosok Dianaz digambarkan sebagai seorang peri dan terlihat samar dengan pemandangan di sekitar sehingga Olivia hampir saja tidak bisa melihatnya.
"Kata Oma, Mommy sudah jadi bidadari di alam yang berbeda. Dia cantik dan selalu tersenyum apalagi kalau melihat Elves dan Daddy bahagia, Mommy akan semakin bahagia."
"Oh ya?"
Elves mengangguk.
Terus kenapa gambar Mommy Dianaz terlihat samar?"
"Itu karena Elves dan semua orang yang ada di sini tidak bisa melihat Mommy Dianaz, tapi Mommy sendiri bisa melihat kita," ujar anak itu dengan begitu ceria. Tidak terlihat gurat kesedihan sama sekali di wajah Elves. Olivia pikir itu terjadi karena sejak lahir Elves tidak pernah melihat ibunya sehingga tidak pernah merasakan kehilangan.
"Anak pintar." Olivia langsung memeluk dan mengecup kening Elves kemudian mengusap-usap kepalanya. Olivia menitikkan air mata sebab teringat dengan nasib Elves yang kekurangan kasih sayang ibunya sejak kecil.
"Mommy menangis lagi?" tanya Elves saat tidak sengaja air mata Olivia jatuh di pundak Elves yang saat ini menggunakan kaos oblong saja.
"Ah tidak," jawab Olivia dan langsung mengusap air matanya. Namun, itu sudah terlambat sebab Elves sudah melihat semuanya.
Elves hanya menatap wajah Olivia tanpa bertanya lagi.
"Makan siang yuk setelah itu mandi dan tidur," ajak Olivia dijawab anggukan oleh Elves.
Keduanya pun beranjak ke meja makan untuk menikmati santapan siang.
Malam hari Jack mengecek kembali profit perusahaan dimana pekerjaan itu sudah dilakukan di kantor, tetapi dia malah melakukan ulang pekerjaan itu sebab tadi siang tidak begitu fokus.
"Baguslah ternyata perusahaan untung besar, tidak salah aku mengikuti saran Frans." Jack tersenyum, meletakkan proposal dan menutup laptop dengan helaan nafas panjang. Dia benar-benar puas melihat perkembangan perusahaan yang begitu pesat.
Dering telepon yang tadinya sempat mati berbunyi kembali.
"Siapa sih?" gumam Jack William lalu meraih ponselnya yang diletakkan sembarangan di belakang laptop.
"Frans, ada kabar apa dia?" Segera Jack mendeal panggilan dari Frans.
"Ada apa Frans?"
"Saya sudah mendapat informasi tentang keluarga Nona Olivia Tuan."
"Bagus, tapi bisakah kamu mengirimkan informasi itu melalui chat saja? Saya takut pembicaraan kita didengar oleh Elves maupun Olivia ataupun yang lainnya. Ya walaupun saya percaya pada semua orang yang ada di sini tapi tidak ada salahnya kan kita berhati-hati?"
"Baik Tuan."
"Oke, kutunggu."
Pembicaraan pun beralih dari panggilan suara menjadi chat.
Tok tok tok.
__ADS_1
"Daddy! Daddy!"
Terdengar suara ketukan pintu diiringi suara Elves. Jack William yang baru selesai chat-tan dengan Frans langsung melangkah ke arah pintu dan membukanya.
"Ada apa? Kau belum tidur?"
"Tadi sudah tidur tapi terbangun lagi dan Mommy Olivia sudah tertidur pulas. Elves tidak tega jika harus membangunkannya."
"Baiklah kalau begitu biar Daddy saja yang temani kamu tidur."
Elves mengangguk dan pasrah saja ketika Jack langsung menggendong tubuhnya dan membawa ke dalam kamarnya sendiri.
"Sekarang tidurlah!" perintah Jack sesaat setelah membaringkan putranya di atas ranjang.
Namun, bukannya tidur anak itu malah bangkit dan duduk.
"Loh belum mau tidur juga? Ini sudah malam loh Elves," proses
Jack.
"Daddy tahu kenapa Mommy akhir-akhir ini suka menangis? Apa karena pria yang kita datangi rumahnya itu?"
"Tunggu Mommy Olivia menangis?" tanya Jack penuh selidik sebab saat bersamanya Olivia terlihat tegar menghadapi semuanya.
"Ya, waktu itu di rumah pria itu, tadi siang di kamar ini saat Elves menggambar."
"Kau menggambar?"
Anak itu mengangguk dengan bangga.
"Kata Mommy gambarnya bagus dan Elves berbakat, berbakat itu apa Daddy?"
"Berbakat itu artinya kalau kemampuan menggambar kamu terus diasah hasil gambarmu akan semakin bagus dan menarik banyak orang."
"Oh tapi mengapa Mommy Olivia malah menangis?" Elves mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di pipi kanannya.
"Oh kalau itu mungkin Mommy Olivia teringat sesuatu yang membuatnya sedih atau justru Elves yang nakal ya sehingga Mommy Olivia merasa lelah menjaga Elves?"
"Nggak Dad, Elves selalu nurut kok sama Mommy Olivia."
"Begitu ya? Sudah deh kalau begitu biar Daddy aja yang tanya pada Mommy Olivia langsung kenapa dia suka bersedih akhir-akhir ini. Sekarang Daddy mau lihat hasil menggambar Elves. Sebagus apa sih hingga Mommy Olivia mengatakan kamu berbakat."
Elves mengangguk lalu turun dari ranjang dan melangkah ke arah laci. Dia mengambil buku gambar dari sana dan langsung memberikan pada Jack.
Jack William terbelalak melihat hasil gambar Elves.
"Bagaimana Daddy?"
Jack tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia begitu terharu sebab sang putra menuruni bakat mommy-nya.
__ADS_1
Bersambung.