
Tiga bulan sebelas hari kemudian nenek dari Olivia berhasil melawan total kelumpuhannya dengan terapi setiap hari.
"Alhamdulillah ya Allah akhirnya nenek bisa sembuh juga," ucap Olivia sambil melangkah ke arah neneknya yang memegang sapu.
"Nenek mau nyapu?" tanya Olivia dan dijawab anggukan dari neneknya.
"Saya sudah sembuh Oliv jadi saya tidak boleh ongkang-ongkang kaki di rumah ini. Biaya yang dibutuhkan untuk membayar terapi nenek pasti sangat mahal. Jadi, nenek harus berguna di rumah ini walaupun tidak begitu dibutuhkan."
"Iya Nek." Olivia tidak bisa berkata apa-apa. Walaupun dia tidak ingin neneknya bekerja di usia tua, tapi bagaimanapun dia punya hutang budi terhadap Melanie dan Jack dan tidak enak pula jika sang nenek tinggal dan makan gratis di tempat itu tanpa berbuat apa-apa.
"Olivia kita berangkat!" seru Jack dari atas tangga. Hari ini mereka akan memenuhi undangan pernikahan Reza dan Meilin.
Olivia menoleh lalu tersenyum ke arah Jack.
"Elves tidak ikut?"
"Tidak, dia tidak mau tadi pas aku ajak. Masih fokus dengan gambarnya."
"Oh."
"Mommy hari ini tidak kemana-mana 'kan?" tanya Jack pada Milanie yang melangkah ke arah mereka.
"Kau lihat sendiri 'kan Jack penampilan Mommy seperti apa?" Bukannya menjawab malah membuat pertanyaan.
"Memangnya Mommy mau kemana?" tanya Jack sambil menilik penampilan Melanie dari atas sampai bawah.
"Biasa mau pergi arisan," jawab Melanie sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Nenek bisa menjaga Elves untuk kami?" Kini Jack beralih menatap ke arah nenek Olivia.
"Bisa Tuan," ucap nenek itu sambil mengangguk.
"Baiklah kalau begitu temui Elves di kamarnya dan temani dia!"
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi. Nyonya." Nenek membungkuk di hadapan Melanie dan Melanie hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Jack mengangguk dan nenek langsung berjalan cepat menaiki tangga.
"Mommy mau Jack antar atau pergi dengan pak sopir?"
"Dengan pak sopir saja. Kalian berangkatlah lebih dulu!"
"Baik kalau begitu kami pamit," ucap Jack sambil menyalami tangan Melanie diikuti Olivia setelahnya.
"Sudah mempersiapkan diri, kah?" tanya Jack saat mereka sudah duduk di mobil dan belum menghidupkan mesin mobilnya.
"Maksud Tuan?" Olivia tidak paham apa yang ditanyakan Jack sebab tanpa bertanya pun seharusnya pria itu tahu bahwa Olivia sekarang sudah dalam penampilan yang siap pergi ke pesta.
"Maksudku menyiapkan hati, saya tidak mau melihat kamu melow di pesta pernikahan Reza nantinya."
"Hmm–" Olivia mengangguk sedangkan Jack menatap intens wajah Olivia sambil tersenyum.
__ADS_1
"Eh kenapa Tuan menatap saya seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Olivia terlihat gugup sambil memeriksa penampilannya sendiri.
"Tidak." Jack menggeleng tanpa mau mengalihkan pandangannya dari Olivia.
Olivia menunduk dan merasa tidak nyaman.
"Olivia aku ingin bertanya sesuatu. Bolehkah?" tanya Jack dengan suara yang lembut.
"Tanyakan saja apa yang ingin Tuan tanyakan."
"Baik." Jack menghela nafas lalu memandang ke depan. Tiba-tiba pria itu merasa nervous dan mendadak lidahnya kelu.
"Ah nanti saja," batin Jack lalu mulai menghidupkan mesin dan mengendarai mobilnya menuju hotel tempat acara pernikahan Reza dan Meilin.
Setengah jam dalam perjalanan tidak ada yang bersuara. Olivia mengangkat wajah dan melirik ke arah Jack. Wanita itu mengernyitkan dahi.
"Aneh, mau ngomong apa dia sebenarnya?" Olivia bertanya-tanya dalam hati.
Jack pun ikut melirik, tatapan mereka bertemu dan Olivia langsung pura-pura melihat ke arah lain sedangkan Jack tersenyum lagi.
"Oliv!"
"Ya Tuan." Olivia menjawab tanpa menoleh.
"Berapa hari sudah kamu resmi berpisah dengan Reza?"
"Hmm ... sepertinya sudah tiga bulanan Tuan." Sebenarnya Olivia tidak mau mengingat akan hal itu, tapi terpaksa karena Jack yang bertanya.
Jack mengangguk-angguk.
"Seharusnya masa Iddah mu sudah selesai, bukan?"
"Ya seharusnya," jawab Olivia tanpa beban. Dia benar-benar sudah melupakan akan perasaannya pada Reza dan tidak ada niat untuk mencari pengganti makanya tidak pernah memikirkan tentang masa iddah.
Baginya hidup bersama sang nenek dalam satu atap dan juga Elves sudah membuat dia bahagia. Dia tidak mau kalau sampai menikah lagi akan berpisah dengan kedua orang yang sangat dia sayangi itu.
"Tidak ingin mencari jodoh lagi?" tanya Jack penuh kehati-hatian.
Olivia menggeleng.
"Kenapa?"
"Ada banyak alasan. Yang pertama kalau saya sampai menikah saya akan terpisah dengan nenek dan beliau akan tinggal dimana? Kedua berpisah dengan Elves dan mungkin suami saya nanti akan melarang saya untuk ketemu dengan anak itu."
Entahlah rasanya Olivia tidak sanggup berpisah dengan Elves.
"Yang ketiga Saya masih punya tanggung jawab terhadap pekerjaan di rumah Tuhan Jack."
"Bagaimana kalau kamu bisa menikah tanpa meninggalkan ketiganya?"
"Bagaimana mungkin Tuan? Suami saya pasti akan membawa saya ke rumahmu seperti Mas Reza dulu."
__ADS_1
Jack langsung menghentikan mobilnya secara mendadak. Dia baru sadar sudah sampai di depan hotel tempat acara.
"Oliv, bagaimana kalau aku yang melamarmu?" tanya Jack tiba-tiba sebelum turun dari mobil.
"Tuan jangan bercanda," sahut Olivia dengan posisi menunduk lagi.
"Oliv–"
"Kita sudah sampai lebih baik kita turun!" Olivia hendak membuka pintu mobil. Namun, tangannya ditahan oleh Jack.
"Oliv aku serius, tolong dengarkan aku meskipun jawabanmu tidak seperti yang aku harapkan." Nada suara Jack yang begitu menyentuh itu membuat Olivia langsung menoleh.
"Tuan saya–"
"Aku mencintaimu, saya berharap kamu memiliki perasaan yang sama denganku."
"Saya tidak pantas untuk Tuan. Tuan adalah seorang bos besar dan saya hanya seorang babu. kita tidak sepadan."
Entahlah meskipun sebenarnya Olivia juga menyukai pria itu, tetapi selama ini selalu berusaha menepis perasaannya sendiri karena alasan yang sama dengan yang diutarakannya pada Jack.
"Aku tidak perduli, bukankah cinta tidak mengenal kasta? Kau ingin menjadi Mommy Elves yang seutuhnya 'kan?"
Olivia menghembuskan nafas berat lalu menyadarkan tubuhnya. Elves adalah kelemahannya meskipun anak itu bukan siapa-siapanya.
"Apakah kalau saya menolak, Tuan akan memisahkan saya dengan Elves?"
"Saya tidak tahu, yang jelas saya akan menghindar darimu agar bisa melupakan perasaan ini."
"Huufff!" Olivia menghembuskan nafas berat.
"Tuan tidak sedang nge-prank saya 'kan?"
Jack menggeleng.
"Bagaimana kalau saya menerima Tuan dan Nyonya Melanie tidak menerima saya?"
Mendengar pertanyaan dari Olivia Jack langsung tersenyum.
"Kau bacalah surat ini," ucap Jack sambil menyodorkan surat perjanjian antara Melanie dan Olivia di mana surat tersebut sudah dibubuhi tanda tangan oleh Olivia sendiri.
Dengan darah yang berdesir Olivia menerima dan membukanya. Dia terperanjat setelah membaca isinya perjanjian tersebut.
"Saya harus bersedia menikah dengan Tuan Jack?" Olivia terbelalak tidak percaya.
"Dengan itu kamu bisa menyimpulkan sendiri bahwa pernikahan kita pun sangat diinginkan oleh Mommy."
Olivia memejamkan mata. Rasanya masih tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya.
"Aku tidak bermimpi 'kan Tuhan?" gumamnya dan Jack hanya tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan oleh Olivia.
"Kau adalah nyata bagiku Olivia, tidak seperti Dianaz yang kini sudah menjadi semu," batin Jack.
__ADS_1
Bersambung.