Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 42. Mencari Tahu


__ADS_3

"Kenapa kembali, apa urusanmu dengan Reza dan mertuamu sudah selesai?" tanya Jack saat Olivia dan Elves kembali ke dalam mobil.


"Tuan sendiri kenapa belum pergi?" Olivia balik bertanya dan bersikap tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


"Karena Elves ikut turun bersamamu, jadi aku menunggunya sampai kembali ke sini."


Olivia mengangguk dan menyandarkan tubuhnya pada kursi sedangkan Jack langsung menyetir mobilnya kembali. Olivia tampak memejamkan mata.


Sebenarnya Jack masih penasaran apa yang terjadi pada Olivia sebab melihat seorang perempuan yang dia sangka orang tua Reza keluar dari rumah itu dengan ekspresi yang marah. Namun, melihat Olivia memejamkan mata, Jack tidak tega jika harus menganggu.


"Lebih baik tanyakan saja nanti pada Elves," bisik hatinya.


Tidak ada bedanya dengan Olivia dan Jack sendiri, Elves pun memilih diam saja sedari tadi. Mereka bertiga larut dengan pikiran masing-masing.


Beberapa lama di jalanan akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai juga ke garasi.


Merasakan mobil berhenti Olivia membuka mata.


"Sudah sampai Mommy," ucap Elves dan Olivia mengangguk sambil tersenyum.


"Ayo turun sayang!"


"Mommy tidak apa-apa?"


"Mommy baik-baik saja."


Jack hanya mengawasi interaksi keduanya tanpa nimbrung sedikitpun.


Mereka bertiga pun langsung masuk ke dalam rumah.


"Elves Mommy mau istirahat dulu ya," pamit Olivia saat mengantarkan anak itu ke dalam kamarnya.


"Nggak apa-apa kan? Nanti kalau ada apa-apa atau mau tidur Elves bangunin mommy saja," ujar Olivia sambil membuka sepatu dan kaos kaki Elves.


"Elves sudah mengantuk jadi mau tidur sekarang juga," sahut anak itu sambil beberapa kali menguap.


"Oke kalau begitu sikat gigi dulu ya!"


Anak itu mengangguk dan seperti biasa sebelum tidur sendiri Olivia mengurusi Elves sebelum tidur.


Malam ini tidak seperti biasanya. Entah karena sudah sangat mengantuk ataupun karena kasihan pada Olivia anak itu begitu cepat tidurnya bahkan Olivia tidak perlu membacakan dongeng untuknya.


Setelah Elves tidur, Olivia pun kembali ke kamarnya sendiri dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Apapun yang terjadi hamba pasarahkan kepadamu ya Tuhan." Setelah mengatakan itu Olivia langsung memejamkan mata.

__ADS_1


Esok hari Olivia terbangun saat ponselnya berdering. Olivia membuka mata dan langsung meraih ponsel yang ia letakkan sembarangan semalam di atas ranjang.


"Mau apalagi sih dia?" Dengan malas Olivia mendeal nomor telepon Reza.


"Kau jangan tenang dulu Olivia, setelah kita bercerai kamu harus membayar semua uang yang sudah masuk ke kantong ibumu baik dari saya maupun dari mama," ujar Reza dari seberang sana.


Olivia tidak menjawab. Tanpa diminta oleh keluarga Reza sekalipun dia sebenarnya ingin mengembalikan uang itu. Namun, dia tidak tahu harus dapat uang darimana untuk membayar semua itu sebab dia belum lama bekerja pada Jack sehingga tidak mempunyai tabungan.


"Kalau tidak kami akan melaporkan ibumu ke polisi," ancam Reza.


"Jangan sembarang kamu Mas melaporkan segala macam."


"Ha-ha-ha, itukan kalau kamu tidak mau bayar. Kalau nggak mana mungkin aku akan bertindak seperti itu."


"Atas dasar apa kamu bisa melaporkan ibu?" Olivia merasa tidak takut sebab merasa tidak ada yang harus ditakutkan. Ibunya meskipun begitu bukanlah pelaku kriminal.


"Ibumu menipu kami dengan mengatakan kau masih perawan sebelum kita menikah. Dia dan orang tuaku menandatangani sebuah perjanjian dimana orang tuaku akan menjamin hidupnya. Namun, jika kamu berselingkuh maka ibumu harus mengembalikan semua uang kami. Sekarang kau terbukti selingkuh, maka bersiap-siaplah dengan tagihan dari orang tuaku atau kalau tidak siap-siap mendengar orang tuamu mendekam di penjara, hahaha." Reza tertawa renyah.


"Dasar iblis kau Mas!" geram Olivia.


"Maka kau mintalah pada majikanmu itu agar jangan sampai semua itu terjadi, atau kalau tidak bisa-bisa nenekmu yang cacat mati mendadak karena syok."


"Brengsek kau!" Olivia langsung menutup telepon dan melemparkan ponselnya sembarangan di ranjang.


"Mommy!" Panggilan Elves di depan pintu langsung mengalihkan fokus Olivia.


"Maaf Sayang mommy terlambat bangun. Elves bangun duluan jadinya," sesal Olivia. Bagaimana mungkin baby sister bangun belakangan dari anak asuhnya sendiri.


"Tidak apa-apa Mommy, sekarang Elves mau mandi," ujar anak itu membuat Olivia menggenggam tangan Elves dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai memandikan Elves, saatnya Olivia mandi sendiri.


"Olivia ditunggu Tuan dan Nyonya besar di ruang makan."


"Baik Bi, kita akan segera ke bawah. Ayo El!" Olivia pun turun ke bawah dan menghampiri majikannya di meja makan.


Seperti biasa, kehadiran Olivia di meja makan tidak semata-mata langsung makan bersama pemilik rumah melainkan untuk menyuapi Elves. Barulah setelah itu dia bisa makan sendiri.


"Ada apa? Apa ada masalah sehingga kau kelihatan murung pagi ini?" tanya Jack saat dirinya sudah menyudahi makan.


Olivia menggeleng. "Tidak ada apa-apa Tuan," bohongnya.


"Sungguh?" tanya Jack tidak bisa percaya begitu saja.


"Iya," jawab Olivia membuat Elves pun menatap wajah wanita itu.

__ADS_1


"Kalau ada apa-apa kasih tahu saya barangkali saya bisa membantumu," ujar Jack William dan Melanie terlihat mengangguk. Dia sangat mendukung pernyataan Jack, baginya apapun keluarga itu akan lakukan untuk membuat orang yang bisa membuat cucunya bahagia bisa hidup dengan tenang.


"Baik Tuan."


"Baiklah kalau begitu saya pamit pergi, Ibu, Elves dan kamu Olivia jaga Elves baik-baik.


"Melanie dan Elves terlihat mengangguk.


"Iya Tuan, Tuan Jack hati-hati di jalan."


"Ya."


Jack William pun meninggalkan keluarganya untuk bekerja.


Sepanjang dari pagi sampai siang Jack terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tanpa sadar sudah tiba saat jam makan siang.


"Tuan mau diantarkan makanan ke sini atau mau ke kantin sendiri?" tanya Frans sang asisten yang sudah siap melangkah keluar ruangan.


"Aku ke kantin para karyawan saja, biar tidak sumpek. Di sana kan bisa sekalian cuci mata," ujar Jack membuat Frans langsung terkekeh.


"Kenapa kau malah tertawa? Apa keinginanku ini lucu?"


"Iyalah Tuan Jack ini lucu, cuci mata kok ke kantin, atau ada karyawan yang diincar? Barangkali ada yang bisa menggantikan posisi Nyoya Dianaz di hati Tuan?"


"Tidak ada frans cuma mau makan sambil lihat-lihat keadaan karyawan."


"Oh oke. Kalau begitu saya duluan Tuan."


"Ya silahkan."


Jack pun langsung bergegas menuju kantin yang mana sudah dipenuhi para karyawan yang kini mengisi perut kosong mereka setelah setengah hari ini bekerja keras.


"Bagus Rez kau tekan saja Olivia sebelum bercerai denganmu. Kalau perlu jangan ceraikan dulu sebelum dia membayar hutang-hutang orang tuanya itu," ujar Meilin.


"Aku sudah melakukan saranmu, tadi pagi aku sudah meneleponnya," sahut Reza dengan suara yang lirih. Namun, masih bisa didengar oleh Jack yang melintas di sampingnya. Karena asyiknya mengobrol sedari tadi mereka sampai tidak menyadari kalau Jack lewat si samping mereka.


Jack langsung duduk di tengah karyawan yang sedang menyantap makanannya. Namun, satu orang belum sempat memakan menunya, piringnya langsung ditarik ke hadapan Jack.


"Tuan?"


"Ssst! Kau boleh memesan makanan lain dan kembali ke sini lagi, oke?"


Pria itu mengangguk dan langsung pergi untuk memesan makanan lagi. Dia kembali ke samping Jack.


"Kau tenang saja nanti saya pasti kasih imbalan, sekarang bantu saya agar mereka tidak melihat keberadaanku di sini," ujar Jack.

__ADS_1


"Baik Tuan."


Bersambung.


__ADS_2