Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 30. Pergi


__ADS_3

Sore hari yang ditunggu pun tiba. Kali ini Jack William ditemani oleh Elves menjemput Olivia di rumah sakit.


"Sekarang kau bisa pulang, biar nanti kami rawat di rumah saja." Jack William berbicara sambil melangkah ke arah Olivia dengan menggandeng putra kecilnya.


"Jadi saya akan pulang ke rumah Tuan?" tanya Olivia tidak mengerti.


"Iya," jawab Jack William singkat.


"Tapi bagaimana kalau Mas Reza mencariku?"


"Apakah sejak kamu masuk rumah sakit dia pernah menjengukmu sekali saja? Tidak, bukan? Jadi mulai sekarang jangan pikirkan dia lagi. Pikirkan dirimu dan kesehatanmu sendiri!"


"Bagaimana mungkin Tuan?Bagaimanapun dia itu suamiku, jadi saya punya kewajiban untuk melakukan tugas sebagai seorang istri. Termasuk mendapatkan izin jika tidak pulang ke rumah."


"Itu kalau dia melakukan tugas sebagai seorang suami, kalau tidak melakukan tugas seorang suami alias lalai untuk apa kamu malah masih bertahan untuk melakukan tugas sebagai seorang istri."


"Dia sama sekali tidak menghargaimu Olivia, apa kamu tidak merasakan itu?" batin Jack William.


"Bagaimanapun saya masih berstatus seorang istri. Saya tidak bisa lepas dari tanggung jawab saya meskipun Mas Reza salah, tapi tidak mungkin saya mengikuti contoh buruk yang diperbuatnya. Saya hanya berharap suatu saat nanti Mas Reza bisa menghargai saya sebagai istrinya."


"Semoga saja suatu saat dia sadar telah menyia-nyiakan dirimu. Bersiap-siaplah kita akan pulang sekarang dan masalah izin dari Reza saya sudah mengantonginya. Bahkan dia sendiri yang memintaku untuk menjemput dirimu dan langsung membawa ke rumah kami. Ini surat perjanjiannya." Jack William menyerahkan surat perjanjian antara Reza dan dirinya.


Olivia meraih map yang disodorkan oleh Jack William dan membukanya. Setelah membacanya surat perjanjian dan melihat tanda tangan Reza Olivia kaget. Dia menggeleng tidak percaya melihat Reza begitu mudah menandatangani surat perjanjian tersebut tanpa harus berembug dulu dengannya meskipun itu juga keputusannya sendiri.


"Mengapa Mas Reza bisa semudah ini menyetujuinya?" gumam Olivia seolah bertanya pada diri sendiri.


"Karena dia sudah benar-benar tidak menghargaimu sebagai seorang istri," jawab Jack William dalam hati. Namun, dia tidak mengeluarkan suara itu takut membuat Olivia tersinggung.


"Karena dia tahu pekerjaan yang saya tawarkan lebih baik untukmu daripada harus berjualan berkeliling-keliling jalanan yang bisa saja terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan dirimu karena kamu adalah seorang wanita. Lagipula dengan berjualan hasilnya belum jelas karena bisa saja sekarang laku dan besok malah sebaliknya."


Mendengar jawaban dari Jack William Olivia sedikit lega, ternyata seperti apapun sikap Reza padanya pria itu masih ada sedikit sikap perduli dengan dirinya. Terbukti dengan memikirkan nasib Olivia jika harus berjualan keliling terus-terusan.


"Baiklah saya sudah siap, tapi sepertinya saya masih belum bisa mengasuh Elves."


"Tidak masalah, kau bisa menemaninya di rumah."


Olivia mengangguk.


Seorang perawat mendorong kursi roda ke dalam kamar rawat.


"Saya pakai kursi roda?" tanya Olivia tidak percaya. "Saya 'kan bisa jalan?" tanyanya lebih lanjut.


"Ya untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan di perjalanan menuju mobil," jawab Jack William sambil menggaruk kepalanya. Sebenarnya ini adalah hal konyol permintaan sang mommy.

__ADS_1


"Baiklah," ucap Olivia pasrah dan menurut saja, sebab jika memang terjadi sesuatu padanya keluarga Jack William lah yang akan kesulitan karena keluarga itu saat ini yang akan mengambil alih merawat dirinya.


"Ayo saya bantu naik ke kursi roda," ujar perawat sambil membantu memapah tubuh Olivia hingga duduk sempurna di kursi roda.


"Biar saya yang dorong!" pinta si bibi.


Perawat mengangguk dan menyerahkan tugas mendorong kursi roda pada pembantu Jack William.


Sampai di rumah.


"Antar langsung dia ke kamarnya Bik!" perintah Jack William pada sang pembantu setelah mereka masuk ke rumah.


"Kamarnya yang mana Tuan?" tanya Bibi itu karena memang tidak tahu harus mendorong kursi roda ke kamar yang mana.


"Di sebelah kamar Elves Bik, biar dekat dengan Elves."


"Tapi kamar yang itu belum dibersihkan Tuan."


"Saya sudah menyuruh Bik Mona untuk membersikan tadi siang. Jadi sudah bisa langsung dipakai."


"Oh baiklah kalau begitu." Si bibi terus mendorong kursi roda menuju kamar yang sudah dikhususkan oleh Jack dan Elves membuntuti bibi di belakangnya.


"Selamat datang di rumah ini Nona," ujar Bik Mona saat melihat rekannya mendorong kursi roda dengan wanita muda di atasnya.


"Terima kasih Bik, tapi jangan panggil saya Nona panggil Olivia saja. Saya juga sama seperti kalian, sama-sama pekerja di rumah ini."


"Baik Non, eh Olivia."


Olivia mengangguk.


"Ini Bik Mona dan ibu sendiri siapa namanya? Kita sudah bersama sejak kemarin tetapi belum tahu nama ibu," ujar Olivia kemudian.


"Nama saya Murni," sahut si bibi.


"Sudah Nona istirahat saja ya," ucap Bik Murni selanjutnya.


Olivia mengangguk pasrah ketika kursi roda di dorong kembali.


"Nona beristirahat ya, saya sama Bik Mona mau menyiapkan makan malam dulu."


"Iya Bik."


Setelah Bik Murni keluar, Olivia duduk bersandar pada sandaran ranjang dan Elves juga naik ke atas ranjang.

__ADS_1


Mereka berdua terlibat obrolan ringan dan sesekali terdengar tawa dari mulut Elves.


Mendengar suara putranya yang tertawa renyah Jack keluar dari kamar dan mengintip ke kamar Olivia. Pria itu tersenyum melihat keduanya yang begitu cocok.


"Sepertinya Olivia membawa pengaruh positif bagi El, semoga saja." Jack William menghembuskan nafas lega lalu kembali ke kamarnya lagi.


Tiga hari kemudian, Olivia sudah benar-benar pulih. Dia merawat Elves dengan baik dan pulang ke rumah Reza saat malam dan berangkat ke rumah Jack saat pagi hari.


"Mas Reza bisa tidak enggak usah bawa Meilin ke sini lagi?" Protes Olivia pada suatu malam.


Olivia kesal melihat tiap malam saat kembali dari rumah Jack selalu ada Meilin di rumah mereka berdua.


"Apa pedulimu? Rumah ini rumahku sendiri. Aku tidak menumpang padamu," protes Reza.


"Tapi Mas Reza suamiku, bisa nggak hargai sedikit saja sebagai seorang istri!"


"Mau dihargai berapa seratus ribu, satu juta?"


Meilin melirik Olivia lalu tersenyum mengejek.


"Mas!" bentak Olivia.


"Apalagi Olivia?"


"Aku tidak ingin dihargai dengan uang, tapi hargai sebagai seorang istri! Saya wanita Mas, saya punya harga diri."


"Sudahlah, saya tidak pernah ikut campur dengan urusanmu, kenapa kau malah ikut campur dengan urusanku? Kalau kamu selalu menjadi penghalang dalam kebebasanku lebih baik kamu pergi saja!"


"Mas Reza mengusirku?"


"Ya aku mengusirmu karena kau selalu banyak omong!"


Olivia menatap Reza tidak percaya lalu menggeleng. Air mata jatuh tak terbendung di pipi manisnya.


"Puas kau menghancurkan rumah tanggaku? Orang yang telah menghancurkan rumah tangga orang lain hidupnya tidak akan tenang!" Olivia menuding wajah Meilin yang bersikap cuek padanya.


"Tidak perlu menyalahkan orang lain Olivia, semua ini terjadi karena ulahmu!


"Ulahku? Gila kamu ya Mas Reza!" Olivia langsung berjalan ke arah kamar untuk mengambil pakaian.


"Mau kemana? Kenapa masih mau ke kamar? Mau mengambil baju-baju pemberian mama? Pergi sana!"


Olivia terdiam lalu membalikkan tubuhnya. Setelahnya Olivia langsung pergi dari rumah itu tanpa membawa apa-apa dan tanpa berkata sepatah pun juga.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2