Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 39. Terkunci


__ADS_3

"Sudah sampai ya Den, bapak permisi dulu," ujar salah seorang karyawan saat ketiganya sudah sampai di depan ruangan Jack.


"Terima kasih atas bantuannya Pak, Bapak Bisa pergi sekarang."


"Baik Nona dan sama-sama." Karyawan itu membungkuk kemudian berlari pergi.


"Sopan banget sih dia pikir saya siapanya Tuan Jack kali." Olivia terkekeh.


Pintu ruangan Jack nampak dibuka dan pria itu kaget melihat Elves dan Olivia berdiri di depan pintu.


"Loh kalian kok ke sini bukannya langsung ke mall ya?"


Olivia tidak langsung menjawab, tetapi terlebih dahulu melirik Elves dan anak itu langsung berkata, "Kami mau mengajak Daddy barangkali mau ikut. Semua orang Elves lihat sudah istirahat, jadi mungkin Daddy mau makan siang bersama kami."


"Kalian belum makan siang?"


"Belum Dad."


"Daddy tidak bisa kemana-mana sebab habis makan siang ada rapat penting di kantor ini. Bagaimana kalau kalian makan di kantin perusahaan ini?"


"Mommy?" Elves meminta pendapat Olivia dan Olivia sendiri langsung mengangguk.


"Oke ayo! Kebetulan Daddy memang mau ke kantin."


Awalnya Jack William ingin ke kantin yang diperuntukkan bagi para petinggi perusahaan. Namun, dia urung melihat Olivia yang penampilannya hari ini begitu cantik. Dia sengaja membawa Olivia dan putranya ke kantin khusus para karyawan agar Reza bisa melihat bagaimana keadaan istrinya sekarang setelah diusir dari rumah oleh Reza.


Mereka bertiga pun menuju kantin.


"Selamat siang Tuan!" sapa para karyawan melihat atasannya duduk di ruangan yang sama dengan mereka.


"Siang. Lanjutkan makan kalian!"


"Baik Tuan terima kasih."


"Mbak Meilin tuh Tuan Jack layanin duluan!" perintah seorang karyawan.


"Baik," jawab Meilin. Dia yang tadinya melayani Reza sambil mengobrol kini menghentikan pekerjaannya dan berjalan ke arah Jack William.

__ADS_1


"Pesan apa Tuan?" tanya Meilin saat sampai di samping meja Jack.


"Olivia kamu pesan apa? Saya sama Elves samakan saja!"


Olivia yang tadinya menunduk kini mendongak menatap Meilin.


Meilin terperanjat. "Beneran Olivia itu?" gumamnya.


"Ya saya Olivia. Bisa pesan mie ayam bakso?" tanya Olivia sambil melirik ke arah Jack. Olivia takut tidak sesuai dengan selera Jack. Namun, nyatanya Jack malah mengangguk sambil tersenyum.


"Dasar kampungan tahunya cuma menu itu saja," hina Meilin dengan suara yang pelan. Namun, Olivia yang mendengar tampak santai-santai saja. Dia tidak perduli orang lain menganggapnya seperti apa yang terpenting dia tidak merugikan orang lain.


"Kenapa memangnya kalau kami hanya makan mie ayam bakso?"


"Tidak kenapa-kenapa Tuan," ujar Meilin lalu menunduk.


"Minumnya Olivia?" tanya Jack lagi.


"Es teh aja deh Tuan."


"Oke, es teh nya 3!" perintah Jack.


"Kenapa cemberut sih? Kalau melayani pembeli itu senyum dong biar laris manis," ujar Reza menggoda Meilin.


"Aku pengennya senyum sih cuma bad mood melihat istrimu itu yang memerintahkan membuat makanan ini." Meilin melakukan pekerjaannya dengan kesal.


"Istriku? Olivia maksudmu?"


"Ya siapa lagi memangnya kalau bukan dia? Kamu punya istri siapa lagi selain wanita kampungan itu? Mentang-mentang dekat dengan bos, sok dia," geram Meilin.


"Kau iri padanya?" Reza tertawa renyah.


"Tenanglah dia hanya baby sister dari putra Tuan Jack. Baby sister itu tidak ada bedanya dengan babu," terang Reza lalu tertawa lagi.


Olivia yang mendengar ucapan Reza sebab tempat duduknya tidak terlalu jauh hanya bisa menatap dengan pikiran heran terhadap suaminya sedangkan Jack William tampak menggelengkan kepala.


"Sungguh pria yang buta, gadis secantik dan sebaik Olivia ditukar dengan wanita sombong itu," batin Jack William.

__ADS_1


Bisik-bisik dari pengunjung kantin lainnnya pun mulai terdengar. Mereka juga menyayangkan Reza yang memilih berselingkuh dengan Meilin dibandingkan setia pada Olivia yang menurut mereka jauh lebih cantik dari Meilin sendiri.


"Aku mau mengantar makanan ini dulu ya," pamit Meilin pada Reza dan pria itu mengangguk dan menatap punggung Meilin yang mulai menjauh.


"Silahkan Tuan, Den Elves juga!" Sengaja Meilin tidak menyebut nama Olivia.


"Terima kasih, oh ya saya sarankan kalau sedang membuat menu jangan sambil bicara sebab bisa saja makanan dan minuman yang kamu buat kecipratan air ludah, dan satu lagi jangan dekat-dekat dengan orang yang tertawa."


Perkataan Jack William sontak membuat Meilin terbelalak.


"Pergilah lakukan tugasmu selanjutnya! Jangan sampai karena keterlambatan kamu melayani karyawan mereka bisa terlambat pada pekerjaan mereka nantinya.


"Baik," ucap Meilin. Dia berbalik dan melangkah kembali ke arah Reza.


"Kalau bukan karena yang punya perusahaan, ingin rasanya kusumpal mulutmu dengan cabe rawit sekilo biar omonganmu tambah pedas." Meilin geram pada Jack.


"Ngapain sih masih kesal, kamu tahu nggak aku naik ke posisi manager karena Olivia mau menjadi baby sister anaknya."


"Dan setelah itu kamu akan kembali padanya karena Olivia sudah lebih terawat tubuhnya sekarang." Meilin cemberut.


"Siapa bilang? Aku nyaman denganmu. Hatiku sudah terkunci padamu. Mana mungkin bisa berpaling ke hati yang lain, termasuk juga dia."


Meilin tersenyum mendengar jawaban Reza. "Tidak sia-sia aku pergi ke si Mbah," batin Meilin.


"Hei Reza lebih baik kamu tobat dari perselingkuhanmu itu dan kembali kepada istrimu Olivia. Awas menyesal kalau sampai dia diambil orang lain," nasehat seorang karyawan yang kebetulan duduk di meja yang dekat dengan tempat duduk Reza.


"Kalau kamu mau ambil saja."


Karyawan itu hanya menggeleng mendengar jawaban dari Reza.


"Terus kapan kamu akan menceraikan dia?"


"Kalau itu tunggu dulu, aku harus mencari alasan agar mama dan papa tidak menyalahkanku atas perceraian kami nanti."


"Hmm, baiklah. Aki akan menunggu," sahut Meilin.


"Dasar pria bodoh," umpat karyawan tadi sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2