
"Ada kecelakaan!"
"Ada kecelakaan di jalan raya sana!"
Suara orang-orang di luar begitu berisik membuat Jack bangun dari tidurnya setelah menuntaskan adegan panas dengan sang istri.
Segera Jack memungut pakaiannya lalu bergegas ke arah kamar mandi dan membersihkan diri.
"Mas Jack," gumam Olivia. Sepertinya wanita itu mengigau karena matanya masih tertutup rapat.
Jack beranjak ke arah koper lalu mengambil pakaian santai. Setelah berpakaian dia kembali ke ranjang dan duduk di samping Olivia.
"Kasihan dia, pasti kecapean akibat pengaruh obat yang membuatnya lebih agresif." Jack tersenyum dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi mata kiri Olivia.
"Ada kecelakaan!"
"Bagaimana dengan keadaan tuan kecil Elves?"
"Iya, anak itu juga ada di sana, kan?"
Deg.
Jantung Jack langsung berpacu kencang mendengar nama putranya disebut. Segera ia bangkit dari duduknya, namun tangannya ditahan oleh Olivia.
"Kau sudah bangun?" tanya Jack sambil menoleh ke arah istrinya.
Olivia mengangguk.
"Aku pergi dulu ya, ada sesuatu yang harus aku urus. Kau tenang saja, tidak akan ada yang mengganggumu lagi. Orang-orangku stay di luar untuk menjagamu. Kalau ada apa-apa, bisa minta bantuan mereka. Tubuhmu sudah nyaman, bukan?"
Sekali lagi Olivia mengangguk.
"Hanya tertinggal lelahnya saja."
"Mandilah dan bersihkan dirimu dengan air panas. Aku pergi sebentar."
"Iya, pergilah," ucap Olivia langsung menyambar handuk dan berjalan ke arah kamar mandi, sedangkan Jack langsung keluar kamar.
"Ada apa kalian berisik?" tanya Jack pada orang-orang di luar.
"Apa Tuan tidak tahu kalau Tuan kecil Elves diculik oleh Meilin?"
__ADS_1
"Apa?! Mengapa tidak ada yang memberitahuku?"
"Maaf Tuan, Tuan Frans melarangnya."
"Ckk, dasar Frans! Apa sih maunya?"
"Tuan Frans tidak ingin membuat Tuan Jack panik sedangkan Nyonya Olivia katanya sangat membutuhkan Tuan."
"Benar juga apa kata Frans, kalau tidak, pasti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan Olivia, tapi bagaimana keadaan Elves sekarang? Saya dengar kalian mengatakan ada kecelakaan?"
"Iya Tuan. Kabarnya, Meilin kaki dan betisnya kelindes ban truk kontainer di jalan raya depan sana."
"Aku tidak menanyakan tentang Meilin, yang kutanyakan adalah Elves!" tegas Jack. Wajah pria itu nampak gusar.
"Kalau itu saya tidak tahu Tuan. Tidak ada yang memberikan kabar tentang Tuan kecil dari tadi selain hanya mengatakan dia masih bersama Meilin."
Mendengar jawaban salah satu karyawannya, Jack langsung bergegas ke arah parkiran.
"Ini motor siapa? Aku pinjem," ucapnya setelah melihat sepeda motor dengan kunci yang masih bergelantung di sepeda.
Tanpa menunggu jawaban pemiliknya, Jack langsung menaiki sepeda tersebut dan melajukan keluar dari pelataran vila.
"Keduanya parah," ucap seseorang diantara kerumunan itu. Jack hanya bisa melihat dengan penerangan seadanya. Cahaya di tempat itu terlalu redup untuk bisa melihat dengan jelas.
"Tuhan selamatkan Elves." Jack turun dari motor dengan kaki yang terasa lemah. Otot-ototnya terasa lemas seketika, bahkan untuk berjalan saja rasanya Jack tidak mampu. Bayang-bayang buruk tentang putranya berputar di kepala. Ketakutan yang sama muncul seperti saat dia hampir kehilangan nyawa Dianaz.
"Dianaz, maafkan aku yang lalai menjaga putra kita," lirihnya. Yang tadinya ingin mendekat, akhirnya hanya bisa terkulai lemas di tempat tatkala mendengar bunyi sirene ambulan yang kini berjalan menjauh.
Jack yang biasa tegas dalam situasi apapun sekarang tidak berdaya sama sekali karena memikirkan tentang nasib putranya.
"Daddy!"
Saat mulai putus asa, suara Elves menggema di kerumunan orang-orang.
Jack langsung mencari sumber suara itu.
"Elves, apakah benar kau Elves putraku?" tanya Jack sambil terus mencari keberadaan Elves.
"Iya Daddy," ucap Elves lalu berlari, memecah kerumunan, sebelum akhirnya memeluk tubuh Jack dengan erat.
"Kau selamat Nak," ucap Jack sambil mengusap-usap bahu Elves.
__ADS_1
Elves mengangguk. "Tapi aku takut Daddy," ucap anak itu, semakin mengeratkan pelukannya dengan mata yang nampak berkaca-kaca.
"Jangan takut sayang, kan ada Daddy di sini. Nanti Daddy akan membuat penjagaan kamu dan mommy lebih ketat sehingga tidak akan ada lagi yang bisa berbuat jahat sama kalian berdua apalagi sampai menculik dirimu seperti ini."
Frans muncul di belakang Elves dengan senyum yang mengembang.
"Untung Elves kembali dengan selamat, kalau tidak kau pasti akan ku hajar!" kesal Jack karena Frans tidak memberikan informasi apapun.
"Tenanglah Tuan, saya pasti akan bertanggung jawab terhadap apapun langkah yang sudah saya ambil."
"Tapi Elves tidak takut diculik. Elves lebih takut kalau Tante yang membawa Elves kabur tadi meninggal," rengek Elves lalu bergelayut pada lengan Jack.
"Biarkan saja El, dia kan orang jahat!" Jack geram kalau mengingat wanita itu telah berani memberikan Olivia obat. Salah, bukan Olivia tapi dirinya sendiri, hanya saja obat itu salah sasaran.
"Betapa lancangnya dia, ingin menjebak atasannya sendiri!"
"Tapi Daddy, kalau Tante itu mati, Elves takut jadi hantu gepeng dan menakuti Elves." Anak itu bergidik ngeri.
"Apa maksudnya Frans? Apa Meilin parah?"
"Saya tidak bisa memastikan Tuan, yang jelas kaki dan betisnya gepeng kelindes truk itu," tunjuk Frans para truk yang masih berada di kanan jalan itu.
"Oh, pantas saja Elves berkata seperti tadi."
"Iya Tuan, kalau saya lihat-lihat sepertinya dokter akan memutuskan untuk memotong kaki dan betis tersebut daripada tidak berguna sama sekali dan bahkan akan merepotkan bagi Meilin, tapi entahlah saya tidak tahu, biar dokter yang bertindak."
Jack mengangguk.
"Baiklah, sekarang kita harus kembali lagi ke villa karena saya tidak tenang meninggalkan Olivia sendirian."
"Kan ada penjaga Tuan?"
"Ah, terkadang mereka tidak bisa diandalkan. Sudah kita pergi saja! Elves mau naik mobil bersama Om Frans atau boncengan dengan Daddy pakai motor ini?"
"Ikut Daddy aja." Elves memutuskan."
"Oke ayo!"
Mereka semua pun kembali ke villa.
Bersambung.
__ADS_1