Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 44. Bantuan Dibalik Gajian


__ADS_3

"Daddy bagaimana?" ulang Elves.


"Bagus, sangat bagus malah. Benar kata Mommy Olivia kamu memang berbakat."


"Terima kasih Daddy." Elves tersenyum malu-malu.


"Ya sudah kita tidur saja sekarang."


Elves mengangguk dan membaringkan tubuhnya kembali. Jack William pun ikut berbaring. Satu tangannya memeluk Elves dan satu tangan yang lain membelai rambut putranya.


"Lihat Dianaz putra kita tidak kalah hebatnya denganmu," ucap Jack lalu ikut memejamkan mata.


Esok hari Jack terbangun kala Olivia membuka pintu kamar Elves.


"Maaf Tuan saya kira Elves sendirian. Kalau begitu saya keluar saja," ucap Olivia dengan ekspresi canggung.


"Eh tunggu Olivia!"


"Ya Tuan?"


"Silahkan masuk sebab saya akan keluar."


"Baiklah." Akhirnya Olivia urung meninggalkan kamar Elves, dan Jack setelah mengecup kening Elves segera meninggalkan kamar putranya.


"Seperti biasa Olivia menemani Elves sampai anak itu terbangun dan terpaksa harus membangunkan jika sudah mendekati waktu sarapan pagi Elves belum bangun juga.


Seperti pagi ini, jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 pagi dan anak itu masih tertidur pulas.


"Elves sayang bangun dong!" Olivia tampak mengusap-usap pipi anak itu membuat Elves bukannya bangun malah bertambah nyenyak tidurnya sebab sudah tampak menggeliat malah tidur lagi.


"Ya ampun susah banget sih bangunin kamu hari ini. Bangun dong sayang sebentar lagi daddy berangkat."


"Olivia!"


Panggilan di pintu secara tiba-tiba membuat Olivia kaget.


"Iya, Tuan?"


"Biarkan dia, tidak usah dibangunin dan tunggu bangun sendiri! Semalam dia baru tidur ketika larut malam."


"Bukankah Elves sudah tidur sebelum saya ...."


"Dia terbangun kembali."


"Ya ampun Tuan, mengapa tidak membangunkan saya? Maaf Tuan saya benar-benar tidak tahu kalau Elves terbangun."


"Sudahlah kita sarapan sekarang."


"Saya? Tanpa Elves?"


"Ya, setelah makan saya ingin kamu ke ruangan kerjaku. Ada yang ingin saya bicarakan."


"Baik Tuan."


"Kalau begitu saya tunggu di meja makan."


Olivia mengangguk dan Jack segera pergi.


"Ada apa ya? Tumben aku dipanggil ke ruangan Tuan Jack? Apa aku mau dipecat karena semalam tidak menemani Elves saat terbangun? Ah Olivia, mengapa kamu teledor seperti itu? Hanya gara-gara kesalahan satu malam kamu akan kehilangan pekerjaan," batin Olivia mulai khawatir. Kalau sampai dia dipecat bagaimana dia bisa membayar hutang ibunya pada Reza. Bagaimana pula bisa memberikan makan pada neneknya itu sebab mencari pekerjaan di zaman sekarang sudah semakin susah.

__ADS_1


"Ah sudahlah tidak apa-apa kalau belum rezeki mau bagaimana lagi? Aku akan tetap gigih mencari pekerjaan lain, jadi tukang ojek online pun juga tidak apa-apa kalau sudah tidak ada pekerjaan lainnya. Tapi, kalau aku dipecat berarti tidak akan bersama Elves lagi."


"Nona Olivia dipanggil Tuan Jack di ruang makan."


Olivia langsung tersadar dari lamunannya. "Ah iya Bi saya segera ke sana."


Wanita itu langsung berjalan cepat menuruni tangga.


"Tuan?"


"Duduklah dan makan!"


Olivia duduk dengan canggung, baru kali ini dia duduk bersama majikan tanpa ada Elves di sampingnya.


"Makanlah," ujar Melanie saat Olivia melirik dirinya.


"Makanlah, jangan biarkan saya menunggumu sebab harus segera pergi ke kantor. Kamu tidak lupa, kan dengan perintahku tadi?"


"Ah iya, ah tidak Tuan," jawab Olivia gugup.


"Tidak lupa maksudnya." Olivia membenarkan kalimatnya.


"Oke, kita makan saja sekarang."


Olivia mengangguk dan ikut makan. Wanita itu tampak makan dengan tergesa-gesa.


"Pelan-pelan Olivia semua yang tergesa-gesa itu disukai setan."


"Baik Tuan."


Olivia mulai makan seperti biasanya.


Olivia mengangguk dan mengikuti langkah Jack dari belakang. Wanita itu melangkah sambil merangkai kata-kata perpisahan untuk Elves agar tidak bersedih saat ditinggalkan dirinya nanti.


"Duduklah!" perintah Jack saat sudah sampai di ruang kerjanya.


"Hah?" Olivia tidak fokus sebab sedari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri, bahkan dia tidak sadar telah sampai di ruangan kerja Jack.


"Duduk kataku!"


"Oh iya." Olivia langsung duduk di kursi yang berada di depan Jack duduk sekarang.


"Mengapa kulihat kau melamun saja dari tadi, ada yang kamu pikirkan?"


"Ah tidak Tuan, tidak ada. Saya hanya memikirkan kalau Elves terbangun dan tidak menemukanku di sana." Olivia beralasan.


"Tidak perlu khawatir, saya sudah menyuruh bibi untuk menemaninya. Apa kamu tahu kenapa saya memanggilmu ke sini?"


"Tidak Tuan, atau Tuan mau memecat saya?"


"Memecat?" Jack tampak mengernyitkan dahi, bagaimana mungkin Olivia berpikiran jauh seperti itu. Namun, kemudian pria itu tersenyum.


"Apa yang akan kamu lakukan jika saya benar-benar akan memecatmu?"


"Tentu saja mencari pekerjaan lain."


Jack mengangguk.


"Apa ada permohonanmu ketika harus pergi dari rumah ini?"

__ADS_1


Deg.


Hati Olivia berdebar-debar. Bukan karena jatuh cinta, tetapi takut yang dipikirkannya tadi memang benar-benar akan terjadi.


"Pesangon?"


"Tidak Tuan, saya mengerti dengan pekerjaan saya. Mana mungkin harus meminta seperti itu?"


"Terus? Saya berjanji akan mengabulkan satu permintaanmu. Maka katakanlah itu apa!"


"Saya, sa–ya hanya ingin tetap diperbolehkan untuk bisa bertemu Elves saat saya rindu."


"Kamu yakin?"


"Yakin Tuan. Saya sudah terlalu dekat dengan anak itu mana mungkin harus terpisah dalam jangka waktu yang begitu lama?"


"Apa kamu tidak butuh uang? Mengapa tidak minta gajimu satu bulan ini berapa?"


"Saya memang butuh uang, tapi tidak mungkin meminta gaji lebih sementara pekerjaanku belum sempurna. Semoga Tuhan memberikan rezeki dengan jalan lain daripada harus memanfaatkan keadaan untuk mengemis pada orang lain."


Jack tampak mengangguk-angguk mendengar perkataan Olivia. Pria itu mengeluarkan amplop cokelat dari dalam laci meja kerjanya.


"Ini gaji kamu." Jack mengulurkan amplop itu ke hadapan Olivia membuat wanita itu terlihat kaget sebab ini belum saatnya dia menerima gaji.


"Tuan benar-benar mau memecat saya?" Tubuh Olivia terlihat bergetar dan wajahnya langsung pucat. Rasa tegar yang dibangunnya sedari tadi runtuh seketika. Ternyata menamakan keikhlasan dalam hati tak semudah mengucapkan.


Olivia sama sekali tidak berminat untuk meraih amplop itu sehingga Jack langsung meletakkan di atas meja di depan Olivia.


"Ambillah! Aku tidak akan memecatmu."


Barulah Olivia bernafas lega.


"Benarkah?" tanyanya seakan tidak percaya.


"Ya. Memecatmu sama dengan mencari masalah. Kau kira Elves akan baik-baik saja jika kau tinggalkan?"


"Huufft, saya pikir Tuan tega memisahkan kami. Eh maaf."


"Ambillah itu sebagai pegangan untukmu. Itu gajimu bulan ini," ucap Jack sambil tersenyum.


"Gaji? Bukankan ini belum akhir bulan?"


"Ambillah karena saya tahu kamu butuh uang saat ini jadi saya berikan lebih awal. Jangan biarkan masalah berlarut-larut, selesaikan selagi mampu."


"Baik Tuan, terima kasih banyak."


"Bukalah dan hitung kalau masih kurang dengan kebutuhanmu kau boleh meminjamnya pada saya."


"Iya Tuan." Dari saking senangnya Olivia tidak pernah berpikir dari mana Jack bisa mengetahui bahwa dirinya sedang butuh uang saat ini.


"Ini banyak sekali Tuan. Tuan tidak salah hitungkah?" tanya Olivia merasa tidak percaya.


"Tidak, itu semua untukmu. Sengaja aku tambahin karena tugasmu sangatlah bagus. Kau bisa mengubah Elves yang nakal menjadi penurut dan semalam telah berhasil menunjukkan bahwa kamu juga pandai mengajari Elves menggambar."


"Tapi Tuan bukan saya yang mengajari–"


"Sudahlah saya harus pergi ke kantor sekarang," ujar Jack lalu mengambil tas kerja dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Olivia yang masih duduk termangu. Rasanya memiliki uang sebanyak di tangannya saat ini adalah mimpi bagi Olivia.


"Beginikah rasanya bekerja pada orang kaya?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2