
Siang hari sebelum mengajak Olivia ke rumah sakit terlebih dahulu mereka melihat keadaan Reza.
"Bagaimana keadaanmu, apa semalam bisa tidur nyenyak?" tanya Jack sambil melangkah mendekat ke arah Reza.
"Tidak, jangan bunuh aku, ampuni aku!" mohon Reza dengan keadaan tubuhnya yang sudah terlihat berantakan.
Olivia yang berdiri di belakang Jack hanya mengerutkan kening karena bingung.
"Kau tahu? Aku bukan hanya bisa membunuh dirimu, tetapi juga seluruh keluargamu tanpa jejak sama sekali!" Jack menggertak Reza padahal dalam hati mana mau dia membunuh manusia seperti itu.
"Ampuni aku, lepaskan aku dan aku berjanji tidak akan menganggu Olivia dan keluarga Tuan yang lainnya," ucap Reza dengan bibir yang gemetar.
"Kau yakin? Kau tahu jika kau melakukan kesalahan lagi tehadap keluarga kami maka jangankan kabur ke luar negeri, ke lubang semut pun bisa aku pindai."
"Saya mengerti Tuan."
"Bersumpahlah demi orang tuamu, karena jika kamu melakukan kesalahan lagi maka kedua orang tuamu yang pertama kami cari. Frans tunjukkan padanya seberapa kejam aku pada orang-orang yang mengusik kehidupanku!"
"Baik." Frans maju ke depan dengan membawa sebuah album foto.
"Ini adalah foto-foto manusia yang berhasil kami musnahkan dengan sempurna tanpa ada jejak sedikitpun karena telah berani berbuat jahat pada keluarga Tuan Jack dan beberapa dari mereka adalah pengkhianat perusahaan," tegas Frans membuat nyali Reza semakin hilang saja.
"Saya paham," ujar Reza sambil melihat gambar-gambar mayat dalam album foto tersebut.
"Sekarang kamu bisa menentukan pilihan, mau aku bebaskan tapi harus pergi dari jauh dari kota ini, masuk penjara, ataukah mau mati di tangan kami?"
Olivia meringis melihat raut wajah Reza saat ini.
"Bebas dan pergi dari jauh dari kota ini. Saya bersumpah demi kedua orang tua dan demi diriku sendiri, tidak akan menganggu Olivia lagi atau mengganggu keluarga Tuan Jack yang lain begitu juga dengan Tuan Frans."
"Bagus kupegang kata-katamu dan semoga saja kau benar-benar tidak membuat masalah lagi karena aku pasti tidak akan pernah kau bayangkan."
Reza mengangguk.
"Frans, lepas dia!"
"Apa Anda yakin akan melepaskan dia Tuan?"
"Yakin Frans, karena sejauh ini dia belum terlalu jauh melakukannya pada kami."
__ADS_1
"Baik."
Frans pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Jack, melepaskan tali yang mengikat Reza.
Saat tali terlepas Reza langsung bersimpuh di kaki Olivia.
Awalnya Jack kaget dan ingin langsung menghajar Reza karena menganggap pria untuk mengambil kesempatan untuk mencelakai Olivia. Namun, saat mendengar perkataan Reza, Jack menjadi urung.
"Maafkan aku ya Oliv," ucap Reza sambil mendongak ke atas dan menatap wajah Olivia.
"Mundur, jangan sampai tanganmu menyentuh istriku!" seru Jack dan Reza pun langsung mundur.
"Aku akan memaafkan asal kau benar-benar tidak akan menganggu hidupku lagi," ujar Olivia.
"Baik Oliv."
Olivia mengangguk.
"Tuan Jack dan Tuan Frans maafkan aku dan terima kasih sudah memberikan pengampunan."
"Iya, pergilah!"
"Mas Jack benar sudah membunuh banyak orang?" tanya Olivia dengan raut wajah yang nampak kecewa.
"Frans kau jelaskan! Ide konyolmu itu meskipun ampuh pada Reza sepertinya akan menimbulkan masalah lain," ujar Jack.
"Tidak akan Tuan. Nyonya dengarkan saya, foto-foto ini hanyalah editan semata. Jadi, Tuan Jack tidak seperti yang kami katakan tadi di depan Reza."
"Sayang, Sayang! Kau pikir mengambil nyawa seseorang seperti kita mengambil nyawa ayam apa."
"Syukurlah kalau begitu, lebih baik kita menjenguk Kak Meilin sekarang."
"Baiklah ayo, kita ke kamar dulu untuk mengajak Elves!"
Olivia mengangguk dan ketiganya melangkah menuju kamar.
"Elves nggak mau ikut, Elves takut. Elves mau pulang saja," rengek Elves ketika kedua orang tuanya mengajak ke rumah sakit.
"Kalau begitu biar Om Frans yang mengantar Elves pulang. Daddy sama Mommy mau menjenguk Tante Meilin dulu, mau ya?"
__ADS_1
"Mau Daddy," sahut Elves sambil mengangguk.
"Yasudah Frans, antar dia pada Mommy!"
"Siap Tuan."
"Kalau begitu kami pamit duluan!"
"Iya Tuan."
"Baik Dad."
Olivia dan Jack pun meninggalkan Elves pada Frans dan dirinya langsung menuju rumah sakit.
"Bagaimana keadaan pasien ini suster?" tanya Jack saat melihat dokter keluar dari kamar rawat Meilin.
"Hhm, kondisinya bisa dibilang parah. Satu kaki sampai lututnya harus diamputasi karena organ itu sudah tidak berfungsi lagi dan akan sangat merepotkan jika dipertahankan. Terus benturan di kepalanya menyebabkan dia cedera otak. Kalau pun sembuh ada 2 kemungkinan, yang pertama, pasien bisa kehilangan ingatan dan yang kedua bisa gila.
Mendengar informasi dari dokter, Olivia tidak kuat menahan air mata. Wanita itu langsung menangis sesenggukan.
"Ayah, bagaimana ini?" ratapnya kemudian.
"Dok, tolong selamatkan kakak saya," ucap Olivia dengan suara yang parau.
"Dokter, lakukan yang terbaik, soal biaya akan aku tanggung semua," ucap Jack.
"Baik, dan perlu diketahui pasien saat ini dalam keadaan hamil," imbuh dokter.
"Apa?!"
Tentu saja sepasang suami istri ini kaget mendengar kabar terakhir dari dokter tentang Meilin.
"Bagaimana ini Mas, Mas Reza sudah pergi sebelum tahu kalau Meilin tengah hamil anaknya?"
"Biarkan saja Sayang, kita cari saja Reza nanti kalau anak ini benar-benar bisa diselamatkan, karena kondisi Meilin yang kritis ini akan sangat sulit membuat janin itu bertahan hidup, bukan begitu, dokter?"
"Ya, Anda benar, tetapi ini tergantung dari kuatnya janin dan perkembangan ibunya nanti."
"Ya Tuhan, selamatkan keduanya," doa Olivia dalam hati.
__ADS_1
Bersambung.