
"Mommy mana Dad?" tanya Elves saat dia dan Jack turun dari motor.
"Di kamar," jawab Jack sambil mengembalikan motor yang dikendarainya tadi ke tempat semula.
Elves mengangguk dan keduanya pun langsung beranjak ke kamar untuk menemui Olivia.
Sampai di pintu, Elves dan Jack terdiam melihat Olivia menangis sesenggukan sambil memeluk lututnya.
"Mommy kenapa Dad?" tanya Elves setelah sepersekian menit mereka hanya diam dan saling tatap.
"Entahlah," ucap Jack sambil melangkah ke dalam.
"Sayang kamu kenapa? Apa ada yang menyakitimu?" Jack duduk dan memegang pundak Olivia.
"Mas, Elves katanya kecelakaan dan dibawa mobil ambulan, Mas Jack darimana tadi sih?" Olivia bicara tanpa mengangkat wajah. Masih menempelkan dagunya pada lutut.
"Aku dari sana dan Elves tidak apa-apa, tapi–"
"Tapi apa, Mas?" potong Olivia akan perkataan Jack.
"El!" serunya saat melihat Elves berdiri di hadapannya.
"Mommy!" seru Elves lalu memeluk Olivia.
"Elves nggak apa-apa, kan?" tanya Olivia sambil memeriksa tubuh Elves barangkali ada yang luka.
Elves menggeleng dan berkata, "Elves baik-baik saja Mommy."
"Oh, syukurlah, tadi Mommy panik memikirkan keadaan Elves," ucap Olivia sambil mengusap pipi putranya itu kemudian tersenyum.
"Elves baik-baik saja, tapi tidak dengan saudaramu itu," ucap Jack.
"Maksudnya, Mas?"
"Maksudku Meilin."
Olivia mengerutkan kening. "Kenapa dia, bikin ulah lagi?"
"Dia tertabrak mobil saat membawa kabur Elves."
__ADS_1
"Membawa kabur Elves?" tanya Olivia kaget.
"Iya, dia menculik Elves dan saat orang-orangku mengejar, dia langsung menyebrang sembarangan. Untungnya tangan Elves sempat terlepas saat Meilin menariknya, kalau tidak, entah apa yang terjadi pada Elves sekarang."
Olivia terdiam, rasanya syok mendengar kabar tersebut.
"Lalu bagaimana dengan keadaan Kak Meilin?" Olivia terlihat khawatir. Bagaimanapun jahatnya Meilin padanya, wanita itu tetap adalah saudara seayah dari Olivia.
"Aku belum melihat keadaannya karena tidak sanggup, aku tadi berpikir Elves juga ada dalam mobil ambulan."
"El?" Olivia beralih menatap pada Elves.
"Mengerikan Mommy, betis dan kakinya gepeng dan sempat menempel ke aspal, terus di kepalanya keluar darah." Tubuh Elves bergetar, takut saat mengingat kecelakaan yang terjadi di depan matanya tadi.
"Innalilahi." Olivia menutup mulut, kaget dengan kejadian yang menimpa sang kakak.
"Mas, boleh aku menjenguknya?" Olivia menatap Jack penuh harap.
"Boleh, tapi besok saja ya Sayang. Sekarang sudah malam. Frans sudah menugaskan seseorang untuk menjaganya."
"Baiklah," ucap Olivia pasrah, tidak tega juga jika harus memaksa Jack sekarang untuk pergi. Yang terpenting saat ini Meilin sudah ada yang menangani.
"Baik Mommy." Tanpa banyak bicara lagi Elves langsung masuk ke kamar mandi.
"Mas ambilkan handuk untuk Elves, aku akan membantunya mandi," ucap Olivia sambil turun dari ranjang dan bergegas ke arah kamar mandi. Sampai di dalam dia langsung membantu Elves mandi.
Selang beberapa menit, Jack datang memberikan handuk.
"Mas, tolong dong gendong Elves, dia kedinginan katanya, meskipun sudah dimandikan dengan air hangat."
Jack mengangguk dan langsung menggendong tubuh Elves yang sudah terbungkus dengan handuk lalu membawanya ke atas ranjang. Olivia menyusul di belakang dan langsung mencari pakaian untuk Elves.
"Sorry Mommy sekarang seperti tidak punya tenaga," ucap Olivia sambil memasangkan baju Elves.
"Iya Mommy. Oh, ya di sini Elves bisa tidur sama Mommy dan Daddy tidak? Elves takut jika tidur sendiri. Oma tidak ikut," keluh anak itu.
"Iya, kita tidur bareng bertiga. Iya, kan, Mas?"
"Boleh, bagaimana kalau sekarang kita langsung tidur!"
__ADS_1
Keduanya mengangguk dan langsung merebahkan badan di atas kasur. Elves berguling-guling dan tidak bisa tidur membuat kedua orang tuanya pun ikut tidak bisa tidur.
Di kamar yang lain Reza ketakutan karena tinggal sendirian di dalam kegelapan. Dari luar hanya terlihat cahaya yang temaram.
"Sial! Kenapa aku memilih kamar yang ini sih?" Reza merutuki dirinya sendiri yang telah salah memilih kamar. Awalnya Reza memilih kamar ini karena posisinya yang jauh dari kamar lain, ditambah kamar tersebut agak menjorok ke belakang. Dia pikir dengan pilihannya ini, akan membuat dia puas bermain-main dengan Olivia. Nyatanya saat ini, dia sendiri yang bermain-main dengan keadaan.
"Tolong! Adakah orang di luar?" Reza berharap ada orang yang mau menolongnya.
Senyap, tak ada jawaban. Beberapa saat ponselnya terdengar berdering. Dengan susah payah Reza mengambil ponsel itu dari saku bajunya dengan mulut. Setelah dibuka ternyata seseorang yang tidak tahu siapa mengirimkan foto Meilin yang terbaring lemah dengan caption yang membuat Reza semakin merasa cemas.
[ Malam ini Meilin sudah membayar perbuatan jahatnya dengan nyawa, besok giliran Anda]
Reza terhenyak. "Apa? Mereka benar-benar sudah membunuh Meilin? Ya Tuhan, aku takut. Berikan petunjuk agar aku bisa kabur dari tempat ini."
Mata Reza terus saja mencari celah dari kamar itu untuk dijadikan pintu keluar. Namun, nihil, dalam gelapnya kamar dia tidak bisa melihat dengan jelas.
Dari bawah pintu terlihat ada asap putih yang mengepul dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Aduh, bagaimana ini? Bagaimana kalau itu hantu Meilin? Dia pasti datang ke sini untuk menuntutku karena dia mati gara-gara rencana yang ku buat ini." Tubuh Reza semakin bergetar, rasa takut menguasainya.
Di luar anak buah Jack terkekeh mendengar suara Reza yang terdengar ketakutan.
"Rasain lo, suruh siapa jahat sama keluarga bos," ucap salah satu dari mereka dengan suara pelan sambil terus menyalurkan asap buatan ke dalam kamar.
"Hei sepertinya kita juga butuh ini." Anak buah Jack yang lain datang dengan gula dan korek api. Mereka lalu membakarnya di depan kamar.
"Waduh, kok jadi bau kemenyan? Ampun Meilin! Jangan kau bawa aku! Kalau mau mati mah mati sendiri aja, nggak usah ngajak-ngajak," ucap Reza dengan suara juga bergetar.
Beberapa anak buah Jack yang berada di luar berusaha menahan tawa sebab takut keberadaannya disadari oleh Reza.
"Tolong! Siapapun di luar tolong buka pintu dan lepaskan aku!"
"Aha, aku punya ide," ucap seseorang sambil menghidupkan lampu, lalu mematikan kembali. Begitu terus hingga Reza semakin berpikir bahwa hantu Meilin gentayangan di sekitar dirinya.
"Ampuni aku Meilin. Aku tidak tahu jikalau rencana ini akan gagal dan bahkan akan merenggut nyawamu. Kalau tahu akan begini, aku tidak akan pernah melakukan hal ini semua!" seru Reza berbicara seorang diri.
"Semoga saja Reza tidak gila karena semua ini," ucap anak buah Jack di luar kamar.
"Kalau kamu tidak ingin dia gila, yasudah, hentikan kegilaan kita untuk mengerjainya!" tegas yang lain. Namun, tentu saja suara mereka tidak jelas seperti biasanya.
__ADS_1
Bersambung.