
Ternyata masalah yang harus dihadapi perusahaan Jack yang ada di luar kota begitu rumit sehingga sampai 3 hari Jack harus menginap di kota tersebut.
"Akhirnya aku bisa kembali besok," ucap Jack sambil merentangkan kedua tangannya sambil bernafas lega. Dia kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasur dan tertidur.
Pagi-pagi sekali Jack menelpon Olivia. Rasanya dia tidak enak karena selama ini mengabaikan Olivia dan Elves karena terlalu fokus dengan masalah di kantor.
Kepalanya seakan ingin pecah karena tidak juga menemukan titik penyelesaian sehingga tidak sempat memikirkan keluarganya. Namun, hari ini dia sudah bisa bernapas dengan tenang.
Ponsel Olivia bergetar, tidak jauh darinya yang terbaring lemas di atas ranjang sambil menekan kepalanya dengan bantal.
Olivia menggeser tubuhnya dan mencoba meraih, tapi ponsel tersebut malah jatuh ke lantai.
"Ah, kenapa pusing sekali!" Olivia membiarkan ponselnya lalu menekan kepalanya dengan kuat.
"Mommy kenapa?" tanya Elves yang membuka pintu menemukan Olivia meringis kesakitan. Anak itu langsung berlari ke arah Olivia.
"Mommy!" pekik Elves dengan raut wajah yang terlihat panik.
"El, tolong angkat telepon mommy barangkali ada yang penting," pinta Olivia sambil terus memijit kening dan meringis kesakitan.
Elves hanya mengangguk lalu menunduk dan meraih ponsel milik Olivia yang masih bergetar di atas lantai.
"Halo!" Elves langsung menyapa penelpon meskipun tidak tahu siapa yang menelepon Mommy-nya.
"Halo El, mommy mana?" tanya Jack tanpa basa-basi.
"Mommy sakit Dad, dari tadi menekan-nekan kepala. Mommy juga terlihat kesakitan," jelas Elves.
"Siapa El?" tanya Olivia dengan suara lirih.
"Oliv?" Tiba-tiba saja Jack langsung merasa khawatir.
"El tolong minta oma untuk membawa Mommy ke rumah sakit! Sekarang juga daddy akan pulang!" Jack langsung menyambar jas dan jasnya lalu menutup telepon.
__ADS_1
Dengan setengah berlari pria itu keluar dari kamar hotel dan sampai di luar langsung berlari menuju mobilnya terparkir.
Jack pun langsung melajukan mobilnya dengan kencang di jalanan. Waktu yang masih teramat pagi menguntungkan untuk Jack sebab jalanan masih terlihat lengang.
Di kamar Olivia, Elves langsung keluar menemui Melanie saat mendengar perintah dari daddy-nya.
"Memang mommy kenapa?" tanya Melanie mendengar pengaduan Elves.
Anak itu menggeleng. "Elves lupa bertanya, tapi mommy pegang kepala sambil meringis," terang anak itu dengan ekspresi yang ikut meringis.
"Baik kalau begitu oma periksa dulu," ucap Melanie lalu bergegas menuju kamar Olivia. Elves mengangguk dan berjalan di belakang omanya dengan pelan.
"Olivia kamu kenapa?" tanya Melanie saat dirinya sampai di depan pintu.
"Nggak apa-apa Mom," sahut Olivia masih dengan suara lirih.
"Nggak apa-apa bagaimana? Itu kamu seperti kesakitan." Melanie mendekat ke arah Olivia lalu duduk di tepi ranjang, di samping Olivia.
"Kau demam," ujar Melanie dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
Olivia hanya mengangguk.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Melanie, tetapi Olivia menggeleng.
"Loh kenapa? Biar cepat sembuh Nak," desak Melanie.
"Tidak usah Mom, nanti juga sembuh sendiri. Mommy punya parasetamol? Kalau ada Olivia minta Mom."
"Tapi Jack tadi menelpon Elves dan mengatakan agar mommy mengantarmu ke rumah sakit. Nanti kalau mommy tidak mengantarkanmu untuk periksa dia malah protes lagi sama mommy," desak Melanie lagi agar Olivia menurut.
"Biar Olivia nanti yang ngomong dengan Mas Jack," kekeuh Olivia.
"Yasudah kalau begitu inginmu Mommy ambil parasetamol sekaligus air hangat untukmu," ujar Melanie disambut anggukan dari Olivia.
__ADS_1
"Elves jaga mommy!" perintahnya pada Elves lalu keluar dari kamar. Beberapa saat kemudian kembali dengan nampan yang berisi segelas air hangat, semangkuk bubur dan obat di atasnya.
"Makan dulu ya, Nak!"
"Olivia tidak selera Mom," ucap Olivia menatap hambar bubur di tangan Melanie.
"Makanlah sedikit saja, semenjak Jack pergi kau terlihat jarang makan dan kalau makan pun sedikit sekali tidak seperti biasanya."
Olivia yang tidak enak dengan mertuanya akhirnya mengangguk.
"Kalau ada masalah kau bisa bercerita dengan Mommy," ujar Melanie sambil menyuapkan bubur ke mulut Olivia.
"Biar Olivia makan sendiri Mom." Olivia meraih mangkok dari tangan Melanie, tetapi wanita setengah baya itu tidak mengizinkan Olivia makan sendiri
"Biar Mommy yang menyuapimu. Kalau kau makan sendiri nanti cuma beberapa sendok langsung berhenti."
Akhirnya Olivia hanya bisa pasrah dan menerima suapan demi suapan yang disodorkan oleh mertuanya.
Terpaksa Olivia menghabiskan satu mangkok bubur itu karena permintaan Melanie.
"Sekarang minum obat," ucap Melanie sambil meraih air hangat dan membantu Olivia meminum parasetamol. Setelah selesai Melanie menyuruh Olivia istirahat kembali dan setelah Olivia berbaring, Melanie menarik selimut dan menutupi tubuh Olivia sampai perut.
"Terima kasih Mommy," ucap Olivia sambil menatap wajah Melanie dengan mata yang nampak berkaca-kaca. Melanie sangat baik padanya dari sebelum Olivia bukan siapa-siapa hingga menjadi menantunya sendiri.
Sayangnya Olivia sangat kecewa karena menganggap Jack menikah dengannya karena wajahnya yang mirip dengan Dianaz. Entah kenapa sekarang Olivia merasa hanya sebagai istri bayangan. Bayangan Dianaz di mata Jack.
"Mom, benarkah Mas Jack menikahi Olivia karena wajah Olivia yang mirip dengan Nyonya Dianaz?"
"Olivia, kenapa kau bertanya seperti itu?" Melanie kaget mendengar pertanyaan dari Olivia.
"Sudahlah Mom, lupakan pertanyaan Olivia tadi. Olivia ingin istirahat dulu." Sepertinya Olivia belum siap mendengar jawaban dari Melanie yang kemungkinan jawabannya adalah kata 'iya'.
Bersambung.
__ADS_1