
"Yasudah beristirahatlah semoga setelah bangun nanti tubuhmu menjadi lebih baik," ucap Melanie dan Olivia langsung mengangguk lalu menutup mata.
Melanie mendekati Elves lalu menggendong cucunya dan membawa keluar dari kamar Olivia.
"Elves mau menemani Mommy Oma," tolak anak itu saat Melanie membawanya keluar.
"Mommy harus istirahat tidak boleh diganggu," bisik Melanie agar cucunya paham.
"Baiklah," ucap Elves pasrah dengan tubuhnya yang digendong keluar.
Olivia pun tertidur karena rasa kantuk menguasai dirinya. Mungkin efek obat yang diberikan oleh Melanie atau mungkin sudah teramat lelah memikirkan kenyataan.
Beberapa jam berlalu Jack memasuki rumah dan menemui Melanie di ruang keluarga.
"Bagaimana keadaan Olivia Mom?" tanya Jack sambil mengulurkan tangan lalu menyalami tangan Melanie.
"Sudah lebih baik setelah minum obat, tadi tubuhnya panas sekali."
Jack mengangguk.
"Dia sedang tidur sekarang, jadi kalau kamu masuk kamar mommy sarankan berjalan pelan-pelan agar tidak menganggu tidurnya."
"Baik, Elves mana? Apa juga ada di kamar?" Jack mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan untuk melihat putranya yang biasanya heboh jika melihat kedatangannya.
"Elves sedang tidur di kamar mommy."
"Oh kalau begitu Jack pamit ke kamar dulu ya, Mom."
"Iya, Nak."
Jack pun menaiki tangga dengan langkah yang cepat, tetapi saat hampir sampai di depan pintu kamarnya dia mulai berjalan pelan dan membuka pintu dengan perlahan.
Pria itu berjalan menuju ranjang lalu mengamati wajah sang istri yang nampak pulas.
"Dilihat dari nafasnya seperti panasnya masih tinggi," gumam Jack. Tangannya terulur menyentuh dahi Olivia. Namun diurungkan tatkala berpikir takut menganggu tidur istrinya.
Dengan pelan Jack meletakkan tas dan jasnya lalu dia mengambil handuk kemudian keluar dari kamar mereka menuju kamar Elves. Jack memutuskan untuk mandi di sana sebab takut jika mandi di kamarnya sendiri gemericik air akan membangunkan wanita itu.
Setelah selesai Jack kembali hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Mas," lirih Olivia saat menyadari Jack menatap dirinya.
"Kau sudah bangun?" tanya Jack lalu menyentuh dahi istrinya.
__ADS_1
Olivia mengangguk.
"Mas, kapan datang? Kenapa tidak membangunkan aku?"
"Tidak tega melihatmu sakit."
"Aku buatkan kopi dulu." Olivia mencoba bangkit dari tidurnya, tetapi ditahan oleh Jack.
"Tidak perlu, kau istirahat saja. Aku mau pakai baju dulu."
Olivia mengangguk. Dia tidak jadi bangun dari tempat tidur, tetapi tidak memejamkan matanya kembali. Dia lebih memilih menatap Jack yang sedang memasang pakaiannya.
"Kenapa melihatku seperti itu, kangen?" goda Jack sambil tersenyum membuat Olivia langsung memalingkan muka. Melihat tubuh Jack yang begitu mendekati sempurna Olivia menjadi insecure. Rasanya tidak mungkin Jack mencintai dirinya yang hanya pas-pasan dari segi bentuk tubuh maupun kecantikannya.
"Kau kenapa?" tanya Jack yang seolah melihat perubahan wajah dari Olivia secara mendadak.
"Oliv!" panggil Jack karena tidak mendengar jawaban dari Olivia.
Namun, Olivia tetap bungkam dan tidak mau menatap Jack sehingga membuat Jack langsung duduk di depan Olivia.
"Ada apa? Kenapa kamu marah?" tanya Jack dengan suara lembut. Dalam hati berkata seharusnya dirinya yang marah perihal foto Olivia dan Reza yang dikirimkan seseorang padanya. Namun, melihat situasi dan kondisi sepertinya Jack harus mengalah.
"Hei!" Jack mengusap pundak Olivia yang terlihat bergetar.
"Oliv katakan ada apa?" Jack terlihat gusar saat melihat tetes air mata membasahi pipi istrinya.
"Aku tidak apa-apa," ucap Olivia sambil mengusap air matanya.
"Bagaimana seseorang yang mengeluarkan air mata dikatakan tidak apa-apa? Jelaskan padaku apa yang membuatmu seperti itu!" tegas Jack, tak nyaman jika belum tahu alasan yang membuat Olivia bersikap seperti itu.
"Mas! Apakah Mas Jack tidak marah jika aku bertanya sesuatu yang pribadi?" tanya Olivia pelan.
"Kenapa harus marah? Tanyakan saja!"
Olivia mengangguk, menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan.
Jack menatap wajah Olivia yang tampak tegang.
"Bagaimana perasaan Mas Jack pada Nyonya Dianaz?" tanya Olivia dengan suara penuh kehati-hatian.
"Tunggu dulu! Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Jawab saja Mas!"
__ADS_1
"Oke." Kali ini Jack yang menghembuskan nafas. Nafasnya terdengar berat.
"Mas Jack mencintainya?" tanya Olivia tidak sabaran dan Jack terlihat mengangguk.
"Hah!" Terdengar deru nafas kasar dari mulut Olivia sedangkan wajahnya terlihat kecewa.
"Seharusnya aku tidak begini, bagaimana pun Nyonya Dianaz adalah mommy Elves," batin Olivia.
"Kenapa kau menanyakan itu? Dan tolong jangan panggil dia Nyonya karena kau bukan pembantunya, kau nyonyaku sekarang."
"Bagaimana perasaan Mas Jack padaku?" tanya Olivia lagi.
Jack menggeleng sambil tersenyum. "Kau ternyata cemburu pada seseorang yang sudah tiada."
"Aku butuh jawaban Mas!" desak Olivia.
"Tentu saja juga cinta Oliv, kau pikir aku akan menikahi wanita jika aku tidak mencintainya?"
"Karena wajahku mirip dia?"
"Apa maksudmu?"
"Mas Jack menganggapku Nyonya Dianaz padahal aku itu orang yang berbeda." Olivia berbicara dengan nada menggebu. Kekecewaannya mencapai puncak.
"Siapa yang mengatakan seperti itu? Dulu aku memang menganggapmu Dianaz makanya aku menolak saat mommy mengutarakan keinginannya untuk menjodohkan denganmu saat kami belum tahu kau sudah punya suami.
Namun, sejak aku mengenalmu dari sudut pandang yang berbeda dan yakin bukan menyukaimu karena mirip Dianaz maka saat itulah aku melamarmu. Olivia aku tidak mungkin setega itu padamu. Menikahi hanya karena mirip mantan. Setelah lama kita hidup dalam satu rumah aku melihatmu tidak lagi mirip dengannya."
Olivia hanya menunduk mendengar penjelasan Jack.
"Perlu kau ketahui, aku mencintai kalian pada waktu yang berbeda. Dulu aku sangat mencintai Dianaz, tapi sekarang aku sangat mencintaimu Olivia. Jadi kumohon jangan ragukan aku lagi. Jangan tinggalkan aku seperti dia. Mungkin aku sanggup saat dia tinggalkan, tapi belum tentu saat kau harus meninggalkanku juga." Mata Jack tampak berkaca-kaca.
"Mas maafkan aku," sesal Olivia.
"Tidak apa-apa, tanyakan saja jika ada yang masih mengganjal di hatimu," ujar Jack dan langsung meraih tubuh Olivia ke dalam pelukannya.
Pria itu mengecup pipi, hidung, dan kening Olivia sambil tangannya mengusap lembut kepala Olivia.
"Mas!" Olivia ingin protes, tetapi mulutnya langsung dibungkam oleh bibir Jack.
"Jangan membantah, aku menginginkanmu sekarang. Aku merindukanmu Olivia," ucap Jack dengan mata yang terlihat sayu.
Akhirnya Olivia hanya mengangguk pasrah.
__ADS_1
"Lakukan apa yang Mas Jack ingin lakukan padaku!"
Bersambung.