Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 70. Sedikit Kecurigaan


__ADS_3

"Mas bangun, tuh lihat tadi ada Mommy!" Olivia mengguncang tubuh Jack lebih kencang hingga pria itu melepaskan pelukannya.


"Ada apa sih?" Jack menatap bingung mata Olivia.


"Gara-gara Mas Jack, mommy jadi tahu kalau kita–"


"Kita kenapa?" potong Jack akan perkataan Olivia.


"Auh ah, kenapa nggak paham sih! Ini akibat Mas Jack yang teledor sehingga tidak mengunci pintu. Kan, kan, kita ketahuan."


"Oh ini? Mommy nggak akan menyadari toh tubuh kita terbungkus selimut," jawab Jack enteng.


Olivia duduk.


"Gimana nggak menyadari orang ini–"


Olivia menjeda ucapannya lalu berdiri dan berjalan lalu memungut pakaiannya.


"Ini berserakan di atas lantai," lanjutnya dengan tangan menunjukkan pakaikan dirinya dan juga Jack.


Jack yang akhirnya menyadari akan keteledorannya itu hanya bisa menepuk jidat dan berdoa dalam hati agar Olivia tidak ngambek dan akhirnya tidak mau memberi jatah lagi.


"Udah ya aku ke kamar mandi duluan. Nggak nyaman ini tubuh lengket."


Jack menatap Olivia lalu mengangguk dan Olivia pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian terdengar suara Olivia yang memanggil namanya dari dalam kamar mandi.


Jack berjalan mendekat dan menempelkan wajahnya di pintu kamar mandi.


"Ada apa Sayang?"


"Mas tolong ambilkan handuk, aku kelupaan tadi!"


"Oke sebentar." Jack melangkah ke arah lemari lalu mengambil salah satu handuk yang masih terlipat dengan rapi. Kemudian melangkah kembali ke arah kamar mandi.


"Sayang ini handuknya!" seru Jack sambil menempelkan tubuhnya di daun pintu sehingga pas pintu kamar mandi dibuka tubuhnya terhuyung ke dalam.


"Sorry Mas aku tidak tahu kalau Mas bersandar pada pintu.


"Iya nggak apa-apa," ucap Jack sambil mendekat ke arah Olivia.


"Mana handuknya?" Olivia mengulurkan tangan sebab Jack belum memberikan handuk di tangannya.


"Kau mandi lagi, kita mandi bareng!" perintah Jack sambil menaruh handuk pada hanger ya menempel di dinding kamar mandi.


Olivia meringis, melihat raut-raut wajah Jack Olivia yakin definisi mandi yang dikatakan Jack bukanlah mandi seperti biasa.


"Nanti malam aja ya Mas, aku capek," ucap Olivia sambil menunduk. Dia merasa bersalah telah menolak keinginan sang suami. Namun, apa daya tubuhnya masih belum sehat benar. Mandi saja terpaksa karena harus mandi wajib.


"Hei kenapa menunduk begitu sih?" Jack menyentuh dagu Olivia lalu mengangkatnya ke atas dengan lembut sehingga wajah mereka kini bertatapan.


"Sorry aku melupakan sesuatu bahwa sebenarnya keadaanmu masih sakit. Terima kasih telah melayaniku walaupun sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan." Jack mengecup bibir Olivia lalu buru-buru menarik handuk yang tadi dikaitkannya.


"Cepat keluar dan pakai bajumu!" perintah Jack sambil memasangkan handuk di tubuh Olivia.


Tubuh Olivia tampak membeku.


"Hei sana keluar!" perintah Jack.

__ADS_1


"Eh iya Mas, terima kasih untuk semuanya."


Jack hanya tersenyum lalu mengangguk. Setelah Olivia keluar gantian dia yang mandi.


Lekas-lekas Olivia memakai pakaiannya sendiri lalu menyiapkan pakaian rumahan untuk Jack. Setelahnya dia duduk di depan meja rias dan menyisir rambutnya. Tidak lupa mengoleskan tipis-tipis make up agar dia tetap kelihatan cantik meskipun dalam keadaan yang tidak sehat.


Olivia berpikir untuk belajar make up yang sempurna agar dirinya senantiasa terlihat cantik sebab menilik dari profesi Jack pasti akan banyak bertemu dengan klien tak terkecuali klien perempuan yang pasti penampilannya menarik.


"Kenapa lama-lama di depan kaca? Sudah cantik kok," ucap Jack sambil memeluk sang istri dan meletakkan dagunya di ceruk leher Olivia. Pria itu menatap lekat wajah sang istri lalu tersenyum manis.


"Aku berpikir untuk ikut kelas make-up, kira-kira Mas Jack ngizinin nggak?" Olivia mendongak, menatap wajah suaminya.


Jack mengerutkan kening.


"Kenapa, kau punya cita-cita untuk menjadi MUA atau make up artist?"


Olivia menggeleng.


"Terus buat apa?"


"Biar bisa dandan cantik dan Mas Jack tak akan berpaling."


Jack terkekeh mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Olivia.


"Kenapa malah ketawa? Nggak boleh ya?" tanya Olivia cemberut.


"Sebenarnya itu keinginan bagus, cuma alasannya itu loh seolah kau menganggap aku pria yang mudah berpaling. Percayalah aku akan setia. Namun, kalau itu sudah menjadi keinginanmu aku dukung. Nanti aku datangkan orang yang bisa membimbingmu."


"Terima kasih," ucap Olivia lalu dengan cepat mencium pipi Jack.


"Kau ternyata agresif juga ya dan mulai berani," goda Jack.


"Emang dasarnya si Reza yang tidak bisa bersyukur."


"Tapi alhamdulillah karena itu aku berjodoh sama Mas Jack."


Jack melepaskan pelukan.


"Aku pakai baju dulu setelah ini kita makan siang bareng."


"Mas bisa aku makan di sini saja?"


"Kenapa?" tanya Jack sambil mengenakan pakaian.


"Malu sama mommy."


Jack menatap wajah Olivia lalu mengangguk.


"Nanti aku akan minta bibi mengantar. Kalau begitu aku turun dulu ya!"


"Iya Mas."


Akhirnya Jack turun ke lantai bawah seorang diri.


"Sudah bertempurnya?" Melanie tanpa basa-basi bertanya pada Jack yang menuruni tangga.


Jack hanya menatap wajah Melanie tanpa menjawab.


"Kayak gempa bumi aja kamar berantakan, untung Elves tidak sampai masuk kamar," ujar Melanie sambil tersenyum.

__ADS_1


"Biasa Mom efek sudah lama tak tersalurkan," sahut Jack tenang.


"Lain kali kunci kamar!"


Jack mengangguk, membalik piring kemudian mengambil nasi.


"Pertempuran apa Oma? Siapa yang bertempur?" tanya Elves dengan menampilkan wajah polosnya.


Sontak Jack menghentikan aksinya mengambil nasi dan menatap Melanie yang menatap ke arahnya pula dengan mata terbelalak.


"Oh itu film barat yang Daddy tonton."


Elves mengangguk walaupun sedikit bingung karena tadi melihat Jack tidur bukan menonton film. Namun, untuk bertanya lagi, Elves enggan.


"Elves baik-baik saja 'kan, selama Daddy tinggal?"


"Iya Dad, tapi Elves kangen Daddy!"


"Sini Daddy peluk!" Jack menaruh sendok di tangannya lalu meraih tubuh Elves yang bergeser ke dekatnya.


Setelah puas berpelukan, Jack mencium kedua pipi putranya lalu beralih mengecup kening.


"Sekarang kita makan!" ajaknya.


Elves mengangguk.


"Elves mau makan apa biar Daddy ambilin soalnya Mommy lagi tidak enak badan sehingga tidak bisa menyuapi Elves kali ini."


"Tidak apa-apa Dad, El mau belajar makan sendiri."


"Oh ya, Olivia tidak makan?"


"Saya sudah menyuruh bibi tadi untuk mengantarkan makanan ke kamar. Sepertinya selain tidak enak badan dia juga malu sama Mommy. Jack minta kalau berpapasan dengan dia jangan menggoda dia atau membahas soal yang mommy lihat tadi ya Mom!" pinta Jack.


"Pasti Nak."


***


Esok hari, pagi-pagi Jack sudah tiba di kantor dengan wajah yang ceria tidak seperti biasanya. Sambil bersenandung kecil dia berjalan menaiki tangga dan menyapa setiap karyawannya yang melintas.


"Aneh, ada apa dengan Tuan Jack?" Frans nampak kebingungan melihat sikap Jack yang seakan berubah seratus delapan puluh derajat.


"Benar-benar berubah," gumam Frans.


"Frans, ke ruanganku sekarang juga!"


"Baik Tuan."


Frans berjalan di belakang Jack.


"Tolong bawakan rekaman cctv di perusahaan ini pada waktu saya ada di luar kota!"


Frans terbelalak.


"Apakah ada yang hilang Tuan?"


"Sudah tidak usah banyak tanya, kerjakan saja!" tegas Jack.


Frans menelan ludah, dan sepertinya harus menarik kembali ucapannya tadi karena sepertinya Jack tidak berubah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2