Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 55. Sweet Daddy


__ADS_3

"Daddy!"


Saat Olivia dan Jack sudah menghabiskan makanannya dan hendak bangkit dari duduknya, suara Elves terdengar melengking dan memecah kesunyian diantara para pengunjung restoran yang sama-sama fokus menyantap pesanan makan mereka.


"Waw, baru saja Daddy menelpon dan memberitahukan akan menjemputmu, kau sudah sampai." Jack begitu heran dengan kedatangan putranya.


"Karena kami sebenarnya sudah berada di sekitaran sini Dad."


"Ngapain dan sama siapa kamu disini?"


"Siapa lagi kalau bukan sama Oma. Oma mengajak Elves untuk makan di tempat ini. Bosan kata Oma makan di rumah terus, suasananya nggak berubah-ubah."


"Ah omah kamu itu memang banyak alasan padahal dia mah paling ingin jalan-jalan saja. Kalau cuma pengen suasana yang berbeda kenapa tidak menyuruh si bibi untuk mengubah suasana di ruang makan."


"Tidak salah, kan Jack kalau mommy mengajak Elves jalan-jalan? Sumpek tahu di rumah terus."


"Nggak salah sih Mom, terserah Mommy mau mengajak Elves kemana saja, tapi sepertinya sekarang kami akan membawa Elves jalan-jalan. Mommy tidak harus ikut juga, kan?"


"Iya, iya mommy mengerti. Mommy tidak akan ikut bersama kalian. Mommy mau makan di sini sendiri saja. Bawalah Elves pergi!" ketus Melanie.


"Aish kenapa Mommy marah?" Jack mengernyit.


"Sudah Jack jangan menatap mommy seperti itu, sana pergi cepat!"


"Tapi Mommy janji jangan marah-marah dan ingat kalau marah Mommy akan bertambah cepat tua dan perawatan yang selama ini Mommy lakukan tidak ada gunanya sama sekali."


"Ckk, nih anak malah ceramah lagi. Tanpa diingatkan pun mommy tahu bahwa mommy sudah tua. Sana pergi!"


"Oke kalau begitu Jack pamit dulu ya Mom!" Jack mengulurkan tangan untuk menyalami tangan Melanie.


"Mommy hati-hati ya," lanjutnya sambil mencium tangan mommy-nya.


"Iya Jack sana pergi! Mengganggu waktu makan mommy saja," ucap Melanie sambil tersenyum.


"Olivia pamit ya Nyoya."


"Panggil Mommy, jangan Nyonya lagi! Bukankah sebentar lagi kalian akan menikah?"


Olivia langsung menatap wajah Jack. Wanita itu merasa penasaran mengapa Melanie bisa tahu padahal keduanya belum sempat pulang dan belum bercerita pada Melanie.


"Aku yang memberitahunya tadi di telepon," jelas Jack.


"Baik Mommy," ucap Olivia dengan ekspresi dan suara yang sedikit kaku.


"Yasudah pergilah kalian dan berhati-hatilah!"


"Baik Oma, Elves juga ikutan pamit."


"Ya, ya, ya."

__ADS_1


Akhirnya ketiganya melangkah keluar dari restoran.


"Kita kemana sekarang Tuan?" tanya Olivia setelah dirinya mendudukkan bokongnya di atas kursi mobil.


"Menurut kamu kemana?" Jack malah balik bertanya. Hanya sekedar ingin mendengarkan usul Olivia.


"Tidak tahu," ucap Olivia bingung.


"Yasudah kita ke mall saja. Cari kebutuhanmu dan juga Elves." Jack langsung menghidupkan mesin kemudian menyetir.


"Terserah Tuan saja," ujar Olivia pasrah.


"Kenapa aku menjadi risih ya kamu masih memanggilku Tuan? Bisa tidak, panggil dengan sebutan Mas atau Daddy sekalian seperti Elves?"


"Daddy? Kok aku geli ya Tuan? Gimana kalau Mas saja?"


"Itu karena masih belum terbiasa saja. Lama-lama juga nggak akan geli lagi, tapi panggil Mas juga boleh."


"Entahlah, kalau manggil Daddy, saya merasa kayak sugar Daddy gitu." Olivia langsung menutup mulut sedangkan Jack langsung terkekeh.


"Sugar itu, kan gula ya Dad? Apa Daddy manis seperti gula hingga Mommy memanggil Daddy dengan sebutan Sugar Daddy? Ah Daddy Jack, kan memang manis. Bagaimana kalau Elves juga memanggil Daddy dengan sebutan Sugar Daddy?"


"Jangan!" cegah Jack langsung membuat Olivia tertawa renyah.


"Loh memang kenapa? Emang Elves tidak boleh ya meniru Mommy?" tanya Elves sambil cemberut sedangkan Jack langsung terbelalak.


"Tidak boleh Sayang karena Mommy juga tidak akan memanggil dengan sebutan itu pada daddy kamu. Lebih bagus panggil Sweet Daddy daripada sugar Daddy," jelas Olivia.


Jack dan Olivia saling pandang dan bingung harus menjawab apa.


"Kenapa kalian diam saja?" tanya Elves seolah penasaran jika pertanyaannya belum terjawab juga.


"Hem, begini Elves ... gula itu manis, tetapi tidak semua rasa manis berasal dari gula. Di dunia ini ada yang namanya aspartam atau pemanis buatan."


Elves mengangguk-angguk mendengar penjelasan Olivia meskipun tidak mengerti dengan benda yang dimaksud oleh Olivia sedangkan Jack hanya menatap wajah Olivia sambil tersenyum.


"Wajah Elves juga manis tanpa gula dan pemanis buatan," lanjut Olivia membuat Elves melengkungkan senyuman termanisnya.


"Dan senyummu juga manis," ucap Olivia kemudian.


"Terima kasih Mommy, dan senyuman Daddy juga manis."


Sontak saja Jack langsung melihat ke arah lain karena tidak ingin ketahuan memandang wajah Olivia tanpa berkedip sedari tadi.


"Di depan ada mall, mau masuk ke situ atau ke mall lain lagi?"


"Bolehlah Tuan. Eh Mas, biar tidak memakan waktu lama."


"Baiklah kalau begitu." Jack langsung menuju mall terdekat.

__ADS_1


Sampai di dalam mall ponsel Jack bergetar.


"Angkat saja Mas mungkin ada yang penting," saran Olivia sebab Jack seolah mengacuhkan bunyi dari ponselnya.


"Baiklah." Padahal Jack saat ini ingin fokus pada dua orang du depannya, tetapi karena Olivia pria itu terpaksa mengangkat telepon.


"Halo!"


"Halo Tuan!" Terdengar suara Frans dari balik telepon.


"Ada apa?" tanya Jack dengan suara dinginnya.


"Tuan ada yang gawat. Salah satu pemasok bahan dasar di pabrik kita menghentikan pengiriman. Mereka tergiur dengan penawaran dari perusahaan lain sehingga terpaksa melanggar perjanjian."


"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Apa mereka tidak mengerti hukum?"


"Entahlah Tuan saya juga tidak mengerti. Saya tadi sudah ke sana, tetapi penjelasan saya seolah dianggap angin lalu saja."


"Ada apa Mas?" tanya Olivia khawatir melihat ekspresi wajah Jack yang terlihat murka.


"Olivia apa tidak apa aku tinggal sebentar kalian di sini? Setelah masalahnya selesai nanti aku janji akan mejemput kalian berdua, atau kalian mau ikut ke kantor?" Jack menawarkan 2 pilihan.


"Saya mau di sini Dad."


Ternyata Elves yang memutuskan.


"Oliv?"


"Ya saya akan menemani Elves di sini dulu."


"Baiklah jika itu keputusanmu. Kalian pilih barang yang kalian butuhkan dan inginkan setelah selesai bisa bermain game sambil menunggu aku menjemput. Namun, kalau nanti ternyata aku tidak bisa cepat menjemput sedangkan kalian sudah ingin pulang, biar pak sopir saja yang akan ke sini menjemput kalian."


"Baik Mas bagaimana enaknya saja. Kalau tidak bisa kami berdua juga bisa naik angkutan umum."


"Yang penting komunikasi Oliv kau akan pulang dengan apa."


"Baik Tuan."


"Yasudah kalau begitu saya pergi."


Olivia mengangguk.


"Elves baik-baik ya sama Mommy, jangan manja dan jangan nakal!"


"Baik Dad, sekarang kan Elves sudah menjadi anak manis."


"Eah bagus dong, kalau begitu Daddy pamit ya, Olivia juga."


"Baik Mas."

__ADS_1


"Oke Dad."


Bersambung.


__ADS_2