
"Tapi aku ingin melihat pemakamannya," ujar Olivia.
"Bisa kok. Sekarang kita pulang saja, biar nanti saya akan menyuruh orang untuk mencari tahu dimana Koni akan dimakamkan dan kita akan langsung ke sana setelah mendapatkan informasi yang jelas. Sekarang kita pulang dulu."
Olivia mengangguk, Jack pun ikut mengangguk.
"Apakah kau ingin kami antar?" tanya Jack pada Sari dan gadis itu hanya menggeleng.
"Kenapa? Kalau mau pulang ayo saya antar." Sekali lagi Jack menawarkan agar gadis itu pulang bersamanya.
"Tidak Tuan, saya di sini saja. Mau menemani Koni sampai dia dimakamkan."
"Baiklah kalau begitu kami tinggal dulu!"
Sari mengangguk.
Olivia dan Jack pun meninggalkan rumah sakit.
"Kalian darimana saja? Kenapa tidak mengajak Elves?" Elves berdiri di depan Olivia dan Jack saat mereka tiba di depan pintu rumah.
"Enggak usah cemberut ah! Elves kalau cemberut jadi jelek," goda Olivia lalu terkekeh.
"Ada yang serius Elves dan itu masalah orang dewasa. Anak sekecil kamu tidak boleh ikut campur," ujar Jack.
Elves terlihat mencebik.
"Elves sudah besar bukan anak kecil lagi," sanggah anak itu sambil berkacak pinggang di depan keduanya membuat Olivia yang gemes langsung menggendong tubuh Elves ke kamar diikuti Jack di belakang. Namun, saat di depan kamarnya sendiri Jack masuk ke dalam sedangkan Olivia membawa Elves ke dalam kamar Olivia.
"Tadi ada orang meninggal, Elves mau lihat tah?"
"Orang meninggal Mommy?" tanya Elves kaget.
"Yup, karena jatuh dari lantai atas sebuah gedung. Makanya Elves jangan main-main di balkon kamar apalagi berlarian, bahaya," nasehat Olivia sebab Elves seringkali suka berada di tempat itu tanpa pengawasan. Ya, ketika Olivia sedang mandi anak itu suka bermain-main di sana.
"Iya Mommy sekarang enggak lagi kecuali ditemani sama Mommy, daddy, ataupun oma."
"Bagus kalau begitu Mommy mandi dulu ya, tubuh Mommy lengket ini. Elves mandi sama siapa tadi?" Olivia bertanya karena wajah anak itu sudah nampak segar dan harum bedak bayi.
"Sama Oma."
"Oke. Nanti setelah ini Mommy mau ke pemakaman. Elves mau ikut?"
"Nggak ah takut."
"Yasudah." Olivia masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian sudah berpakaian santai.
__ADS_1
"Kita duduk-duduk di ruang keluarga yuk," ajak Olivia dan Elves mengangguk.
Olivia mau menggendong Elves, tapi anak itu menolak.
"Elves mau jalan aja! Elves udah besar."
"Oh oke-oke yuk!" Akhirnya Olivia hanya mengandeng tangan anak itu dan membawanya turun ke lantai bawah.
"Mau menonton apa?" Olivia memencet tombol on pada remote tv.
"Tayo," sahut Elves. Bis kecil itu adalah salah satu film kartun kesukaan Elves.
"Oke." Olivia pun memenuhi keinginan Elves. Mereka berdua asyik menonton televisi sedangkan Jack setelah mandi langsung memeriksa berkas-berkas yang ada di meja kerjanya. Sesekali dia menelpon dan ditelpon oleh Frans yang menanyakan tentang tugas kantor.
Beberapa saat kemudian Jack menerima telepon dari anak buahnya yang mengabari tentang proses pemakaman Koni.
Segera Jack menemui Olivia yang kini sedang asyik menonton televisi dengan Elves.
"Olivia adikmu itu katanya akan dimakamkan sekarang," ucap Jack sambil menuruni anak tangga.
Olivia hanya bisa menoleh sebab Elves tiduran di pangkuannya.
"Mas sudah tahu alamat pemakamannya?"
"Iya, seseorang sudah mengirimkan alamatnya padaku."
"Mungkin dia kecapekan, dari tadi kata Mommy dia main sambil berlarian. Kamu jangan bergerak dulu biar aku pindahkan Elves ke kamarnya.
"Oke," lirih Olivia agar suaranya tidak membangunkan Elves.
Jack dengan hati-hati mengangkat tubuh Elves dari pangkuan Olivia. Calon suami istri itu merasa gugup saat wajah mereka berdekatan. Olivia berpaling, mencoba melihat ke arah lainnya sebab jantungnya berdetak tak karuan saat posisi wajah mereka seperti ini.
Jack hanya tersenyum lalu buru-buru membawa Elves menjauh dari tubuh Olivia.
"Kau bisa langsung ganti baju!" perintah Jack dengan suara pelan. Olivia menganganguk dan ikut naik ke atas. Namun, saat sampai di lantai atas dia berbelok ke arah kamarnya sendiri.
Lima belas menit kemudian mereka berdua sudah ada di dalam mobil dan sama-sama berpakaian serba hitam.
"Mas aku lupa menitipkan Elves pada Nyonya," ucap Olivia. Wanita itu gelisah jika meninggalkan Elves sendirian tanpa dititipkan.
"Panggil Mommy saja, jangan lagi Nyonya. Beliau sebentar lagi akan menjadi ibumu juga," saran Jack.
"Baiklah. Apa aku turun lagi ya Mas? Paling tidak titipkan pada bibi dulu sebelum kita pergi."
"Tidak usah saya sudah menitipkan pada nenek tadi. Saya juga berpesan agar beliau menyampaikan kepergian kita pada Mommy setelah beliau bangun."
__ADS_1
"Oh gitu ya, kalau begitu kita langsung berangkat saja."
Jack mengangguk laku tancap gas. Sampai di pemakaman sudah banyak orang-orang yang berpakaian serba hitam. Beberapa orang terlihat memasukkan jasad Koni ke liang lahat. Di dekat lubang makam terlihatlah Marta dan sang suami yang melepas kepergian putri yang mereka sayangi dengan tetesan air mata. Mereka sama sekali tidak menyangka akan ditinggikan Koni dengan begitu cepat seperti ini.
"Mas aku mau ke sana."
Jack menahan tangan Olivia.
"Jangan!"
"Kenapa tidak boleh? Saya hanya ingin melihat rumah peristirahatan terakhir Koni."
"Lihat dari sini saja. Aku tidak mau timbul keributan lagi. Pasti mereka akan menyalahkan dirimu di hadapan orang banyak meskipun kau memang tidak bersalah."
Olivia mengangguk. Benar kata Jack, Marta dan sekeluarga pasti akan mencari pelampiasan atas kemarahan dan sakit hatinya pada Olivia meskipun Olivia tidak melakukan kesalahan apapun mengingat mereka memang suka mencari masalah.
Sesuai anjuran Jack, Olivia menyaksikan pemakaman dari jauh hingga selesai.
Setelah semua yang hadir di pemakaman pergi, Marta pun ikut dibawa pergi oleh polisi. Sang suami juga pergi tanpa berucap kata sepatah pun
Kini di makam Koni hanya menyisakan Meilin seorang diri yang menangis sambil terisak.
Olivia yang berada di tempat sedikit jauh akhirnya mendekat karena tidak sabar ingin menaburi bunga mawar merah di atas makam adik tirinya yang sempat dibelinya tadi di jalan. Menunggu Meilin rasanya tidak selesai-selesai.
Namun, saat wanita itu mendekat Meilin menoleh dan menatap wajah Olivia dengan tatapan tajam dan tidak bersahabat.
"Ngapain kamu ke sini?!"
"Saya ingin menaburkan bunga ini dan berdoa untuk Koni," jawab Olivia.
"Koni tidak perlu doamu. Doa orang yang telah menghancurkan keluarga kami. Puas kamu membuat ibu dipenjara? Puas kamu membuatku ditalak oleh Reza? Dan puas kamu Koni meninggal?" Meilin menatap Olivia dengan tatapan penuh kebencian.
"Apa maksudmu Kak? Aku tidak pernah mendoakan hal buruk untuk orang lain apalagi untuk keluarga sendiri."
"Munafik! Jangan pernah panggil aku dengan sebutan Kak, Mbak atau yang lainnya sebab aku bukan kakakmu! Camkan itu!" tekan Meilin.
"Tapi bagaimanapun kita–"
"Pergilah aku tidak ingin berdebat sekarang!"
Olivia diam di tempat.
"Mengapa masih berdiri di situ? Pergi sana!" Meilin mendorong tubuh Olivia ke belakang.
Jack hampir saja protes pada wanita itu. Namun dicegah oleh Olivia.
__ADS_1
"Sudah biarkan saja Mas, mungkin dia masih syok. Lebih baik kita yang mengalah dan pergi sekarang," ucap Olivia lalu menaruh keranjang berisi bunga di atas tanah secara sembarangan kemudian menggandeng Jack pergi dari pemakaman tersebut.
Bersambung.,