
Setelah mendapatkan penjelasan tentang aturan minum obat, ketiganya pun keluar ruangan menuju mobil.
Jack William pun melajukan mobilnya kembali ke rumah.
Olivia turun dari mobil lalu menggendong tubuh Elves sambil membawa plastik berisi obat. Olivia langsung membaringkan Elves di kamarnya.
"Mommy ambilkan makan dulu ya, setelah itu Elves minum obat," pamit Olivia dan anak itu menjawab dengan anggukan.
Olivia membelai rambut Elves sambil tersenyum lalu berjalan ke arah pintu.
Saat membuka pintu tidak sengaja tubuh Olivia bertabrakan dengan Jack William.
"Eh sorry Tuan, saya tidak sengaja," ucap Olivia dengan ekspresi wajah bersalah apalagi saat melihat Jack William menatap wajahnya tanpa mau berhenti. Olivia menebak pria itu pasti saat ini sedang mengumpat dirinya dalam hati.
"Ah tidak apa-apa. Lain kali hati-hati." Jack William menggeser tubuhnya, memberikan ruang bagi Oliva agar bisa keluar dari kamar.
"Baik Tuan."
Jack William mengangguk dan langsung melangkah menuju ranjang Elves, sedangkan Olivia langsung bergegas keluar.
"Ya Tuhan! Oliv, Oliv! Kalau kamu teledor begini terus kau akan membuat majikanmu marah dan dipecat," batin Olivia.
Dia kesal pada dirinya sendiri sebab matanya yang tidak fokus membuat dia menabrak tubuh Jack William. Semalam dia juga bersikap tenang dan enteng menangani demam Elves dengan memberikan obat yang ada, padahal Elves adalah putra dari orang kaya yang orang tuanya tidak akan tenang sebelum anaknya dibawa ke dokter.
Sementara Jack William tampak menetralkan degup jantungnya setelah tadi tubuhnya bertabrakan dengan Olivia.
Tidak-tidak dia bukan Dianaz dan dia juga istri orang. Aku tidak boleh menyukainya apalagi sampai mencintainya. Hanya Dianaz yang ada dalam hatiku.
"Daddy nggak kerja?" tanya Elves barulah Jack William sadar dari lamunannya.
"Elves ngomong apa tadi?" tanya Jack William sambil menatap mata putranya.
"Daddy tidak kerja hari ini?"
"Kerja sih tapi mau nungguin kamu dulu."
"Kan sudah ada mommy Olivia? Daddy tenang saja mommy Olivia merawat Elves dengan baik. Dia tidak pernah berkata kasar dan marah pada Elves seperti mbak-mbak yang lainnya."
Jack William hanya mengangguk. Namun, dia tidak beranjak dari duduknya. Elves pun tidak berkata-kata lagi sehingga dalam ruangan itu terlihat sunyi hingga Olivia datang membawa sepiring bubur dan segelas air putih.
"Makan dulu ya sayang," ujar Olivia sambil duduk di sebelah Jack William.
Elves mengangguk dan hendak duduk. Olivia menaruh piring dan gelas terlebih dahulu sebelum membantu Elves duduk, tetapi kedahuluan Jack William.
Akhirnya Olivia mengambil piringnya lagi.
"Mommy suapin ya?"
__ADS_1
Elves mengangguk.
Olivia mulai menyendok bubur ayam ke mulut Elves dan anak itu menurut saja.
"Enak?" tanya Olivia.
"Pahit tapi nggak apa-apa, Elves kan pengen cepat sembuh."
"Anak pintar," puji Olivia dan Elves mengangguk sambil tersenyum bangga.
Jack William mengernyit, Elves tidak seperti biasanya. Sebelumnya jika dia sakit selalu membuat kehebohan dan penuh drama. Tidak mau makan lah, tidak mau minum obat lah bahkan meminta jajanan yang tidak diperbolehkan oleh dokter. Kalau tidak dituruti dia akan mengamuk Namun, Kini meskipun dia mengatakan buburnya pahit, anak itu tetap menelannya.
"Sepertinya Olivia memang memberikan aura positif untuk Elves," batin Jack William.
Pria itu duduk dengan tenang melihat Olivia menyuapi putranya. Beberapa saat kemudian Olivia langsung memberikan obat pada Elves.
"Tunggu, tunggu! Kau kasih apa itu obatnya?" Jack William bangkit lalu melangkah ke dekat Olivia. Pria itu memeriksa sendok di tangan wanita itu.
"Hanya gula Tuan," jawab Olivia dengan suara ketir. Dia takut akan terkena teguran lagi sebab bisa saja Jack William mengatakan 'anak-anak tidak baik mengkonsumsinya banyak gula'.
Jack William mengangguk lalu kembali ke tempatnya tadi dan duduk kembali.
Olivia dengan telaten memberikan obat ke mulut Elves setelah itu mengelap bibir anak itu dengan tisu.
"Sekarang kamu berbaring lagi!" suruh Olivia pada Elves dan sekali lagi anak itu menurut.
Elves mengangguk, Jack William semakin kaget. Elves benar-benar menjadi anak penurut sekarang.
"Tuan sudah makan?" tanya Olivia melihat Jack William tertegun.
"Bisa bawa ke sini Dianaz!" perintah Jack William tanpa sadar dengan kata-kata yang keluar begitu saja dengan mulutnya.
"Bawa ke sini Tuan? Mau saya ambilkan?" tanya Olivia menawarkan diri.
"Ah maaf maksud saya tidak perlu. Saya akan makan di kantor saja," jelas Jack William kikuk.
"Kalau boleh tahu siapa Dianaz? Sepertinya Tuan memanggilku dengan nama itu tadi.
"Ah tidak saya hanya seolah melihat istriku tadi berjalan di hadapanku. Dianaz itu adalah nama almarhumah istriku, Mommy-nya Elves."
Olivia mengangguk. "Maaf lancang."
"Tidak apa-apa. Saya nitip Elves ya, saya harus berangkat sekarang juga. Ada pertemuan dengan beberapa petinggi perusahaan."
"Pasti Tuan, tidak usah Tuan minta saya akan tetap menjaga Elves dengan baik."
"Terima kasih," ucap Jack William sambil mengangguk.
__ADS_1
"El, daddy pamit pergi."
"Iya Dad."
"Olivia aku pergi."
"Iya Tuan."
Jack William langsung melenggang pergi meninggalkan kamar Elves.
Jam setengah 7 malam Jack William baru pulang dari kantor karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan malam itu juga, begitupun dengan Olivia yang enggan pergi dari kamar Elves padahal anak itu sudah tidur dan jam sekarang Olivia sudah ada di rumah Reza.
Apa boleh buat, selain Elves sakit dia juga sudah diusir oleh Reza.
Saat Jack William masuk ke dalam rumah, dia langsung menuju kamar Elves untuk memeriksakan keadaan anaknya.
Pintu dibuka menampakkan sosok dua manusia berbeda usia yang sedang tertidur di atas ranjang.
"Tuan!" Olivia segera bangkit dari berbaring lalu berdiri di samping ranjang.
"Bagaimana keadaan Elves?" tanya Jack William dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa ditebak oleh Olivia. Pria itu berjalan ke arah ranjang dan duduk.
"Suhu tubuhnya sudah normal kembali Tuan."
"Oke, duduklah! Mengapa kau berdiri saja?"
"Ah iya Tuan." Olivia ikut duduk.
"Kenapa kau belum pulang?"
"Anu Tuan, a–nu. Saya kepikiran Den Elves kalau harus ditinggalkan. Dia tidak mau dijaga Nyonya Melanie tadi."
"Kau sudah izin pada Reza?"
Olivia mengangguk.
"Baiklah kalau suamimu sudah mengizinkan, aku tidak mau terjadi kesalahpahaman di kemudian hari."
Olivia mengangguk.
"Baiklah kalau kau yang mau menemani Elves saya akan ke kamar dan beristirahat sebentar."
"Baik Tuan, Tuan jangan khawatir saya akan menjaga Den Elves dengan baik."
Hanya dengan kalimat itu saja sudah mampu membuat Jack William merasa lega.
"Kalau memang benar kinerjamu sama dengan ucapanmu. Kau benar-benar menjaga Elves dengan baik maka saya tidak akan segan-segan untuk menaikkan gajimu karena Elves adalah segalanya bagiku," batin Jack William.
__ADS_1
Bersambung.