Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Ban 45. Menemui Calon Mantan Mertua


__ADS_3

Setelah mendapatkan gaji dari Jack, Olivia langsung berpikiran untuk menemui Wati. Namun, keadaannya terkendala Elves yang masih tertidur pulas. Ingin meninggalkan Elves dan meminta tolong bibi untuk menunggui anak itu tidak tega sebab takut Elves akan tetap mencari dirinya.


"Lebih baik nanti siang saja," ujar Olivia sambil menimang-nimang amplop di tangannya.


"Tapi aku perlu minta izin sama Tuan Jack dulu, boleh tidak keluar hari ini apalagi jika harus membawa Elves." Segera Olivia menghubungi nomor Jack, begitu panggilan masuk Olivia langsung memutus sambungan telepon kembali.


"Nanti saja deh, takut mengganggu Tuan Jack."


Begitu Olivia menutup telepon ada panggilan masuk dari Jack.


"Halo Olivia, ada apa?"


"Saya ingin menyampaikan pada Tuan untuk meminta izin keluar rumah dengan membawa Elves."


"Pergilah dan bawa Elves! Yang terpenting selalu berhati-hati."


"Baik Tuan, terima kasih."


"Sama-sama, nanti biar pak sopir saja yang mengantar."


"Baik."


Setelah selesai teleponan dengan Jack William, Olivia kembali ke kamar Elves.


"Mommy darimana saja?" tanya Elves saat melihat Olivia masuk kamar.


"Dari ruang kerja Daddy, ada yang kami bicarakan. Elves sudah lama bangunannya?"


"Tidak."


"Yasudah kalau begitu sekarang mandi lalu sarapan."


"Baiklah Mommy." Elves pun bangkit dari duduknya dan hendak turun dari ranjang. Namun, karena Elves masih belum sepenuhnya punya tenaga sehabis tidur langkah anak itu terlihat oleng.


"Sini mommy gendong saja." Olivia langsung menggendong tubuh Elves dan membawanya ke kamar mandi. Setelahnya baru mengajak anak itu makan.


"Daddy sudah berangkat?" tanya Elves saat Olivia mengajaknya ke ruang makan.


"Iya, sebab Daddy sibuk hari ini, jadi nggak mungkin nunggu Elves yang masih tidur."


"Kalau begitu Elves makan di kamar saja, boleh?"


"Boleh dong, nanti habis makan Mommy akan mengajak Elves jalan-jalan, mau?"

__ADS_1


Anak itu mengangguk dengan antusias.


***


Siang hari Olivia dan Elves pergi ke rumah orang tua Reza untuk menemui Wati, mertua perempuannya.


"Ini rumah siapa Mommy?" tanya Elves sambil menelisik rumah yang didatangi oleh Olivia.


"Anggap aja rumah Oma," sahut Olivia tidak ingin menjelaskan panjang lebar, toh Elves tidak akan mengerti apa-apa.


Olivia langsung memencet bel di pagar.


"Nona Olivia, mau ketemu Tuan? Kenapa tidak bersama Den Reza, oh ya dia siapa?" tanya pak satpam sambil menunjuk Elves.


"Mau ketemu mama Wati Pak Mas Reza sedang bekerja di kantor dan ini adalah anak majikan saya."


"Majikan?" tanya pak satpam bingung.


"Iya, boleh ketemu mama?"


"Oh boleh-boleh, kenapa tidak?" Pak satpam langsung membuka pintu pagar.


"Silahkan masuk Non!"


"Ada apa ke sini?" tanya Wati yang kebetulan ingin keluar. Pandangan sangat datar.


"Mama mau pergi? Maaf mengganggu, saya ada kepentingan sebentar."


"Kalau kamu ingin membujuk saya agar mempertahankan rumah tanggamu dengan Reza, maaf saya tidak bisa. Saya tidak suka pengkhianat," ujar Wati langsung tanpa mau mendengarkan penjelasan Olivia terlebih dahulu.


"Tidak Ma, saya ada perlu lainnya."


"Perlu apa?"


"Mama tidak mau mempersilahkan tamu masuk terlebih dahulu?" sindir Olivia karena Wati tidak menyambut tamunya dengan baik. Kalau untuk dirinya tidak masalah berbicara di luar rumah dengan posisi seperti sekarang ini. Yang menjadi masalah Elves yang mungkin saja kram jika harus berdiri dengan waktu yang lama.


"Baiklah ayo masuk!" Wati mempersilahkan Olivia dengan ekor mata yang melirik tidak suka ke arah Elves. Dalam hati Wati, Elves adalah anak dari pria yang telah menghancurkan rumah tangga putranya.


"Terima kasih, ayo El" ajak Olivia sambil menggenggam tangan Elves dan membawanya ke dalam rumah.


"Silahkan duduk, biar aku buatkan minuman dulu."


"Tidak usah Ma, kami baru saja minum, lagipula kami di sini hanya sebentar saja," cegah Olivia.

__ADS_1


Wati mengangguk dan duduk kembali.


"Kedatangan saya ke rumah ini hanya ingin membayar hutang-hutang ibu saya. Saya ingin mama total semua uang yang dikirimkan oleh mama pada ibu saya dan saya akan menggantinya."


Wati mengernyit mendengar perkataan Olivia.


"Oh kau banyak uang rupanya sekarang? Itu alasan kamu menyelingkuhi anak saya karena sudah mendapatkan pria yang tajir."


"Terserah mama, mama mengatakan Olivia seperti apa, toh dijelaskan pun tidak akan berguna karena otak mama sudah diracuni oleh Mas Reza."


"Kau yang sudah diracuni oleh pria itu. Mungkin saat ini kau akan dipuji, disayangi, mau apapun dituruti. Namun, ingat kata-kata saya, suatu saat kamu akan dilempar kembali ke asalmu!"


"Terima kasih atas nasehat mama, tapi saya tidak punya banyak waktu. Tolong total semua uang yang masuk ke ibu, biar saya bisa segera menggantinya.


Saya tidak mau Mas Reza melaporkan ibu ke polisi hanya karena perkara pemberian yang dianggap hutang ini. Sebenarnya saya berhak untuk tidak membayar, bukankah ibuku tidak memaksa untuk mendapatkan uang itu? Sayangnya saya bukanlah wanita yang menganggap sepele pemberian yang diberikan dalam keadaan tidak ikhlas."


Wati tampak diam sejenak, awalnya dia memberikan uang secara cuma-cuma tanpa minta dibayar sepeserpun pada Marisa, tetapi mengingat tingkah Olivia yang berselingkuh dari Reza dia menjadi tidak rela jika uang tersebut hilang begitu saja. Saat ini dia condong mengikuti keinginan Reza.


"Baiklah, saya ambilkan bukti transferannya karena sebelum kalian menikah pun Marisa meminta uang sebagai imbalan kalau kamu mau menikah dengan Reza."


Wati masuk ke dalam dan mengambil data yang diperlukan dan dibawanya ke depan Olivia.


"Ini semuanya, total hutang ibu kamu 8 juta."


Olivia terbelalak mendengar angka yang disebutkan oleh Wati.


"Apa? Mama tidak salah sebut, kan?"


"Kenapa? Pria itu tidak memberikanmu uang sebanyak itu?" cibir Wati.


"Bukan begitu, saya hanya tidak percaya dengan total yang mama sebutkan."


"Kalau tidak silahkan rinci sendiri dan tanyakan kebenarannya pada Marisa!"


Olivia langsung menjumlah data-data yang diberikan oleh Wati. Setelahnya langsung menelpon Marisa.


"Benar Olivia bahkan sekarang ibu dan nenek juga sudah keluar dari rumah karena semalam Reza mengusir ibu." Terdengar suara Marisa yang tidak bersemangat dari balik telepon.


"Mengapa bisa begitu Bu? Mas Reza tidak berhak mengusir Ibu dan nenek dari rumah itu. Itu rumah milik kita," ujar Olivia dengan ekspresi panik.


"Karena rumah itu sudah menjadi milik kami. Ibumu dulu menggandaikan rumahnya dan sekarang sudah jatuh tempo pelunasan. Sesuai perjanjian jika tidak segera dilunasi akan menjadi milik keluarga kami. Surat-surat tanah dan rumahnya ada padaku. Jadi, saya kasih kelonggaran jika kamu bisa menebusnya silahkan ditebus sekarang juga," sambung Wati.


"Ibu!" geram Olivia. Dia tidak menyangka ibunya merahasiakan itu semua bahkan jauh sebelum dirinya menikah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2