
Tiga hari berlalu, keadaan Arya kian membaik tapi belum diizinkan pulang karena luka di kepalanya. Pagi ini yang berjaga adalah Laras dan Angga.
Tiba tiba telpon Laras berbunyi.
"Halo Mah.."ternyata suara Isyan.
Mulai sekarang Isyan memanggil Laras dengan sebutan mamah, atas permintaan Laras.
"Iya Syan ada apa?"tanya Laras.
"Siang ini biar aku yang jaga mamah sama papah pulang aja"ujar Isyan.
"Lah kamu nggak sibuk?"tanya Laras.
"Aku pulang cepet kok. Udah dulu ya Mah, Isyan mau meeting dulu"Isyan pun menutup telpon.
Karena Isyan dan Arya sudah resmi pacaran sungguhan sehingga mereka memanggil orang tua masing-masing dengan sebutan papah dan mamah.
Arya yang mendengar percakapan itu tersenyum riang.
"Hmm senyum-senyum, mentang-mentang Isyan mau kesini"goda Laras.
"Apaan sih Mah"ledek Arya.
Sore pun tiba, Isyan datang bersama Dion.
"Nah ini yang ditunggu datang juga. Arya langsung semangat nih"ujar Angga.
"Ya iyalah semangat ketemu kekasih hati"goda Dion.
"Ya udah Syan, mamah sama papah mau pulang dulu"ujar Laras lalu pergi bersama Angga.
"Gimana keadaan kamu?"tanya Isyan memegang tangan Arya.
"Udah mendingan, kan kamu dateng. Dari kemarin aku nahan kangen terus"ujar Arya manja.
"Aku juga kangen"ujar Isyan.
"Ekhem...nggak tahu apa ada yang jomblo. Fiks kalian bucin"gerutu Dion.
__ADS_1
"Makanya cari cewek"ujar Isyan.
"Udah nemu"ujar Dion keceplosan lalu menutup mulutnya.
"Hah? Siapa? Kok nggak cerita? Kutukupret"ujar Isyan.
"Ya maaf lupa saya. Nih mau cerita"ujar Dion.
"Oh terus namanya siapa?"tanya Isyan.
"Ih kepo deh"ujar Dion.
"Halah dasar bucin"ujar Isyan kesal
"Nggak ngaca ke diri sendiri anda"balas Dion tak mau kalah.
Mereka pun saling bercanda dan meledek.
Tak terasa sore pun tiba. Matahari mulai memancarkan warna jingga.
"Syan kayanya aku pamit dulu deh aku baru inget ada urusan sama klien. Nanti aku suruh Tante Ratih apa mamahku nemenin kamu"ujar Dion.
"Hati-hati Yon"ujar Arya.
Dion pun pamit dan keluar dari ruang inap Arya.
Dion pun berjalan melewati koridor rumah sakit.
Dion berjalan sambil memainkan ponsel dan tidak menyadari dari arah berlawanan ada seorang wanita yang berjalan. Tiba-tiba dion bertabrakan dengan wanita itu.
BRUG
HP Dion jatuh ke lantai.
"Maaf Mas..."ujar wanita itu.
Dion dan wanita itu jongkok dan tangan mereka tangan mereka bersentuhan karena sama sama mau mengambil HP Dion. Mereka pun saling menatap. Dan wanita itu yang tak lain Rara.
Dion manatap Rara dengan tatapan terpesona membuat dunianya teralihkan.
__ADS_1
"Maaf.."ujar Rara memecahkan keheningan lalu mereka berdiri.
"Eh kita bertemu lagi hehehe"ujar Dion.
"Kamu disini ngapain?"tanya Rara.
"Oh aku habis nemenin sepupuku jagain pacarnya. Tapi aku mau pulang karena ada urusan. Kalo kamu?"ujar Dion.
"Aku mau anterin makan buat kakak aku, dia dirawat di sini"ujar Rara.
"Oh gitu ya udah aku permisi dulu ya. Lain waktu boleh nggak aku ajak kamu jalan-jalan"ujar Dion.
"Eemm...gimana ya kalo aku nggak sibuk deh"ujar Rara.
"Iyaa nanti aku chat kamu. Dahh"ujar Dion melambaikan tangan lalu pergi.
Rara pun membalas dengan senyum. Ada rasa bahagia ketika bertemu dengan Dion.
Lalu Rara pergi ke ruang rawat Arya. Arya dan Isyan saling memandang saat Rara datang dengan senyum merekah seperti orang jatuh cinta.
"Rara...heii Rara Delima Pinokio"teriak Arya yang menyadarkan lamunan Rara.
"Ih kakak lagi sakit malah teriak-teriak"gerutu Rara.
"Lah kamu ngelamun kenapa sih?"tanya Arya.
Rara pun cerita pada arya, tentang pertemuannya dengan Dion tadi pagi, lalu mereka bertemu lagi di koridor rumah sakit. Tapi Rara tidak menyebut nama Dion sama sekali.
"Terus gimana lagi Dek?"tanya Isyan bersemangat.
"Ya dia minta kapan-kapan kita jalan-jalan gitu"ujar Rara.
"Wih adik kecil kakak lagi falling in lope lope uwuwu ihuyy"ledek Arya.
"Ih kakak apaan sih"ujar Rara menepuk lengan arya.
"Auu sakit ra ini luka tahu"ujar Arya kesakitan.
"Ih maaf kak lupa hehe"ujar Rara.
__ADS_1