Pengorbanan Cinta 1

Pengorbanan Cinta 1
Bab 43


__ADS_3

Pagi ini, tidak seperti biasa Gavin sedang jinak dan tidak mengganggu Isyan. Bahkan sejak dia datang ke kantor tidak menyapa Isyan sama sekali. Hal itu membuat Isyan berpikir apa yang sedang mengganggu pikiran bosnya itu.


"Tumben bos ngeselin itu anteng. Apa gara-gara nggak makan sajen ya"gumam Isyan yang masih berkutat dengan laptopnya.


Hingga jam menunjukkan jam satu siang saatnya makan siang. Tapi Gavin tidak keluar dari ruangannya sama sekali.


"Aduh itu manusia, kenapa diem-diem terus? Padahal udah jam makan siang, kenapa nggak keluar ya"ujar Isyan menatap pintu ruangan Gavin.


"Kenapa aku jadi peduli sih? Apa urusanku"ujar Isyan menggelengkan kepala.


Tapi, di hati kecil Isyan ada rasa cemas dengan keadaan Havin. Entahlah Isyan tidak tahu kenapa dia sangat mencemaskan Gavin. Yang jelas Isyan hanya tahu Gavin mirip dengan Arya. Isyan beranjak dari kursinya membawa kotak makan tupperware tiga tumpuk.


"Permisi Pak.."ujar Isyan mengetuk pintu.


Tak ada jawaban dari Gavin tapi Isyan memberanikan untuk masuk ke ruangan itu.


"Pak Gavin tidak makan siang? Ini saya bawa bekal dari rumah, agak kebanyakan Pak. Kalau bapak mau kita bagi dua deh"ujar Isyan berusaha mengeluarkan lelucon garingnya.


Tapi Gavin tetap diam bahkan melamun dan hanya menatap kosong ke arah segelas air putih di hadapannya. Isyan pun menyerah lalu hendak pergi keluar dari ruangan Gavin.


"Tunggu!"ujar Gavin menghentikan langkah Isyan.


"Kamu masak sendiri?"tanya Gavin sudah menoleh ke arah Isyan.


Isyan mengangguk memberi jawaban.


"Ya sudah kamu temenin saya makan siang. Di sini"ujar Gavin.


Isyan tersenyum tipis, lalu membuka tiga kotak makan yang dia bawa. Membagi nasi, lauk, dan sayur dengan Gavin. Sementara Gavin melepas jasnya dan menggulung lengan kemeja sampe siku.


"Wow tangannya kekar amat woy!"batin Isyan menelan ludahnya sambil menatap lengan Gavin.


"Ayo makan!"seru Gavin membuyarkan lamunan Isyan.


Mereka pun makan bersama, bahkan dengan lahap Gavin menyantap masakan Isyan. Sesekali Gavin bergumam memuji makanan Isyan.


"Yang pelan Pak makannya, nggak bakal saya minta. Laper apa doyan sih Pak"ujar Isyan.


"Dua-duanya"jawab gavin singkat.


Tiba-tiba Gavin menghentikan aktivitas makannya.


"Kok berhenti sih Pak? Nasinya kurang?"tanya Isyan.


"Saya merasa, seperti pernah makan masakan yang rasanya mirip seperti ini"ujar Gavin.


Isyan terbelalak mendengar jawaban Gavin yang menurutnya adalah satu fakta yang membuat hatinya tenang layaknya berada di pegunungan. Ya tentu saja, karena Isyan sering memasak untuk Arya, kekasih tercintanya.


"Jadi?"tanya Isyan menatap Gavin.


"Besok kamu bawakan saya makan siang lagi"pinta Gavin.

__ADS_1


"Siap bos!"ujar Isyan semangat sambil hormat.


"Na, saya boleh bicara sesuatu?"tanya Gavin.


"Emang dari tadi bapak ngapain kalau nggak sedang bicara? Nyangkul!"seru Isyan.


"Ratna!!"sergap Gavin mode galak.


"Iya Pak Bos. Gimana?"tanya Isyan lembut yang dibuat-buat


"Masalah cincin kemarin..."


"Pak saya nggak serius nanya kok. Cuma iseng aja"kata Isyan.


"Justru itu...saya bingung kenapa saya punya cincin tunangan padahal saya pacar aja nggak punya"ujar Gavin.


"Hhmm..goib banget"ujar Isyan memegang dagu sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Kok goib?"tanya Gavin.


"Jangan-jangan bapak tunangan sama kuntilanak ada wewe gobel"ujar Isyan tertawa.


"RATNA!!"ujar Gavin melototi Isyan.


"Oke maaf Pak. Ya bapak tanya lah sama Pak Surya. Dia kan bapaknya Pak Bos"jelas Isyan.


"Nanti kalau tiba-tiba saya tanya seperti itu, terus saya dijodohin bagaimana?"ujar Gavin.


"Kan bapak yang dijodohin bukan saya"ketus Isyan.


"Tapi saya merasa kalau saya punya seseorang tapi saya nggak tahu siapa"terang Gavin dengan tatapan kosong menatap jendela kantor.


Isyan menatap sendu Gavin. Ada suatu rasa terbesit di hati Isyan. Rasa kecewa karena Gavin sebenarnya mempunyai orang spesial, tapi ada rasa bahagia karena Isyan mulai menemukan titik terang.


Saatnya jam pulang kantor, Isyan masih memilih naik taksi.


"Ratna!"panggil Gavin memberhantikan mobil di depan Isyan saat Isyan menuruni tangga depan gedung.


"Iya Pak"jawab Isyan.


"Pulang bareng saya"ucap Gavin cepat.


"Tapi saya malu diomongin karyawan lain Pak"ucap Isyan menengok ke belakang dimana masih ada beberapa karyawan lain.


"Tidak perlu memikirkan mereka. Ayo masuk!"seru Gavin.


Isyan pun menggangguk lalu masuk ke dalam mobil Gavin. Dengan cepat Gavin menancapkan gas meninggalkan kantor.


"Kamu mau makan?"tanya Gavin di tengah keheningan.


"Kalau bapak juga laper"jawab Isyan.

__ADS_1


"Ya udah makan di mana?"tanya Gavin.


"Di Prada Resto"jawab Isyan.


Isyan sengaja memilih restoran milik Arya, karena dia sendiri sudah lama tidak pergi ke sana. Selain itu, Isyan juga ingin tahu apakah Gavin mengetahui tentang restoran itu atau tidak. Setelah 30 menit perjalanan sampailah mereka di restoran. Lalu mereka masuk dan langsung memesan makanan.


Gavin sesekali memandangi seluruh area restoran dari setiap sudut. Seperti dia merasakan ada yang beda di restoran ini bagi perasaannya.


"Kenapa Pak?"tanya Isyan.


"Eemm tidak apa-apa"jawab Gavin.


Setelat sepuluh menit menunggu pesanan mereka datang. Gavin memakan makanannya dengan tempo lambat. Karena dia merasa seperti tidak asing dengan makanan restoran ini.


"Pak kenapa diem? Nggak enak masakannya?"tanya Isyan.


"Oh ini enak kok. Tapi rasanya seperti tidak asing buat saya"jelas Gavin.


"Bapak pernah ke sini?"tanya Isyan penuh selidik.


Gavin hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Isyan hanya mendenguskan nafas mendapat jawaban itu. Setelah mereka menghabiskan makanan, Gavin pun mengantar Isyan pulang ke apartemen. Tidak ada drama seperti kemarin saat Gavin memaksa bertamu ke apartemen Isyan.


Setelah Isyan selesai mandi, Osyan kembali berkutat dengan pekerjaan kantornya. Bagi Isyan tidak ada bedanya menjadi direktur utama dan sekertaris. Sama-sama capek dan bikin pusing. Tak berapa lama HP Isyan berdering dan ternyata adik iparnya menelpon.


"Halo Rara.."


"Kak Isyan besok sabtu ada acara nggak?"


"Nggak ada. Libur kerja kok"


"Pulang ke rumah ya Kak. Rara kangen sama masakan Kak Isyan"


"Iya rencananya kakak weekend bakal pulang ke rumah utama kok"


"Oke makasih Kak Isyan. Selamat malam"


"Malam..."


Isyan kembali lagi fokus pada pekerjaannya sebagai sekertaris. Setelah tugas sebagai sekertaris selesai, tidak serta merta pekerjaan Isyan rampung. Karena dia masih harus mengecek laporan perusahaannya sendiri.


"Ada apa dengan perusahaan di Malaysia? Kenapa banyak kontrak yang nilainya rendah"omel Isyan saat melihat masalah perusahaannya.


"Dasar, baru ditinggal beberapa hari perusahaan udah gini. Pasti ada yang nggak beres sama orang-orang jajaran direksi?"ujar Isyan menghela napas panjang.


"Kalau aku mengakhiri drama ini berarti aku akan berhenti mencari kebenaran. Tapi kalo aku main drama ini terus, perusahaanku bisa terbengkalai"ujar Isyan dengan keputus asaannya.


Kini, Isyan berada dalam dilema besar. Dia tidak mungkin terus meninggalkan perusahaan untuk kepentingan pribadi. Tapi dia juga tidak bisa melupakan fakta bahwa Gavin bisa jadi Arya. Dan Isyan perlu membuktikannya.


"Ya Allah, gini amat hidupku. Tahu gini mending pindah ke Amerika aja"ucap Isyan pasrah.


Sesampainya di rumah, Gavin langsung membersihkan tubuhnya. Setelah itu merebahkan tubuhnya di ranjang.

__ADS_1


"Aneh...kenapa setiap dekat dengan Ratna, aku seperti sudah lama mengenalnya. Padahal dia baru bekerja beberapa hari"ujar Gavin.


"Terlalu banyak hal aneh yang aku rasakan. Kenapa sering di dalam tidurku muncul bayang-bayang hitam aneh. Seperti sebuah masa lalu yang terjadi. Dan kenapa setiap bayangan itu muncul kepalaku selalu pusing"sambung Gavin.


__ADS_2