
Di kamar pasangan muda di kediaman Wijaya, siapa lagi kalau bukan Dion dan Rara. Mereka masih tertidur sambil saling memeluk. Ya tentu saja Sabtu adalah weekend. Jadi ini waktu yang tepat untuk berleha-leha manja. Tak berapa lama Rara terbangun lebih dahulu, dan menyingkirkan tangan Dion dari perutnya. Rara merasa sedikit lelah akibat ulah Dion semalam, untung saja Dion melakukannya dengan lembut karena dia sedang hamil. Kemudian Rara beranjak ke kamar mandi. Sepuluh menit di kamar mandi Rara sudah menyelesaikan mandinya, dia pun keluar dari kamar dan pergi menuju dapur.
"Loh Kak Isyan pagi-pagi udah di sini aja!"tegur Tara saat melihat Isyan sedang memasak di dapur dibantu dua pelayan.
"Apa? Pagi? Nggak lihat sekarang itu jam berapa!"seru Isyan melirik jam dinding yang ada di dapur.
Rara pun menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh pagi. Artinya sudah bukan pagi lagi.
"Hehehe...udah siang ya Kak!"ujar Rara malu.
"Memangnya semalam sampai berapa ronde? Inget ya kamu lagi hamil muda, bilang ke Dion kutukupret, suruh jaga napsu"ujar Isyan.
"Ih kakak apaan sih. Sejak kapan kakak jadi mesum gini. Baru beberapa hari keluar dari rumah utama udah mesum aja"ujar Rara bergidik.
"Emang kenapa? Kakak di luar main sama om-om pengusaha kaya raya loh"ledek isyan membanggakan diri.
"Siapa yang main sama om-om?"tegur Kusuma yang masuk ke dapur dan mendengar percakapan dua anak perempuannya.
"Eh papah udah bangun. Selamat pagi papahku sayang"sapa Isyan mencium pipi papahnya.
"Kamu sekarang berani main sama om-om ya?"tanya Kusuma curiga.
"Pah Isyan cuma becanda. Emang om-om mana yang lebih kaya dari papah? Orang papahku aja udah sultanah lillahi ta'ala"celoteh Isyan dengan candaan khasnya.
"Kamu ini bisa aja. Sekarang kamu udah berubah. Ini pasti pengaruh dari Gavin itu ya"ujar Kusuma mencubit lembut pipi putrinya.
"Kan kan mulai..."ujar Isyan sewot
Kusuma merasa bahagia melihat keadaan Isyan sudah membaik. Dia mau berbicara panjang lebar, tersenyum, tertawa bahkan meledek. Sesuai permintaan Rara semalam Isyan pun memasak sarapan untuk keluarganya. Mereka pun sarapan bersama sesekali diselingi obrolan ringan.
"Gimana kerjaan kamu Syan?"tanya Ratih.
"Lancar mah...kerja di perusahaan Gavin nggak sesusah perusahaan kita. Dia kan cuma perusahaan satu bidang. Lah perusahaan kita semua bidang diembat jadi lebih ribet"ujar Isyan menaikkan satu alis.
"Terus bagaimana dengan Gavin. Kamu nemuin sesuatu nggak?"tanya Rama.
Isyan pun menceritakan banyak hal. Dari cincin, masakan,dan kejadian di restoran Arya.
"Feeling tante ya Syan, dia itu Arya. Cuma ada sesuatu yang bikin dia nggak ingat kamu"jawab Sinta serius.
"Seperti lupa ingatan?"sambung Dion
"Tapi kenapa bisa lupa ingatan?"tanya Rara.
"Kecelakaan?"imbuh Isyan.
"PESAWAT!!!"ujar satu keluarga itu secara bersamaan.
"Oke kita udah nemu sedikit titik terang. Tinggal kita cari tahu kenapa bisa dia pakai identitas Gavin"ujar Kusuma.
Di saat anggota keluarganya sumringah, Isyan justru kembali dengan wajah muramnya dan tertunduk.
"Hei sepupu kamu kenapa? Kan kita udah mulai menemukan jalan keluar permasalahan Gavin atau Arya itu"tanya Dion.
"Jalan keluar apanya, perusahaan kita di Malaysia sedang ada masalah dengan investor. Kenapa kalian nggak kasih tahu aku"ujar Isyan mulai marah dan menatap Kusuma, Rama dan Dion bergantian.
"Syan..."belum sempat Dion selesai bicara Isyan langsung menyergap perkataannya.
"Yon...aku udah bilang kan tolong kasih taju apapun yang terjadi di perusahaan. Aku nggak mau melalaikan pekerjaanku hanya karena mementingkan kepentingan pribadi"tegas Isyan yang mulai mengeluarkan jiwa kepemimpinannya.
"Kalau kaya gini caranya, aku berhenti jadi Ratna dan kembali jadi Isyan!"teriak Isyan.
"Eh jangan dong, kamu udah berjuang sampe titik ini masa mau nyerah gitu aja"tegur Ratih.
"Tapi Isyan nggak bisa biarin kerjaan Isyan terbengkalai Mah"balas Isyan.
Tiba-tiba Kusuma bertepuk tangan seperti melihat Isyan memenangkan lomba saat sekolah dulu.
"Papah ngapain sih? Isyan lagi serius malah dikeprokin. Emangnya Isyan burung dara"gerutu Isyan meletakkan sendok agak kasar.
"Papah itu bangga sama kamu, nggak sia-sia papah sekolahin kamu ke Amerika. Kamu memang anak yang bertanggung jawab"ujar Kusuma tersenyum bangga.
"Isyana, kita memang nggak kasih tahu kamu karena kamu pasti udah disibukan dengan pekerjaan kamu sebagai sekertaris. Tenang aja besok Om sama papah kamu terbang ke Malaysia buat urus perusahaan di sana"tambah Rama.
Isyan yang sudah berapi-api kini mulai tenang lagi.
"Udah ya Kak Isyan, jangan marah-marah nanti cepet tua. Belum juga nikah"ledek Rara.
"Nungguin Gavin tuh.."timpal Dion dengan jiwa kompornya.
"Diem kamu Yon"ujar Isyan gemas hendak mencubit Dion tapi Rara menghalanginya.
"Udah jangan berantem. Kalian ini loh"ujar Ratih.
Isyan pun menghentikan aksinya karena ditegur mamahnya.
"Yon minta tolong ya, kasih bonus bulan ini buat seluruh karyawan Wijaya Group di seluruh cabang perusahaan"ujar Isyan.
"Memang kenapa? Kan belum lebaran"ujar Dion terkejut.
__ADS_1
"Memang kasih bonus cuma pas lebaran aja? Mereka itu juga capek tahu, datang ke kantor lebih awal dari bos, harus nyiapin laporlah ini lah itu lah. Kan kasian mereka. Itu juga hak mereka"ujar Isyan dengan wajah tulusnya.
Kedua pasangan orang tua itu saling memandang. Memang Isyan terkenal rendah hati dan sangat dermawan. Walaupun kaya dia tidak melupakan mereka yang membutuhkan.
Jam menunjukkan pukul dua siang. Isyan sedang bersantai di ruang TV sambil memakan camilan kesukaannya.
"Kak Isyan!"tegur Rara.
"Ya kenapa?"tanya Isyan.
"Anterin Rara ke restoran ya, udah lama Rara nggak ngecek keadaan restoran"ujar Rara.
"Bukannya Dion udah nyuruh orang kepercayaan buat urus restoran Ra?"ujar Isyan.
"Ya tapi kan aku pemiliknya. Itu bisnis keluargaku Kak, jadi aku harus menjaganya. Kan Kak Isyan yang ngajarin aku untuk bertanggung jawab"ujar Rara yang sudah semakin dewasa.
"Emang Dion ke mana?"tanya Isyan.
"Dia lagi di ruang kerja sama Om Kusuma dan Papah Rama. Kayaknya lagi bahas perusahaan yang di Malaysia deh"ujar Rara.
"Ya udah kita pergi. Tapi kamu di sana nggak boleh terlalu capek. Inget kamu lagi hamil"ujar Isyan dengan penekanan dikata hamil.
"Oke Kak"ujar Rara.
Mereka pun pergi menuju restoran. Sesampainya di sana Rara dan Isyan langsung masuk ke bagian kantor. Setelah selesai memantau restoran, mereka memutuskan makan siang juga. Tiba-tiba Rara seperti melihat sosok yang dia kenal berada di restorannya.
"Kak, bukannya itu Kak Arya eh maksudnya Kak Gavin"ujar Rara menunjuk ke arah Gavin.
"Iya bener. Itu Gavin. Ngapain dia ke sini. Terus aku harus gimana dong Ra"ujar Isyan bingung.
"Ya kakak jadi Isyana lah. Masa Ratna yang bener. Ini kan bukan di kantor"jawab Rara.
Rara meninggalkan Isyana lalu memghampiri gavin yang masih clingak-clinguk.
"Permisi..."sapa Rara.
Gavin pun menoleh dan mencoba mengingat rara
"Kamu istrinya Dion kan?"tanya Gavin.
"Iyaa. Kamu Kak Arya eh maksudnya Kak Gavin rekan kerjanya Mas Dion yang mau bangun Arya Hotel kan?"tanya Rara basa-basi.
Gavin hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari Rara.
"Kebetulan restoran ini milik keluargaku, ayo masuk jangan kayak orang ilang"ajak Rara.
Gavin pun mengikuti Rara dan membawanya ke meja di mana Isyan berada.
"Hai"sapa Isyan singkat.
Gavin pun duduk di hadapan Isyan, dan suasana pun terasa canggung. Mengingat bertemuan terakhir mereka berdua hanya keributan yang tercipta.
"Sebentar ya aku pesan makanan dulu untuk kita. Kak Gavin tunggu di sini sama Kak Isyan. Oke!"ujar Rara lalu masuk ke dalam restoran.
Lima menit hanya ada keheningan di antara mereka.
"Apa kabar?"tanya Gavin buka suara.
"Baik. Bagaimana perkembangan pembangunan hotelnya?"tanya Isyan.
"Sudah mulai tahap penyelesaian perizinan pembangunan. Jika kamu ada waktu bisa memeriksa ke kantorku langsung"jelas Gavin.
20 menit kemudian makanan yang dipesankan Rara pun datang. Rara juga bergabung makan bersama mereka.
"Kak..."
"Hhmm..."jawab Isyan singkat
"Beliin Rara rujak"pinta Rara dengan wajah seperti bocah.
"Berapa cabenya?"tanya Isyan.
"Tujuh"
"HAH!!"teriak isyan yang membuat pengunjung restoran langsung menoleh ke arahnya
"Kamu manusia apa siluman naga. Masa makan rujak cabe tujuh yang bener aja, kamu lagi hamil"ujar Isyan dengan segala kekesalannya.
Gavin hanya terkekeh melihat kakak beradik ini. Dari penjelasan Rara sudah disimpulkan bahwa Dion dan Isyan itu sepupu, jadi Rara adalah iparnya Isyan.
"Ya ya deh. Cabenya 2 aja"ujar Rara mengangkat dua jarinya sambil tertawa.
Setelah itu Rara meminta Gavin menemani Isyan membeli rujak. Sebenarnya Rara sengaja membuat alasan, agar Gavin dan Isyan bisa pergi berdua.
Setelah 20 menit perjalanan dengan mobil, mereka sampai di warung rujak. Dan segera Isyan memesan rujak untuk Rara. Dan tanpa menunggu lama rujak pesanan Isyan pun jadi.
"Mau kembali ke restoran atau bagaimana?"tanya Gavin
Isyan tak menjawab, tapi membuka HPnya dan mendapat pesan dari Rara kalau dia sudah dijemput oleh Dion dan menyuruh Isyan pergi berdua dengan Gavin.
__ADS_1
"Adik kurang ajar!"lirih Isyan.
"Kenapa?"tanya Gavin.
"Rara udah nggak kepengin makan rujak!"ujar Isyan berbohong.
"Bukannya dia yang minta?"tanya Gavin
"Namanya juga ibu hamil. Satu menit yang lalu merengek kepengin banget lalu lima menit kemudian udah nggah kepengin"curhat Isyan dengan wajah kesal.
"Lalu kita akan ke mana?"tanya Gavin menatap Isyan sejenak.
"Terserah kamu saja"jawab Isyan singkat
Awalnya Gavin berencana mencari informasi tentang Prada Restoran. Karena Gavin merasa tidak asing dengan restoran tersebut. Tapi semua itu harus ditunda saat dia menemani Isyan pergi. Entah mengapa Gavin merasa senang bisa pergi dengan Isyan. Nalurinya berkata seperti itu.
Gavin memberhentikan mobilnya di sebuah taman kota. Karena ini weekend banyak orang menghabiskan waktu di taman. Mereka pun berjalan menyusuri taman. Dari arah berlawanan ada anak kecil berlari sambil membawa dua es krim di tangannya. Anak itu menabrak Isyan dan es krimnya mengenai baju Isyan hingga baju Isyan kotor. Isyan terkejut dan matanya terbelalak. Gavin melihat itu sudah siap mendengar amarah Isyan, mengingat dia adalah Isyana Wijaya pasti baju yang dia pakai harganya sangat mahal.
"Tante maaf bajunya jadi kotor"ujar anak kecil dengan wajah ketakutan.
Isyan tiba-tiba berjongkok di depan anak kecil itu dan tersenyum.
"Tidak papa sayang. Es krim kamu jatuh, mau tante beliin yang baru?"ujar Isyan lemah lembut.
"Mau Tante. Tapi es krim temen aku juga jatuh"jawab anak itu.
"Ajak semua temen kamu. Tante yang beliin"ujar Isyan.
Kemudian anak itu memanggil semua anak kecil di taman. Isyan pun membelikan semua anak itu es krim. Dari kejauhan Gavin mengamati sosok Isyan yang lemah lembut, penyayang, dan sabar. Berbeda sekali dengan dia saat berada di kantor. Benar kata papahnya, bahwa Isyan akan jadi sosok yang berbeda saat di luar dunia bisnis. Dan sekarang Gavin terpana melihatnya. Setelah membelikan anak-anak es krim, Isyan menghampiri Gavin dan memberikan gavin es krim juga.
"Terima kasih.."ucap Gavin.
"Sama-sama.."balas Isyan.
Mereka pun makan es krim bersama sambil duduk di bangku taman hingga petang. Setelah itu mereka meninggalkan taman dan Gavin akan mengantar isyan pulang. Di perjalanan ada sebuah motor yang terus mendekati mobil Gavin. Dua pria naik motor itu. Yang di depan pakai jaket merah dan yang di belakang pakai jaket hitam terus mengetuk kaca mobil Gavin.
"Apaan mereka, orang-orang reseh"gerutu Gavin.
"Pak ban mobilmu kempes!!"teriak pria yang membonceng.
"Kempes apanya. Orang baik-baik aja kok"ujar Gavin.
Karena peringatannya dihiraukan oleh Gavin, orang itu memberhentikan motor tepat di depan mobil Gavin. Gavin pun langsung mengerem mendadak.
"Vin jangan keluar!"ujar Isyan menahan tangan Gavin.
"Kamu tunggu di sini aja"ujar Gavin lalu keluar
"Kalian mau apa?"tanya Gavin to the point.
"Wah nggak banyak basa-basi ya.."ujar pria jaket merah.
"Serahkan semua barang berhargamu termasuk mobil itu"ujar pria jaket hitam sambil menunjuk mobil mercy milik Gavin.
"Enak aja. Kerja dong. Main minta aja. Dikira cari duit segampang metik cabai apa!!"gerutu Gavin tak mau kalah.
Kedua pria itu mulai kesal dan sudah saling memberi kode untuk menghajar Gavin. Benar saja mereka langsung menghajar Gavin bersamaan. Tapi dengan cepat Gavin menahan pukul keduanya dan menendang mereka bergantian. Mereka terus berkelahi hingga akhirnya dua pria itu kalah dari Gavin. Tapi betapa terkejutnya saat pria berjaket merah bersiul yang membuat tiga pria lagi muncul.
Gavin terdiam sejenak dan berpikir apakah dia bisa melawan dua ditambah tiga sama dengan lima pria. Isyan yang masih di dalam mobil benci dengan situasi ini.
"Oh SHIT!!"umpat Isyan
Tentu saja setelah itu mereka menyerang Gavin. Dengan mudah mereka mengeroyok Gavin, sampai Gavin kewalahan.
Salah satu pria memukulkan tongkat kayu dengan keras ke kepala Gavin. Hingga pertahanan Gavin hancur. Kepalanya terasa sangat berat dan tubuhnya melemah dan terkulai di jalan. Isyan pun turun dari mobil dan menghampiri Gavin.
"Gavin..bangunlah!"ujar Isyan memegang pipi Gavin.
"Aaa!!"rintih Gavin memegangi kepalanya sesaat di kepalanya terlintas bayangan hitam. Seorang wanita yang berteriak menepuk wajahnya bersama seorang pria yang sedang sekarat yang berlumuran darah. Sama persis yang dilakukan Isyan padanya sekarang.
"Kalian pergi dari sini atau...."
"Atau apa hah? Kau ini cuma wanita lemah"ejek salah satu pria.
Mendengar kata lemah, darah Isyan langsung mendidih. Isyan pun berdiri dengan emosi yang siap dia ledakkan. Dan tiba-tiba Isyan melayangkan pukulan keras pada pria yang mengejeknya.
Melihat Isyan menyerang mereka balik menyerang Isyan dan betapa terkejutnya Isyan bisa melawan mereka dengan lihai. Dari balik pandangan kaburnya Gavin bisa melihat keganasan Isyan saat berkelahi.
"Aaww!"rintih Isyan saat lengannya ditendang.
"HAJAR!!"teriak lima pria bertubuh kekar yang datang dan dipastikan mereka adalah bodyguard Isyan.
Tanpa perlu menunggu lama langsung menghajar balik dan menyeret para pembegal itu.
"Bawa mereka ke penjara. Pastikan mereka dihukum berat atas perbuatan mereka!"teriak Isyan dengan ganas.
Lalu bodyguard Isyan mengangkut pembegal itu ke mobil mereka. Isyan langsung menghampiri Gavin yang sudah terkulai lemah.
"Vin ayo kita ke rumah sakit!"ujar Isyan memapah tubuh Gavin.
__ADS_1
Isyan membawa Gavin masuk ke mobil. Lalu Isyan menyetir dan membawa mobil ke rumah sakit.