Pengorbanan Cinta 1

Pengorbanan Cinta 1
Bab 34


__ADS_3

Sinar matahari nampak menyelinap masuk melalui sela-sela tirai kamar Isyan. Perlahan Isyan membuka matanya dan terbangunm


"Astaga jam berapa ini?"teriak isyan terkejut


Dia melihat jam dinding dan menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Arya pasti sudah sampai. Ah aku kesiangan"gerutu Isyan lalu bergegas mandi


15 menit kemudian, dia keluar kamar dan berlari mencari keluarganya.


"Mah, Pah, Dion!"teriak Isyan mengelilingi rumah.


"Ternyata mereka di ruang TV ya"ujar Isyan lalu menghampiri mereka yang sedang melihat berita di TV.


Breaking news


Pesawat jadwal berangkatan jam tiga pagi dari Singapura menuju Jakarta. Hilang kontak dan dimungkinkan mengalami kecelakaan dan mendarat darurat di Hutan Sumatera . Tim SAR sudah menemukan lokasi kecelakaan pesawat dan sudah mengevakuasi korban. Menurut laporan semua penumpang dan awak kabin dinyatakan meninggal. Dan jenazah mereka akan segera diterbangkan ke Jakarta


"APA?"teriak Isyan.


Semua orang menoleh ke arah isyan yang berdiri dengan mata terbelalak.


"Arya!!!"teriak Isyan menangis sejadi-jadinya.


Dion langsung lari dan memeluk Isyan.


"Syan..sabar Syan yang tenang"ujar Dion.


"Arya! Nggak-nggak mungkin kan? Itu pasti pesawat lain kan? Nggak mungkin Arya meninggal kita mau nikah dua minggu lagi dan hari ini hari ulang tahunnya Yon"ujar Isyan menangis histeris.


"Sayang sabar sayang"ujar Ratih menangis juga.


Yang lainnya pun ikut menangis melihat keadaan Isyan.


"Mah mereka bohong kan Mah? Aku tanya Papah Angga pasti Arya udah sampe rumah kan Mah"ucap Isyan masih menangis.


Ratih hanya bisa menangis melihat keadaan anaknya yang begitu terpukul.

__ADS_1


Sementara di kediaman Angga.


"Nggak mungkin..pasti bukan pesawat Arya kan Pah!"ujar Laras menangis mengguncangkan tubuh suaminya.


"Papah...Rara sama Kak Isyan udah nyiapin pesta buat kakak. Nggak mungkin kakak meninggal Pah"ujar Rara yang menangis dan memeluk papahnya.


Angga hanya bisa memeluk kedua wanita itu sambil meneteskan air mata. Dirinya pun tidak menyangka bahwa pesawat yang ditumpangi Arya mengalami kecelakaan.


"Maafin papah ini karena papah. Coba papah cegah Arya pergi ke Singapura"batin Angga dalam tangisnya.


Setelah mendapat kabar dari pihak berwajib bahwa para jenazah korban kecelakaan pesawat sudah sampai di Jakarta dan ditempatkan di rumah sakit pusat semua anggota keluarga mencari jenazah keluarga mereka yang menjadi korban.


Keluarga Isyan dan Arya bertemu di rumah sakit. Mereka pun melihat satu persatu kantong jenazah untuk mengecek jenazah Arya. Tapi sayangnya ada beberapa yang kondisinya sudah tidak layak.


"Di mana anakku?"teriak Laras.


Angga membuka salah satu kantong jenazah. Dan semua langsung menangis histeris dimana wajahnya sudah rusak.


"Jenazah itu memakai jasnya Kak Arya. Aku yang menyimpannya di koper"ujar Rara.


"Nggak..nggak mungkin!"teriak Laras lalu dia pingsan.


"Syan..Syan"teriak Dion yang tak dihiraukan.


Saking kacaunya keadaan Isyan ada motor lewat pun dia tidak sadar. Dion yang melihat itu langsung menarik tubuh Isyan dan memeluknya.


"Syan...kamu udah gila ya. Nggak lihat ada motor apa? Kamu mau mati apa?"bentak Dion.


Isyan hanya menangis bahkan memeluk Dion sangat erat.


"Syan...aku tahu kamu nggak bisa terima ini. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah takdir. Kalau kamu kayak gini gimana Arya bisa tenang"ujar Dion.


"Tapi aku belum bisa percaya Yon. Itu pasti bukan Arya"ujar Isyan.


"Syan...daripada kamu kayak orang gila mending kita masuk tanya sama polisi"ujar Dion memegang bahu Isyan.


"Ayo"ajak Dion pada Isyan dan mereka masuk ke rumah sakit lagi. Dan mereka kembali ke ruang jenazah.

__ADS_1


"Pak Polisi"panggil Dion.


"Pak...apa semua korban sudah di bawa kesini? Atau masih ada yang belum ketemu?"tanya Isyan harap-harap cemas.


"Sudah semuanya Bu Isyan. Dan tadi ayah anda bilang kalau jenazah yang tadi kalian lihat adalah tunangan anda. Dan ini beberapa barang yang saya temukan di dalam jasnya"ujar polisi memberikan sebuah kantong plastik bening pada Isyan.


Isyan pun membuka isinya. Ada ada satu benda yaitu sebuah pin tapi isyan hanya menyentuhnya lalu memasukkannya lagi ke dalam plastik. Lalu ada selembar kertas dan isyan membacanya. Itu adalah surat dari Isyan yang dia letakkan di kotak kado untuk Arya.


"Yon..ini surat dari aku untuk Arya. Surat ini aku kasih dikado ulang tahun Arya. Jadi dia udah buka kadonya"ujar Isyan menangis lagi.


"Nggak mungkin kan dia Arya. Yon nggak mungkin Arya ninggalin aku, kita kan mau menikah"jerit Isyan.


Dion yang melihat Isyan seperti itu tak kuasa menahan tangis lalu memeluk Isyan dengan erat. Setelah laras siuman dan administrasi pengurusan jenazah selesai. Jenazah Arya dibawa ke rumah. Semua kerabat, teman, dan rekan bisnis melayat. Rara memeluk dan menangis bersama ibunya. Angga dengan setia berada disisi jenazah Arya.


Sementara Isyan diam dengan tatapan kosong dan Ratih beserta sinta selalu di samping Isyan. Setelah proses perawatan jenazah selesai mereka membawa jenazah Arya ke tempat peristirahatan terakhir. Tangis kembali pecah diantara keluarga terutama Isyan. Setelah proses pemakaman selesai mereka pun kembali kerumah.


Laras menyendiri diri dikamar dan Angga merasa paling bersalah dengan semua yang terjadi.


"Istriku...jangan seperti ini. Jangan menyiksa dirimu. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Apa kamu tidak kasian dengan Arya. Arwahnya tidak akan tenang"ujar Angga memeluk istrinya.


"Baru saja kita akan melihat anak kita menikah tapi dia sudah tiada sekarang"ujar Laras menangis.


Sementara Rara memandangi sekeliling rumah mengingat masa kecilnya dengan Arya dan terakhir saat dia dan Isyan menghias rumah ini untuk pesta ulang tahun Arya yang berubah jadi rumah duka. Air matanya menetes begitu derasnya.


"Kakak...semua seperti menghilang. Makna kehidupan sirna dalam sekejap. Apa maksud takdir ini? Kita baru saja akan berbahagia dimana kita akan menikah dengan pasangan kita masing-masing. Kamu malah pergi meninggalkan kami"ujar Rara.


Sementara Isyan, dia menjadi pendiam, menyendiri dan dingin. Ya, Isyan kembali menjadi Isyan yang dulu. Bukan karena dikhianati tapi karena ditinggal pergi untuk selama-lamanya.


"Arya...kamu sudah janji akan bersamaku tapi kenapa kamu meninggalkanku secepat ini"ujar Isyan menangis sambil memeluk figura foto pertunangannya dengan Arya.


Keluarganya merasa khawatir sengan kondisi kejiwaan Isyan. Tapi Dion meyakinkan bahwa dia akan mengurus isyan walaupun akan sulit mengembalikan dia seperti dulu saat masih bersama Arya.


"Isyan... Apa kamu nggak capek menangis terus? Apa kamu nggak kasian sama Arya? Dia pasti sedih melihat kamu seperti ini?"ujar Dion mengelus rambut Isyan.


"Aku pasti akan dimarahi dia karena tidak bisa menjagamu. Bagaimana kalau dia menghantuiku"gerutu Dion yang menahan tangis.


"Syan...serius nih Syan"celoteh Dion yang berusaha menghibur Isyan.

__ADS_1


Isyan menoleh ke arah dion lalu memeluknya dengan erat. Dan tak disangka Dion pun ikut menangis saat Isyan memeluknya.


__ADS_2