Pengorbanan Cinta 1

Pengorbanan Cinta 1
Bab 39


__ADS_3

Keesokan paginya, Gavin sedang menyiapkan beberapa berkas untuk keperluan pembangunan Arya Hotel. kemudian masuklah sekertaris pribadinya yang bernama Sarah.


"Maaf Pak Gavin saya mengganggu"ujar Sarah.


"Ada apa Sarah? Ada kesulitan mengurus proyek Wijaya Group?"tanya Gavin.


"Maaf Pak saya kesini mau mengajukan resign karena bulan depan saya akan menikah dan ikut suami saya ke Jepang"ujar Sarah memberikan surat resign.


"Kenapa mendadak? Kamu tahu kan saya baru saja mendapat proyek baru bagaimana saya bisa menemukan sekertaris pengganti kamu dalam waktu dekat"ujar Gavin.


"Pak, saya menikah bulan depan, masih ada waktu untuk bapak membuka lowongan sekertaris baru hari ini pasti banyak yang mendaftar. Sebelum bapak dapat sekertaris baru saya akan tetap di sini membantu bapak"ujar Sarah.


"Ya sudah, aku tidak bisa memaksamu. Kalau begitu hubungi HRD untuk membuka lowongan sekertaris baru dan kamu tahu kan kriterianya"tambah Gavin.


"Baik Pak. Segera HRD akan membuat lowongan pekerjaan itu. Saya permisi"ujar Sarah lalu pergi.


Sementara di kantor Wijaya Group.


Setelah pihak HRD PT Surya membuat pengumuman lowongan pekerjaan di website perusahaan.


"Syan..Isyan.."teriak Dion masuk ruangan Isyan.


Isyan hanya menoleh dengan tatapan datar dan sambil membuka lembar demi lembar berkas di tangannya.


"Kamu daftar jadi sekertaris ya"pinta Dion.


"Hah? Kamu gila ya! Udah jadi direktur utama masa jadi sekertaris sih. Yang bener aja"gerutu Isyan.


Dion pun menunjukkan sebuah postingan dari website PT Surya Kontraktor yang membutuhkan sekertaris.


"Jadi?"tanya Isyan yang belum mengerti.


"Kalau pinter jangan kebangeten dong.."sewot Dion.


"Ini kesempatan Syan..kalau kamu masuk ke perusahaan itu, kamu bisa leluasa menyelidiki siapa Gavin. Entah itu jadi sekertarisnya siapa yang penting kamu berada di perusahaan itu"jelas Dion.


"Tapi kan mereka kenal aku"ujar Isyan.


"Ya kamu datang kesana jangan sebagai Isyana Kusuma Wijaya tapi jadi orang lain. Menyamar dan rubah penampilan"ujar Dionm


"Eemm...ide kamu bagus juga. Tapi perusahaan sebesar PT Surya pasti akan menyelidiki latar belakang setiap karyawannya. Nanti ketahuan kalau aku Isyana Wijaya gimana"ujar Isyan dengan wajah khawatir.


"Tenang Syan, aku akan urus semuanya. Aku akan merubah semua surat identitasmu. Nanti aku yang kirim surat lamaran kerja ke email perusahaan itu. Kamu tinggal ikut interviewnya aja"ujar Dion penuh semangat.


"Kamu yakin?"tanya Isyan tak yakin.


"Syan...aku tahu kamu takut kalo Gavin itu bukan Arya. Tapi kalau Havin emang Arya gimana? Allah nggak akan merubah takdir hambanya kalo dia nggak berusaha merubahnya sendiri"jelas Dion.


"Tumben kamu otakmu bener Yon. Oke deh"ujar Isyan tersenyum sumringah dan kembali bersemangat.


-----


Malam pun tiba, Dion sedang berdiskusi di ruang keluarga bersama keluarganya mengenai rencana tadi pagi.


"Ya asal nyawa Isyan aman, Om setuju sama ide kamu"ujar Kusuma.


"Betul yang terpenting Isyan aman. Makhluk kaya Isyan kan langkah"tambah Rama.


"Emangnya Kak Isyan singa, Pah"ledek Rara.


"Ya mirip, soalnya sama-sama ganas"timpal Dion. tertawa diikuti yang lain.


"Ihh kalian bisa nggak sih serius"gerutu Isyan menghentakkan kakinya.


"Baik Isyan anakku. Sekarang kita harus ubah Isyan berpenampilan seperti apa?"tanya Ratih.


"Susah sih Kak, Isyan no make up aja udah cantik. Ini mau diubah gimana coba"ujar Sinta bingung


"Aha..."


"Rara ada ide. Yuh Kak Isyan ikut Rara ke kamar. Biar Rara yang dandanin"ajak Rara.


Isyan mengernyitkan dahinya berpikir tentang apa yang akan dilakukan saudara iparnya itu. Lalu dia pasrah ikut Rara ke kamar.


30 menit kemudian Rara dan Isyan keluar dari kamar.


Betapa terkejutnya semua orang dengan penampilan Isyan. Wanita yang tadinya fashionable, glamour, dan elegan berubah menjadi wanita cupu dan sederhana. Rara mendandani Isyan dengan style gadis desa yang rambut dikepang dua, memakai rok panjang, atasan agak kebesaran, memakai kacamata berbentuk bulat, dan memberi tahi lalat di atas bibir.


"Astagfirulloh al'azim"ujar Ratih yang matanya melotot.


"Ini Isyan?"tanya Kusuma dengan mulut menganga.


"Harimau Sumatera!"celoteh Isyan.


"Oke-oke semua nganganya udahan ih. Kasian bayinya Rara. Ngilu lihatnya"sewot Rara mengelus perutnya.


"Ini sih nggak bakal ada yang ngenalin Isyan. Terus nama Isyan diganti siapa?"tanya Rama


Rara dan Isyan saling berpandangan dan tersenyum

__ADS_1


"Ratna"ucap Rara dan Isyan bersamaan.


"Okelah. Penampilan dan nama Isyan udah berubah. Aku langsung telpon anak buahku untuk ubah semua surat identitas Isyan dengan nama Ratna"sambung Dion.


"Emang bisa jadi dalam waktu sehari Mas? Ngubah KTP, SIM, Ijazah dan lainnya kan susah"ujar Rara.


"Rara sayang, apa sih yang nggak buat keluarga Wijaya. Percayakan sama suami kampretmu itu"balas Isyan menaikkan alis.


"Habis itu mamah bakal belanja baju khusus stylenya Si Ratna"ujar Ratih.


"Berarti mulai besok Isyan nggak bisa tinggal di sini dong. Gimana kalo kamu pindah apartemen aja"ujar Sinta


"Kenapa harus pindah?"tanya Rama.


"Kalo nggak pindah gimana cara ngganti alamat di KTP... papahku yang ganteng"gerutu Dion meremas bantal di sofa.


Isyan yang tadinya bersemangat sekaranh berubah jadi lesu dan diamm


"Syan kamu kenapa kok sedih sih? Kita semua dukung perjuangan kamu loh"ujar Ratih merangkul putrinya.


"Isyan takut semuanya gagal dan sia-sia Mah. Selama ini Isyan cuma berharap sama cintanya Arya. Kalau Gavin bukan Arya, aku bisa patah hati lagi"ujar Isyan meneteskan air mata.


"Kenapa kamu pesimis. Kita baru memulai. Masa kalah sebelum perang. Ayo dong anak papah itu kan berani"ujar Kusuma menyemangati.


"Terus kalau misal Isyan gagal ikut seleksi sekertaris itu gimana?"tanya Isyan


"Seorang Isyana Kusuma Wijaya direktur utama Wijaya Group gagal interview jadi sekertaris?"sergap Dion dengan ekspresi sombong namun konyol.


"Hello..Syan nggak mungkin lah. Oke kamu jadi Ratna tapi kemampuan tetap Isyana Wijaya yang cerdas dan berkuasa"tambah Dion.


"Makasih ya kalian semua selalu mendukung aku. Aku sayang kalian"ujar Isyan terharu.


"Kita juga sayang kakak"ujar Rara.


Lalu mereka pun saling memeluk menguatkan Isyan


-----


Keesokan paginya, di kantor PT Surya.


Pihak HRD dan Sarah sedang melihat surat lamaran kerja yang dikirim ke email perusahaan. Sarah pun memberi tahu kepada Gavin calon pelamar dan besok semua calon pelamar datang untuk interview.


Sedangkan, di kantor Wijaya Group


Di ruangannya, Isyan sedang merubah dirinya dengan penampilan Ratna dan bercermin di kaca besar yang ada di ruangannya.


"Nggak jelek-jelek amat sih. Masih oke"gumam Isyan.


"Hei kamu siapa? Kenapa sembarangan masuk ke ruangan orang. Keluar kamu!"teriak Arum menyeret Isyan.


"Hei Arum..ini saya Isyan. Hei lepasin"ujar Isyan menahan tarikan Arum.


"Jangan bohong kamu. Kamu penyusup kan"ujar Arum ngeyel dan masih menarik Isyan.


"Hei Arum ngapain kamu!"tegur Dion yang masuk ke ruangan Isyan.


Arum pun berhenti menarik tangan Isyan saat melihat Dion datang.


"Ini Pak ada orang asing masuk ke ruangan Bu Isyan"ujar Arum dengan wajah polos.


Isyan dan Dion saling memandang lalu tertawa terbahak-bahak.


"Ya ampun Arum. Kamu itu ya udah kerja di sini tiga tahun masa nggak kenal dia sih"ujar Dion tertawa sambil memukul meja karena saking lucunya.


"Emang dia siapa Pak?"tanya Arum bingung.


"Dasar sekertaris durhaka kamu. Ini saya Isyan"ujar Isyan melepas atribut penampilan Ratna.


"Ya ampun maaf Bu Isyan saya nggak tahu. Jangan pecat saya Bu maaf"ujar Arum ketakutan sambil memohon.


"Hei udah. Saya nggak marah kok. Malah saya kaget kamu nggak mengenali"ucap Isyan menyuruh Arum berdiri tegak.


"Kamu beneran nggak tau dia Isyan?"tanya Dion.


Arum hanya menggelengkan kepala karena memang dia tidak mengenali Isyan saat berpenampilan sebagai Ratna.


"Berarti ulah Rara nggak sia-sia Syan. Arum yang udah kerja tiga tahun aja bisa pangling"sambung Dion.


"Emang otak wanita pas hamil keren ya. Tambah cerdas"seru Isyan terkekeh


"Ya udah Rum..sana balik ke mejamu. Anggap aja ini nggak pernah terjadi"ujar Dion.


"Sekali lagi maaf ya Bu Isyan. Saya permisi"ujar Arum lalu pergi.


"Oh ya Syan..aku mau kasih tahu besok ada interview di perusahaan Gavin jam delapan pagi"ujar Dion.


"Hem...aku jadi deg-degan"ujar Isyan merebahkan tubuhnya di sofa lalu disusul Dion.


"Kenapa?"tanya Dion.

__ADS_1


"Takut aja...ada rasa takut berharap"ujar Isyan.


"Hei..kenapa jadi lesu sih. Syan ayo semangat dong. Nggak usah khawatir sama lolos interview atau enggak. Kamu tuh direktur utama gampang dong kalau mau jadi sekertaris"ujar Dion.


"Tapi kebanyakan sekertaris itu cantik, seksi, dan bohay. Lah aku cupu kaya gadis pedesaan. Mana bisa bersaing"ujar Isyan.


"Kamu kan ada otak. Ya dipakai dong. Nggak mungkin Gavin akan milih sekertaris yang nggak ada otak. Apalagi sekarang dia kerja sama dengan Wijaya Group, nggak bakal dia aneh-aneh. Aku yakin"ujar Dion.


-----


Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Gavin baru sampai di rumahnya.


"Papah..."panggil Gavin.


"Ada apa Tuan Muda?"tanya pembantu.


"Papah mana Bi?"tanya Gavin.


"Tadi ada di ruang kerjanya"jawab pembantu.


Gavin pergi menuju ke ruang kerja Surya. Sementara Surya sedang berdiri membelakangi pintu menghadap salah satu lemari sambil memegangi sebuah figura foto.


"Gavin, papah kangen.."lirih Surya meneteskan air mata.


"Pah!"panggil gavin sambil membuka pintu.


Surya terkejut mendengar panggilan Havin dengan cepat dia memasukkan figura foto itu ke laci lemari yang ada di depannya dan menghapus air matanya.


"Iya Nak ada apa?"tanya Surya.


"Papah tumben di sini biasanya nonton tv"ujar Gavin mendekat.


"Nggak papa, lagubpengin aja"balas Surya.


"Papah nggak sakit kan?"tanya Gavin.


"Papah sehat. Ada apa kamu cari papah? Ada masalah dengan proyek Wijaya Group?"tanya Surya.


"Semua aman Pah. Lagi mulai persiapan kerja aja. Beberapa minggu lagi udah mulai pembangunan"jawab Gavin.


"Ya udah kita makan malam yuk. Bibi pasti udah nyiapin makan malam"ajak Surya.


-----


Di kediaman keluarga Wijaya, mereka juga sedang makan malam bersama, sambil bersenda gurau. Kusuma merasa bahagia sekarang Isyan pelan-pelan sudah mulai ceria sedikit demi sedikit. Dion pun bercerita kejadian Arum yang tadi pagi. Tentu saja semua tertawa.


"Mas Dion..."panggil Rara dengan manja.


Dion menelan liurnya ketika Rara memanggilnya dengan manja dan perasaannya mulai tidak enak. Semua anggota keluarga pun saling memandang mereka sudah siap siap mendengar permintaan absurd dari Rara.


"Iya sayang. Ada apa cintaku?"tanya Dion dengan lembut


"Aku tiba tiba pengin makan clorot (jajanan khas purworejo yang bentuknya kerucut warnanya coklat rasanya manis)"ujar Rara mengelus perutnya.


UHUK


Semua orang tersedak secara bersamaan sementara Dion menganga dengan lebarnya.


"Ra...nyari clorot itu susah. Zaman sekarang apalagi di Jakarta mana ada jajan clorot"ujar Sinta.


"Iya Ra...terakhir masih ada jajan clorot itu tahun 2006 sekarang udah 2020 mana ada yang jual. dan ini sudah malam"sambung Ratih.


"Kamu kenapa tiba-tiba pengin clorot Ra?"tanya Isyan.


"Soalnya bentuk clorot mirip kaya bibirnya Mas Dion kalau lagi manyun"ujar Rara dengan wajah polos.


"Mirip bibir apa mirip anunya Dion, Ra?"celetuk Kusuma.


"Dua-duanya Om"balas Rara dengan wajah santai.


Semua orang pun di buat tertawa saat Rara dengan santai membuat Dion merasa malu sebagai suaminya akibat perkataannya


"Astagfirulloh...menantuku ini kok jujur banget sih"ujar Sinta tertawa.


"Ra ini nyidam apa hinaan sih?"gerutu Dion.


"Mas Dion jangan bikin Rara sebel. Serius Rara kepengin. Harus ada"gertak Rara dengan wajah cemburut.


"Nah loh Yon...ngambek kan. Perasaan wanita saat hamil itu sangat sensitif, dan butuh perhatian ekstra"ujar Kusuma.


"Tidur luar Yon.."sambung Rama.


"Oke oke Ra..besok aku cariin ya tapi jangan ngambek oke sayangku cintaku"rayu Dion.


"Oke.."ujar Rara sambil tangan membentuk isyarat oke.


Setelah makan malam selesai Dion masih dipusingkan dengan permintaan Rara.


"Mamah udah suruh pelayan untuk cari pedagang jajanan tradisional di pasar, siapa tahu ada yang bisa bikin clorot"ujar Sinta.

__ADS_1


"Makasih Mah. Aneh-aneh aja deh Rara"ujar Dion.


"Namanya juga nyidam Yon. Nikmati aja ya sampe empat bulan ke depan"ujar Rama.


__ADS_2