
Fajar telah menyingsing. Mentari bersinar tanpa malu-malu. Bertemankan embun yang perlahan menetes di balik dedaunan. Isyan sudah kembali ke apartemen semalam. Dan dia bersiap untuk berangkat bekerja tentunya. Ada gelak tawa di hatinya karena sudah dua hari tidak bekerja dan tidak membalas pesan dari bosnya.
Sesampainya di kantor, Isyan langsung memulai pekerjaannya. Banyak berkas menumpuk di mejanya. 20 menit kemudian, Gavin datang. Ada seulas senyum saat melihat sekertarisnya sudah nangkring di meja kerjanya. Gavin pun melewati meja Isyan, tapi tak disapa bahkan dilirik Isyan pun tidak. Gavin mendengus kesal melihat sikap acuh sekertarisnya.
"Kenapa dia mengacuhkanku?"tanya Gavin sambil menjatuhkan diri ke kursi kebesarannya.
Terdengar suara pintu ruangan gavin di ketuk pelan.
"Masuk"jawab Gavin.
"Permisi Pak, ini laporan yang harus bapak tanda tangani"ujar Isyan datar meletakkan laporan di meja Gavin.
"Kamu kenapa tidak membalas chat dari saya?"tanya Gavin.
"Bapak ngechat saya? Masa sih?"jawab Isyan pura-pura tidak tahu. Lalu mengambil ponsel dan mengecek pesan dari Gavin
"Oh iya..maaf Pak saya nggak tahu"jawab Isyan santai.
"Kamu itu ya dihubungi bos bukannya dibales malah dibiarin"ujar Gavin kesal.
"Yah bos..saya kan di Bandung ngurusin bapak saya. Mana bisa saya mikirin siapa yang nelpon atau kirim pesan ke saya"ujar Isyan.
"Hhmmm"gumam Gavin sambil meneliti laporan dari Isyan.
"Bapak kangen ya sama saya?"goda Isyan tertawa geli.
"Untuk apa saya kangen kamu. Ini kerjaan banyak. Saya pusing liatnya"elak Gavin menyodorkan setumpuk berkas.
"Kalo iya juga nggak papa kok Pak. Hahaha"ujar Isyan tertawa sambil mengambil berkas.
"Berani kamu ya!"gerutu Gavin berdiri dari kursinya.
Isyan langsung lari keluar ruangan Gavin sebelum Gavin mengamuk. Gavin yang melihat keusilan sekertarisnya berniat mengerjainya balik. Karena dia masih merasa kesal pesannya diabaikan. Gavin pun keluar dari ruangan dan menuju meja kerja sekertarisnya.
"Kerjakan laporan itu di ruangan saya!"titah Gavin.
"Hah?"seru Isyan dengan ekspresi terkejut.
"Ih mana bisa Pak. Komputernya masa dibawa masuk? Kan kabelnya banyak Pak"ujar Isyan.
"Kamu ada laptop kan? Bawa laptop kamu. Gitu aja bingung"ujar Gavin menunjuk pelipis Isyan dengan telunjuknya.
"Mager Pak.."lawan Isyan dengan wajah memelas.
"Ke ruangan saya sekarang atau saya ganti gajimu dengan cilok"gertak Gavin.
"Ih bapak kalau mau marah sama saya nggak usah nyuruh yang aneh-aneh Pak"ujar Isyan.
"Terserah saya. Saya ini bos kamu, ngerti?"seru Gavin lalu masuk ke ruangannya lagi.
Isyan terbelalak mendengar perkataan Gavin. Mau tidak mau Isyan membawa semua berkas dan laptop ke ruangan Gavin. Isyan duduk di sofa lalu mulai memeriksa setiap lembar berkas dengan teliti.
Sesekali Gavin memerhatikan sekertarisnya. Dipikir-pikir Ratna ini cantiknya natural, tidak neko-neko, tidak centil, apa adanya, dan sederhana.
"Ngapain bapak liatin saya terus?"seru Isyan sambil membenarkan kacamatanya yang melorot ke ujung hidung.
"Jangan kepedean kamu. Saya cuma ngawasin kamu. Kerjanya kamu benar atau idak"balas Gavin kembali fokus ke laptopnya.
Isyan rasanya ingin beranjak dari ruangan Gavin. Bukannya merasa tidak nyaman, hanya saja Isyan tidak bisa menahan rasa rindu. Dia bisa jadi sangat emosional jika terlalu lama berada di dekat Gavin, seperti saat ini. Apalagi akhir-akhir ini Gavin sering memerhatikan dia.
Isyan berusaha menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin agar bisa kembali ke meja kerjanya. Saking cepatnya bekerja karena Isyan sudah hampir setengah hari duduk ditambah pekerjaan yang banyak, didukung sofa yang nyaman, membuat Isyan mengantuk. Isyan menguap beberapa kali hingga akhirnya dia menyenderkan tubuhnya pada sofa dan memejamkan mata.
Gavin pun menyaksikan bagaimana sekertarisnya tertidur saat bekerja. Gavin bangkit dari kursi dan beranjak duduk di sebelah Isyan. Gavin mengamati begitu lekat wajah wanita yang sekarang hampir setiap hari dia lihat. Tingkahnya yang konyol selalu membuat Gavin sering kehilangan akal. Gavin mengangkat tangannya hendak memandangi setiap inci wajah Ratna. Perlahan Gavin mendekatkan tangannya ke wajah Ratna. Saat tangan Gavin hampir menyentuh wajah Ratna, wanita itu justru terbangun dari tidur singkatnya.
Dengan perasaan bingung, isyan memandangi gavin yang tangannya berada di depan wajahnya.
__ADS_1
"Bapak ngapain?"tanya isyan bingung
Gavin memberi tatapan membunuh seakan siap memangsa manusia didepannya. Gavin langsung menarik hidung Isyan hingga membuat kacamatanya melorot ke ujung hidung.
"Aduh Pak sakit hidung saya. Bapak ngapain sih di sini bukannya duduk di kursi bapak sendiri"omel Isyan sambil memgelus hidungnya yang memerah.
"Kamu itu yang ngapain. Bukannya kerja malah tidur. Enak aja"ujar Gavin menenteng tangan di pinggang.
"Ya maaf Pak, lagian sofanya bikin nyaman. Jadi kebawa tidur deh"ujar Isyan berusaha mencairkan suasana.
Gavin masih menatapnya dengan tatapan tajam.
"Udah selese laporannya?"sergap Gavin mengulurkan tangan meminta hasil laporan dari sekertarisnya.
Isyan menelan liurnya susah payah. Lalu menyerahkan berkas pada Gavin. Gavin pun meneliti dengan seksama setiap lembar laporan yang dikerjakan isyan. Mata Gavin tiba-tiba membulat ketika melihat laporan itu. Gavin tidak menyangka laporan sebanyak itu bisa dikerjakan hanya dalam waktu beberapa jam.
Ini mustahil bagi Gavin. Ratna hanya seorang sekertaris berpenampilan culun dan tidak menarik sama sekali, bisa bekerja begitu gesit dan rapih.
"Kamu itu pakai ilmu apa? Bisa mengerjakan laporan sebanyak dan sesulit ini dalam waktu setengah hari?"tanya Gavin.
"Bapak ini udah marah-marah ke saya masih aja nanya kok bisa kok bisa. Ya bisalah Pak kan sebenarnya saya direk...."
Isyan menghentikan perkataannya saat dia sadar hampir keceplosan akan menyebut direktur utama. Isyan langsung menutup rapat mulutnya. Karena gugup badan Isyan agak gemeteran.
"Sebenarnya kamu apa?"tanya gavin mengulang perkataan Isyan
"Saya manusia yang berguru pada Wiro Sableng. Makanya saya punya ilmu agar bisa bekerja dengan cepat"ujar Isyan terkekeh.
"Ngayal kamu"ujar Havin sambil memukul pelan kertas ke bahu Isyan.
"Kan yang ngayal saya bukan bapak. Kenapa bapak yang repot"balas Isyanm
Gavin menghela napas karena lelah menanggapi perkataan sekertarisnya. Ada saja perkataannya yang dipatahkan oleh Ratna.
"Sudah jam makan siang. Keluar sana kamu"ujar Gavin lalu berdiri.
"Saya pikirkan lagi. Udah sana keluar"ujar Gavin.
Isyan pun merapikan barang miliknya lalu keluar dari ruangan Havin dengan suka cita. Gavin hanya tersenyum geli melihat tingkah sekertarisnya yang lugu itu.
*****
Senja hampir habis, Isyan bergegas lari keluar kantor.
Bunyi klakson mobil mengagetkan Isyan yang sedang berlari. Mobil itu berhenti tepat di depan Isyan.
"Masuk mobil saya"ujar Gavin dari dalam mobil.
Isyan mengerutkan dahinya memandangi Gavin dengan ekspresi ndesonya.
"Saya bukan anak sekolahan Pak, yang dianterin pulang"ujar Isyan cuek.
"Masuk ke mobil atau saya kirim kamu ke Taiwan biar jadi TKW!"gertak Gavin.
"Ya ya ya Pak oke"ujar Isyan lalu masuk ke mobil Gavin.
Gavin melajukan mobilnya meninggalkan area kantor. Gavin mengemudi dengan kecepatan sedang. Isyan bergumam dalam hati dan mencoba menebak suasana hati Gavin.
"Ehh Pak berhenti dong!"teriak Isyan mengejutkan Gavin dan membuat dia mengerem mendadak.
"Aduh Ratna kalau nyuruh berhenti jangan dadakan dong"omel Gavin.
"Ya maaf Pak. Bapak tunggu sini saya mau beli cilok di depan itu"ujar Isyan lalu keluar dari mobil.
Isyan pun menghampiri tukang cilok yang sedang mangkal di pinggir trotoar. Tukang cilok itu nampak kelelahan karena dia duduk di trotoar menunggu pelanggan datang. Terlihat dagangan ciloknya masih banyak. Padahal hari sudah sangat sore.
__ADS_1
"Pak saya beli cilok 5 ribuan dua bungkus ya"ujar Isyan.
Melihat ada pembeli, tukang cilok langsung bangkit dan senyum penuh kebahagiaan. Lalu membungkus cilok pesanan Isyan. Gavin hanya mengamati dari dalam mobil. Melihat apa yang dilakukan Ratna.
"Ini Neng...jadi sepuluh ribu"ujar tukang cilok memberikan kantong plastik.
Isyan mengeluarkan uang dari dompet. Mengambil beberapa lembar uang seratus ribu.
"Ini Pak uangnya"ujar Isyan memberikan uang.
"Loh kebanyakan ini Neng"ujar tukang cilok.
"Ini rezeki dari saya, buat bapak, saya ikhlas"ujar Isyan.
"Makasih Neng, semoga Allah memberi keberkahan di hidup, Neng"ujar tukang cilok mengadahkan tangan.
"Aamiin"jawab Isyan lalu kembali ke mobil.
Isyan kembali memasang safety belt. Lalu memakan satu bungkus cilok yang dia beli. Isyan menikmati cilok itu dan sengaja dibuat berlebihan gaya makannya untuk menggoda Gavin.
"Kamu sengaja ya pamer sama saya"ujar Gavin kesal
"Enggak kok Pak. Ngapain saya pamer. Bapak kan orang kaya mana mungkin makan cilok kayak gini"ujar Isyan mengunyah penuh kenikmatan cilok miliknya.
"Siapa bilang. Saya juga sering makan jajan pinggir jalan"ujar Gavin lalu mengambil satu bungkus cilok yang tersisa di dalam kantong plastik.
"Oohhh"balas Isyan.
Gavin pun menikmati cilok yang dibeli Isyan. Rasanya memang tidak buruk. Kebetulan Gavin merasa sedikit lapar dan cilok ini bisa mengganjal rasa laparnya sebentar.
"Pak, saya udah baik nih beliin bapak cilok, jangan ganti gaji saya sama cilok ya"bujuk Isyan.
"Jadi kamu nyogok saya pakai cilok?"seru Gavin singkat karena sedang mengunyah cilok miliknya.
"Lah bapak udah punya banyak uang ngapain saya nyogok bapak pakai uang? Yang ada saya tambah miskin Pak"ujar Isyan sambil tertawa
"Terus biar gaji kamu nggak saya ganti pakai cilok, kamu mau nyogok saya pakai apa?"tanya Gavin.
"Apa ya?"ujar Isyan sambil melirik ke atas dan berpikir.
"Pakai perasaan"ujar Gavin tiba-tiba
"Hah?"teriak Isyan terkejut sambil melototkan matanya. Isyan terkejut mendengar perkataan Gavin. Jatungnya seperti berhenti berdekat seketika.
"Biasa aja lihatnya nggak usah pakai melotot. Bola mata kamu mau keluar itu"ujar Gavin mengibaskan tangan di depan wajah Isyan.
"Ya bapak aneh-aneh aja sih"ujar Isyan dengan wajah memerah.
"Ya udah, kamu nyogok saya pakai masakan kamu. Jadi tiap hari kamu bawain makan siang buat saya. Sekalian ngirit uang makan saya"ujar Gavin.
"Wah kalau itu sih gampang. Sip Pak"ujar Isyan mengacungkan satu jempolnya.
Gavin tersenyum melihat tingkah sekertarisnya yang lucu dan unik itu.
"Kamu kenapa kasih banyak uang ke tukang cilok itu?"tanya Gavin
"Bapak nggak lihat, dagangan bapak tukang cilok masih banyak. Saya kasian Pak kalau misal bapak itu hari ini nggak makan atau anak istrinya di rumah belum makan. Selama kita mampu kenapa coba kita nggak beramal di mulai dari hal kecil"ujar Isyan.
Entah menjadi isyan atau ratna mereka berdua tetaplah sama. Wanita yang rendah hati dan berjiwa sosial tinggi. Hanya saja akan berbeda pembawaan karakter sesuai situasi. Mendengar penjelasan Ratna, Gavin mengangguk mengerti. Gavin semakin kagum pada ratna, dia bukan wanita yang gila fashion, bukan wanita yang ingin terlihat cantik. Tapi dia wanita apa adanya.
"Saya pikir kamu wanita yang suka beli barang-barang branded"celetuk Gavin.
Isyan mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Gavin.
"Ya ampun Pak, saya cuma wanita kampung. Gaji saya aja cukup buat kebutuhan saya dan keluarga"balas Isyan tersenyum.
__ADS_1
Jika boleh jujur sebenarnya Isyan sendiri bukan tipe wanita yang harus memakai barang-barang branded. Hanya karena keluarganya yang percaya bahwa harga mempengaruhi kualitas makanya Isyan memakai barang branded. Itu pun paksaan dari mamahnya. Dan akhirnya Isyan harus terbiasa membeli dan menggunakan barang-barang branded.
Setelah selesai menikmati cilok, Gavin menjalankan mobilnya kembali dan mengantar Isyan ke apartemennya.