Pengorbanan Cinta 1

Pengorbanan Cinta 1
Bab 42


__ADS_3

Jam enam pagi, Isyan sudah sibuk memasak untuk sarapan. Bukan hal baru bagi Isyan mengerjakan pekerjaan rumah. Walaupun dia anak Kusuma Wijaya tetap saja jiwa merakyatnya selalu berkobar. Karena prinsip yang selalu Isyan pegang "Diatas langit masih ada langit jadi membumilah agar hidupmu bersahaja."


Setelah selesai masak Isyan langsung mandi dan sarapan. Kemudian bergegas berangkat ke kantor menggunakan taksi. Isyan selalu berusaha sampai di kantor sebelum Gavin datang dan ternyata Gavin belum datang.


"Huh untung dia belum datang"ujar Isyan mengelus dadanya sambil mengintip ruangan Gavin.


"Siapa bilang saya belum datang!"teriak Gavin yang sudah berdiri di belakang Isyan.


Isyan pun terperanjat dan langsung membulatkan matanya saat Gavin berada di hadapannya.


"Sejak kapan bapak di sini?"tanya Isyan.


"Sejak saya jadi direktur utama. Kenapa?"balas Gavin


"Santai aja kali Pak nggak usah ngegas. Bapak belum sarapan ya"ujar Isyan.


"Kok kamu tahu kalau saya belum sarapan?"tanya Gavin penuh selidik.


"Soalnya bapak galak kayak preman pasar"ujar Isyan tertawa.


Gavin menatap isyan dengan tatapan tajam, melihat ekspresi Gavin yang menakutkan Isyan langsung menutup mulutnya dan berhenti tertawa.


"Belikan saya sarapan"perintah Gavin.


Isyan menjulurkan tangan sambil menaikkan alisnya.


"Apa?"


"Uangnya lah Pak. Masa saya beli sarapan pake surat Al Fatihah emang mau ziarah"celoteh Isyan.


Gavin mengambil uang 50rb dari dompetnya lalu menyuruh Isyan pergi. Kemudian Gavin masuk ke ruangannya dan langsung membuka laptopnya.


10 menit berlalu tiba-tiba Isyan masuk ke ruangannya dengan napas ngos-ngosan.


"Ngapain kamu balik lagi?"tanya Gavin.


"Bapak belum ngomong mau dibeliin sarapan apa. Kan nggak mungkin saya beliin bapak cilor atau telor gulung"jelas Isyan.


Gavin menghela napas kasar sembari memutar bola matanya.


"Kan kamu bisa telpon atau chat saya"ujar Gavin.


"Sejak kapan saya punya nomor telpon bapak"seru Isyan mengerutkan dahinya.


"Kamu nggak punya nomer saya?"tanya Gavin meyakinkan.


Isyan hanya menggelengkan kepala karena memang dia tidak mempunya nomor telpon Gavin. Dia pun berdiri dari kursinya dan menghampiri Isyan.


"Mana HP kamu?"tanya Gavin mengulurkan tangan.


"Untuk apa Pak?"tanya Isyan.


"Katanya belum punya nomor saya. Sini HP kamu, biar saya kasih nomor saya"ujar Gavin menekan dahi Isyan dengan telunjuknya.


Isyan pun mengeluarkan HPnya dan hendak memberikan pada Gavin tapi dia langsung menarik lagi HPnya sebelum Gavin meraih HP itu.


"Kenapa nggak jadi?"tanya Gavin heran.


"Sebentar Pak...ada privasi"ujar Isyan langsung mundur lima langkah.


Isyan mengganti wallpaper ponselnya yang tadinya foto dirinya sebagai Isyan diganti wallpaper pemandangan, dia mengganti fitur HP yang lain agar tidak dicurigai.


"Nih Pak langsung ngetik aja, nggak usah geser-geser ke yang lain"timpal Isyan memberikan HPnya dengan wajah cemberut.


"Saya tidak pensaran dengan isi HP kamu. Kamu itu beruntung dapat nomor hp saya, wanita di luar sana itu sampai ngantri kepengin punya nomor HP saya tahu"ujar Gavin sambil mengetik.


"Nih HP kamu. Nanti chat saya, di kantin ada lauk apa aja"ujar Gavin mengembalikan ponsel Isyan.


Isyan pun bergegas pergi ke kantin untuk membelikan Gavin sarapan. Sembari melihat berbagai menu yang tersedia di kantin. Lalu Isyan hendak mengirim pesan pada Gavin. Kemudian Isyan mengecek kontak Gavin di HPnya.


"Hah? Bos ganteng? Idih dasar manusia kuda lumping"gerutu Isyan langsung mengubah nama kontak dari Bos Ganteng menjadi Bos Gavin.


*Isyan


Pak mau beli apa? Ada ayam bakar, ayam goreng, dan sayur komplit.


Bos Gavin


Ayam bakar sama sayur capcay*.


Isyan langsung memesan menu yang diinginkan Gavin. Tak berapa lama pesanan Isyan sudah jadi lalu dia kembali ke ruangan Gavin dan memberikan sarapannya.


"InibPak sarapannya"ujar Isyan sarapan Gavin yang sudah dia pindahkan ke piring.


"Hhmm"jawan Gavin singkat mendekatkan piring ke arahnya.


Sekilas Isyan melihat cincin di jari manis yang dipakai Gavin.

__ADS_1


"Bapak sudah tunangan?"tanya Isyan.


Gavin yang sedang mengunyah makanan langsung tersedak saat mendengar pertanyaan dari Isyan. Dengan cepat Isyan memberi Gavin minum.


"Pertanyaan macam apa itu? Sejak kapan saya tunangan?"ujar Gavin dengan nada tinggi.


"Lah itu cincin di jari manis tangan kiri artinya kan tunangan Pak"ujar Isyan menunjuk tangan Gavin.


Gavin sedikit mengangkat tangannya dan Isyan pun mengamati bentuk cincin yang dipakai Gavin.


"Jangan suka ikut campur urusan orang lain. Sudah sana kembali ke bekerja"kata Gavin mengibaskan tangannya tanda menyuruh Isyan pergi.


Isyan pun keluar dari ruangan Gavin dan kembali ke mejanya. Isyan pun melihat cincin tunangan yang dia pakai.


"Kok modelnya persis ya? Apa cuma kebetulan? Tapi kan aku waktu itu aku pesan cincin dengan design khusus dan nggak diproduksi sama sekali selain buat pertunanganku sama Arya"ujar Isyan berpikir dengan sejuta asumsi di kepalanya.


Setelah hari panjang berhasil Isyan lalu, tibalah jam pulang kerja. Isyan sejenak berpikir, inikah rasanya jadi karyawan. Tiap hari harus berangkat lebih pagi dari bos, kerjaan numpuk, dan dimarahin bos.


"Jadi bawahan emang susah, kalo kayak gini aku harus suruh Dion ngasih bonus nih buat karyawan Wijaya Group"ujar Isyan sambil merapikan tasnya.


Kemudian Isyan bergegas pulang. Isyan berdiri di pinggir jalan menunggu taksi lewat. Tapi tidak ada taksi yang lewat juga. Akhirnya Isyan berniat memesan taksi online.


"Kamu ngapain berdiri di sini?"tegur Gavin yang sudah memberhentikan mobil di depan Isyan dan membuka kaca mobil sebelah kanan.


"Jadi pawang hujan"kata Isyan acuh.


"Saya tanya serius, kamu malah menjawab asal"ujar Gavin


"Mau pesen taksi online Pak"jawab Isyanm


"Kamu pulang bareng saya saja"ujar Gavin datar.


"Nggak usah pak. Nanti saya dikira godain bos PT Surya Kontraktor lagi"tolak Isyan.


"Ratna, saya tidak suka dibantah. Cepat masuk"ujar Gavin menggerakkan kepalanya tanda memerintah Isyan masuk.


Akhirnya Isyan pasrah dan masuk ke dalam mobil tapi dia memilih duduk di belakang.


"Siapa yang suruh kamu duduk di belakang?"tanya Gavin.


"Bapak mau nganterin saya pulang kan? Ya saya duduk di belakang lah"ujar Isyan santai.


"Memang kamu pikir saya sopir kamu. Duduk di depan"gertak Gavin.


"Ya udah sih pak, nggak usah galak-galak kaya ibu tiri"ucap Isyan sambil memainkan bibirnya.


"Kemarin kamu pulang sama siapa?"tanya Gavin sambil fokus menyetir.


"Hah?"


"Saya tanya, kemarin kamu pulang sama siapa? Kok mobil yang jemput kamu mewah?"tanya Gavin lagi.


Isyan menepuk kedua pipinya sambil menggigit bibirnya.


"Oh itu sopir om-mm simpanan saya"ujar Isyan santai.


"Kamu jadi simpanan om-om? Om-om perusahaan apa?"tanya Gavin terbelalak.


Melihat ekspresi wajah Gavin yang negitu terkejut membuat Isyan tertawa terbahak bahak.


"Ya ampun bapak kenapa percaya. Masa muka polos kayak saya jadi simpanan om-om. Saya naik taksi online lah Pak masa naik mobil presiden"jawab Isyan.


"Tapi kenapa mobilnya mewah?"tanya Gavin curiga.


"Ya jangan tanya saya lah Pak. Tanya sopirnya kenapa mobil mewah dijadiin taksi"balas Osyan dengan logat ndesonya.


"Kurang kerjaan sekali"timpal Gavin.


"Ya udah, makanya bapak nggak usah tanya-tanya"balas Isyan sambil melipat kedua tangannya.


Setelah 45 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di apartemen Isyan. Isyan pun turun dari mobil, tak disanggka Gavin pun juga keluar dari mobil dan mengikuti Isyan.


"Ngapain bapak ikut turun?"tanya Isyan kaget.


"Saya ini tamu, masa tamu nggak dijamu sih"oceh Gavin.


"Saya lagi nggak menerima tamu dari alam mana pun. Mending bapak pulang aja. Kayak nggak ada kerjaan lain"ujar Isyan mendorong tubuh Gavin agar dia masuk ke mobil tapi Havin langsung melangkah menuju gedung apartemen Isyan.


"Idih dasar manusia kuda lumping"ujar Isyan kesal lalu masuk ke apartement.


Melihat Isyan berjalan masuk ke apartemen, Gavin memilih berjalan di belakang dan mengikuti Isyan. Lalu Iayan membuka pintu apartemen dan Gavin yang masuk lebih dulu langsung duduk di sofa tanpa permisi.


"Dasar manusia kuda lumping, belum disuruh masuk udah main nyelonong aja"ujar Isyan.


"Saya denger kamu ngomongin saya ya!"teriak Gavin.


"Bagus lah Pak. Jadi saya nggak perlu ngulangin perkataan saya lagi"ujar Isyan santai.

__ADS_1


Isyan pun meletakkan tasnya di meja lalu ke dapur membuatkan minuman dingin dan mengambilkan Gavin cemilan.


"Nih Pak minumnya"ujar Isyan meletakkan jamuannya.


"Wah sekertaris saya baik juga ternyata"puji Gavin.


"Bapak baru tahu?"timpal Isyan lalu duduk di hadapan Gavin.


"Kamu tinggal di sini sendiri?"tanya Gavin sambil melahap cemilan yang Isyan sediakan.


"Nggak kok Pak"jawab Isyan.


"Tinggal bersama siapa?"tanya Gavin.


"Eemm..sama semut, cicak, tikus, kecoa, laba-laba, dan nyamuk"ujar Isyan sambil memainkan jari untuk berhitung.


"Kamu itu perempuan kenapan jorok sekali, masa rumah kayak kebun binatangnya sih"ujar Havin bergidik menggoyangkan tubuhnya.


"Dari pada ada manusia kuda lumping"balas Isyan dengan muka menantang.


"Kamu menyindir saya?"seru Gavin.


"Hehe nggak kok Pak, cuma becanda"ujar Isyan dengan senyum terpaksa.


Tiba-tiba HP Gavin berbunyi, dan ternyata dia mendapat pesan dari papahnya, memyuruh dia untuk segera pulang.


"Saya mau pamit pulang"ujar Gavin beranjak berdiri.


"Nah dari tadi dong Pak"ujar Isyan bahagia dunia akhirat.


"Kamu ngusir saya?"tanya Gavin dengan nada tinggi.


"Lah bapak yang pamit pulang, memang kapan saya ngusir bapak? Sudah lah Pak monggoh pulang"ujar Isyan mendorong tubuh Gavin.


Gavin menggerakkan badannya menolak dorongan Isyan. Karena tubuh gavin yang kekar dan jauh lebih kuat dari Isyan malah membuat tubuh Isyan terpental dan hampir jatuh. Gavin dengan sigap langsung memegang pinggang Isyan dan menarik ke dekapannya.


"Huh..."desis Isyan saat tangannya menyentuh dada Gavin.


Wajah mereka begitu dekat dan mata mereka saling beradu. Jantung Isyan berdegup sangat kencang.


"Aduh Pak lepasin saya.."rengek Isyan membuat gmGavin langsung melepaskan tubuh Isyan.


"Maaf Ratna...ya sudah saya pulang"ujar Gavin salah tingkah lalu pergi dari apartemen Isyan.


Isyan langsung menghembuskan napas kebebasan dari kebaperan tingkat alam semesta.


"Astaga...kalau deg-segan terus lama-lama bisa lepas ini jantung"ujar Isyan menepuk-nepuk dadanya.


Gavin masuk ke dalam mobilnya dan masih memikirkan kejadian tadi.


"Kenapa aku jadi deg-degan ya? Aku nggak pernah deg-degan di deket cewe manapun. Di deket Sarah pun nggak kayak gini"ujar Gavin.


"Ngapain aku mikirin hal nggak penting kayak gitu"ujar Gavin lalu menjalankan mobilnya menuju rumah.


Sesampainya di rumah Gavin langsung diajak makan malam oleh surya.


"Kenapa pulang telat Vin?"tanya Surya.


"Ada urusan sebentar Pah"jawab Gavin.


"Oke, terus gimana sama proyek pembangunan Arya Hotel?"tanya Surya.


"Udah mulai pembangunan mengurus surat perizinan. Dari Wijaya Group belum ada komplain apapun sejauh ini"ujar Gavin.


"Eh tapi kalo papah pikir-pikir Isyana cantik juga ya"goda Surya.


Gavin langsung tersedak berkali-kali saat kalimat itu terucap dari mulut papahnya.


"Papah mau nikah sama Isyan?"tanya Gavin shock.


"Kapan papah bilang gitu?"seru Surya.


"Terus maksudnya papah bilang kalau Isyan cantik itu apa?"tanya Gavin cemas


"Ya kan memang Isyan cantik. Orang buta juga thau Isyan cantik"jawab Surya santai


"Pah jangan aneh-aneh deh, Isyan lebih muda dari papah. Papah malah pantesnya jadi bapaknya"seru Gavin.


"Kalo memang papah harus jadi papahnya, mungkin lebih tepatnya papah mertua"ujar Surya.


"Hah maksudnya?"tanya Gavin penuh selidik.


"Keren dong kalo Gavin Saputra menikah dengam Isyana Wijaya, kan?"goda Surya memainkan alisnya.


Gavin menatap papahnya dengan tatapan terkejut, dia sudah pusing mendengarkan ocehan tidak masuk akal dari papahnyam


"Terserah papah"ujar Gavin malas.

__ADS_1


Surya cengar-cengir ketika berhasil menggoda anaknya itu.


__ADS_2