
Keesokan paginya.
Keluarga Wijaya sedang sarapan. Nampak Isyan sudah lebih baik. Mau berbicara dan sedikit tersenyum dan tertawa.
"Mas nanti temenin Rara periksa kandungan ya"ujar Rara.
"Iya sayang, nanti aku jemput kamu ya"ujar Dion.
Isyan turun dan ikut sarapan. Semuanya takjub dengan penampilan isyan yang rapi elegan dan glamour memakai pakaian kantor berupa setelan blazer dan celana berwarna putih.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?"tanya Isyan.
"Kamu mau kemana Syan?"tanya Ratih.
"Mau mancing Mah. Bosen di rumah"jawab Isyan sambil melahap roti di piring.
Dion tiba-tiba menjitak kepala Isyan karena jawaban asalnya hingga membuat Isyan mengelus kepalanya.
"Kamu keterlaluan banget Yon, sakit tahu"gerutu Isyan.
"Tante Ratih nanya seruis malah dijawab asal. Dasar"balas Dion.
"Kamu mau ke kantor Syan?"tanya Kusuma.
"Ya iyalah Pah. Kangen sama kantor. Kangen jadi direktur bosen jadi sekertaris"ujar Isyan santai.
"Bosen tapi seneng..."ledek Dion.
"Brisik ah.."gerutu Isyan.
Isyan membalas dengan tatapan tajam seakan-akan siap memangsa Dion sewaktu waktu.
Walaupun yang dikatakan Dion benar tapi Isyan ingat, bahwa ini saatnya dia membongkar jati dirinya. Isyan sudah tidak mau berbohong lagi. Karena ini akan menyiksanya sendiri. Terserah apa yang akan terjadi, yang terpenting bagi Isyan perasaannya sudah lega.
Setelah sarapan Isyan dan Dion pergi ke kantor dengan mobil yang berbeda. Setelah perjalanan menerobos macetnya Jakarta di pagi hari akhirnya mereka sampai di kantor. Mereka turun dari mobil bersamaan.
"Gila...aura horormu nggak bisa hilang Syan"bisik Dion menghampiri Isyan yang keluar dari mobil.
"Bilang aja iri"ujar Isyan dengan angkuh.
"Dih..kumat nih penyakit kutub es bin angkuhnya"ujar Dion saat Isyan mendahuluinya.
Masuklah dua petinggi Wijaya Group dengan aura kewibawaan, tegas dan disiplin. Sementara tak diragukan lagi aura angkuh dan dingin dari Isyan menyeruak membuat merinding siapapun yang melihatnya.
"Bu Isyan udah lama nggak masuk kerja sekalinya masuk auranya tambah horor"ujar karyawan 1.
"Iya...bahkan Pak Dion aja kalah horor dari Bu Isyan"sahut yang lainnya.
"Iyaa mana tambah cantik lagi"sambung yang lainnya.
Dion yang mendengar bisik-bisik karyawannya hanya tersenyum miring mendengarnya. Bagaimana tidak, Isyan yang sekarang jauh lebih menyeramkan. Padahal di balik sifat horornya di kantor, Isyan adalah perempuan yang hatinya mudah rapuh. Mereka berdua masuk ke lift khusus petinggi perusahaan. Setelah itu Dion mengikuti Isyan masuk ke ruangan Isyan.
"Ngapain ngikutin?"tanya Isyan jengkel saat melihat Dion mengekorinya.
"Kamu sehat kan?"tanya Dion memerika jidat Isyan.
Dengan jengkel Isyan menepis tangan Dion karena kesal.
"Sehat wal afiat, Yon"tegas Isyan.
"Terus kenapa tiba-tiba kamu masuk kantor?"tanya Dion penasaran.
"Curiga sama kamu. Siapa tahu kamu ngerecokin perusahaan selama nggak ada aku"ujar Isyan sembari duduk di kursi kebesarannya.
__ADS_1
"Idih...mentang-mentang jadi muridnya Bandung Bondowoso sok sakti kamu"gerutu Dion.
"Ternyata masih empuk aja ya nih kursi"ujar Isyan sambil menyender pada kursi.
"Lah tadinya mau aku ganti pake kursi listrik biar pas kamu duduk itu kesetrum"ujar Dion.
"Udah sana masuk ruangan kamu sendiri. Dasar tengil"seru Isyan hendak melempar pulpen ke arah Dion.
Dion lari keluar dari ruangan Isyan untuk kembali ke ruangannya sambil menahan tawanya. Walaupun Dion tahu bagaimana keadaan Isyan sekarang tapi Dion kagum karena Isyan selalu bisa menutupi semua kesedihannya.
*****
Di perusahaan Surya.
Arya tak melihat Ratna masuk kerja lagi. Kebingungan Arya semakin menjadi-jadi. Akhirnya Arya bertanya pada pihak HRD tentang Ratna. Dan mereka memberitahu bahwa Ratna sudah resmi resign sejak hari ini.
Arya bahkan menelpon orang kepercayannya untuk mencari Ratna. Karena tiba-tiba Ratna menghilang untuk menghindarinya. Arya hendak pergi dari kantor untuk mencari Ratna tapi dicegah oleh Aldo sekertaris yang resmi menggantikan Ratna.
"Maaf Pak Gavin, tapi hari ini anda ada rapat dengan Bu Isyana Wijaya"ujar Aldo.
"Kenapa mendadak?"tanya Arya
"Iya..beliau ingin memantau pembangunan hotel secara langsung. Dan meeting akan dilaksanakan satu jam lagi di restoran Grand Sun"ujar Aldo.
"Baiklah"ujar Arya pasrah dan mengurungkan niatnya untuk pergi.
*****
Isyan sedang mengecek berkas yang diberikan Arum padanya. Banyak sekali laporan yang harus Isyan tanda tangani. Hampir lima bulan Isyan tidak mengurus perusahaannya sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk.."ujar Isyan tanpa menoleh.
Masuklah salah satu bodyguard Isyan untuk menghadap pada dia dengan hormat.
Isyan menghela napas panjang memejamkan mata sejenak. Lalu berdiri dengan tegap berjalan keluar ruangannya diikuti bodyguardnya. Isyan berjalan meninggalkan kantor dengan anggun dan angkuh. Sesampainya di depan kantor bodyguardnya yang sudah siap di samping mobil langsung membukakan pintu mobil. Lalu mereka meninggalkan kantor Wijaya Group.
Mereka menuju salah satu restoran mewah yaitu restoran Grand Sun. Isyan turun dan disambut dengan baik. Isyan pun masuk ke salah satu ruangan private yang sudah dia pesan. Ruangan ini nampak seperti ballroom kecil yang khusus untuk tamu penting. Isyan masuk sendiri sementara bodyguarnya berjaga di depan pintu.
Satu jam kemudian datanglah Arya. Dia turun dari mobil bersama Aldo yang sekarang menjadi sekertarisnya. Mereka pun diarahkan menuju ruangan yang sudah dipesan oleh Isyan.
"Maaf hanya Pak Gavin yang diperbolehkan masuk"ujar salah satu bodyguard
"Pak, bodyguardnya Bu Isyan serem-serem ya"bisik Aldo.
"Huss..diem"lirih Arya.
"Baik saya akan masuk"ujar Arya.
Dua bodyguard yag berjaga membukakan pintu dan mempersilahkan arya masuk. Dilihatnya sebuah ruangan cukup mewah dan hanya ada dua kursi dengan satu meja di tengah dan beberapa hidangan. Arya clingak-clinguk mencari keberadaan Isyan.
"Selamat datang Pak Gavin.."panggil seseorang dari sudut ruangan.
Arya menoleh ke sumber suara dilihatnya seorang perempuan yang tak asing baginya bahkan perempuan itu yang sekarang sedang sangat ia rindukan.
"Ratna.."lirih Arya sambil membulatkan mata.
Ya saat ini Isyan sedang merubah penampilannya menjadi Ratna. Memakai rok span dan blouse berwara biru tosca, rambut dikepang, memakai kacamata, dan tak lupa tahi lalat khas milik Ratna.
Arya tak melepas pandangannya dari sosok wanita yang ada di depannya. Bahkan sampai tak berkedip sama sekali. Ingin rasanya Arya berlari dan memeluknya melepas rindu. Dengan tenang Isyan berjalan menuju meja dengan senyum mengembang.
"Silahkan duduk Pak"ujar Isyan mempersilahkan Arya duduk.
__ADS_1
"Apa maksud semua ini Ratna?"tanya Arya.
"Dudukla dulu"seru Isyan.
Arya akhirnya duduk di hadapan Isyan. Ada beribu pertanyaan yang muncul di benaknya. Isyan mencoba setenang mungkin menatap Arya agar tak menangis.
"Kenapa kamu pergi dan menghilang?"tanya Arya
Isyan hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Arya.
"Kenapa diam? Jika kamu menolak cintaku setidaknya katakan. Jangan menghilang dan membuatku seperti orang gila. Aku mencari keberadaanmu sampai aku frustasi. Kamu membuatku tersiksa dengan perasaanku. Apa kamu tidak bisa mengerti perasaanku. Kamu mempermainkan perasaanku"cerocos Arya meluapkan segala emosinya.
Respon Isyan masih sama hanya dengan seulas senyum.
"Dan apa hubunganmu dengan Isyana? Kenapa kamu ada di ruangan ini? Sementara aku ada meeting dengan Isyana"semprot Arya dengan pertanyaan lagi
Isyan menarik napas panjang dan mencoba mulai bicara.
"Aku tidak pernah pergi dan menghilang. Aku hanya mencoba memberi tahu sebuah kebenaran. Aku tidak pernah bilang menerima atau menolak cintamu. Karena kamu sendiri saja tidak tahu untuk siapa perasaanmu. Seharusnya aku yang bilang apa kamu tidak pernah mengerti perasaanku selama ini? Apa sebegitu tidak pentingnya aku dalam hidupmu. Sampai kamu sendiri tidak merasakan ikatan batin antara kita. Selemah itukah dirimu?"balas Isyan.
Arya terkejut dan tidak mengerti dengan perkataan wanita yang ada di hadapannya.
"Apa maksudmu? Aku baru mengenalmu Ratna. Bagaimana bisa ada ikatan batin yang terjalin lama"ujar Arya bingung.
Isyan hanya menyunggingkan senyumnya. Lalu Isyan menunjukkan cincin di jari manisnya. Melihat cincin yang ditunjukkan Isyan, Arya langsung melirik jari manisnya. Bagaimana bisa bentuk cincinnya sama. Padahal dia dan Ratna baru mengenal.
"Lepas cincin itu dan lihat huruf inisialnya"perintah Isyan.
Arya langsung melepas cincinnya dan melihat ada huruf "I"
"Tolong katakan secara jelas. Aku tidak mengerti"ujar Arya menaikkan nada bicara.
Isyan perlahan melepas tahi lalat yang ada di wajahnya, lalu melepas kacamata, terakhir melepas kepangan di rambutnya.
Arya terbelalak melihat wanita yang kini dia kira sebagai Ratna berubah menjadi Isyana.
"Jadi kamu menyamar? Untuk apa?"tanya Arya kecewa
"Untuk mencari tahu apakah kamu benar tunanganku yang hilang saat kecelakaan pesawat satu tahun lalu dan aku ingin membuatmu ingat bahwa aku adalah masa lalumu. Tapi nyatanya kamu mencintai perempuan lain. Walaupun itu tetap aku. Aku merasa usahaku sia-sia, kamu mengecewakanku. Bahkan kamu tahu ada cincin itu dijarimu tapi kamu masih mencoba mencintai orang lain. Sepertinya rasa cintamu terhadapku sudah berkurang, Arya"ujar isyan penuh penekanan.
"Aku tidak percaya ini"ujar Arya.
"Kamu tidak percaya?"ujar Isyan dengan wajah menantang.
Lalu Isyan mengeluarkan sebuah album foto berukuran kecil dan meletakkan agak kasar di hadapan Arya.
"Kamu lihat sendiri, jika itu bisa mengembalikan ingatanmu maka itu bagus. Setidaknya sebelum kamu menyesal karena kepergianku"seru Isyan lalu pergi meeninggalkan Arya dengan berurai air mata
Isyan keluar dari ruangan itu disambut oleh bodyguardnya yang berjaga. Aldo nampak terkejut saat melihat Isyan keluar tak bersama bosnya. Isyan pun meninggalkan restoran itu.
Sementara Arya membuka dan melihat foto yang ada di dalam album. Itu adalah foto saat pesta ulang tahun Isyan, foto saat pertunangan dan foto saat dinner romantis di danau. Arya tak mempercayai ini bahwa dia adalah tunangan Isyan.
"Kenapa aku tidak mengingat ini? Kenapa ingatanku harus hilang"teriak Arya frustasi.
Arya pun bergegas keluar untuk mengejar Isyan.
"Pak Gavin mau kemana?"tanya Aldo
"Saya ada urusan. Kamu kembali ke kantor naik taksi"ujar Arya langsung meninggalkan Aldo.
Arya langsung menancapkan gas begitu cepat. Perasaannya kacau, ingin rasanya dia berteriak dan melampiaskan emosinya. Arya mengusap rambutnya frustasi dan memukul stir. Tiba-tiba munculah bayangan hitam masa lalunya. Terlintas wajah Isyan, wajah sepasang orang tua, lalu wajah Dion dan Rara. Bayangan itu membuat kepalanya sakit yang teramat sakit hingga membuat Arya menjerit di dalam mobil. Arya tidak bisa menendalikan dirinya.
"HENTIKAN!!"teriak Arya memegangi kepalanya.
__ADS_1
"AAA!!"
Mobil Arya menabrak trotoar, hingga membuat kepalanya membentur dashboard. Hingga mengakibatkan luka di keningnya. Warga yang melihat kecelakaan itu langsung menolong dan membawa Arya ke rumah sakit.