
Dion pun sudah sampai di rumah utama dan disambut oleh keluarganya.
"Mas Dion.."ujar Rara memeluk Dion seperti di film India.
"Uluh uluh istriku manja banget. Halo anak papi apa kabar?"ujar Dion mengelus perut Rara.
"Aku sehat papi.."jawab Rara menirukan suara anak kecil.
"Isyan mana Yon?"tanya Kusuma
"Dia pergi, katanya ada urusan Om"ujar Dion.
"Sendiri?"tanya Kusuma khawatir
"Dia bawa bodyguard kok Om"sambung Dion.
"Oh tumben"ujar Kusuma
"Ya udah Yon, ayo makan dulu pasti kamu lapar"ujar Sinta merangkul Dion.
Mereka pun pergi ke ruang makan dan sarapan bersama.
"Permisi Tuan Kusuma"ujar seorang bodyguard yang pergi dengan Isyan.
"Ya ada apa?"tanya Kusuma
"Saya mau memberikan kunci mobil milik Nona Isyan"ujar bodyguard memberikan kunci mobil.
"Bukannya Isyan pergi sama kamu dan sopir?"tanya Dion.
"Nona Isyan meminta diantar ke kantor PT Surya, setelah itu dia pergi bersama Pak Gavin"jelas bodyguard.
Seluruh anggota keluarga saling memandang.
"Kak Isyan penampilannya kaya biasa kan?"tanya Rara
"Iya Nyoya Rara. Seperti Nona Isyan yang biasanya"jawab bodyguard.
"Ya sudah, kamu boleh pergi"ujar Kusuma lalu bodyguard itu pergi meninggalkan ruang makan.
Nampak wajah bingung dari semua anggota keluarga. Mereka bingung bagaimana Isyan dan Gavin pergi bersama. Sementara Isyan dan Gavin sudah selesai sarapan bersama di salah satu restoran.
"Kamu mau kembali ke kantor atau ke mana?"tanya Gavin sambil menyetir.
Terlihat mereka sudah mulai akrab dan mengobrol dengan santai.
"Antarkan aku ke suatu tempat. Aku perlu menenangkan diri"ujar Isyan.
"Oke..kamu sebagai penunjuk jalan ya"ujar Gavin diikuti anggukan dari Isyan.
Sesuai petunjuk jalan dari Isyan, Gavin melajukan mobilnya hingga sampai ke sebuah tempat di pinggiran kota. Sesampainya di sana, sedetik Gavin terkejut saat melihat ada sebuah danau yang tersembunyi di pinggir kota. Di kelilingi rindangnya pepohonan.
Danau itu adalah tempat kenangan bagi Isyan dan Arya. Saat Arya memberikan kejutan dinner romantis untuk Isyan sebelum pergi ke Singapura. Ini menjadi tempat penuh kenangan dan selalu Isyan kunjungi setiap dia merindukan Arya. Dan sekarang Isyan sengaja mengajak Gavin. Dengan alasan tertentu jelasnya. Yaitu ingin merasakan kebersamaan dengan Arya walaupun dalam identitas Gavin. Isyan memiliki keyakinan pria yang ada bersamanya adalah Arya. Hanya waktu yang bisa memastikan kapan semua akan kembali seperti semula.
Keduanya, turun dari mobil berjalan ke arah danau dan duduk di bangku taman yang ada di pinggir danau.
__ADS_1
"Bagaimana kamu tahu tempat ini?"tanya Gavin.
"Aku sering ke sini"jawab isyan sambil menghirup udara.
"Ada kenangan khusus?"tanya Gavin.
Seulas senyum kecil terukir di bibir Isyan. Matanya mulai berbinar mengingat kenangan bersama Arya.
"Tempat penuh kenangan untukku dan dia"ujar Isyan terus menatap ke depan.
"Dia?"sambung Gavin menatap Isyan.
"Arya..."jawab Isyan menoleh ke arah Gavin.
"Apa dia sangat berharga untukmu?"tanya Gavin lagi.
Isyan tak menjawab. Dia hanya membalas dengan senyum.
"Nikmati suasana tempat ini. Kamu akan mengerti kenapa tempat ini akan memberimu ketentraman"ujar Isyan lalu kembali melihat ke depan.
Gavin tak bertanya lagi. Dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran bangku taman. Tanpa sadar Isyan menyendarkan kepalanya di bahu Gavin dan mulai memejamkan matanya. Hembusan angin membawa terbang bebas setiap helaian daun yang jatuh ke tanah. Tak terasa angin membuat rambut Isyan menutupi wajah cantiknya. Gavin pun menyingkap helaian rambut Isyan yang menutupi wajahnya.
Gavin yang terbuai dengan suasana tentram danau pun ikut memejamkan mata. Cukup lama mereka beradu menenangkan pikiran disana.
Isyan terbangun dari tidurnya. Melihat ke sekeliling lalu pandangannya terhenti pada Gavin yang sedang terlelap. Wajah yang sama, suara yang sama, rasa yang sama. Isyana sangat merindukan itu. Isyan mendengar dering ponselnya cukup keras. Isyan pun mengambil HPnya yang dia simpan di saku outernya. Ternyata papahnya yang menelpon. Gavin akhirnya terbangun mendengar suara Isyan. Tiba-tiba Gavin merasa pusing yang amat sangat. Hingga membuat kepalanya terasa berat. Munculah bayangan di mana ada pasangan yang diner bersama begitu romantis saling berpelukan. Gavin mengerang menahan sakit memegangi kepalanya.
"Vin kamu kenapa?"tanya Isyan setelah selesai mengangkat telpon.
Isyan ikut memegangi kepala Gavin dan ikut khawatir.
"Kamu sakit?"tanya Isyan.
"Enggak kok. Cuma lagi ngumpulin nyawa"ujar Gavin mengatur napas perlahan.
"Ngumpulin tuh uang. Ngumpulin kok nyawa"sergap Isyan.
"Siapa yang telpon?"tanya Gavin
"Papahku. Dia menyuruhku kembali ke kantor"jawab Isyan.
"Ayo pulang. Aku juga ada meeting"ajak Gavin.
Isyan dan Gavin pun meninggalkan danau. Gavin mengantar Isyan ke kantornya. Setelah itu Gavin pun kembali ke kantornya juga. Sesampainya di gedung Wijaya Group, Isyan langsung bergegas menuju ruangannya. Betapa terkejutnya Isyan saat melihat tiga pria yaitu Dion, Papahnya, dan Om Rama sudah siap siaga di ruangannya..
Papahnya dan Om Rama duduk di sofa, sementara Dion bersandar di meja kerja Isyan. Mereka menatap Isyan dengan tatapan penuh selidik. Isyan mencoba untuk santai lalu dia duduk di kursinya. Sementara Dion beralih berdiri menghadapnya.
"Baik siapa yang mau bertanya dulu?"tanya Isyan santai.
"Pergi dengan Gavin?"tanya Kusuma.
Isyan mengangguk.
"Hanya berdua?"sambung Dion.
Isyan juga memberi anggukan.
__ADS_1
"Kalian kencan?"tambah Rama.
Isyan tak memberi anggukan. Karena dia bingung, pergi berdua ke danau itu termasuk berkencan atau tidak.
"Entahlah. Memang definisi berkencan itu seperti apa?"tanya Isyan balik.
Dion memutar bola mata dengan malas.
"Kencan adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh pasangan untuk menikmati waktu berdua"jelas Dion.
Isyan tertawa mendengar jawaban dari Dion.
"Jadi?"tanya Isyan menghentikan tawanya.
"Kalian kencan gitu? Wah Syan, parah kamu"ujar Dion dengan kehebohannya.
"Apaan sih Yon, lebay banget. Cuma sarapan bareng"balas Isyan.
"Hey kamu tidak tau. Dari sarapan akan menumbuhkan benih-benih cinta"ujar Dion.
"Idih sok tahu"seru Isyan.
"Kamu gimana bisa akrab dengan Gavin?"tanya Kusuma.
"Apa kamu udah tahu sesuatu tentang Gavin, Syan?"sambung Rama.
"Udah ya papah,Om Rama, dan Dion kenapa jadi kepo maksimal sih. Aku sama Gavin cuma makan doang. Nggak ada sesuatu hal lain"ujar Isyan berusaha menghentikan interogasi ini.
"Oke kalau cuma itu aja, papah sama Om kamu mau pergi"ujar Kusuma lalu keluar ruangan bersama Rama.
"Eh sejak kapan kamu akrab sama Gavin?"tanya Dion sedikit berbisik.
Isyan mengetuk pelipis dengan jari telunjuknya dan berpikir.
"Mungkin habis tragedi begal. Udah lah Yon kepo banget sih kaya admin akun gosip. Sana balik kerja"usir Isyan mendorong tubuh Dion agar keluar ruangannya.
Dengan berat hati Dion pun keluar dari ruangannya isyan.
....
Gavin pun sudah sampai di kantornya dan bergegas ke ruangannya. Gavin melirik sekilas meja kerja Ratna yang berada di depan ruangannya. Ada rasa sepi saat sekertaris culun dan bawelnya ini tidak berangkat. Setelah masuk ke ruangannya, Gavin mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Entah setan apa yang merasuki Gavin, dia mengirim pesan pada Ratna.
Sementara sang pemilik nomer pun menerima pesan dari Gavin. Tidak lain dan tidak bukan Ratna alias Isyan. HP Isyan bergetar saat mendapat pesan dari Gavin. Isyan pun mengecek HPnya.
"Loh chat dari Gavin"ujar Isyan lalu membuka pesan dari Gavin.
Bos Gavin
Jangan lupa besok masuk kerja.
"Ya ampun...ngechat cuma ngingetin besok kerja. Inget kok inget"gerutu Isyan lalu meletakkan HPnya lagi.
Setelah menunggu beberapa lama, Ratna tak membalas pesan dari Gavin. Gavin menggerutu karena kesal. Saking kesalnya, muncul kembali bayangan hitam yang terlintas di kepala gavin pagi tadi saat bersama Isyan di danau.
"Aauuww....kenapa setiap kali muncul bayangan hitam itu pasti kepalaku pusing"ujar Gavin memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Aku sebenarnya kenapa? Setelah peristiwa begal itu kepalaku sering sakit. Mungkin aku harus cek ke dokter"ujar Gavin