Pengorbanan Cinta 1

Pengorbanan Cinta 1
Bab 20


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan cepat dan indah. Hingga tak terasa sudah enam bulan berjalan. Hubungan sepasang kekasih dari kakak adik kandung dan sepupu itu semakin mesra. Dan kedua keluarga sudah memberi restu tinggal menunggu kapan para gadis siap dilamar.


Sore ini Dion dan Arya pergi ke mall bersama untuk mencari cincin untuk pasangannya masing-masing.


"Selamat sore Pak Dion"sapa pegawai toko perhiasan.


"Sore.."jawab Dion singkat.


"Silahkan Pak, memilih perhiasan yang anda suka"ujar pegawai.


"Kok mereka kenal kamu sih?"tanya Arya.


"Ya gimana nggak kenal, orang toko ini punya mamahku"ujar Dion.


"Berarti bisa dong beliin Rara banyak perhiasan"goda Arya.


"Yey dasar calon kakak ipar matre"ujar Dion tertawa.


Mereka pun memilih cincin yang mereka sukai dan sekiranya cocok untuk kekasih mereka.


"Isyan suka cincin kayak gimana Yon?"tanya Arya.


"Emm...yang elegan terus mata cincinnya itu permata gitu tapi jangan terlalu besar. Biasanya dia pake perhiasan model kayak gitu"jawab Dion.


"Oh oke..aku udah nemu nih yang cocok buat Isyan"ujar Arya menunjuk cincin dari kaca etalase.


"Nah kalo Rara sukanya yang kayak apa?"tanya Dion.


"Emm apa ya? Kasih tau nggak ya?"ledek Arya.


"Hei..tak tampol baru tahu rasa kamu"ujar Dion geram.

__ADS_1


"Nah ini nih Rara suka cincin kayak gini"ujar arya menunjuk model cincin yang persis di sebelah cincin yang dia pilih untuk Isyan. Modelnya hampir sama cuma beda ukiran dan beda ukuran mata cincin.


Setelah puas memilih mereka pun pergi dari toko perhiasan. Dan mampir ke food court yang ada di mall.


Mereka sudah membeli makanan dan duduk di kursi yang mereka pilih.


"Yon, aku rasa aku harus mengundurkan diri dari perusahaan"ujar Arya.


"Uhuk..uhuk..." Dion yang sedang minum pun tersedak mendengar perkataan Arya.


"Lo udah nggak waras ya Ar? Keuangan perusahaan membaik berkat lo dan lo malah mau resign. Mau bikin sepupu gue patah hati?"ujar Dion marah.


"Bukan gitu Yon, aku rasa udah saatnya aku meneruskan bisnis restoran keluarga aku. Nggak tega lihat papah bolak balik Indonesia-Singapura buat urus bisnis"ujar Arya menunduk.


"Sorry Ar, aku cuma emosi aja. Lo sih cerita cuma sepotong. Coba besok kita omongin sama Isyan"ujar Dion menepuk bahu Arya.


"Lah belum selesai cerita udah main saut aja Lo"gerutu Arya


-----


"Kamu yakin Ar? Apa nggak papa sama Isyan?"tanya Angga.


"Ya gimana lagi Pah? Cepat atau lambat aku juga akan keluar dari perusahaan"ujar Arya.


"Kakak nggak ada masalah sama Kak Isyam kan?"tanya Rara.


"Nggak ada Dek. Kakak cuma mau usaha sendiri. Masa calon suami Isyana Wijaua malah jadi bawahannya"ujar Arya terkekeh untuk mencairkan suasana.


"Emang udah ngelamar Isyan?"celetuk Laras.


"Belum hehehe"ujar Arya tertawa.

__ADS_1


"Dilamar dulu baru ngaku jadi calon suami"ujar Angga menjewer telinga Arya.


-----


Keesokan paginya, Arya sudah berada di ruangan Dion.


"Ar...dulu kan sempet ada teror buket bunga gitu di rumah kan. Anak buah kita nyelidikin"ujar Dion.


"Terus gimana?"tanya arya


"Sampe enam dong baru ketahuan siapa pelakunya"ujar Dion greget.


"Emang siapa?"tanya Arya serius.


"Ternyata pelakunya Rio"ujar dion


"Bukannya dia udah dipenjara waktu itu?"tanya Arya mengerutkan dahinya.


"Dia bebas karena ada yang menjamin dia. Info terakhir dia ada di Tanggerang. Tapi sekarang dia ngilang nggak tau ke mana"tambah Dion.


"Berarti bisa jadi teror yang sama dulu di rumahku juga dari Rio"ujar Arya.


"Kayaknya teror yang terjadi di rumah kamu juga ulahnya Si Rio"ujar Dion memandang Arya.


"Bisa jadi. Apa dia masih dendam dengan kejadian dulu? Aku yakin perbuatan dia nggak cuma sampai di sini aja"kata Arya yakin.


"Aku takutnya dia bakal ngelakuin sesuatu. Soalnya Rio nekat kaya setan"ujar Dion


"Isyan tahu hal ini?"tanya Arya.


"Jangan sampe dia tahu. Bisa ngamuk dia"ujar Dion mengetuk pelipisnya dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


__ADS_2