
Dua hari kemudian.
Surya sudah sehat dan diperbolehkan pulang. Arya tentu saja belum ingat apapun. Dia masih memakai identitas sebagai Gavin. Tapi baginya tak masalah. Karena kasih sayang Surya selama ini membuatnya merasa tetap memiliki keluarga. Tapi tentu saja dia ingin bertemu keluarga aslinya.
Tunggu, sepertinya tidak hanya itu. Arya merindukan seseorang. Yang beberapa hari ini tidak menemuinya di rumah sakit. Siapa lagi kalau bukan Ratna sang pujaan hati. Berkali-kali Arya meminta Ratna untuk ke rumah sakit tapi sayangnya pekerjaan kantor yang dia limpahkan pada Ratna membuatnya tidak bisa menemuinya.
Arya sedang mengantar Surya menuju kamarnya. Membaringkan surya dengan hati hati.
"Kamu ini kenapa sih? Galau terus?"tanya Surya.
"Galau apaan sih Pah?"elak Arya.
"Kamu kalau suka jangan gengsi. Nanti diambil orang baru tahu rasa. Nyesel nanti"ujar Surya yang sepertinya tahu apa yang dirasakan pemuda di depannya.
"Aku takut ditolak Pah"ujar Arya tertunduk.
"Hei sejak kapan putraku jadi lemah? Kalah sebelum berjuang. Dasar cemen. Kalau laki kali harus gentle"ujar Surya berapi-api.
Arya hanya tersenyum geli mendengar perkataan Surya yang menyemengatinya.
*****
Keesokan harinya.
Arya sudah mulai bekerja lagi. Isyan merasa senang bisa bertemu dengan pujaan hatinya. Oh Tuhan, kenapa begitu berat rasa rindu ini. Terlalu lama dia menunggu sampai dia lupa bagaimana caranya tersenyum.
"Pagi Pak.."sapa Isyan saat Arya melewatinya.
"Pagi..."balas Arya.
"Kamu masuk ke ruangan saya"sambung Arya.
Isyan pun mengikuti Arya masuk ke ruangannya.
"Duduk..."ujar Arya mempersilahkan Isyan duduk di hadapannya.
"Apa saja agenda saya hari ini?"tanya Arya.
__ADS_1
"Hanya meeting jam 10 pagi nanti Pak"jawab Isyan
"Ratna maaf ya beberapa hari ini saya tidak memberi kamu kabar"ujar Gavin.
Isyan mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Arya.
"Memang saya siapanya bapak? Sampai saya harus nungguin kabar dari bapak?"ujar Isyan dengan nada menyindir dan menaikkan satu alisnya.
Arya menghela napas panjang mendengar jawaban Isyan. Memang benar dia dan Ratna belum memiliki hubungan apapun.
"Bapak ini aneh, saya aja nggak minta dikabarin kok"ujar Isyan tersenyum santai.
Padahal di dalam hatinya, tentu saja Isyan menunggu kabar dari Arya. Tapi apalah daya, dia masih hilang ingatan.
"Sore nanti kamu ikut saya"ujar Arya.
"Ke mana Pak?"tanya Isyan.
"Nanti kamu akan tahu"ujar Arya.
Isyan hanya tersenyum lalu pamit undur diri kembali ke meja kerjanya.
*****
Isyan tidak mempedulikan itu. Karena mereka hanya manusia sok tahu. Jika mereka tahu jati diri Isyan yang sebenarnya bisa dipastikan mereka tidak akan hidup lagi. Arya mengajak Isyan pergi menggunakan mobilnya. Dalam hati Isyan bertanya-tanya, mau dibawa ke mana? Untuk apa? Banyak bertanyaan yang timbul di hatinya.
Setelah 30 menit perjalanan meninggalkan pusat kota sampailah mereka di suatu tempat yang menyejukkan, menenangkan dikelilingi rindangnya pohon. Ditambah suasana sore yang cukup cerah. Isyan terdiam menyadari tempat yang ditunjukkan Arya padanya. Tentu saja Isyan tak asing dengan tempat ini. Tempat sejuta kenangan bagi Isyan. Tempat terindah yang selalu Isyan kunjungi untuk menenangkan diri jika dia dalam masalah.
Arya menggandeng tangan Isyan dan mengajaknya duduk di sebuah bangku. Isyan bertanya tanya, kenapa Arya mengajaknya kesini? Apa ingatan Arya sudah pulih? Apa Arya tahu penyamaran Isyan sebagai Ratna. Karena saat ini Arya mengajaknya ke danau tempat di mana terakhir kali Isyan dan Arya dinner romantis sebelum Arya pergi ke Singapura.
"Apa kamu menyukainya?"tanya Arya.
"Hhmm.."jawab Isyan singkat
"Kamu tahu kenapa saya mengajak kamu ke sini?"tanya Arya menoleh pada Isyan.
Isyan masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Apa ingatan Arya sudah pulih hingga mengajak Isyan ke sini? Tapi saat ini Isyan dengan menjadi Ratna.
__ADS_1
"Nggak tahu Pak? Emang kenapa?"tanya Isyan.
"Karena tempat ini bisa membuat pikiran dan hati tenang. Apalagi seperti saat ini. Banyak masalah dalam hidupku. Aku sangat membutuhkan sosok yang ada untukku bisa membuatku nyaman"ujar Arya tersenyum pada Isyan.
Isyan membalas dengan senyuman. Dia merasa bahagia dengan ucapan Arya.
"Bapak tahu tempat ini dari siapa?"tanya Isyan pura-pura tidak tahu
"Ada seseorang mengajakku ke sini. Dia bilang tempat ini sangat nyaman dan banyak menyimpan kenangan buat dia. Setiap dia teringat dan merindukan seseorang makan dia akan datang ke sini. Jadi aku ingin membuat kenanganku di sini bersamamu"ujar Arya
Isyan diam seribu bahasa. Maksud Arya apa? Dia tahu tempat ini dari Isyan tapi arya justru mengajak Ratna kesini? Isyan merasa tegang dan jantungnya beregup begitu kencang.
Arya meraih tangan Isyan lalu menggenggamnya. Menatap mata Isyan begitu lekat hingga Isyan merasa tatapan Arya menembus hatinya.
"Ratna...aku ingin mengatakan sesuatu tentang perasaanku. Aku menyukaimu. Aku merasa nyaman dan bahagia di dekatmu tapi aku merasa risau saat jauh darimu. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul, tapi yang ku tahu aku ingin menjaga, melindungi, dan membahagiakanmu Ratna"ujar Arya.
Jantung Isyan serasa berhenti persekian detik saat Arya mengutarakan perasaannya. Tapi bukan pada Isyan melainkan Ratna. Arya menyukai Ratna bukan Isyan. Padahal ini adalah tempat penuh kenangan bagi Arya dan Isyan. Bagaimana Arya tidak mengingatnya. Mata Isyan mulai berkaca-kaca, air mata tak bisa ditahan dan lolos begitu saja membasahi pipinya. Rasanya hati Osyan sangat sakit. Bagaimana tidak? Tunangannya mengutarakan perasaan pada perempuan lain. Walaupun masih satu raga tapi ini beda identitas.
"Hei kamu menangis? Kenapa?"tanya Arya menangkup wajah Isyan lalu memeluknya begitu erat
Isyan tak ada tenaga untuk menolak pelukan Arya. Sebenarnya dia marah sangat marah karena Arya menyukai perempuan lain. Dia tidak mengingat Isyan sama sekali. Apa Isyan tak memiliki arti dihidupnya lagi?
"Kenapa seperti ini? Kenapa aku terjebak dengan permainanku sendiri? Apa aku tidak berhak bahagia? Apa salahku? Aku sungguh lelah..."batin Isyan masih terisak
Arya melepas pelukannya lalu memegang wajah Isyan menatapnya dengan dalam.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu pasti berpikir bahwa kamu tidak pantas bersamaku karena kamu hanya seorang sekertaris kan? Ratna dengarkan aku, aku tidak peduli apa kata orang. Karena yang aku butuhkan hanya kamu berada di sampingku"ujar Arya mengusap air mata Isyan
Kemudian Arya menggenggam erat tangan Isyan.
"Aku tidak tahu kapan perasaan ini muncul. Tapi mulai sekarang aku ingin kamu menjadi wanita yang mengisi hari-hariku. Maukah kamu jadi kekasihku, Ratna?"ujar Arya.
Ratna..nama itu yang terucap dari mulut Arya. Isyan tak bisa lagi menahan tangisnya. Kenapa harus Ratna, apa Arya benar-benar tidak merasakan ikatan batinnya dengan Isyan. Isyan melepas tangannya dari genggaman Arya.
"Maaf Pak, saya butuh waktu.."ujar Isyan tertunduk.
"Berapa lamanya pun aku akan menunggu kamu, Ratna"uar Arya memegang dagu Isyan.
__ADS_1
Arya pun mengajak Isyan untuk pulang karena hari sudah petang. Arya mengantar Isyan ke apartemennya. Tanpa berbicara Isyan keluar dari mobil Arya. Isyan berlari secepat mungkin sampai ke apartemennya. Setelah masuk ke apartemen Isyan melepas semua penyamarannya dengan kasar. Melemparnya dengan kasar penuh amarah yang sudah di ubun-ubun. Isyan menangis sejadi-jadinya. Merutuki dirinya sendiri. Merutuki kebodohannya. Ingin Isyan memaki dirinya sendiri.