
Perasaannya yang kacau membuat Isyan tidak bisa mengendalikan emosinya. Tapi Isyan tidak bisa menyalahkan Arya. Dia masih hilang ingatan. Tapi tetap saja rasanya sakit. Patah hati yang terburuk yang pernah Isyan rasakan. Saat orang yang dicintai Isyan mencintai orang lain. Bahkan sampai menyatakan perasaannya di depan Isyan sendiri. Isyan memang bodoh. Jika tahu akan seperti ini, Isyan lebih memilih untuk tidak menjadi Ratna. Sekarang Isyan bisa apa? Semua sudah terjadi. Bahkan Isyan sekarang membenci Ratna. Padahal Ratna adalah bagian dari dirinya sendiri. Isyan terus saja menangis hingga terlalu sembab matanya.
Isyan berusaha untuk mengontrol emosinya. Isyan akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri. Berdiam diri di bawah shower hampir satu jam. Sampai kulit tubuhnya mengkerut. Ini satu-satunya cara yang bisa Isyan lakukan untuk mendinginkan pikirannya. Setelah lelah, Isyan tak lagi selera untuk melakukan apapun. Dia pun memutuskan memejamkan mata. Mengistirahatkan pikirannya. Karena Isyan tidak bisa memikiran apapun saat ini.
*****
Sementara Arya berkali kali mencoba menelpon Ratna. Tapi tidak diangkat hingga 20 kali panggilannya tidak dijawab. Arya merasa cemas dengan keadaan perempuan yang dia cintai. Arya takut apa yang dia lakukan membuat Ratna pergi meninggalkannya. Tapi Arya mencoba berpikir positif mungkin saja Ratna sedang memikirkan jawaban untuk perasaanya.
*****
Keesokan harinya, Arya berangkat ke kantor tapi tidak mendapati Isyan di meja kerjanya. Arya berusaha menelpon Isyan tapi nomernya tidak aktif.
"Bapak mencari Ratna?"tanya Aldo menghampiri Arya.
"Iya..kenapa dia tidak masuk?"tanya Arya.
"Dia izin Pak. Katanya sakit"jawab Aldo.
"Oh baiklah. Kamu masuk ke ruangan saya"ujar Arya lalu masuk ke ruangannya diikuti Aldo.
*****
Sementara Isyan, semalam sudah memutuskan untuk menghentikan perannya sebagai Ratna. Dia mengemasi barangnya dari apartemen dan akan kembali ke rumah utama dan menjadi Isyan lagi. Tidak peduli akan seperti apa sikapnya kelak. Yang Isyan tahu dia ingin menghindar dari Arya.
Isyan memang beralasan izin sakit, karena dia merasa tidak enak badan. Mungkin akibat terlalu lama berada di bawah shower. Setelah selesai berkemas, ditemani dua pelayan yang dikirim oleh mamahnya untuk membantu kepindahan, Isyan pergi dari apartement dijemput oleh sopir pribadi.
Setelah perjalanan hampir setengah jam, Isyan sampai di rumah utama. Dengan wajah murung, sedih, dan pucat, Isyan menampakkan diri di depan keluarganya.
"Syan kamu kenapa sayang?"tanya Ratih memeluk Isyan
Isyan hanya diam tak buka suara sama sekali. Masih ragu untuk menceritakan segalanya.
"Badan kamu panas Nak.."ujar Ratih terkejut saat merasakan suhu tubuh Isyan cukup tinggi.
"Rama, panggil dokter ke sini. Isyan sakit"seru Kusuma.
"Baik Kak"sahut Rama sigap
Ratih membawa Isyan ke dalam kamarnya. Sementara Sinta membuatkan bubur untuk keponakan kesayangannya.
"Tante Ratih, dokternya udah datang"ujar Rara masuk ke kamar Isyan.
Ratih mempersilahkan dokter memeriksa Isyan. Setelah selesai memeriksa dokter mengatakan Isyan hanya demam, radang tenggorokan, dan terlalu kelelahan. Dan mungkin sedang banyak pikiran. Sehingga keluarga diminta untuk memperhatikan kondisinya. Setelah itu, Sinta mengantarkan dokter keluar.
"Tante..biar Rara yang jagain Kak Isyan. Sebaiknya tante obrolin ini sama Om Kusuma dan yang lainnua. Aku yakin terjadi sesuatu sama Kak Isyan"bisik Rara.
Ratih mengangguk mengerti dengan ucapan Rara. Lalu Ratih meninggalkan kamar Isyan.
__ADS_1
"Kakak...makan dulu ya. Ini Mamah Sinta loh yang bikinin bubur. Ayo Kak buka mulutnya"ujar Rara hendak menyuapkan sendok pada Isyan
Tapi isyan hanya diam mematung. Dan Isyan meneteskan air mata. Rara meletakkan kembali bubur di meja. Rara mendekat pada Isyan, lalu mengelus wajah kakak iparnya.
"Kak Isyan kalau ada masalah cerita sama Rara"ujar Rara lembut.
Tiba-tiba Isyan langsung memeluk Rara dan menangis sejadi-jadinya. Rara hanya membalas pelukan Isyan sambil mengelus punggungnya.
*****
Di ruang keluarga, para orang tua sedang mendiskusikan keadaan Isyan. Mereka akhirnya tahu bahwa Isyan meninggalkan apartemen dan memutuskan resign dari perusahaan Surya. Tentu saja hal itu membuat mereka bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Isyan. Apalagi ditambah keadaan kalut yang di alamai Isyan.
Sementara Arya masih mencoba menghubungi Ratna. Tapi tetap saja tidak bisa. Ada perasaan cemas dan rindu yang dia rasakan. Arya mengambil cincin yang selama ini melingkar di jarinya. Dia terus bertanya pada dirinya sendiri sebenarnya dengan siapa bertunangan. Kadang Arya teringat pernah melihat cincin yang mirip seperti cincin yanh dipakai oleh Isyan. Kadang juga melihat dipakai oleh Ratna. Arya sampai bingung sendiri dibuatnya.
*****
Malam pun tiba.
Keluarga Wijaya sedang makan malam. Tapi saat Rara meminta Isyan turun tak ada jawaban dari Isyan saat rara memanggil dari depan kamarnya.
Tapi alangkah terkejutnya mereka saat melihat Isyan menuruni tangga bergabung bersama keluarganya untuk makan malam.
"Isyan sini sayang.."ajak Ratih menuntun Isyan untuk duduk sementara Isyan hanya diam.
Ratih mengambilkan makan untuk Isyan dan menyuapinya. Memberikan perhatian pada Isyan sangatlah penting untuk saat ini. Setelah makan malam selesai Isyan mencoba menguatkan diri untuk berbicara.
"Aku mau mengakhiri drama ini"ujar Isyan.
"Kenapa Isyan? Bukannya kita semua udah tahu kalau dia Arya tinggal cari cara agar ingatannya kembali"sahut Dion dengan lembut.
"Aku pasrah, jika memang Arya jodohku pasti dia akan kembali. Jika bukan jodohku, aku sudah siap dengan segalanya"sambung Isyan yang mulai meneteskan air mata.
Kusuma menganggukkan kepala melirik semua anggota keluarganya supaya berhenti bertanya. Setelah selesai makan malam, Isyan pergi ke kamarnya. Setelah kepergian Isyan, Rara menceritakan apa yang Isyan ceritakan padanya. Betapa terkejutnya seluruh anggota keluarga mendengarnya. Mereka tidak bisa menyalahkan Arya atas keadaan saat ini. Karena Arya juga tidak tahu menahu atas drama Isyan sebagai Ratna apalagi mengingat masa lalunya.
"Menurutku biarkan saja Isyan melakukan apa yang dia mau sekarang Kak. Aku tidak mau lihat dia tertekan"ujar Rama.
"Begini saja, kita buat dia sibuk dengan persiapan tujuh bulanan Rara. Dengan kesibukannya itu dia bisa melupakan masalahnya"sambung Sinta.
*****
Di rumah Surya, Arya terus saja mencoba menghubungi Eatna tapi tidak bisa. Bahkan Arya menyuruh anak buahnya mencari keberadaan Ratna.
Akhirnya Arya memutuskan untuk pergi ke apartemen Ratna. Sesampainya di apartemen, berkali-kali mengetuk pintu tidak ada yang menjawab. Sampai akhirnya Arya bertanya pada pengurus apartemen. Mereka mengatakan bahwa Ratna sudah meninggalkan apartemen sejak pagi.
"Kenapa kamu pergi Ratna. Di saat aku mencintaimu, kamu malah pergi"teriak Arya frustasi sambil memukul stir mobil.
"Apa salahku Ratna? Apa perasaanku ini salah? Kenapa kamu pergi? Aku membutuhkanmu, aku merindukanmu"ujar Arya dengan suara serak.
__ADS_1
Arya menyusuri jalan mencari Ratna. Bahkan Arya sampai mencari di beberapa apartemen atau tempat kos untuk mencari Ratna. Tapi hasilnya nihil. Dia tidak menemukan pujaan hatinya. Arya pun kembali ke rumahnya. Melihat kondisi putranya yang kacau, Surya memberanikan diri bertanya apa yang terjadi.
"Dengarkan papah. Siapa tahu dia masih shock dengan pernyataan cintamu makanya dia butuh waktu sendiri. Dan mungkin saja dia pindah tempat tinggal karena telat membayar sewa apartemen atau yang lain"jelas Surya.
"Pah memang gaji jadi sekertarisku nggak cukup buat bayar sewa apartemen sederhana itu"sahut Arya emosi.
"Ya sudah besok lihat apa dia berangkat kerja atau tidak. Sekarang jangan seperti orang gila. Papah jijik lihatnya"ujar Surya tertawa geli.
*****
Di kediaman keluarga Wijaya.
Rara meminta Isyan untuk memilih seragam gamis yang akan digunakan untuk pengajian dalam rangka tujuh bulanan anaknya. Isyan pun memilih gamis berwarna biru muda untuk dikenakan para wanita. Lalu baju kokoh dengan warna senada untuk para pria. Dan tak lupa Isyan memilihkan kebaya dan beskap untuk acara adatnya. Karena acara adatnya mengusung adat Jawa.
"Kak kalau dekorasi panggung buat siraman bagus yang mana?"tanya Rara menunjukkan buku yang berisi contoh-contoh dekorasi.
"Ini aja. Kelihatan simple tapi kesannya tradisional"ujar Isyan menunjuk gambar dekorasi nuansa putih dan hijau daun diselingi beberapa bunga berwarna kalem.
"Ra..yang hamil itu kamu kenapa jadi Isyan yang repot milih dekorasinya sih"celoteh Dion.
"Ih Mas Dion sirik aja deh. Apa Mas Dion mau nggantiin aku hamil?"balas Rara kesal.
"Ih nggak mau. Itu kan kodrat perempuan. Aku cuma mau buatnya aja"ujar Dion tertawa
Mendengar perkataan Dion, Rama menjitak kepala anaknya. Sampai Dion meringis kesakitan.
"Kamu ini, mau enaknya aja. Dasar nggak bertanggung jawab"gerutu Rama.
"Gitu-gitu juga anakmu kok"sambar Kusuma tertawa.
"Kalo nggak waras bukan anakku. Pas waras baru anakku"ujar Rama ikut tertawa juga.
"Mas Sion..."panggil Rara dengan gaya manja tingkat dewam
Dion sudah hafal jika Rara memanggil namanya dengan nada seperti itu maka akan ada permintaan nyidam tentunya.
"Kenapa istriku sayang?"tanya Dion.
"Pengin es teler tapi isinya ada buah kedondongnya"ujar Rara.
Semua pun terkejut mendengar permintaan Rara. Karena tidak ada sejarahnya es teler ada buah kedondongnya.
Dion memijat pelipisnya merasakan pusing tiba-tiba. Ingin rasanya mencubit pipi chubby istrinya.
"Kok Mas Dion diem sih? Nggak mau nurutin ya?"rengek Rara.
"Nah warning nih, tidur luar nih.."ejek Kusuma.
__ADS_1
"Papah jangan gitu kasian Dion"ujar Ratih.
"Ya nggak dong sayang. Yuk kita cari es teler sampai akunya teler"ujar Dion dengan senyum terpaksa.