Pengorbanan Cinta 1

Pengorbanan Cinta 1
Bab 35


__ADS_3

Setelah hari berkabung itu selesai, tepat dua minggu kemudian pernikahan yang tadinya akan ada dua pasangan yang menikah tetap dilangsungkan tapi hanya ada saty pasangan saja yang menikah di hari itu


Mereka berusaha bahagia di hari pernikahan itu. Tapi kembali mereka mengingat sosok Arya yang harusnya menikah juga di hari itu. Sementara Isyana sekarang kembali menjadi Isyana yang dulu belum mengenal cinta. Isyana yang dingin, pendiam, angkuh dan seorang pemaksa. Namun di balik itu Isyan tetap sosok penyayang pada keluarganya walaupun tidak seceria dulu.


Angga dan Laras memutuskan pulang kampung ke Bandung untuk memulai hidup yang baru dengan mengurus perkebunan yang mereka miliki. Mereka menjual rumah mereka yang begitu banyak kenangan bersama keluarganya. Dan restoran milik mereka diserahkan kepada Rara yang sekarang sudah menjadi Nyonya Dion Wijaya.


*****


Satu tahun kemudian.


Keluarga Wijaya sedang sarapan bersama. Hanya ada keheningan sebelum terdengar suara teriakan Rara.


"Papah, Mamah, Mas Dion!"panggil Rara berteriak.


"Ada apa? Jalannya yang pelan sayang"tegur Sinta.


"Sayang kamu itu kaya anak kecil aja. Kenapa sih?"tanya Dion.


"Aku ada kabar bahagia"ujar Rara semangat 45.


"Apa Rara kasih tahu dong"ujar Rama.


"Rara HAMIL!"ucap Rara dengan penekanan sambil memamerkan test pack.


Semua orang saling pandang dan bersorak bahagia.


"Yeay..aku bakal jadi hot daddy"ujar Dion jingkrak jingkrak.


"Wah selamat sayang akhirnya akan jadi kakek dan nenek"ujar Sinta.


"Selamat ya Nak"sambung Ratih.


"Selamat adik ipar. Kalau arya masih ada dia pasti bahagia mendengarnya"ujar isyan mengelus pipi Rara.


Tiba-tiba suasana hening lagi saat Isyan menyebut nama Arya. Isyan yang sadar karena dia menyebut nama Arya langsung tertunduk berusaha menyembunyikan wajah sedihnya.


"Aku berangkat ke kantor dulu. Dion kamu antar Rara ke rumah sakit dulu. Dan Rara kabari Papah Angga tentang kehamilan kamu"ujar Isyan lalu bergegas pergi.


"Kasian Isyan belum bisa mengikhlaskan Arya"ujar Kusuma.


"Sampai kapan Isyan akan seperti itu Kak. Aku tidak tega melihatnya"ujar Rama.


Rara sangat sedih melihat Isyan terluka atas kepergian kakaknya. Dion yang melihat kesedihan di wajah Rara langsung merangkulnya.

__ADS_1


Di kantor Wijaya Group, Isyan langsung masuk ke ruangannya dan langsung bekerja. Semua karyawan Wijaya Group pun tak luput merasakan perubahan sikap isyan yang dingin, angkuh, dan pendiam setelah kepergian Arya. Tak ada yang berani menyinggung sang direktur, karena jika dia marah, apapun akan dia lakukan tanpa mempedulikan orang lain.


"Permisi Bu.."ucap Arum mengetuk pintu lalu masuk.


"Bu, saya sudah menghubungi para perusahaan kontraktor yang menawarkan kerja sama pada kita agar besok datang ke kantor untuk mempresentasikan penawaran mereka untuk proyek pembangunan hotel kita Bu"ujar Arum.


Arum adalah sekertaris Isyan yang paling lama. Dia tahu bahwa di balik sikap dingin bosnya, Isyan adalah wanita yang baik. Arum hanya karyawan tapi selama bekerja dengan Isyan, dia selalu diperlakukan baik.


"Persiapkan meeting untuk besok dengan calon kontraktor kita. Aku tidak mau ada kesalahan sedikitpun"jelas Isyan tanpa menoleh ke Arum.


"Baik Bu.."jawab Arum lalu pergi.


Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, Dion baru sampai kantor karena baru menemani Rara periksa kandungan. Dion masuk ke ruangannya dulu mengambil laptop dan pergi ke ruangan Isyan.


"Hai Syan!"sapa Dion.


"Iya ada apa?"balas Isyan cuek


Dion duduk di hadapan Isyan lalu membuka laptopnya menunjukkan sesuatu pada Isyan.


"Seperti ini konsep hotel yang kamu penginin? Ada danau kecil di belakang hotel, lalu interiornya nuansanya kayu, terus ada sentuhan tradisional"terang Dion.


Isyan melirik sekilas lalu menganggukkan kepala tanda setuju dengan ide dari Dion.


"Arya Hotel"ujar Isyan tanpa menoleh pada Dion.


Dion terkejut dan tersentak mendengar ucapan Isyan.


"Kenapa? Ada masalah? Kalau kamu tidak mau mengerjakan proyek itu biar aku saja"sergap Isyan dengan sejuta sikap dinginnya.


"Bukan itu. Kenapa nama Arya kau jadikan nama hotel baru kita?"tanya Dion.


"Aku ingin semua orang tahu bahwa aku mendedikasikan hotel itu untuk orang yang aku cintai. Bahkan sampai hari ini aku masih mencintainya"jawab Isyan.


"Syan..sampai kapan kamu bakal kayak gini terus? Arya udah nggak ada Syan"batin Dion.


Kemudian Dion memegang tangan Isyan dan menatap wajah sepupunya itu.


"Apapun keputusan kamu, aku selalu mendukung kamu. Ingat satu hal jangan pernah larut dalam kesedihan"ujar Dion lalu bangkit dari kursi dan keluar dari ruangan Isyan.


Isyan menyandarkan tubuhnya pada kursi. Isyan menutupi wajahnya yang sudah menahan air mata sejak tadi.


Malam pun tiba, Isyan pulang bersama Dion. Di eumah keluarga Wijaya kedatangan tamu yaitu Angga dan Laras yang datang karena mendengar kabar kehamilan Rara.

__ADS_1


"Papah sama mamah datang jam berapa?"tanya Dion menghampiri mereka yang sedang makan malam bersama keluarga Wijaya.


"Tadi siang kami baru sampai sini"jawab Angga.


"Kami kan mau menengok calon cucu kami"ujar Laras.


"Mamah sama papah juga bawa oleh-oleh dari Bandung loh"sela Rara.


"Wih asik nih"balas Dion.


"Ya sudah kalau gitu kita makan malam bersama"sambung Ratih.


"Mari Pak Angga, Bu Laras"ajak Sinta.


"Isyan nggak lapar. Isyan langsung istirahat aja di kamar"tutur Isyan lalu pergi ke kamar.


Semua orang memandangi kepergian Isyan. Sikap dingin yang ditunjukkan Isyan membuat Angga merasa bersalah. Andai saja dia tidak membiarkan Arya ke Singapura mungkin sekarang Isyan sudah menikah dengan Arya.


Di kamar Isyan duduk di pinggir ranjang mengelus cincin pertunangan yang masih dia pakai sampai sekarang.


"Arya...andai kamu masih ada, mungkin sekarang kita sudah menikah dan aku sedang mengandung anak kamu"lirih Isyan dan tak sadar air matanya menetes.


Diam-diam Angga dan Laras membuka pintu kamar Isyan. Mereka masuk bersama ke kamar Isyan. Menyadari ada yang masuk ke kamarnya, Isyan segera menghapus air matanya.


"Isyan.."panggil Laras dengan lembut.


"Masuk Mah.."jawab Isyan.


Angga dan Laras duduk mengapit Isyan, tiba-tiba mereka memeluk Isyan bersamaan.


Isyan tak bisa berbohong bahwa dia juga merasakan kesedihan yang dirasakan oleh orang tua Arya.


"Maafin papah ya...coba papah nggak nyuruh Arya ke Singapura pasti nggak akan kayak gini"ujar Angga.


"Pah...ini bukan salah papah. Semuanya kehendak Allah. Isyan nggak pernah nyalahin papah kok"balas Isyan mengelus punggung Angga.


Laras mengusap lembut wajah calon menantunya yang tidak akan pernah jadi menantunya karena anak laki-lakinya sudah meninggal.


"Syan...walaupun kamu tidak menikah dengan Arya tapi kamu sudah kami anggap seperti putri kami sendiri. Arya sudah tiada dan Rara sudah jadi menantu keluarga Wijaya, dan sekarang kami tidak punya anak lagi"ujar Laras meneteskan air mata.


"Kamu mau kan jadi anak kami?"sambung Angga.


Isyan yang masih meneteskan air mata memberi anggukan mengartikan dia mau menjadi anak Angga dan Laras walaupun tidak menikah dengan Arya.

__ADS_1


"Aku akan selalu jadi putri kalian"ujar Isyan.


__ADS_2