
Sesampainya di rumah sakit, Arya langsung ditangani oleh dokter. Surya yang mendapat kabar anaknya kecelakaan langsung menyusul ke rumah sakit. Di depan UGD, Surya sedang harap-harap cemas dengan keadaan putranya.
Setelah satu jam dokter pun keluar dari UGD.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?"tanya Surya.
"Keadaannya sudah membaik. Benturan di kepalanya tidak begitu keras hanya ada luka memar dan lecet di kepala dan bahunya. Setelah ini dia bisa di pindah ke ruang perawatan"ujar Dokter.
"Terima kasih Dok"jawab Surya.
Surya pun masuk ke UGD untuk melihat keadaan Arya yang belum sadarkan diri. Tak berapa lama datanglah perawat yang akan memindahkan Arya ke ruang perawatan. Setelah dipindahkan dengan setia Surya menunggu hingga Arya sadarkan diri.
*****
Isyan sudah sampai di rumahnya. Dia memilih untuk kembali ke rumah karena perasaannya kacau dan sulit untuk berpikir. Di rumah keluarga Wijaya sudah banyak orang datang untuk mendekorasi rumah mengingat lusa adalah acara tujuh bulanan Rara. Isyan masuk ke dalam rumah sesekali membalas sapaan para pendekor yang menyapa dia.
"Kamu tumben udah pulang lebih cepat sayang?"tanya Ratih.
"Udah Mah. Lagi capek aja"jawab Isyan.
"Makan dulu baru kamu istirahat. Oh ya bisa nggak kamu jemput orang tua Rara nanti malam di bandara?"ujar Ratih.
"Isyan akan jemput mereka. Isyan naik ke kamar ya Mah"ujar Isyan pergi meninggalkan mamahnya ke kamar.
Di dalam kamar Isyan melempar tasnya asal. Lalu membaringkan tubuhnya ke ranjang. Perasaan lega karena sudah jujur memang menyeruak di dalam hati Isyan. Tapi tetap saja Isyan khawatir dengan keadaan Arya setelah tahu semua kebenarannya.
"Aku harap usaha terakhirku kali ini tidak sia-sia"ujar Isyan sambil memejamkan mata.
*****
"Isyan...Isyan..." Arya perlahan membuka matanya.
Surya terkejut saat mendengar suara Arya. Lalu Surya memanggil dokter untuk memeriksa putranya.
"Keadaannya sudah membaik. Mungkin pasien sedang mengingat seseorang di dalam hidupnya"ujar dokter lalu meninggal ruang perawatan Arya
"Nak..bagaimana apa masih sakit kepala kamu?"tanya Surya mengelus kepala Arya yang berbalut perban hanya di dahi saja.
"Aku sudah baikan"ujar Arya.
"Kenapa kamu memanggil nama Isyan?"tanya Surya dengan tatapan heran.
"Karena aku sudah ingat semuanya"ujar Arya.
__ADS_1
Surya terkejut bukan main saat pemuda yang ada di hadapannya sudah dapat mengingat kembali masa lalunya. Dan kini Surya siap tidak siap harus menerima kepergiannya kembali dengan keluarganya. Hal ini membuat hati Surya hancur.
"Namaku Arya Praditya dan aku adalah tunangan Isyana Wijaya"jelas Arya.
Hanya ada senyum getir di wajah Surya. Entah bahagia atau harus sedih. Dia sudah menyayangi Arya seperti putranya sendiri selama ini.
"Aku ingin bertemu dengan Isyan dan menjelaskan semuanya"ujar Arya hendak bangkit tapi dicegah oleh Surya
"Keadaan kamu belum pulih betul, tunggu sampai kamu dinyatakan sehat oleh dokter"ujar Surya.
"Tapi Isyan marah padaku karena aku melupakannya bahkan sampai mencintai orang lain"ujar Arya.
"Lalu apa kamu tega membiarkan Isyan melihat keadaan kamu seperti ini?"tanya Surya yang membuat Arya diam.
"Istirahat dulu, pulihkan dirimu. Baru temui keluargamu"pinta Surya.
"Terima kasih atas semua bantuan dan kasih sayang yang telah anda berikan. Setelah ingatanku kembali, masih bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan papah?"tanya Arya.
Arya sadar kebaikan Surya selama ini tidak boleh dia lupakan. Surya rela dan ikhlas merawat Arya bahkan menjadikan Arya sebagai pewarisnya padahal Arya bukan anak kandungnya. Dan sekarang Arya teringat bahwa Surya adalah orang tua Gavin. Lelaki yang dia temui di Singapura setahun yang lalu. Mungkin ini takdir dari Tuhan mempertemukan Arya dengan Surya dalam kejadian ini. Arya tak ingat apa yang terjadi dengan Gavin setelah kecelakaan. Yang Arya ingat hanya apa yang terjadi sebelum kecelakaan.
"Jadi Gavin putra kandung papah?"tanya Arya.
"Iyaa...dia menjadi korban kecelakaan pesawat sama seperti kamu"ujar Surya terisak.
Lalu Arya menceritakan pertemuannya dengan Gavin dari awal hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi. Arya pun menceritakan sebelum pesawat hancur dia dan Gavin memang terpisah akibat goncangan pesawat yang membuat Arya terpental jauh dari korban pesawat yang lain.
"Jadi kamu mengenal putraku? Ini memang aneh tapi aku yakin ini sudah takdir dari Tuhan"ujar Surya.
"Aku akan membantu mencari kebenaran tentang Gavin. Dia sudah mejadi teman baikku sejak pertemuan pertama kami"ujar Arya.
Surya tersenyum mendengar penuturan Arya. Tak menyangka jika dia bisa bertemu dengan pemuda sebaik Arya.
*****
Malam pun tiba.
Isyan diminta menjemput orang tua Rara di bandara. Isyan pergi dengan sopir pribadinya dan tidak lupa dikawal oleh bodyguard yang berbeda mobil. Entah sejak kapan Isyan tak menolak jika harus pergi dengan dikawal. Isyan sepertinya sudah mulai malas mengeluarkan ilmu bela dirinya dan lebih mengandalkan bodyguardnya karena semangat hidup isyan mulai berkurang. Apalagi sejak pertemuan terakhirnya dengan Arya.
"Mamah papah..."seru Isyan saat orang tua Rara berjalan menghampirinya.
"Sudah lama menunggu?"tanya Isyan ramah.
"Kita baru keluar kok"jawab Anggam
__ADS_1
"Bawa barang-barang mereka"perintah Isyan pada bodyguardnya untuk membawa barang bawaan orang tua Rara.
"Kamu ini mau jemput kita di bandara apa mau menghadapi musuh sih, Syan?"tanya Laras.
"Memang kenapa Mah?"tanya Isyan tak mengerti.
"Kamu bawa banyak bodyguard, kayak pasukan paspampers"ujar Angga terkekeh.
"Ya biasa, disuruh sama papah. Lagian juga buat keamanan"balas Isyan.
"Iya apalagi kalau urusannya menyangkut pewaris keluarga Wijaya. Nggak bisa main-main"ujar Angga terkekeh.
"Papah bisa aja. Ya udah kita berangkat sekarang. Rara pasti udah nunggu"ujar Isyan mengajak orang tua Rara meninggalkan bandara.
Setelah hampir satu jam perjalanan melewati macetnya jalanan Jakarta. Akhirnya mereka sampai di kediaman super mewah keluarga Wijaya. Tentu saja kedatangan besan keluarga Wijaya disambut antusias oleh para pelayan.
"Selamat datang besanku"ujar Kusuma memeluk Angga.
"Selamat datang Bu Laras"ujar Ratih memeluk Laras.
Para orang tua saling memeluk untuk penyambutan. Tak lupa Rara dan Dion menyalami Angga dan Laras.
"Ini rumah mau buat acara tujuh bulanan atau hajatan ya? Mewah dan meriah banget"ujar Laras penuh kekaguman melihat dekorasi rumah.
"Ya namanya juga menyambut cucu pertama. Haruslah meriah. Apalagi ada acara adatnya"ujar Ratih begitu antusias.
"Kami beruntung bisa jadi besan keluarga Wijaya"ujar Angga.
"Tidak usah seperti itu Pak Angga. Kita saling melengkapi"ujar Rama.
"Ayo sebaiknya kita masuk dan makan malam bersama"ajak Sinta.
Semua orang pergi menuju ruang makan kecuali Dion dan Isyan, mereka berdua masih berada di ruang tamu.
"Syan, kamu udah cerita mengenai Arya ke mertua aku?"tanya Dion.
"Belum lah. Aku bingung"ujar Isyan.
"Apa sebaiknya kita rahasiakan dulu? Sampai acara ini selesai?"tanya Dion.
"Begitu lebih baik. Aku bingung harus mulai dari mana, Yon"ujar Isyan.
"Dimulai dengan bismilah dan diakhiri dengan hamdalah"ujar Dion terkekeh.
__ADS_1
"Dikira buka puasa. Tapi boleh juga idemu"ujar Isyan tertawa seraya menggelengkan kepala.