Pengorbanan Cinta 1

Pengorbanan Cinta 1
Bab 41


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, Isyan sudah berada di meja kerjanya di depan ruangan Gavin. Isyan langsung membereskan meja kerjanya. Kemudian Isyan membuka tugas yang diberikan Gavin padanya.


"Hai Ratna!"sapa Sarah


"Eemm..."


"Namaku Sarah sekertaris Pak Gavin,ntapi aku sudah mengundurkan diri. Aku ke sini mau mengambil barangku yang masih tertinggal"ujar Sarah mengulurkan tangan.


"Hai Mba Sarah"seru Isyan membalas uluran tangan Sarah.


"Kenapa Mba Sarah keluar?"tanya Isyan.


"Aku mau menikah dan ikut pindah suamiku"jelas Sarah.


"Ooo begitu. Semoga lancar sampe hari-H ya Mba"ujar Isyan.


"Kamu yang betah ya kerja di sini,kalau ada apa-apa bisa telpon aku. Pak Gavin baik kok"ujar Sarah memberikan secarik kertas.


"Baik apanya? Aku belum kerja aja udah dikasih tugas segini banyaknya. Bos macam apa itu"gerutu Isyan.


Sarah terkekeh mendengar keluh kesah isyan.


"Jangan ngomong gitu nanti naksir loh. Pak gavin kan ganteng, kaya, cool lagi, semua karyaaan suka sama dia. Bahkan mereka semua mungkin iri sama kamu karena kamu sekertaris Pak Gavin yang bisa bersama dia setiap waktu"goda Sarah.


"Tapi maaf, dia bukan tipe aku"elak Isyan.


"Terserah kamu aja. Ya udah aku pamit ya Ratna. Semangat bekerja"ujar Sarah ramah lalu pergi.


15 menit kemudian datanglah Gavin. Tentu dia melewati meja Ratna yang sekarang jadi sekertarisnya.


"Buatkan saya kopi"perintah Gavin sedikit berteriak hingga membuat Isyan terperanjat karena kaget.


Isyan mengernyitkan dahinya sambil membenarkan posisi kacamatanya. Lalu pergi ke dapur dan membuatkan Gavin kopi lalu mengantarnya.


"Ini Pak kopinya"ujar Isyan meletakkan kopi di depan Gavin.


Gavin memandang gelas dan Isyan bergantian, kemudian memasang wajah curiga.


"Coba kamu minum, saya curiga kamu kasih racun di kopi itu"ujar Gavin mendekatkan gelas pada Isyan.


Isyan memanyunkan bibirnya dan wajahnya berubah kesal, dia merasa Gavin sedang mengerjainya. Memang sejak kapan dia tega meracuni manusia.


"Bapak nuduh saya? Mending nggak usah nyuruh saya bikinin bapak kopi"gerutu Isyan.


"Kamu melawan saya!"gertak Gavin.


"Enggak Pak"ujar isyan dengan wajah pasrah


"Minum cepat!"perintah Gavin.


Isyan pun mendengus kesal dan dengan terpaksa meminum kopi bahkan tak terasa kopi itu diminum sampai habis. Tidak terjadi sesuatu yanhaneh karena Isyan memang tidak melakukan apapun pada kopi Gavin. Bahkan Isyan sampai bersendawa dan sengaja dikeraskan suaranya.


"Alhamdulillah kenyang!"ujar Isyan mengelap mulutnya.


"Kenapa kamu habiskan kopi saya!"protes Gavin.


"Lah kata bapak saya suruh minum kopinya"bela Isyan.


"Tapi saya nggak bilang suruh dihabiskan kopinya"balas Gavin dengan nada kesal.


"Salah siapa bapak nggak bilang. Udah ya Pak kerjaan saya banyak"ujar Isyan hendak pergi.


"Ehh tunggu"cegah Havin lalu berdiri dari kursinya dan mendekati Isyan.


Gavin berdiri begitu dekat dengan Isyan bahkan jarak tubuh mereka hanya setengah langkah saja. Gavin mendekatkan wajahnya pada Isyan dan menatap tajam ke arah Isyan. Jantung Isyan berdegup sangat kencang, wajahnya memerah bahkan sampai meremas gelas yang dia pegang.


"Auuu" jerit Gavin saat Isyan menginjak kakinya begitu keras hingga Gavin mundur beberapa langkah.


"Eh maaf, Pak saya nggak sengaja"ujar Isyan tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Awas kamu ya! Keluar dari ruangan saya!"ujar Havin sambil mengibaskan kakinya.


"Udah pengin dari tadi Pak!"ujar isyan lalu mlengos keluar dari ruangan Gavin.


Isyan berlari menuju dapur dan langsung mengatur napasnya yang ngos-ngosan


"Astaga itu orang ngapain coba deket-deket kan jadi deg-degan. Untung aku masih bisa ngontrol akal dan pikiran. Coba kalau nggak bisa, langsung mati kutu aku"ujar Isyan memegangi dadanya.


Tiga jam berlalu, Gavin keluar dari ruangannya lalu menghampiri meja Isyan.


"Ratna, mana tugas yang saya kasih!"ujar Gavin.


"Kata bapak bisa dikasih ke bapak siang nanti. Ini kan baru jam sepuluh"ujar Isyan memasang wajah ndesonya.


"Saya bosnya. Suka-suka saya lah. Bawa ke ruangan saya"ujar Gavin masuk kembali ke ruangannya.


"Hih...nyebelin banget deh. Kalo bukan karena mirip Arya mana mau aku nyamar kayak gini"gerutu Isyan kesal.


Isyan membawa tugas dari Gavin lalu masuk ke ruangan Gavin dan memberikan tugasnya untuk diperiksa oleh Gavin.


"Ini Pak Gavin yang terhormat"ujar Isyan dengan penekan lalu menyerahkan tugasnya.


Gavin langsung mengecek laporan yang dikerjakan oleh Isyan. Betapa terkejutnya Gavin saat Isyan bisa menyelesaikan laporan sebanyak itu dalam waktu semalam dan hasilnya memuaskan.


"Bagaimana kamu bisa mengerjakan laporan ini dalam waktu semalam?"tanya Gavin tidak percaya.


"Saya minta bantuan jin peliharaannya Bandung Bondowoso"jawab Isyan asalm


"Memangnya membangun Candi Prambanan. Saya serius"seru Gavin.


"Aduh bapak baru kenal sudah bilang serius-seriusan"ucap Isyan dengan nada meledek.


Gavin mengernyitkan dahinya dengan hidung kembang kempis.


"Dan anehnya, bagaimana kamu bisa tahu cara membuat laporan ini padahal ini laporan perusahaan internasional?"tanya Gavin lagi.


"Ya jelas aku bisa mengerjakan laporan itu. Orang aku direktur utama Wijaya Group. Ya kali lulusan S2 Manajemen di Amerika nggak bisa bikin laporan kayak gitu"batin Isyan.


"Saya diajarin sama James Bond, Pak. Makanya saya bisa mengerjakan tugas dari bapak. Ya sudah Pak, semua beres kan? Saya masih banyak pekerjaan dan sangan sibuk. Permisi"ujar Isyan langsung pergi agar Gavin tak bertanya lagi.


"Walaupun menyebalkan tapi dia keren juga"gumam gavin manggut-manggut


-----


Hari mulai sore, karyawan PT Surya satu persatu mulai pulang tak terkecuali Isyan. Sebenarnya Isyan sudah dijemput oleh sopir pribadinya karena dia akan diantarkan langsung ke apartemen. Sehingga Isyan berjalan menuju jalan di depan kantor Gavin. Isyan mengetuk kaca mobil lalu sopirnya membuka kaca mobil.


"Non Isyan, saya bukain pintu dulu"ujar sopir hendak keluar.


"Nggak usah Pak, nanti ada yang lihat gimana. Saya masuk sendiri"ujar Isyan lalu masuk ke mobil.


Lalu mobil itu pun meninggalkan kantor Gavin dengan cepat. Tak sengaja Gavin melihat kepulangan Isyan menggunakan mobil yang cukup mewah untuk ukuran seorang sekertaris.


"Dia pulang dengan siapa? Mobilnya kenapa mewah? Terus kenapa dia duduk di belakang? Apa dia punya sopir pribadi?"ujar Gavin keheranan.


Setelah 30 menit perjalanan karena macet, akhirnya Isyan sampai di apartemen


"Non Isyan, apa ada keperluan lain biar saya antar?"tanya sopir.


"Bapak langsung pulang ke rumah utama saja. Saya juga nggak kemana-mana kok"ujar Isyan


"Kalau begitu, ini kunci mobil titipan dari Tuan Besar untuk Non Isyan"ujar sopir memberikan kunci.


"Papah kasih mobil?"ujar isyan terkejut dan menerima kunci mobil yang diberikan sopirnya.


Isyan padahal sudah mengatakan bahwa dia akan pulang pergi bekerja menggunakan taksi. Setelah Isyan keluar dari mobil, sopir itu meninggalkan Isyan yang masih berdiri di depan gedung apartemen. Isyan mencari mobilnya yang terparkir di depan gedung apartemen.


"Akhirnya papah ngerti juga maksud dari mobil yang biasa aja. Aku pikir papah bakal kasih mercy"ujar Isyan terkekeh saat melihat mobil kiriman papahnya merk daihatsu yang harganya jelas terlalu murah untuk ukuran keluarga Wijaya.


Kemudian Isyan bergegas masuk ke apartemennya. Isyan mengecek setiap sudut ruangannya.

__ADS_1


"Astaga mamah, ini kulkas apa supermarket kenapa isinya banyak banget"ujar Isyan terheran-heran karena kulkasnya penuh dengan berbagai macam sayur,.buah, dan bahan makanan. Isyan menggelangkan kepala sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tak berapa lama Hp Isyan berbunyi dan ternyata papahnya yang menelpon.


"Halo papahku sayang."


"Halo sayang, gimana mobilnya?"


"Isyan kan udah bilang nggak usah kasih mobil"ujar isyan sambil merebahkan tubuh di sofa


"Nggak bisa. Udah terima aja. Tapi maaf ya papah cuma bisa kasih mobil itu, tadinya papah mau kirim BMW padahal BMW juga murah Syan"ujar Kusuma.


"Astaga Pah, BMW ya mahal dong. Papah kalau sultan nggak usah gitu-gitu amat deh"ujar Isyan dengan rasa gemas.


"Itu mamah udah isi penuh kulkas sama lemari syan. Kalo kurang tinggal telfon mamah"serbu Ratih ditelpon.


"Mah Pah, ini Isyan bukan pertama kali mau hidup sederhana. Waktu kuliah di Amerika juga kayak gini. Kenapa kalian berlebihan banget? Isyan udah dewasa"gerutu Isyan.


"Sedewasa apapun kamu, kami tetep putri kecil untuk kami"ujar Ratih yang langsung membuat hati Isyan terenyuh.


"Iya mamah papahku sayang. Udah dulu ya Isyan mau mandi. Dadah"ujar isyan menutup telpon lalu pergi mandi.


-----


Di kediaman Surya.


Gavin baru selesai makan malam dan langsung masuk ke kamar. Dia duduk di pinggir ranjang dan membuka laci dari meja nakas di samping ranjangnya. Gavin mengambil sebuah kotak kecil lalu membukanya dan ada sebuah cincin di dalamnya. Gavin memerhatikan cincin itu dengan seksama dan ada inisial huruf "I".


"Sebenarnya apa hubunganku dengan orang yang inisialnya ada di cincin ini?"tanya Gavin dengan wajah putus asa.


"Aku merasa ada sesuatu dalam hidupku tapi aku tidak tahu itu"ujar Gavin sambil memainkan cincin itu.


"Sudahlah aku pakai saja. Entah kenapa tiba-tiba aku ingin memakai cincin ini kembali"ujar Gavin.


Kemudian Gavin pun memakainya di jari manis tangan kiri tanda untuk orang yang sudah bertunangan. Sementara Isyan, masih berperang dengan pekerjaan di laptopnya.


"Curang Mba Sarah, dia resign tapi ninggalin banyak kerjaan buat aku. Mana perusahaan Gavin lagi banyak proyek lagi"ujar isyan sesekali mengusak wajahnya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Isyan berpikir sejenak siapa yang datang. Haruskah dia berpenampilan sebagai Ratna atau Isyana.


"Siapa?"teriak Isyan memastikan.


"Dion!"balas orang yang mengetuk pintu.


Isyan bernapas lega lalu bergegas membuka pintu.


"Dion, Rara, ayo masuk"ajak Isyan.


Karena sudah dipersilahkan masuk, Dion dan Rara melangkah memasuki apartemen Isyan, dan mereka duduk di ruang tengah.


"Ada apa kalian ke sini?"tanya Isyan.


"Ini loh Kak, tadi aku pengin banget makan capcay terus tiba-tiba keinget Kak Isyan ya udah deh capcaynya dibungkus terus makan di sini aja"ujar Rara.


"Tumben permintaanmu nggak absurd. Tak kirain!"celoteh Isyan.


"Ya udah Syan, mana piring sama sendok. Sekalian minum dingin ya"pinta Dion.


"Iya iya bawel.."ujar Isyan lalu ke dapur dan mengambil piring.


Mereka pun makan capcay bersama. Dion sesekali bertanya bagaimana hari pertama Isyan bekerja di perusahaan Gavin. Isyan pun bertanya keadaan perusahaan saat dia tidak ada.


"Ya nyebelin kayak gitu kamu juga seneng kan Syan"goda Dion.


"Seneng jidatmu. Kalau bukan karena dia mirip Arya mana mau aku ngelakuin ini"elak Isyan.


"Kak Isyan jangan gitu dong nanti naksir gimana"balas Rara.


"Bodo amat!"sergap Isyan sambil membawa piring kotor ke dapur.


Isyan langsung mencuci piring kotor itu. Dan tak sengaja Isyan melirik jari manisnya yang masih memakai cincin pertunangannya dengan Arya. Tak terasa air mata Isyan pun menetes. Dengan cepat Isyan mengusap wajahnya yang basah karena air matanya. Setelah isyan selesai mencuci piring Dion dan Rara pun pamit pulang karena sudah larut malam.

__ADS_1


__ADS_2