
JANGAN LUPA BACA JUGA NOVEL KEDUAKU BERJUDUL "ANTARA CINTA DAN MISI"
#####
Pagi-pagi sekali rumah keluarga Wijaya sudah ramai didatangi banyak orang. Pihak dari EO sudah mulai mengatur tempat acara. Akan ada dua sesi acara. Yang pertama acara pengajian yang lakukan di dalam rumah. Lalu acara adat yaitu mitoni akan dilakukan di area kolam renang belakang rumah.
Lalu di kamar masing-masing, sudah siap tim urusan perdandanan lengkap dari MUA, hair do, dan wardrobe. Acara pertama adalah pengajian. Maka dari itu sekeluarga berubah jadi alim karena memakai gamis dan baju kokoh. Para wanita sangat cantik memakai gamis dengan memakai kerudung selendang dengan anggun. Sementara para pria dengan tampan memakai baju kokoh lengkap dengan peci.
Satu persatu tamu datang. Dari ibu-ibu pengajian, anak yatim piatu, beberapa tetangga dan kerabat dekat sudah mulai hadir. Mereka duduk berbaris di karpet yang sudah disediakan. Tak berapa lama tuan rumah memasuki tempat acara.
Keluarga inti duduk berjejer menghadap para tamu. Rara dan Dion berada di tengah diapit oleh orang tua mereka. Sambutan demi sambutan pun disampaikan. Lalu dimulailah acaranya. Dari pembacaan ayat suci Al Quran, doa-doa, ceramah agama dan meminta restu pada orang tua.
"Terima kasih untuk semua yang sudah hadir. Hari ini adalah acara tujuh bulan kehamilan istri saya. Semoga semuanya sehat dan lancar sampai hari kelahirannya nanti. Terima kasih untuk orang tua kami yang selalu membimbing kami menjadi calon ayah dan ibu yang baik nantinya"ujar dion
"Papah mamah, Rara mau minta maaf jika selama ini Rara pasti punya banyak salah. Rara sadar bahwa menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Banyak sekali hal besar yang harus dihadapi termasuk mengandung dan melahirkan. Sebentar lagi Rara akan menjadi seorang ibu. Terbayang bagaimana sakitnya melahirkan mengingatkan rara bagaimana perjuangan mamah melahirkan Rara. Jadi Rara mau minta maaf yang sebesar besarnya sama mamah, agar persalinan Rara lancar. Rara juga nggak lupa minta restu kepada papah. Karena papah adalah orang pertama yang menggendong Rara setelah lahir ke dunia"ujar Rara menangis.
Perkataan Rara membuat haru semua orang hingga yang lain pun ikut terbawa suasana.
Setelah acara pengajian selesai, dilanjut acara santunan pada ibu-ibu pengajian dan anak yatim dengan memberi sumbangan kepada mereka. Setelah itu keluarga Wijaya kembali masuk ke dalam kamar karena harus berganti baju untuk acara adat mitoni. Sementara para tamu menunggu sambil menikmati cemilan yang sudah disediakan.
Di kamar Kusuma.
"Sebentar ya Nyonya Ratih dipakaikan sanggul dulu"ujar seorang pria bertulang lunak.
"Ini papah siapa yang makein jaritnya coba. Susah nih Mah"gerutu Kusuma.
"Papah ih manja bangetbdeh. Minta tolong itu mbaknya aja"ujar Ratih.
"Permisi tuan biar saya yang pakaikan"ujar seorang wanita berhijab.
Sementara di Kamar Isyan.
"Nona Isyana sangat cantik. Seperti seorang bidadari"puji pria lenjeh yang berbeda.
"Jangan terlalu memuji. Ini acara adik iparku. Tentu saja dia yang paling cantik"balas Isyan tersenyum.
"Kecantikan Nona Isyan kan sudah melalang buana ke seluruh Indonesia. Sudah pantas untuk menikah. Apalagi berdandan Jawa seperti ini. Kapan Nona Isyana akan menikah?"ujar pria lenjeh itu sambil menyanggul rambut Isyan.
"Ya besok kalau nggak hujan ya"celetuk Isyan terkekeh.
Di kamar Dion.
Dion nampak tak berkedip saat Rara memakai baju jumputan berwarna merah dipadu padankan dengan roncean melati yang dijadikan slayer dibahunya. Rambut tergerai dengan roncean melati dijadikan bandana di kepala. Perutnya yang bucit menambah kesan anggun dan aura keibuannya begitu terpancar.
"Lihat Tuan Sion, cantikkan istrimu?"tanya seorang ibu yang mendandani Rara.
__ADS_1
"Sangat cantik.."puji Dion sambil menggelengkan kepala penuh takjub.
"Suamiku juga tampan"balas Rara ketika melihat kegagahan Dion memakai beskap.
Setelah persiapan di kamar selesai, semua tamu dituntun menuju taman belakang. Mereka duduk di kursi yang sudah dibariskan dengan rapih menghadap panggung yang sudah disulap menjadi pelaminan mini untuk tempat siraman. Tak berapa lama masuklah keluarga Wijaya berjalan beriringan.
Isyan menggandeng Rara lalu mendudukkan Rara di kursi kecil di panggung itu. Lalu acara pun dimulai dengan siraman yang dilakukan oleh Rama dan Sinta. Dilanjut oleh Angga dan Laras. Diteruskan oleh Kusuma dan Ratih. Yang terakhir Dion.
"Dion kamu itu nyiram air ke istrimu apa ke tanaman sih? Lembut dikit kenapa"tegur Isyan.
Semua orang tertawa melihat ulah Dion yang nampak tergesa-gesa mengambil air di gentong tanah liat lalu menyiramkan pada Rara.
"Biar cepet selesai. Kasian istriku kedinginan"ujar Dion berkilah.
"Bilang aja cemburu karena kamu nggak mau Rara jadi pusat perhatian kan?"sambung Angga yang memang tahu semua orang menatap penuh kagum ke arah Rara.
"Nah tuh papah tahu"ujar Dion terkekeh.
"Dih..sok posesif kamu"ujar Rama.
Setelah acara siraman selesai, dilanjut prosesi ngrogoh cengkir. Cengkir berarti tunas kelapa, sebagai simbolisasi cikal bakal bayi yang akan lahir. Cengkir berjumlah dua buah, diambil oleh sang ayah yaitu dion, untuk selanjutnya dilaksanakan ritual brobosan (meluncurkan). Sang ayah akan meluncurkan dua cengkir dari balik kain yang dipakan sang ibu yaitu Rara.
Cengkir atau kelapa muda yang dipakai sebelumnya telah dilukis Dewi Kamaratih melambangkan bayi wanita jelita dan Dewa Kamajaya melambangkan bayi pria rupawan. Kemudian, sang ayah membelah cengkir atau kelapa muda sebagai simbol untuk membukakan jalan si jabang bayi agar lahir pada jalannya.
Dion pun meletakkan kedua tangannya di punggung sambil berpikir akan ambil yang sebelah kanan atau kiri.
"Kanan!!!"
"Kiri!!"
Semua orang berteriak menyuarakan pilihannya hingga membuat dion kebigungan. Dion pun memutuskan ambil sebelah kanan dan ternyata bergambar Dewi Kamaratih.
"Yeay cucu kita kayaknya perempuan nih"seru Rama yang nampak girang.
"Pasti cantik kaya Rara"sambung Sinta.
Lalu Dion membelah cengkir itu dengan golok.
Belum selesai sampai disitu ritualnya. Karena masih ada ritual pantes-pantesan. Dalam prosesi pantes-pantesan, sang ibu akan berganti busana atau memantas-mantas busana sebanyak tujuh kali. Nantinya, undangan akan serempak menjawab tidak pantas sampai busana ke-6. Barulah busana yang ke-7 akan dipakai ibu. Ini menjadi salah satu ritual unik dalam prosesi Mitoni.
Sebelumnya busana ke-7 memang sudah diatur memakai jarit dan kebaya yang menjadi seragam bagi keluarga. Dilanjut acara potong tumpeng yang dilakukan Rara dengan Dion.
Dion menyuapi Rara dengan romantis. Lalu diciumlah kening rara setelah menyuapinya.
"Ya ampun calon ayah sama calon ibu romantisnya..."ledek Laras.
__ADS_1
Yang terakhir prosesi jualan dawet dan rujak dilakukan oleh Rama dan Sinta. Semua tamu undangan menghampiri Rama dan Sinta yang sudah duduk di gerobak yang khas untuk jualan dawet, mereka ramai menyerbu dagangan dawet orang tua Dion.
"Bahagianya melihat keluarga kita kumpul"ujar Kusuma merangkul Ratih.
"Iya, nggak nyangka Dion udah mau punya anak. Kapan kita bisa lihat Isyan menikah"ujar Ratih memandangi Isyan yang sedang bercengkrama dengan anak yatim piatu.
"Kita pasti akan melihat dia segera menikah. Bersabarlah"ujar Kusuma mengelus punggung Ratih.
"Dion sebaiknya kamu bawa Rara ke kamar. Kayaknya dia udah capek. Biar papah yang urus acara"ujar Angga.
"Baik Pah. Ayo Ra"ujar Dion lalu mengajak Rara masuk ke dalam rumah.
"Pah, kita akan dapat cucu dari Rara. Apa bisa kita dapat cucu dari Arya?"ujar Laras sedih.
"Mah...kita belum tahu pemuda itu Arya atau bukan"ujar Angga.
"Tapi mamah yakin dia Arya"ujar Laras.
"Kita berdoa saja semoga ada keajaiban datang"ujar Angga.
Diakhir acara semua tamu menikmati hidangan yang sudah disediakan. Tak lupa keluarga Wijaya membagikan bingkisan yang dibungkus paper bag kepada ibu-ibu pengajian, anak yatim piatu, dan tamu undangan lain sebagai souvenir. Para tamu terkejut saat melihat isi paper bag. Isinya tiga produk parfum high end, saty paket teh mahal berbagai rasa, dan voucher belanja di salah satu mall milik Wijaya Group sebesar dua juta.
Satu persatu tamu undangan pun pamit pulang karena acara pun selesai tepat pukul dua siang. Dan semua anggota keluarga Wijaya masuk ke dalam rumah untuk istirahat.
Sementara Isyan terlihat tidak menaiki tangga malah dia berjalan menuju luar rumah.
"Syan mau kemana?"tegur Kusuma.
"Isyan mau pergi sebentar ke suatu tempat buat menenangkan diri Pah"ujar Isyan.
"Dengan pakai kebaya?"tanya Ratih dengan wajah bingung.
"Dari pada pakai karung. Udah ya Isyan mau pergi. Nggak usah suruh bodyguard ikut. Isyan nggak kawin lari kok"teriak Isyan berjalan meninggalkan rumah.
Kusuma dan Ratih saling memandang melihat kepergian Isyan. Nampak jelas kesedihan di wajah Isyan. Bahkan selama acara Isyan begitu pintar menutupi kesedihannya.
Isyan keluar dari rumah disambut para bodyguard. Isyan berjalan mendekati mobil BMW mewah kesayangannya. Bodyguard itu membukakan Isyan pintu.
"Kalian tidak usah ikut. Aku cuma pergi sebentar"titah Isyan dengan wajah dingin.
"Tapi Nona..."
"Jangan membantah! Atau aku patahkan tanganmu!"gertak Isyan.
Isyan pun mengendarai mobil meninggalkan rumahnya.
__ADS_1