Pengorbanan Cinta 1

Pengorbanan Cinta 1
Bab 69


__ADS_3

Satu minggu sebelum pernikahan Arya dan Isyan sudah tidak diperbolehkan untuk keluar rumah bahkan bertemu alias dipingit mengikuti tradisi adat Jawa.


Isyan sedang berkumpul dengan keluarganya di taman belakang rumah sembari menikmati cemilan.


"Ya ampun kenapa harus dipingit segala sih"gerutu Isyan.


"Namanya juga tradisi sayang"jawab Ratih.


"Tapi kan Isyan kangen sama Arya"ujar Isyan.


"Idih lebay banget kamu Syan. Kalau udah nikah juga ketemu terus"timpal Dion.


"Pah, kamu jadi pesan cincin nikah Isyan dari Mouwad Jewerlry?"tanya Ratih.


"Mouwad Jewerlry? Perusahaan berlian dari Dubai itu? Kan mahal banget Pah"seru Isyan dengan melototkan mata.lnyam


"Kamu lupa ya Syan, papah kamu kan sultan"ledek Rama tertawa.


"Dion, cincin nikah Isyan kapan dateng?"tanya Kusuma.


"Tenang Om mereka udah terbang dari Dubai sehari yang lalu nanti sore pihak Mouwad Jewerlry mendarat di Jakarta"jawab Dion.


Sementara Arya hanya diam dengan wajah cemberut. Laras yang sedang sibuk mengatur dekorasi rumah menatap Arya yang sedang galau.


"Anak mamah kenapa kok cemberut?"tanya Laras.


"Mah nggak boleh apa ketemu Isyan?"tanya arya memelas.


"Nggak boleh sampai akad nanti. Kan biar pangling gitu kalau ketemu. Tabung rasa rindu biar pas ketemu pecah tuh rasa rindu kamu"ledek Laras tertawa.


"Bisa nggak nikahnya besok?"tanya Arya polos


Angga memukul lengan arya karena gregetan mendengar ocehan putranya. Semenjak akan menikah dengan Isyan, dia menjadi sosok manusia yang tidak sabaran.


"Kemarin katanya nikah dua minggu lagi kecepetan. Sekarang minta besok. Dasar bocah"gerutu Angga.


"Namanya juga bucin ya gitu"sambung Surya terkekeh.


*****


Satu hari sebelum pernikahan dilaksanakan acara pengajian dan siraman yang dilakukan di masing-masing rumah calon pengantin.


Di rumah Wijaya.


Rumah keluarga Wijaya didekorasi dengan warna serba putih untuk acara pengajian. Ada beberapa backdrop konsep bunga dan beberapa hiasan bunga menutupi tembok rumah. Seragam pengajian kali ini berwarna putih. Tamu yang hadir ibu-ibu pengajian, dan kerabat dekat. Sambutan demi sambutan pun disampaikan. Lalu dimulailah acaranya. Dari pembacaan ayat suci Al Quran, doa-doa, dan ceramah agama.


Setelah selesai acara pengajian, tinggal acara sungkeman sebelum acara siraman. Keluarga Wijaya juga sudah berganti dengan kebaya dan beskap berwarna orange. Isyan pun berlutut di hadapan orang tuanya yang duduk berdampingan di kursi.


"Papah, Mamah, maafkan kesalahan Isyan selama ini…isyan belum bisa jadi anak yang baik untuk papah dan mamah. Mungkin selama 28 tahun Isyan jadi anak mamah dan papah ada banyak kesalahan yang Isyan lakukan. Dan sekarang Isyan mohon restu karena aku akan menikah dengan seseorang pilihanku. Pria yang bertanggung jawab dan mencintai Isyan setulus hati. Doakan Isyan bisa membangun keluarga yang harmonis seperti papah dan mamah membangun keluarga kita"ujar Isyan dengan isak tangis.


Kusuma yang tak pernah terlihat menangis akhirnya pun menangis tersedu-sedu. Sesekali Ratih mengelus punggungnya untuk menangkannya.


"Isyan putri kecil papah, kamu akan selalu menjadi putri kecilku. Papah bahagia menjadi cinta pertamamu. Kini kamu sudah dewasa dan memilih jalan hidupmu sendiri. Papah ikhlas melepas kamu untuk menikah. Semoga kamu bahagia dengan pria pilihanmu"jawab Kusuma.


"Isyan kamu akan jadi seorang istri. Berbaktilah pada suamimu nanti. Jalankan kewajibanmu sebagai istri dengan sepenuh hati. Doa mamah akan selalu menyertaimu"kata Ratih.


Sungkeman pun usai dilanjut acara siraman. Dan Isyan berganti baju dengan kain jumputan untuk siraman. Setelah siraman selesai penuntun adat mengarahkan Kusuma untuk memotong rambut Isyan, setelah itu Kusuma diminta menggendong Isyan.


"Nggak ah Isyan berat"canda Kusuma.


"Ih, papah kan last time gendong Isyan"rengek Isyan.


"Siapa suruh badan kamu gede Syan"ejek Dion.


"Udah kita gotong royong aja"seru Rama.


Lalu Rama dan Kusuma menggabungkan tangannl mereka dan isyan duduk diatas tangan mereka. Semua orang tertawa melihat tingkah lucu keluarga itu.


Setelah isyan sampai kamar, dia kembali memakai kebaya tadi dan disanggul. Lalu isyan kembali ke tempat acara untuk melakukan sesi terakhir yaitu potong tumpeng sekaligus penyuapan terakhir oleh orang tuanya. Dan terakhir Kusuma dan Ratih berjualan dawet sebagai acara terakhir.


*****

__ADS_1


Di rumah Surya.


Tak jauh berbeda dengan proses yang dilakukan oleh Isyan. Dari mulai pengajian hingga siraman. Pakaian yang dipakai pun sama seragam pengajian berwarna putih dan kebaya beskap berwarna orange. Yang datang juga ibu-ibu pengajian dan kerabat mereka dari Bandung. Saat pengajian pun nampak khidmat. Ditambah Arya yang sangat lancar membaca ayat suci Al Quran. Dilanjut acara sungkeman dan Arya pun bersimpuh di hadapan orang tuanya dan sudah berganti dengan beskap.


"Pah, mah, izinkan aku bersimpuh di hadapan kalian dan melebur kesalahan yang pernah aku lakukan kepada papah dan mamah. Maaf jika aku sampai hari ini belum bisa menjadi putra yang baik. Tapi banyak hal yang aku pelajari dalam hidup ini terutama tentang tanggung jawab. Aku sudah memilih wanita untuk aku jadikan istriku. Dia cantik,baik,dan mandiri. Aku meminta serta memohon do’a dan restu kalian"ujar Arya menitikan air mata.


"Arya, setelah semua kejadian yang terjadi dalam keluarga kita, papah bahagia akhirnya kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul. Kamu adalah putra kesayangan papah. Kamu akan membawa seorang gadis dari ayahnya. Maka bahagiakan dia sampai dia tidak kekurangan apapun. Jadilah suami yang bertanggung jawab"ujar Angga tersenyum haru.


"Kamu akan memegang tanggung jawab yang besar. Apapun yang terjadi dalam rumah tanggamu nanti hadapi dengan pikiran dingin, bimbinglah istrimu dengan baik, setialah pada dia. Karena selama ini dia setia menunggu dan berjuang untuk kamu"ujar Laras menangis.


"Arya, aku memang bukan ayah kandung kamu. Aku pun hanya bersamamu selama satu tahun. Tapi satu pesanku untukmu jangan bandingkan istrimu dengan wanita mana pun. Karena ia juga sedang menahan diri agar tidak membandingkanmu dengan pria mana pun"sambung Surya.


Sungkeman yang penuh tangis haru pun usai. Arya pun berganti baju dengan kain jumputan dan langsung melaksanakan siraman. Angga juga memotong sedikit rambut Arya. Dan penuntun adat menyuruh Angga menggendong Arya.


"Cara gendongnya gimana? Badan anak saya lebih besar dari saya"ujar Angga bingung.


"Coba bapak berpikir"goda penuntun adat.


"Pak Surya ini gimana?"tanya Angga mengusak-usak blankonnya.


"Angkut aja pakai mobil pick up"celetuk Surya asal.


"Lah papah pikir aku semen diangkut pakai mobil pick up"ketus Arya yang mulai kediginan.


Angga dan Surya saling memandang lalu memberi isyarat dengan menaikkan alis dengan senyum jahil. Tiba-tiba Angga dan Surya mengangkat tubuh Arya seperti membawa orang pingsan.


"Huaa papah!!"teriak Arya yang mengundang gelak tawa.


Arya pun dibawa ke kamar untuk memakai kembali beskapnya. Lalu keluar kamar untuk kembali meneruskan ritual pemotongan tumpeng dan disuapi orang tuanya. Tak ketinggalan pula Angga dan Laras juga berjualan dawet sebagai penutup acara.


*****


Hari memang sudah malam tapi acara tidak berhenti sampai disitu. Sekarang akan diadakan malam midodareni. Di mana keluarga pihak laki-laki menyambangi rumah pihak perempuan untuk membawa seserahan sekaligus silahturahmi. Acara ini hanya diperuntukan untuk keluarga saja tidak ada tamu dari luar.


Sementara calon pengantin perempuan tidak diperkenankan keluar alias berdiam diri di kamar. Untuk acara ini keluarga dan kerabat memakai kebaya dan beskap yang bernuansa lebih klasik atau kuno. Model kebaya tidak berbrokat dan beskap yang dipakai motifnya cerah.


Rombongan keluarga Arya sudah datang di rumah Isyan. Mereka disambut begitu hangat namun mereka hanya diperbolehkan sampai di teras rumah saja. Sehingga halaman rumah kusuma sudah dibangun tenda untuk acara malam ini.


"Terima kasih atas sambutan hangat dari keluarga Wijaya. Kami datang ke sini ingin silahturahmi sekaligus memberikan seserahan sebagai bentuk kasih sayang kami kepada Isyan. Yang kami bawa hanya seserahan sederhana tapi kami tulus memberikannya"ujar Angga.


"Kami terima seserahan ini sebagai wujud kasih sayang kalian kepada putri kami"jawab Kusuma.


"Selain itu kami ingin menyampaikan tentang mahar pernikahan"ujar Angga.


"Apa itu maharnya?"tanya Kusuma.


"Uang sebesar 3.000 poundsterling"jelas Arya mantap.


"Kenapa nggak rupiah?"tanya Rama.


"Rupiah udah mainstream. Sekali-kali bikin tamu kita agak pinter biar pada ngitung 3.000 poundsterling itu berapa rupiah"kata Surya melirik para tamu yang nampak terkejut dengan nilai maharnya.


"Wow sultan. Nggak nyangka kakak iparku sultan sekali ya"celetuk Dion dengan konyolnya dan mengundang tawa semua orang.


"Terima kasih pemberian mahar sebagai wujud keseriusan dan kemantapan kamu meminang putriku"ujar Kusuma.


"Untuk calon menantuku yang ganteng. Jaga kesehatan sampai besok akad. Minum air putih ini. Malam ini sampai besok pagi kamu harus puasa"ujar Ratih sambil mengelus bahu Arya lalu memberikan segelas air putih, yang merupakan salah satu bagian dari ritual yang bernama jonggolan.


"Makasih Mah"jawab Arya kemudian meminum air putih hingga habis begitu cepat.


"Kamu itu nggak minum berapa hari? Sampai gelagapan gitu"goda Rama.


"Dia bukannya menahan haus tapi menahan rindu sama Isyam"seru Surya yang mengundang tawa semua orang.


"Maaf ya Arya, kamu nggak bisa ketemu Isyan. Kan lagi dipingit"ujar Sinta yang membuat Arya tertunduk lesu.


"Nggak bisa ketemu tapi kan bisa ngomong. Nih ambil micnya kamu ngomong biar Isyan besok semakin mantap nikah sama kamu"ujar Rama memberikan mic pada Arya.


Arya menarik napas panjang untuk menghilangkan kegugupannya. Isyan berada di kamar tamu yang berada di bagian depan rumah, di mana jendela kamarnya berhadapan langsung dengan tempat acara.


"Isyana Wijaya, aku tidaklah lebih baik, dibanding semua laki-laki yang pernah mencoba masuk dalam kehidupanmu. Banyak hal salah dan buruk yang tlah aku lakukan di masa lalu. Namun entahlah, tiap kali aku ada disampingmu, selalunya aku merasa ingin menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Besok adalah hari pernikahan kita, siapkah kamu menjadi istriku?"tutur Arya begitu lembut.

__ADS_1


Isyan yang berada di kamar tersenyum malu. Dia tidak sendiri Rara menemaninya dengan beberapa tim perias pengantin.


"Ayo Kak jawab"pinta Rara menggerakkan tangan Isyan yang sudah memegang mic.


"Banyak hal yang terjadi di hidupku saat ada dan tidak adanya dirimu. Berjuang untuk cinta dan kebahagiaan adalah bagian dari hidupku. Sekarang aku sudah menemukan kebahagiaan bersamamu. Maka tidak ada keraguan sedikit pun dalam hatiku. Arya praditya, aku siap menjadi istri dan teman hidupmu"jawab Isyan.


"Uhh so sweett"seru semua orang yang terlena dengan ungkapan romantis dua sejoli itu.


Setelah ungkapan dari Arya kepada Isyan, Kusuma memberikan empat nasihat atau catur wedha sebelum pernikahan. Akhirnya rangkaian malam midodareni pun selesai. Semua tamu pun menikmati hidangan.


"Mah, Arya boleh izin ke toilet nggak? Kebelet banget nih"ujar Ary sambil memegangi jaritnya.


"Kamu itu udah gede dan mau nikah malah kaya anak lagi sunatan"ujar Laras geleng-geleng kepala.


"Ya udah sana ke kamar mandi. Yang ada di pojok ruang tamu ya. Jangan mampir-mampir"tegas Ratih memberi ultimatum.


Secepat kilat Arya masuk ke dalam rumah. Bukan toilet yang dia cari melainkan kamar tamu yang dipakai Isyan untuk bersembunyi.


Melihat kamar yang lampunya menyala dan pintunya dihias dengan bunga, Arya pun mendekati kamar itu. Arya hendak menyentuh kenok pintu namun tiba-tiba ada orang yang sudah membuka pintu dari dalam kamar. Dan ternyata yang keluar adalah Rara.


"Kakak ngapain kesini!"teriak Rara seperti melihat maling dan seketika Rara merapatkan lagi pintu kamar.


Mendengar rmRara berteriak, Isyan pun hendak berdiri dari ranjang.


"Nona Isyan nggak boleh keluar kamar sampai keluarga calon suaminya pulang. Duduk lagi aja"ujar ibu dukun manten.


"Oke deh"jawab Isyan pasrah.


"Sstt...nggak usah teriak juga kali. Kakak bukan maling"ujar Arya menempel jari telunjuk ke bibir Rara.


"Ih awas Kak, lipstik Rara rusak nih. Kakak ngapain kesini?"protes Rara.


"Kakak pengin banget ketemu Isyan, Ra. Plis sebentar aja, limamenit aja"ujar Arya memohon.


"No, never ever ever. Nggak boleh ketemu"tegas Rara.


Isyan sekilas mendengar perdebatan di depan kamar. Dan Isyan akhirnya tahu kalau arya mencoba untuk menyelinap masuk.


"Tapi Ra, kakak kangen banget sama Isyan"kata Arya merayu Rara.


"Bodo amat. Emang Rara peduli. Kan lagi dipingit. Nanti ketahuan mamah baru tahu rasa"ancam Rara.


Dan benar saja Ratih dan Laras datang bersamaan dengan wajah galak seperti ibu kos mau menagih uang bulanan. Keduanya langsung menjewer masing masing telinga Arya.


"Aduh Mah sakit! Kenapa dijewer!"rintih Arya memegangi kedua telinganya.


"Anak nakal! Udah dikasih tahu jangan mampir eh malah beneran mlipir. Mau mamah sunat lagi kamu?"omel Ratih.


"Malu-maluin aja kamu. Mamah tabok baru tahu rasa"sergap Laras.


Mereka pun membawa Arya pergi dan masih kondisi dijewer. Rara pun tertawa terbahak-bahak melihat nasib kakaknya. Rara pun masuk ke kamar lagi.


"Kenapa Ra?"tanya Isyan.


Rara pun menceritakan tragedi di depan kamar dan langsung membuat Isyan tertawa puas.


"Pasti panas tuh kuping dijewer sama mamah-mamah kita"ujar Isyan.


Sesampainya di halaman rumah, Laras dan Ratih masih mengomel. Dan hal itu menjadi lelucon yang menyegarkan bagi semua orang. Seorang Arya Praditya direktur utama PT. Surya Kontraktor malam ini menyelinap seperti maling demi bertemu calon istrinya.


"Syukurin lo. Salah sendiri"ejek Dion.


"Makanya jangan melawan mata elang para ibu-ibu"imbuh Angga tertawa.


Setelah acaa jamuan usai, keluarga Arya pun pamit untuk pulang. Agar mereka bisa beristirahat untuk acara besok.




__ADS_1


__ADS_2