Pengorbanan Cinta 1

Pengorbanan Cinta 1
Bab 55


__ADS_3

Hari terus berganti hingga tak terasa sudah dua bulan berlalu.


Setelah kejadian drama super lebay di rumah utama, keesokan harinya Dion dan Rara menceritakan apa yang dion temukan di Singapura tentang Gavin. Kini mereka yakin Gavin adalah Arya. Tapi pertanyaannya kenapa Pak Surya mengganti identitas Arya menjadi Gavin. Lalu siapa yang di makam? Apa itu Gavin yang sebenarnya? Tapi kenapa memakai jas milik Arya?


Sementara Isyan terus berusaha mencari bukti bukti lain tentang Gavin. Tapi sangat sulit, karena Isyan tak pernah melihat Pak Surya di kantor. Bahkan Isyan tak punya alasan untuk ke rumah Pak Surya untuk mencari bukti.


Tapi di sisi lain, ada kebahagiaan terpancar dari hati Isyan. Dia dan Gavin semakin dekat, bahkan gavin semakin perhatian pada isyan. Isyan tidak mau larut dalam perasaan ini. Karena Gavin perhatian kepada Ratna bukan Isyan. Terlebih lagi bagaimana pun pria itu sedang hilang ingatan. Yang dia tahu dirinya adalah Gavin bukan Arya. Jadi Isyan memantapkan hatinya untuk tidak menaruh harapan pada Gavin. Tapi, tak bisa dipungkiri Isyan sebenarnya juga bahagia. Setelah setahun lebih kesedihan membelenggu hidupnya, akhirnya Isyan mendapat perhatian dari orang yang dia cintai walaupun dengan identitas Ratna.


Tapi hal itu tidak membuat Isyan menyerah. Dia tetap bertahan sebagai sekertaris Gavin. Agar isyan bisa selalu dekat dengan dia. Keluarga Isyan pun tetap mendukung keputusan Isyan. Mungkin ini adalah jalan bagi pengorbanan cinta Isyan.


*****


Di kediaman keluarga Wijaya.


Karena usia kandungan Rara sudah memasuki bulan ketujuh, mereka memutuskan akan mengadakan acara tujuh bulanan. Karena keluarga Wijaya adalah orang Jawa maka mereka akan mengusung adat Jawa untuk acara tujuh bulanan Rara. Selain itu sebelum acara adat mereka akan menyelenggarakan doa bersama dengan ibu-ibu pengajian dan anak yatim piatu. Acara tersebut akan dilangsungkan minggu depan.


*****


Hari sudah hampir gelap. Jam menunjukkan pukul enam sore. Isyan masih di ruang meeting karena baru menyelesaikan meeting terakhir. Isyan pun membereskan semua berkas yang digunakan untuk meeting. Setelah pekerjaannya selesai, Isyan keluar dari ruang meeting dan menuju ruangan Gavin.


"Lah, Gavin kok udah pulang dulu?"ujar Isyan saat melihat Gavin tak ada di ruangannya.


"Ya gimana dong, dia harus memeriksa berkas-berkas ini"ujar Isyan bingungm


"Ya udah deh, antar aja ke rumahnya"ujar Osyan kemudian keluar dari ruangan Gavinm


Isyan mengambil tasnya, lalu keluar dari kantor menuju parkiran untuk mengambil mobil. Kini Isyan sudah menggunakan mobil pemberian papahnya untuk peran sebagai Ratna. Isyan pun menjalankan mobilnya menuju rumah Gavin.


*****


Gavin sudah sampai rumah, dia langsung memasukkan mobilnya ke garasi.


"Ya ampun, saking buru-burunya pulang aku sampai lupa berpamitan sama Ratna"ujar Gavin teringat dengan Ratna yang dia tinggalkan di ruang meeting.


Gavin keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Dia mencari keberadaan papahnya, dan pembantu mengatakan papahnya ada di ruang kerja. Dengan segera Gavin menuju ruang kerja yang ada di lantai dua.


Di ruang kerja, Surya sedang berdiri membelakangi meja kerja berdiri menatap foto putranya, yaitu Gavin yang sesungguhnya. Dia menangis sambil memgelus foto itu.


"Vin, sudah setahun lebih papah cari kamu, kamu di mana? Papah kangen sama kamu. Kenapa setelah kecelakaan pesawat itu papah nggak nemuin kamu"ujar Surya.


"Papah nggak punya siapa siapa lagi selain kamu anak papah satu satunya. Papah sudah mengerahkan semua anak buah papah buat cari kamu, tapi nggak ada hasil sama sekali"sambung Surya dengan air mata membasahi figura foto Gavin.


"Papah takut, jika pemuda itu ingatannya kembali maka papah akan kehilangan dia. Dia pasti akan kembali kekeluarganya"ujar Surya.


Tanpa surya ketahui, Gavin berdiri di ambang pintu mendengar semua yang dia ucapkan. Terkejut pasti, itulah yang tergambar dari wajah Gavin. Dia tidak menyangka bahwa pria yang selama ini dia anggap sebagai papahnya bukanlah keluarga aslinya.


"Jadi, aku bukan anak papah..."ujar Gavin dengan tatapan nanar dan setetes air mata lolos.

__ADS_1


Surya berbalik badan dan terkejut setengah mati saat Havin berjalan menghampirinya dengan tatapan marah dan penuh tanya.


"Pah jawab, apa semua yang papah bilang tadi benar? Lalu siapa keluargaku Pah?"teriak Gavin.


"Vin...papah..."


"Pah jawab Gavin!"tegas Gavin sambil menggoyangkan tubuh Surya.


"Papah selama ini bohongin aku. Pantas aja papah nggak pernah kasih tahu foto masa kecilku untuk membantu ingatanku pulih"ujar Gavin dengan emosi.


"Maafin papah Vin..."ujar Surya tertundukm


"Aku akan pergi dan cari tahu siapa keluargaku"ujar Gavin dengan tatapan tajam


Dada Surya seperti mendapat pukulan keras. Rasanya sesak mendengar perkataan Gavin. Tubuh Surya gemetar, rasanya jiwanya menghilang hingga tidak ada kekuatan lagi dalam dirinya.


Sementara Isyan sudah sampai di rumah Gavin. Dia pun bergegas masuk setelah dipersilahkan masuk oleh pelayan.


"Tuan besar dan tuan muda ada di ruang kerja"jelas pelayan.


"Biar saya sendiri yang ke sana. Terima kasih Bi"ujar Isyan lalu menaiki tangga.


Surya mendekati Gavin, berusaha menyentuhnya tapi ditepis oleh Gavin.


"Aku kecewa sama papah"ujar Gavin lalu hendak pergi.


Surya memegang dadanya yang terasa sangat sakit, pandangannya kabur dan semua berubah jadi gelap.


Tubuh surya langsung ambruk ke lantai dan tak sadarkan diri. Gavin berbalik badan dan menghampiri Surya yang sudah pingsan.


"Papah...papah...bangun"teriak Gavin mengguncangkan tubuh Surya.


"Pak Gavin..."ujar Isyan dengan ekspresi bingung saat berada di ambang pintu.


"Ratna tolong bantu saya, bawa papah ke rumah sakit"jelas Gavin


"Pak Surya kenapa?"tanya Isyan mendekati Gavin.


"Jantung papah kumat"ujar Gavin.


"Ya udah, ayo ke rumah sakit Pak"ujar Isyan.


Isyan membantu Gavin memapah Surya dan membawa masuk ke mobil Gavin. Gavin segera melajukan mobil menuju rumah sakit sementara Isyan berada di belakang menemani Surya.


"Pak cepat dikit dong, detak jantung Pak Surya melemah"ujar Isyan cemas.


"Iya ini saya juga udah ngebut"ujar Gavin gemeteran.

__ADS_1


"Papah bertahan ya.."lirih Gavin.


Setelah 25 menit perjalanan dengan kecepatan tinggi, mereka sampai di rumah sakit. Surya langsung mendapat penanganan di IGD. Gavin dan Isyan menunggu dengan harap harap cemas.


"Ini salahku, harusnya aku nggak bicara kasar sama papah. Apalagi papah punya riwayat sakir jantung"ujar Gavin penuh penyesalan.


"Pak Gavin tenang dulu, kita berdoa supaya Pak Surya selamat. Saya yakin Pak Surya kuat"ujar Isyan penuh kelembutan sambil mengelus punggu Gavin


Gavin yang sudah menangis sejak tadi tiba-tiba memeluk Isyan dan menangis divpelukannya. Isyan menelan ludahnya saat merasakan pelukan Gavin. Isyan pun membalas pelukan itu. Dan entah kenapa Gavin merasakan bahwa pelukan itu adalah pelukan yang pernah dia rasakan dan dia sangat merindukan pelukan itu.


"Menangislah jika itu menenangkanmu. Aku tidak tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi. Jangan tahu masalahmu, kamu saja tidak ingat denganku. Aku harap ini semua cepat berakhir"batin Isyan sambil mengelus punggung Gavin.


Setelah puas menangis dalam pelukan Isyan, Gavin melepas pelukannya. Isyan hanya tersenyum saat melihat Gavin sudah mulai tenang.


"Terima kasih kamu selalu ada di saat saya butuh"ujar Gavin menatap Isyan


"Sama-sama Pak..."balas Isyan.


"Tolong tetap di sini bersama saya. Saya butuh kamu"ujar Gavin sambil menggenggam tangan Isyan.


Isyan hanya tersenyum dan memberi anggukan pada Gavin. Melihat senyum tulus dari wajah wanita di hadapannya rasanya Gavin ingin menangkup wajah wanita itu dan menciumnya. Tapi dia sadar, belum ada keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada Ratna. Dia harus meyakinkan diri bahwa orang yang dia cintai memiliki perasaan yang sama dengannya.


Setelah satu jam lamanya, dokter keluar dari IGD. Dokter mengatakan bahwa Surya sudah melewati masa kritisnya karena untung saja Gavin dan isyan tidak terlambat membawanya ke rumah sakit. Karena kondisi jantungnya yang lemah diharapkan tidak memberi beban pikiran pada Surya. Mengingat penyakitnya bisa kambuh kapan saja. Setelah itu Surya dipindahkan ke ruang perawatan. Gavin setia menemani Surya, dia merasa bersalah telah membuat pria tua itu terkulai lemas karena penyakit jantungnya. Sementara Isyan memutuskan mengurus administrasi Surya.


"Sebenernya apa sih yang terjadi sama mereka. Sampai bikin Pak Surya kena serangan jantung"batin Isyan saat tiba di ruang administrasi.


Isyan pun mengurus administasi Surya. Sementara Gavin sedang membantu perawat memindahkan papahnya ke ruang rawat. Gavin setia duduk di samping papahnya menunggu sampai siuman.


Setelah urusan isyan selesai, dia pergi ke ruang rawat Surya. Isyan sudah tahu di kamar mana Surya dipindahkan karena itu yang tertera di kertas administrasi.


Isyan mengetuk pintu sebelum masuk. Dilihatnya Gavin yang duduk termenung menunggu Surya siuman.


"Pak Gavin, sebaiknya bapak makan dulu. Saya nggak mau bapak sakit"ujar Isyan memberi pengertian.


"Nanti saja, saya mau nunggu papah siuman"ujar Gavin dengan lemahm


Isyan sebenarnya tidak tega melihat kondisi Gavin seperti ini. Isyan ingin berusaha membujuk Gavin supaya mau makan. Mengingat kondisi Gavin juga lemah.


"Begini saja, saya belikan makanan di kantin rumah sakit ya Pak"ujar Isyan.


"Baiklah jika kamu tidak keberatan"ujar Gavin tersenyum tipis.


Isyan pun bergegas pergi ke kantin membeli makanan untuk Gavin. Tak berapa lama setelah kepergian Isyan, tangan Surya bergerak. Dia mulai siumam. Gavin memanggil dokter untuk memeriksanya. Dokter berkata kondisinya sudah lebih baik. Gavin pun senang mendegarnya. Lalu Gavin menggenggam tangan Surya dan menatapnya dengan lekat.


"Nak...mungkin sudah saatnya kamu tahu kebenarannya. Papah tidak mau jadi orang egois"ujar Surya.


"Pah, nggak usah pikiran itu dulu. Aku minta maaf karena aku nggak bisa mengendalikan emosi"ujar Gavin.

__ADS_1


"Nggak Vin, papah bakal kasih tahu kamu semuanya..."ujar Surya kekeh.


__ADS_2