
Keesokan paginya, Angga dan Laras pamit untuk kembali ke Bandung. Setelah Angga dan Laras berangkat ke bandara tentu saja Dion dan Isyan bergegas pergi ke kantor.
Hari ini akan ada meeting penting dengan perusahaan kontraktor yang akan bekerja sama dengan Wijaya Group mengenai proyek pembangunan hotel yang diinginkan Isyan. Isyana punya rencana membangun hotel yang didedikasikan khusus untuk kekasihnya, mendiang Arya.
"Arum...nanti kamu data perusahaan mana saja yang datang dan siapa nama yang mewakili perusahaan itu"perintah Isyan yang masih duduk di kursinya.
"Baik Bu.."ujar Arum.
"Kamu ke ruang meeting dulu lihat apa semua sudah hadir. Jika sudah baru saya dan Isyan datang"tambah Dion.
"Baik Pak, Bu saya permisi"ujar Arum keluar dari ruangan Isyan dan menuju ruang meeting.
Beberapa calon kontraktor datang dan memilih tempat duduk yang akan mereka tempati. Lalu Arum pun masuk dan mendata nama mereka dan nama perusahaan. Sementara di luar gedung Wijaya Group berhentilah sebuah mobil di depan gedung. Turunlah seorang pria memakai jas berwarna abu abu dan kaca mata hitam dengan rambut klimis dan wajah yang cool. Dia melangkah masuk ke dalam gedung dengan langkah yang mantap dan berwibawa.
Semua orang yang melewatinya dibuat terpesona dengan kharismanya bahkan sampai mulutnya menganga. Pria itu pergi menuju ruang meeting gedung Wijaya Group.
"Maaf..apa saya terlambat?"tanya pria itu didepan pintu ruang meeting.
"Oh hampir. Saya baru mendata peserta meeting. Silahkan masuk"jawab Arum ramah.
Pria itu pun duduk sambil mengibaskan jas dengan coolnya.
"Maaf Pak bisa dilepas kacamata hitamnya? Siapa nama anda dan dari perusahaan mana?"tanya Arum pada pria itu.
Pria itu melepas kacamatanya dan menoleh ke arah Arum.
"Saya Gavin Saputra dari PT Surya Kontraktor"seru Pria itu
Arum terperanjat matanya terbelalak saat melihat wajah pria itu. Rasanya tubuhnya melemas, kakinya bergetar, dan mulutnya kaku untuk berbicara.
"Kenapa dia mirip Pak Arya? Kok bisa?"batin Arum.
Arum pun berlari keluar ruang meeting. Pria itu menatap Arum dengan ekspresi aneh dan nampak tidak peduli
Sepuluh menit kemudian, Arum kembali ke ruang meeting dan membawa laptop lalu menyiapkan presentasi. Tak berapa lama menyusulah Isyan dengan langkah yang anggun, tegas, dan berwibawa bersama Sion yang mengikutinya. Isyan duduk di kursi utama menghadap kepada semua peserta rapat dengan tatapan dingin, terkesan galak tapi tidak mengurangi kecantikannya. Lalu Dion menjelaskan konsep hotel yang ingin mereka buat.
Setelah presentasi, Dion pun duduk. Giliran para kontraktor yang mempresentasikan perusahaan mereka dan penawaran kerja. Terlihat Isyan sudah mulai bosan dan muak dengan pandangan para pria tua berperut buncit itu yang mencoba menggodanya. Lalu tibalah giliran pria berkarisma itu yang tak lain adalah Gavin. Saat Gavin akan berdiri tiba-tiba Isyan menggebrak meja dengan keras.
Isyan berdiri dan menggebrak meja dengan kedua tangannya menatap tajam ke semua para pria di depannya yang membuat semua terperanjat.
"Kalian mau presentasi atau mau menggodaku hah? Kalian lupa kalian sedang merebutkan proyek siapa? WIJAYA GROUP!"tegas Isyan dengan penuh emosi dan penekanan disetiap kata-katanya.
"Kalian mau main-main denganku? Kalian pikir, kalian itu siapa? Berani kalian macam-macam akan aku hancurkan kalian"ujar Isyan menunjuk mereka semua.
"Aku beri kalian kesempatan. Sekarang pergi dari kantorku, perbaiki presentasi dan buang sikap buaya kalian. Besok kembali ke sini untuk presentasi. Jika kalian ulangi kesalahan seperti tadi, aku pastikan perusahaan kalian akan hancur dalam semalam"tambah Isyan menegakkan kepalanya.
"Maaf Nona Isyan..tapi saya belum presentasi"timpal Gavin dengan wajah tidak suka yang sudah menahan rasa kesal.
"Siapa yang menyuruhmu bicara? Paling kamu sama saja dengan yang lain. Cepat kalian keluar!!"teriak Isyan menunjuk pintu keluar.
Dengan cepat mereka berlari terbirit-birit keluar dari ruang meeting, sementara Gavin menatap Isyan dengan tatapan kesal lalu membuang muka dan pergi. Tiba-tiba Isyan menjatuhkan diri ke kursi dan menghela napas panjang karena dadanya terasa sangat sesak.
"Arum kamu keluar!"perintah Dion.
Arum pun keluar dan menutup pintu ruang meeting. Seketika tangis Isyan pecah dan Dion langsung memeluk Isyan dengan erat.
Flash back on
__ADS_1
Arum keluar dari ruang meeting setengah berlari menuju ruangan Isyan.
"Bu..Bu Isyan!"teriak Arum.
"Kenapa teriak? Peserta meetingnya kabur?"ketus Isyan.
"Bukan Bu. Ibu harus melihatnya sendiri"ujar Arum.
Dion dan Isyan saling menatap lalu mengikuti Arum. Karena dinding ruang meeting sepenuhnya kaca yang bagian bawahnya buram mereka bertiga bisa mengintip dari luar.
"Arya!!"lirih Isyan saat melihat pria mirip dengan Arya.
"Bu saya tidak tahu kenapa dia mirip Pak Arya tapi dia mengaku namanya Gavin Saputra dari PT Surya Kontraktor"jelas Arum.
Antara senang dan sedih, Isyan nampak kacau dia ingin berlari dan memeluk pria itu sambil menangis, karena rasa rindu teramat sangat terhadap Arya.
"Syan...tahan dirimu. Kita harus tahu dia Arya apa bukan. Jika kamu lemah maka kita tidak bisa tahu apa dia kenal kamu atau tidak"jelas Diommemegang pundak Isyan.
"Oke...kita masuk"ujar Isyan menguatkan dirinya dan menarik napas panjang.
Lalu mereka bertiga masuk ke ruang meeting seolah-olah tidak mengenal pria itu. Isyan sedari tadi berusaha bersikap angkuh tapi karena tidak sanggup dia meluapkan emosinya dengan menggebrak meja san mengusir semua orang agar pergi.
Flash back off
Setelah keluar dari gedung Wijaya Group pria itu yang bernama Gavin mengumpat di dalam mobil karena kesal.
"Bisa-bisanya ada wanita seangkuh dia. Dia pikir dia itu siapa? Memang dia pikir dia paling cantik? Siapa juga yang mau menggoda dia? Dasar gila! Aku belum presentasi ikut diusir juga. Sialan!"umpatnya sambil memukul setir.
Gavin pun kembali ke kantornya dan masuk ke dalam ruangannya.
Surya adalah papahnya Gavin, dia sudah sedari tadi duduk di sofa di ruangan anaknya.
"Apanya yang diundur? Orang kita semua diusir"gerutu Gavin.
"Hah? Kok diusir? Kenapa?"tanya Surya.
Gavin pun menceritakan semuanya melampiaskan kekesalannya. Surya bukannya ikut marah malah dia tertawa keras sampai memegangi perutnya.
"Papah kenapa ketawa? Apa yang lucu coba?"omel Gavin.
"Vin..kamu ini kurang pergaulan atau gimana sih? Semua orang juga tahu kalau Isyan Wijaya itu dingin, galak, dan angkuh dan itu hanya di dunia bisnis. Tapi dia baik karena, papah sering li at dia ikut kegiatan amal"ujar Surya.
"Baik kok ngusir orang. Harusnya ngomong baik-baik dong"celetuk Gavin.
"Ya logikanya...wanita sesukses dan sekaya Isyan digoda om-om perut buncit ya mana mau. Jelaslah dia marah"balas Surya sambil tertawa.
"Hhmm...untung aku bukan om-om"timpal Gavin
"Ya sudah kamu perbaiki saja presentasinya. Ini kesempatan emas untuk perusahaan kita kalo bisa kerja sama dengan Wijaya Group. Bukankah ini impian kamu punya proyek membangun hotel apalagi hotel milik Wijaya Group pasti nama perusahaan kita semakin naik"ujar Surya tersenyum.
Sementara Isyan dan Dion masih berkutat dengan pikiran mereka tentang pria yang mirip dengan Arya.
"Siapa namanya tadi?"tanya Isyan.
"Gavin Saputra putra dari Surya Saputra pemilik PT Surya Kontraktor"jawab Dion sambil membaca artikel di laptopnya.
"Kenapa dia mirip dengan Arya dan dianjuha tidak mengenali aku? Setahuku Arya tidak punya kembaran. Terus PT Surya itu apa coba aku baru denger"timpal Isyan yang merasa sangat kacau.
__ADS_1
"PT Surya sedang naik daun saat ini karena berhasil mengerjakan proyek pembangunan gedung perkantoran di singapura satu tahun yang lalu. Dan Pak Surya baru memperkenalkan pimpinan yang baru yaitu Gavin putranya"terang Dion sambil membaca artikel tentang PT Surya Kontraktor.
"Nggak mungkin...ini aneh. Apa bener dia anaknya Pak Surya? Wajahnya mirip dengan Arya"tanya Isyan
"Entahlah. Tapi di artikel fotonya dia semua. Soalnya Pak surya juga baru memperkenalkan anaknya"imbuh Dion.
Isyan menggaruk pelipisnya dan mencoba berpikir.
"Besok mereka masih akan datang untuk presentasi dan memperebutkan tender. Aku mau tahu semua tentang Pak Surya dan anaknya"perintah Isyan.
"Baik Syan"jawab Dion sigap.
"Tapi...kita harus rahasiakan ini dari keluarga kita Yon. Aku nggak tau dia Arya atau siapa tadi namanya.."
"Gavin.."sambung Dion.
"Ya itulah namanya. Tapi saat aku melihat wajahnya rasanya aku pengin banget meluk dia, rasanya sama seperti saat aku bersama Arya"ujar Isyan dengan wajah sendunya.
"Syan...kita cari tahu dulu kebenarannya. Sekarang jangan terlalu mekikirkan hal ini dulu"ujar Dion menenangkan Isyan.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Seperti biasa Isyan selalu lapar jika lembur bekerja. Isyan memutuskan ke dapur dan membuat susu.
"Kak Isyan!!"panggil Rara yang membuat Isyan terperanjat.
"Dek...pelan kali kalo manggil"ujar Isyan.
"Kakak buat apa?"tanya Rara.
"Susu"jawab Isyan sambil mengaduk susu.
"Kak...boleh minta buatin Rara susunggak? Tiba-tiba Rara kangen Kak Arya pengin deh diperhatiin Kak Arya apalagi lagi hamil kayak gini"ujar Rara sambil mengelus perutnya.
Isyan terdiam dan tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya. Tapi dengan cepat dia menghapusnya. Isyan pun berbalik badan dan menghampiri Rara.
"Adik iparku yang cantik...jangan sedih kakak buatin susu kok buat kamu. Kalau perlu tiap malam kakak buatin. Anggep aja Kak Isyan adalah Kak Arya"ujar Isyan berusaha tersenyum tegar.
"Makasih Kak,kakakbmemang persis seperti Kak Arya, perhatian banget"balas Rara dengan senyum.
Lalu Isyan membuatkan susu ibu hamil untuk Rara.
"Nih diminum"ujar Isyan menyodorkan segelas susu lalu Rara meminumnya sampai habis.
"Ya udah Kak...Rara balik ke kamar ya, pasti Mas Dion nungguin"ujar Rara pamit pergi ke kamar.
Isyan terdiam memikirkan kejadian tadi pagi. Melihat wajah Gavin sangatlah mirip dengan Arya. Walaupun penampilannya berbeda, Arya yang lemah lembut, tampan,dan murah senyum berbeda dengan Gavin yang angkuh, cuek, dan sok cool.
"Dia itu siapa? Kalo dia Arya kenapa dia tidak mengenali aku? Setelah sekian lama kenapa perasaan ini muncul lagi"lirih Isyan dengan perasaan rindu terhadap sosok Arya.
"Ihh Isyan...nggak usah mikirin itu terus. Oke fokus. Selidiki dulu"ujar Isyan pada dirinya sendiri.
Sementara di kediaman Surya, Gavin sudah merebahkan tubuhnya di ranjang. Gavin tiba-tiba memikirkan wajah Isyan saat pertama kali masuk ke ruang meeting itu, lalu wajah Isyan saat emosi menurutnya sangatlah menawan.
"Sialan! Kenapa aku memikirkan wanita angkuh dan sombong itu"gerutu Gavin mengacak acak rambutnya.
"Tapi kalau dipikir cantik sih tapi ganas. Menyebalkan! Mentang-mentang kaya raya"umpat Gavin sambil meremas guling.
"Tapi, aku seperti tidak asing dengan wajahnya, aku seperti sudah mengenalnya. Padahal aku baru pertama kali melihatnya"batin Gavin sambil memejamkan mata.
__ADS_1