
Keesokan harinya.
Dion sudah tiba di Jakarta. Dia memilih pulang ke rumah untuk menemui Rara. Sesampainya di rumah, Dion menceritakan penemuan menggemparkan bagi dunia. Rara pun tak menyangka bahwa Gavin yang selama ini mereka kenal bukanlah Gavin yang bekerja sama dengan perusahaan di sSngapura.
Mereka pun menyimpulkan bahwa bisa jadi Gavin yang mereka kenal itu Arya. Tapi yang membuat mereka bingung adalah bagaimana Pak Surya bertemu dengan Arya dan membuat pengakuan bahwa dia itu adalah Gavin. Lalu siapa yang ada di makam?
"Jadi?"tanya Rara setelah Dion selesai berpidato panjang kali lebar kali tinggi.
Dion hanya mengangkat kedua bahunya sambil memiringkan bibirnya.
"Isyan perlu tahu juga kan?"ujar dion
"Aku bingung Mas. Di sisi lain kita belum tahu alasan Pak Surya membuat pengakuan bahwa Kak Arya itu Gavin. Di sisi lain Kak Isyan sudah nyaman dengan perannya sebagai Ratna"ujar Rara.
Tiba-tiba HP Dion berdering. Dion menerima telpon dari Arum sekertaris Isyan. Arum memberitahu bahwa akan ada beberapa meeting penting. Dion pun pamit pergi ke kantor pada Rara.
*****
Jam menunjukkan pukul 12 siang. Saatnya makan siang, tapi kali ini Dion akan makan siang sekaligus meeting dengan klien yaitu Gavin untuk membahas perkembangan pembangunan Arya Hotel.
Gavin memilih salah satu restoran seafood terkenal di pusat kota. Gavin pun sudah memesan beberapa menu spesial untuk makan siang kali ini. Dion pergi ditemani oleh Arum sementara Gavin pergi dengan Isyan alias Ratna sekertarisnya.
Sesampainya di restoran, mereka memilih untuk meeting terlebih dahulu sebelum makan siang. Sesekali Dion menahan tawa melihat sikap Isyan yang cukup konsisten sebagai sekertaris, apalagi dengan penampilan super culun ala Ratna. Arum yang juga mengetahui penyamaran Isyan, hanya bisa tersenyum tipis melihat ekspresi Isyan yang menatap tajam mereka.
Kemudian meeting selesai, pelayan restoran pun menghidangkan menu pesanan Gavin. Setelah makanan terhidangkan Gavin mempersilahkan untuk makan. Dion mengambil salah satu menu seafood yang nampak sangat menggoda. Dion pun memakannya dengan lahap. Baru 5 menit setelah makanannya ditelan, Dion merasa gatal ditubuhnya dibarengi dengan batuk-batuk, dan keringat dingin.
"Dion kamu kenapa?"tanya Gavin terkejut.
"Aduh Pak Dion, kenapa ini?"sambung Arum tak kalah panik.
"Dia alergi kerang"seru Isyan khawatir tingkat dewa.
"Bagaimana kamu tahu?"tanya Gavin.
Isyan terdiam saat Gavin menyambarnya dengan pertanyaan itu. Isyan langsung berpikir alasan yang tepat untuk menjawabnya. Karena jelas Isyan tahu Dion alergi kerang sejak kecil.
"Aduh Pak, saya lihat kalau makanan yang Pak Dion makan itu dari kerang. Terus efeknya Pak Dion langsung gatal dan batuk begini, artinya dia alergi dengan kerang"jelas Isyan.
"Terus kita harus bagaimana?"tanya Arum.
"Ya dibawa ke rumah sakitlah, masa pondok pesantren gimana sih?"omel Isyan dengan nada tinggi.
"Arum, biar saya dan Ratna yang bawa Dion ke rumah sakit. Kamu kembali ke kantor dan hubungi keluarganya"ujar Gavin.
Gavin langsung memapah Dion keluar restoran membawa Dion ke rumah sakit dengan segera. Setelah 20 menit perjalanan, mereka sampai di rumah sakit dengan segera Dion masuk ke UGD untuk mendapat penanganan.
"Maaf, yang mengantar pasien harap mengurus administrasi"ujar seorang perawat menghampiri Gavin dan Isyan
"Biar saya saja Pak"ujar Isyan mengikuti perawat itu.
Setelah kepergian Isyan, keluarga Wijaya pun sampai di rumah sakit. Mereka bergantian bertanya pada Gavin apa yang terjadi dengan Dion dan bagaimana keadaan Dion. Gavin menceritakan semua kejadiannya. Setelah itu keluarlah dokter dari ruang UGD.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?"tanya Rara.
"Keadaannya baik, saya sudah beri penanganan untuk mengatasi iritasi di kulit serta memberi obat anti alergi. Untuk iritasi di tenggorokan efeknya akan batuk kering kurang lebih tiga hari. Tapi ruam di kulit bisa sampai seminggu"terang dokter.
"Apa perlu rawat inap, Dok?"tanya Sinta.
__ADS_1
"Tidak perlu. Nanti malam pasien bisa pulang ke rumah"ujar dokter.
"Apa kami boleh masuk, Dok?"tanya Rama.
"Silahkan"ujar dokter mempersilahkan.
Keluarga Wijaya dan Gavin pun masuk ke UGD. Rara pun langsung memeluk Dion dengan penuh rasa khawatir dan menangis sesenggukan.
"Hei kenapa kamu menangis? Aku cuma alergi makanan bukan alergi oksigen"ledek Dion.
"Ih kamu ini, istri khawatir juga"gerutu Rara memukul lengan Dion pelan.
"Dion maaf, aku tidak tahu jika kamu alergi dengan kerang"ujar Gavin pelan dengan wajah bersalah.
"Tidak apa-apa Vin, kamu kan nggak tahu. Aku juga tadi nggak paham kalau makanan yang aku ambil itu ternyata kerang"ujar Dion tersenyum.
"Mungkin Gavin bisa kembali ke kantor. Kamu pasti sibuk. Biar kami yang menjaga Dion"ujar Kusuma.
"Tapi..."
"Nak Gavin, ini hanya masalah kecil. Tidak perlu terlalu dibesar-besarkan. Kami juga berterima kasih sudah sigap mengantar Dion ke rumah sakit"sambung Ratih.
"Baik kalau begitu, saya permisi"ujar Gavin lalu keluar dari UGD.
Saat Gavin keluar dari UGD, Isyan yang sejak tadi mengintip langsung bersembunyi di balik tiang pembatas ruangan. Segera Isyan masuk ke UGD untuk melihat keadaan sepupunya.
"Yon, kamu masih hidup kan?"tanya Isyan dengan napas naik turun mengagetkan semua orang.
"Hei..kamu pikir aku keracunan sianida apa?"celoteh Dion.
"Isyan kalau masuk itu salam dulu, kamu dateng-dateng malah ngagetin"ujar Ratih.
"Oke aku diusir. Bye!"gerutu Isyan langsung berjalan dengan langkah cepat menyusul Gavin.
Sementara Gavin sudah ada di teras depan rumah sakit mencari keberadaan Ratna, padahal dia sudah ke bagian administrasi tapi Ratna tidak ada.
"Pak Gavin!"panggil Isyan dengan napas tersengal-sengal.
"Kamu itu dari mana saja?"tanya Gavin.
"Maaf Pak, saya dari toilet"ujar Isyan perlahan mengatur napasnya.
"Ya sudah, kita balik kantor. Keluarganya Dion sudah datang semua"ujar Gavin.
Isyan pun mengangguk lalu mengikuti Gavin masuk ke mobil dan kembali ke kantor.
*****
Sebentar lagi jam pulang kantor. Tapi karena hari ini hari jumat dan besok weekend, Isyan ingin menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum pulang. Setelah dua jam berlalu pekerjaan Isyan selesai tepat saat jam pulang kantor.
"Hei Ratna!"sapa Aldo yang berdiri di depan meja kerja Isyan.
Isyan membalas dengan senyum sembari membereskan tasnya.
"Ratna, pulang bareng yuk!"ajak Aldo menghampiri Isyan yang baru saja berdiri sambil memegang tasnya.
Tak berapa lama Gavin keluar dari ruangannya, dan mendengar perkataan Aldo. Sontak saja, Gavin merasa tidak suka dan terlihat kesal.
__ADS_1
"Kamu pulang sama saya!"seru Gavin dengan tatapan sinis lalu menarik Isyan.
Bukan tangan Isyan yang Gavin tarik melainkan tas Isyan. Dengan kekesalannya Gavin menarik tas Isyan padahal Isyan sudah berteriak bahkan sampai menahan tarikan Gavin. Hingga mereka sampai di lobi, Isyan dan Gavin jadi bahan tontonan karyawan. Ada tatapan terkejut, dan ada tatapan tidak suka ketika melihat kedekatan Si Culun Ratna pergi dengan direktur utama yang tampan.
"Lihat sekertaris culun itu, dia dekat dengan direktur."
"Ternyata di balik penampilannya yang culun ada jiwa penggoda."
"Kayaknya dia udah ngerayu Pak Direktur."
Isyan sudah berpikir pasti dia akan dikira menggoda Gavin. Apalagi Gavin terus menyeretnya hingga keluar dari kantor dan menuju mobil yang sudah siap di depan kantor.
"Pak lepasin tas saya"teriak Isyan lalu menarik tasnya dengan kuat hingga akhirnya pegangan tasnya putus.
Isyan terbelalak melihat pegangan tasnya lepas. Sementara Gavin hanya menatap dengan ekspresi datar.
"Kan putus..."ujar Isyan dengan rasa kesal di ubun-ubun
"Siapa suruh kamu narik tas kamu"bela Gavin tanpa rasa bersalah.
"Bapak yang apa-apaan. Main narik tas saya seenak jidat bapak. Dari tadi saya sudah teriak minta dilepasin tapi bapak tambah kenceng nariknya. Mana semua karyawan ngeliatin kita"gerutu Isyan memandangi tasnya yang rusak.
"Sudah masuk mobil"ujar Gavin.
Isyan menghentakkan kaki lalu memukulkan tasnya ke lengan Gavin melampiaskan kekesalannya kemudian masuk ke dalam mobil. Gavin pun menyusul Isyan masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan Isyan memasang wajah cemberut dan Gavin sesekali melirik dan menahan tawa melihat ekspresi Isyan yang menggemaskan. Gavin melajukan mobil menuju mall. Sesampainya di mall mereka pun turun dan Gavin mengajak Isyan menuju salah satu store tas branded yaitu Gucci.
"Pilihkan tas terbaik untuk wanita ini"ujar Gavin pada salah satu karyawan.
Karyawan itu mengajak Isyan untuk memilih tas. Isyan pun dengan santai memilih tas branded itu, karena bagi Isyan belanja barang branded sama seperti membeli jajan di depan sekolah.
Isyan pun menjatuhkan pilihannya pada tas ukuran medium warna salem dan ada beberapa akses gold sebagai pengait. Karyawan itu membawa tas Isyan ke kasir diikuti oleh Isyan sementara gavin sudah menunggu di kasir untuk melakukan pembayaran.
"Ini nona tasnya"ujar karyawan memberikan tas itu pada Isyan.
"Terima kasih. Oh ya kalau boleh tahu berapa harganya?"ujar Isyan.
"150 juta nona"ujar karyawan tersenyum.
"Ohh cuma 150 juta"ujar Isyan santai sambil memasukan barang-barangnya ke tas barunya
Gavin mengernyitkan dahi dan menatap heran ke arah Isyan mendengar jawaban super santai dari wanita culun itu ketika mendengar harga tasnya yang tergolong sangatlah mahal untuk ukuran seeorang sekertaris culun yang tidak modis sama sekali.
"APA 150 JUTA???"teriak Isyan dengan ekspresi terkejut yang agak dibuat-buat tak lupa mulutnya menganga lebar.
Karena Isyan menyadari tatapan Gavin, Isyan pun sadar melakukan kesalahan karena terlalu santai mendengar harga tasnya. Hingga akhirnya dia pura-pura terkejut mendengar harga tas itu.
"Pak ini mahal sekali. Tas saya aja nggak sampai 500 ribu. Saya nggak ada uang untuk mengganti pembayaran tas ini"ujar Isyan tidak enak hati.
"Saya membelikan itu untuk kamu. Karena tas kamu rusak. Memangnya kamu mau pakai tas rusak ke kantor? Nanti apa kata karyawan sekertaris Gavin pakai tas rusak"ujar Gavin.
"Aduh Pak, saya tetep aja punya hutang sama bapak"ujar Isyan.
"Ya sudah biar hutang kamu lunas, kamu jangan lagi dekat-dekat dengan Aldo"ujar Gavin.
"Yah bapak curang..."rengek Isyan.
"Kalau tidak mau ya sudah. Hutang kamu 150 juta"tegas Gavin lalu berjalan meninggalkan store itu.
__ADS_1
Isyan memutar bola matanya malas. Rasa jengah mendengar hal yang sama dari mulut Gavin. Akhirnya Isyan pun menurut saja karena sudah malah berdebat. Gavin pun mengajak Isyan mampir makan di restoran di mall itu sebelum akhirnya Gavin mengantar Isyan ke apartemen.