Pengorbanan Cinta 1

Pengorbanan Cinta 1
Bab 61


__ADS_3

Pagi yang cerah, setelah dini hari hujan mengguyur bumi. Memberi kesejukan di pagi hari. Udara begitu segar di mana embun menetes begitu lihai. Akibat teteas air hujan yang menepi di pepohonan.


Pagi ini Rara ditemani sang mamah melakukan jalan pagi keliling kompleks perumahan keluarga Wijaya. Sudah lama Laras tidak bertemu dengan putri kesayangannya.


"Gimana keadaan kandunganmu Ra?"tanya Laras.


"Baik Mah. Bayinya juga sehat"jawab Rara.


"Terus kabar kakak kamu bagaimana?"tanya Laras.


"Kak Isyan maksudnya?"tanya Rara.


"Itu..yang mirip Arya"ujar Laras.


"Oohh..."ujar Rara lalu diam.


Rara bingung harus jawab apa. Rara tidak berani menceritakan semuanya. Menurut Rara, hanya Isyan yang berhak bercerita lebih dulu. Setelah merasa lelah berjalan, mereka berdua kembali ke rumah keluarga Wiijaya.


Terlihat sudah ada beberapa mobil pick up yang terparkir di depan rumah. Mereka menurunkan kursi, meja dan beberapa alat untuk menyiapkan katering serta beberapa pelengkap untuk dekorasi. Laras nampak terkejut dan melongo melihat semua ini.


"Mamah nggak usah kaget. Mamah tahu kan kalau udah urusannya sama keluarga Wijaya pasti nggak bakal nanggung-nanggung"ujar Rara terkekeh.


"Ini semua Ratih dan Sinta yang urus?"tanya Laras.


"Ya iyalah Mah. Siapa lagi? Nggak mungkin Kak Isyan. Kayaknya mamah harus terbiasa lihat kementeran keluarga ini"ujar Rara terkekeh.


"Iya kamu bener. Udah yuk masuk"ajak Laras memasuki rumah.


Sesampainya di dalam rumah mereka langsung bergabung untuk sarapan bersama. Pagi ini nampak suasana begitu hangat penuh rasa kebersamaan.


"Nanti kalian berdua nggak usah ke kantor. Soalnya orang butik mau bawain baju ke sini. Kita suruh fitting terakhir sebelum besok dipake"ujar Ratih menatap Isyan dan Dion bersamaan.


"Emang siapa juga yang mau ke kantor. Aku kan juga mau bermanja-manjaan sama istri aku"ujar Dion.


Rara tersipu malu hingga mukanya memerah karena Dion semakin lama semakin pintar merayu. Semua orang hanya tertawa geli mendengar perkataan Dion.


"Idih...bukannya mau punya anak itu semangat kerja bukannya manja ke istri. Dasar bucin"balas Isyan.


"Bilang aja sirik. Jomblo emang selalu sirik"gerutu Dion.


"Ini kalian bisa nggak kalo nggak ribut sehari. Mamah itubpusing dengernya"tegur Sinta.


"Masih untung ributnya di meja makan coba kalo ributnya di perusahaan pasti hawanya jadi horor"celetuk Kusuma.


"Iya emang Om. Isyan itu pembawa hawa horor. Udah angkuh, dingin, galak lagi"sahut Dion.


Isyan pun mencubit lengan Dion yang kebetulan duduk di sebalahnya. Hingga Dion meringis kesakitan.


"Mulut ember bisa diem nggak?"tegas Isyan penuh kekesalan.


"Mas...nanti beliin Rara es tebu dong. Tiba-tiba Rara kepengin minum es tebu"pinta Rara.


"Emang nyari di mana?"tanya Dion.


"Kayaknya di sekitar alun-alun kota atau deket pasar ada. Papah pernah lihat soalnya"sahut Angga.


"Tapi Mas, aku maunya es tebunya itu yang jual harus bapak-bapak umur 50 tahunan pokoknya yang udah tua terus gerobaknya didorong"sambung Rara.

__ADS_1


Semuanya orang tertawa mendengar permintaan Rara yang semakin tetap absurd. Dion menepuk dahinya sambil menunduk, karena Dion tahu pasti dia akan kelelahan mencari bahan nyidaman istrinya.


"Ya udah, nanti setiap aku nemu penjual es tebu aku tanyain nama, umur, alamat, pendidikan terakhir, dan jumlah anaknya"ujar Dion sambil meringis menahan rasa kesal.


"Semangat Dion, aku bantu doa ya. Aku bacain surat yasin"ujar Isyan tertawa.


"Emangnya mau tahlilan baca yasin"celetuk Sinta.


"Diem deh Syan"gerutu Dion.


*****


Arya masih berada di rumah sakit. Dia baru menyelesaikan sarapannya bersama Surya di ruang rawatnya. Tak lama kemudian dokter pun memeriksa keadaan Arya.


"Dok kapan saya boleh pulang?"tanya Arya.


"Kemungkinan besok. Saya harus memastikan jika tidak ada hal serius pada kepala anda. Karena anda pernah mengalami gegar otak cukup serius"ujar dokter.


"Tapi luka saya hanya lecet biasa dok"ujar Arya.


"Arya, dengarkan apa kata dokter. Jika kamu menuruti perkataan dokter maka akan semakin cepat kamu pulih dan bisa bertemu dengan keluarga kamu"ujar Surya.


"Baiklah"jawab Arya pasrah.


Lalu dokter meninggalkan ruangan Arya. Arya menghela napas panjang. Dirinya merasa menyesal karena telah menyatakan perasaannya pada Ratna. Walaupun Arya tahu ratna itu Isyan. Tapi Arya paham pasti Isyan sakit hati ketika dirinya mencintai wanita lain dan tidak mengingat Isyan sama sekali.


Arya sangat merindukan senyum, tawa, dan pelukan Isyan. Ketulusan cinta Isyan begitu bermakna untuk dirinya. Mengingat sangatlah sulit menaklukkan hati dingin Isyan.


"Aku sangat merindukanmu Syan..."


"Apa kamu juga merindukanku?"desis Arya sembari memejamkan mata.


*****


"Wah wah...kita udah kaya keluarga keraton aja"ujar Kusuma saat dirinya memakai beskap.


"Duh suami aku tampannya. Jadi tambah cinta deh"goda Ratih.


"Aku udah kaya Pak h.Haji belum nih?"tanya Rama saat mencoba baju kokohnya dengan peci.


"Wah cocok banget pah. Habis ini langsung nggantiin Ustad Solmed ceramah di TV, Pah"seru Dion sambil mengacungkan jempolnya.


"Gimana penampilanku?"tanya Rara saat mencoba baju khusus siraman yang berwarna merah.


"So seksi dan menggoda sayang..."ujar Dion dengan ekspresi muka seperti digoda wanita club.


"Dion sabar ini masih jam 10 pagi. Tolong ditahan napsunya"celetuk Sinta yang membuat semua orang tertawa.


Lalu munculah Isyan dari kamar tamu yang habis mencoba kebaya miliknya. Semua menoleh dan langsung menganga saat melihat Isyan memakai kebaya dengan rambut tergerai ke samping. Sangat sangatlah cantik seperti seorang putri kerajaan.


"Ini Isyan atau putri Kerajaan Majapahit?"ujar Angga yang tak berkedip.


"Ini sih Kak Isyan yang bakal jadi the rissing starnya"puji Rara.


"Kalian ini jangan terlalu memuji. Aku udah cobain semua bajunya, jadi aku mau ganti bajunya, udah gerah banget"ujar Isyan lalu masuk ke kamar tamu lagi.


Isyan berjalan menuju kaca yang berdiri tegak di sudut kamar. Isyan memandangi dirinya sendiri. Seulas senyum tipis terukir di wajahnya.

__ADS_1


"Lihatlah Arya, aku nampak cantikkan memakai kebaya ini? Kapan aku bisa memakai kebaya di acara pernikahan kita"ujar Isyan dengan tatapan sendu.


Tak pelak air matanya menetes membasahi pipinya.


"Apa kamu akan memuji kecantikanku?"tanya Isyan dalam isak tangisnya.


"Aku sangat merindukanmu, bagaimana kabarmu? Apa kamu sudah mengingatku Arya"ujar Isyan.


Sementara di ruang keluarga masih dengan kehebohan fitting baju.


"Maaf nyonya,bada pihak dari katering ingin bertemu"ujar pelayan pada Ratih.


"Oh ya baiklah. Ayo Sinta dan Bu Laras kita harus taster buat katering acara besok"ajak Ratih.


"Baiklah"sahut laras lalu mengikuti langkah Ratih dan Sinta.


"Ra, aku mau cari es tebu. Kamu mau ikut?"tanya Dion.


"Nggak ah..aku mau cek souvenir buat acara besok"ujar Rara.


"Kamu pergi sama Papah Angga aja Yon, katanya dia tahu tempatnya"ujar Rama.


"Nah bener tuh. Yuk Pah keburu Rara ngomel nanti"ajak Dion.


"Oke tancap gas"ujar Angga lalu pergi dengan Dion.


"Permisi tuan"panggil seorang bodyguard.


"Ada apa?"tanya Kusuma.


"Saya mau menyampaikan informasi penting"ujar bodyguard.


Kusuma melirik Rama lalu disambut dengan anggukan.


"Rara, papah mau ke ruang kerja ya. Kamu jangan terlalu lelah. Inget ya kandungan kamu"ujar Rama mengelus rambut Rara.


"Siap Pah"ujar Rara.


Kusuma dan Rama serta bodyguard itu pergi menuju ruang kerja Kusuma.


"Ada informasi apa?"tanya Kusuma.


"Tuan Arya kemarin mengalami kecelakaan mobil, untung saja dia selamat dan tidak ada luka serius. Sekarang dia masih dirawat di rumah sakit. Kemungkinan besok dia sudah diperbolehkan pulang"jawab bodyguard itu.


"Ada lagi?"tanya Rama.


"Tuan Arya, sudah kembali mengingat masa lalunya"jawab bodyguard.


Kusuma dan Rama saling memandang memberi senyum kebahagiaan.


"Baiklah kamu bisa kembali"ujar Kusuma.


Bodyguard itu lalu meninggalkan ruang kerja Kusuma.


"Apa kita perlu sampaikan berita ini Kak?"tanya Rama.


"Jangan...biarkan Arya yang datang ke sini. Apa kamu lupa, dia sudah membuat Isyan patah hati karena sudah menyatakan cinta pada Si Ratna. Jadi biarkan dia yang membujuk Isyan"ujar Kusuma tersenyum.

__ADS_1


"Sepertinya kakakku ini ingin membuat drama pertemuan dua kekasih ya"ujar Rama terkekeh.


"Ya itu keahlianku selain membuat kerajaan bisnis"ujar Kusuma tertawa.


__ADS_2