
Malam pun tiba, keluarga Wiijaya dan Praditya sudah bersiap berangkat ke Wijaya Hotel. Pesta diadakan di ballroom yang sama untuk acara pertunangan dan pernikahan anak mereka. Ballroom didekor dengan begitu mewah, elegan, dan private. Disediakan juga beberapa meja bundar serta kursi yang dikhususkan untuk tempat duduk keluarga, dan tamu VVIP
Sementara tamu lain yang hadir cukup berdiri saja. Keluarga wijaya dan rombongan sudah sampai mereka pun duduk tak berapa lama disusul tamu VVIP dan tamu yang lain. Keluarga Wijaya duduk di barisan paling depan lalu Gavin dan Surya berada di barisan ke dua dibelakang mereka.
Acara pun dimulai, Dion yang memberi ucapan selamat datang pada para tamu dan media.
"Baiklah mari kita panggil direktur utama Wijaya Group, dia Isyana Kusuma Wijaya"panggil Dion disambut tepuk tangan semua orang dan semua mengalihkan pandangan ke pintu ballroom.
Lampu sorot di arahkan ke pintu masuk ballroom lalu pintu terbuka. Munculah Isyana dengan gaun berwarna gold model suit body dengan bagian bahu hingga punggung terbuka dan belahan gaun di samping kanan setinggi lutut membuat kesan glamour dan seksi. Make up nuansa smokey look dengan rambut terurai dan memakai perhiasan berlian warna senada dengan gaun.
Isyan pun masuk ke dalam ballroom berjalan dengan anggun bak Miss Universe. Semua mata tertuju padanya tak terkecuali Gavin. Gavin terpana melihat wanita yang sedingin es batu bisa secantik dan seanggun itu. Isyan pun naik panggung bersama Dion. Isyan maju dan berdiri di podium.
"Selamat malam semua. Hari ini adalah acara peresmian proyek pembangunan hotel baru milik Wijaya Group"ujar Isyan.
Lalu munculah di layar LED gambaran hotel yang akan dibangun.
"Hotel ini saya buat bukan hanya untuk mengembangkan bisnis Wijaya Group. Tapi untuk mengenang orang yang saya cintai"ujar isyan dengan nada bicara tenang tapi masih dengan tatapan dingin.
Gavin berpikir sejenak manusia manakah yang beruntung mendapat dedikasi itu dari seorang Isyana. Apa orang itu pria? Sahabat,kekasih atau suami? Entah kenapa Gavin memikirkan status kliennya ini.
"Dia yang menjadi sumber kebahagiaan saya, yang selalu saya ingat, yang selalu saya rindukan. Maka dari itu hotel ini saya dedikasikan untuk dia. Dan nama hotel ini adalah..."
Isyan menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan.
"Arya Hotel"terang Isyan
Seluruh keluarganya saling melirik satu sama lain. Angga dan Laras terharu melihat kesetiaan dan cinta Isyan terhadap Arya sampai saat ini. Sebenarnya Isyan bisa mendapatkan pria lain tapi dia berat hati melepaskan cintanya walaupun dia tiada. Isyan mundur dari podium karena dia sedang menahan tangis. Dion pun menggantikan tempat Isyan di podium.
"Dan perusahaan kontraktor yang beruntung mengerjakan proyek ini adalah perusahaan..."
"PT Surya Kontraktor silahkan Pak Surya dan Gavin naik ke atas panggung"ucap Dion disambut tepuk tangan.
Surya dan gavin berjalan ke atas panggung lalu mereka berbalik badan menghadap ke depan.
Serasa ada petir yang menyambar begitu keras. Betapa terkejutnya keluarga Isyan saat melihat wajah Gavin mirip seperti arya. Terutama Angga, Laras, dan Rara. Mereka sampai terisak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sesuai perintah Dion, keluarga Wijaya menenangkan keluarga Angga agar tetap tenang dan melihat apa yang terjadi. Gavin pun berbicara di podium dengan gagah dan karismanya.
"Saya Gavin Saputra putra dari Surya Saputra..."
Keluarga Isyan dan Angga terkejut saat Gavin yang mereka kira adalah Arya menyebut namanya. Bagaimana bisa namanya berubah?
"Suatu kehormat bisa bekerja sama dengan Wijaya Group dengan sebaik mungkin saya akan membangun hotel istimewa yang Bu Isyan dedikasikan untuk orang yang dia cintai"ujar Gavin melirik Isyan.
Tak terasa air mata Isyan menetes tapi dia berusaha tegar, dan Dion menggenggam tangan Isyan erat memberi dia kekuatan.
"Ini adalah impian saya, bisa mendapatkan proyek pembangunan hotel. Saya akan bekerja dengan baik. Terima kasih"ujar Gavin menutup sambutannya.
Kemudian Isyan dan Dion menyalami Surya dan Gavin di atas panggung. Entah kenapa genggaman Gavin saat bersalaman cukup kuat. Isyan merasa jantungnya berdegup kencang, air matanya hendak menetes.
"Ekhem.." Dion pun berdeham yang membuat Gavin melepas tangan Isyan.
__ADS_1
"Mari saya perkenalkan dengan keluarga saya"ajak Dion.
Lalu mereka turun dari panggung menuju meja keluarga Wijaya dan Angga. Dion memperkenalkan keluarga Wijaya lalu memperkenalkan keluarga Angga.
"Mereka adalah keluarga Arya yang namanya digunakan sebagai nama hotel baru kami"ujar Dion.
Laras menatap begitu dalam pria yang ada di depannya. Dia tidak memanggilnya dengan sebutan mamah. Laras merasa pilu bagaimana dia mirip dengan Arya tapi tak mengingat dia adalah ibunya.
"Boleh aku memelukmu Nak?"tanya Laras tiba-tiba.
Gavin diam tak menjawab dan Laras langsung memeluknya. Entah kenapa Gavin tidak bisa menolaknya. Ada rasa nyaman dibenaknya saat dipeluk wanita paruh baya itu. Setelah Laras melepas pelukannya giliran Angga yang memeluk Gavin. Gavin pun membalas pelukan Angga. Rasa nyaman yang sama itu yang Gavin rasakan.
"Kak,boleh aku memelukmu juga?"tanya Rara.
Gavin pun mengangguk dan sedikit tersenyum. Lalu Rara memeluk Gavin seperti adik memeluk kakaknya. Terdengar suara lirih Rara yang menyebut Gavin dengan sebutan kakak.
"Eits...istriku sayang jangan memeluk dia terlalu lama. Kamu mau anak kita mirip dia!!"celoteh Dion yang memecahkan suasana.
Semua orang tertawa walaupun agam terpaksa agar suasana tidak canggung. Acara dilanjut dengan makan malam bersama. Ternyata Kusuma sudah akrab dengan Surya, karena ternyata mereka teman saat SD dulu. Sementara Gavin mulai akrab dengan Dion sementara dengan Isyan, dia masih saling mengejek satu sama lain.
"Bu Isyan kapan pembangunan akan dimulai?"tanya Gavin yang satu meja dengan Isyan.
"Ibu? Jangan panggil aku Ibu. Memangnya aku menikah sama ayahmu apa?"ketus Isyan.
Gavin memanyunkan bibirnya dan kesal dengan jawaban Isyan.
"Panggil aku Isyan. Setua itukah aku? Padahal aku sangan cantik. Dasar pria aneh"celoteh Isyan dengan sombong.
Dion dan Rara yang melihat pertengkaran itu pun hanya menggelengkan kepala dan menahan tawa.
"Emang aku kaya raya. Tidak usah macam-macam atau aku batalikan kerja sama ini. Diam dan nikmati pestanya"telak Isyan membentak.
"Dasar menyebalkan"ujar gavin mulai ngegas menghentakkan kakinya karena kesal dengan sikap jutek Isyan.
Acara pun selesai sudah dan semua meninggalkan hotel. Sementara di kediaman keluarga Wijaya, Isyan dan Dion memberi penjelasan kepada keluarga mereka. Dan akhirnya mereka mengerti apa yang terjadi.
"Arya tidak punya kembaran"ujar Angga.
"Nah masalahnya disitu Pah, kita belum tahu kebenarannya. Tapi intinya dengan adanya kerja sama ini kita bisa selidiki semuanya. Jadi papah sama mamah tenang aja nggak usah mikir macam-macam"ujar Dion.
"Tapi mamah khawatir Yon, masa dia nggak inget mamah"ujar Laras menangis.
"Bu Laras yang sabar ya, pasti Allah akan memberi petunjuk"ujar Ratih menenangkan Larasm
"Papah Angga sama Mamah Laras, siapapun dia mau Arya atau bukan, Isyan di sini tetep jadi anak kalian. Jadi kalian nggak usah khawatir. Doain Isyan semoga bisa mengungkap semua kebenaran"ujar Isyan dengan senyuman.
Tiba-tiba rara merengek dan tangisannya cukup keras. Semua orang terkejut dan kelihatan bingung melihat perubahan sikap Rara secara mendadak.
"Anak mamah kenapa? Kok nangis? Kasihan bayinya ikut sedih"ujar Sinta.
__ADS_1
"Kalian semua cuma mikirin Kak Arya. Nggak mikirin aku"ujar Rara.
"Siapa yang bilang gitu. Kita mikirin Rara juga kok. Apalagi Rara lagi hamil"sambung Rama.
"Emang Rara kepengin apa? Coba ngomong nanti kita cariin"ujar Kusuma.
"Rara kepengin soto ayam"ujar Rara.
"Hah? Ra ini udah setengah dua belas malem, bentar lagi kuntilanak muncul masa ada tukang soto. Serem ih"ujar Dion bergidik ngeri sambil berlutut di depan Rara.
"Pokoknya Rara mau soto ayam sekarang tapi warungnya harus yang warna hijau"ujar Rara manja.
Semua orang saling memandang mendengar permintaan absurd Rara. Mereka pun tertawa terbahak bahak. Memang akhir-akhir ini Rara selalu meminta hal-hal aneh yang sulit dipikirkan.
"Rasain kamu Yon, udah sana pergi cari aja itu soto sampe ketemu. Dari pada tidur di luar kan?"ejek Isyan.
"Awas kamu Syan, aku buang ke laut baru tahu rasa"gerutu Dion.
"Mas..ayo cariin"rengek Rara.
"Iya iya...Mas pergi ya. Dadah bumilku yang cantik"ujar Dion mengecup kening Rara lalu pergi.
"Kuntilbapak mulai berkeliaran"ujar kusuma.
"Hah kuntilbapak? Bukannya kuntilanak kan Kak?"tanya Rama.
"Lah anakmu kan cowok dan calon bapak jadinya kuntilbapak dong, kuntilbapak berkeliaran cari soto ayam di warung hijau"jawab Kusuma tertawa.
Sementara di rumah Surya, Gavin sedang duduk di sofa ruang keluarga. Berkali kali mengingat saat keluarga Arya memeluk dia. Rasanya sangat nyaman dan Gavin merasa pernah merasakaan pelukan itu sebelumnya.
"Vin kok belum tidur?"tanya Surya.
"Belum ngantuk Pah"jawab Gavin.
Surya berjalan menghampiri Gavin lalu duduk di sebelah putranya itu.
"Apa yang kamu pikirin cerita sama papah"ujar Surya.
"Papah ngerasa aneh nggak sih, keluarga siapa yah yang namanya jadi nama hotel..."
"Arya.."sambung Surya.
"Nah Arya, kok waktu ngeliat Gavin tatapan mereka beda. Kayak pernah deket sama Gavin rasa pelukannya pun beda"ujar Gavin.
Surya terdiam mendengar anaknya bercerita.
"Vin..."ujar Surya menepuk bahu Gavin.
"Mungkin mereka merindukan sosok anak mereka yang bernama Arya itu. Nggak papalah menyenangkan orang lain kan dapat pahala"ujar Surya.
__ADS_1
"Ya bener juga sih. Ya udah Gavin ke kamar ya Pah. Selamat malam"ujar Gavin beranjak pergi.
Surya menghela napas dengan kasar banyak hal terlintas di pikirannya. Tapi entah bagaimana dia mengungkapkannya.