
Gavin merasa kesal dengan kedekatan Ratna dan Aldo. Mereka terlihat akrab ketika mengobrol sesekali tertawa lepas. Gavin menjatuhkan diri ke sofa, dan sesekali memukuli sofa yang tidak bersalah. Kasian sofa itu harus menjadi pelampiasan atas kekesalan Gavin.
"Kenapa aku jadi kesal dengan mereka?"ujar Gavin mencoba duduk tegak.
"Tapi tetap saja aku tidak suka. Apalagi saat mereka tertawa. Rasanya aku ingin mencekik leher Aldo"gerutu Gavin sambil mengepalkan tangannya.
Terdengar suara ketukan pintu ruangan Gavin, tapi dia menghiraukan. Lalu masuklah Isyan sambil membawa buku catatan.
"Pak Gavin"
BRUG
Isyan terperanjat saat panggilannya disambut suara keras dari tendangan Gavin ke meja yang ada di depan sofa yang didudukinya. Isyan menatap Gavin tanpa berkedip dengan rasa terkejut setengah mati yang berhasil membuat merinding dan kakinya melemas.
"Bapak sehat?"tanya Isyan ragu-ragu.
Gavin tersadar akan kehadiran Isyan. Dia nampak gugup karena pasti Isyan sudah melihat kekesalannya yang dia lampiaskan pada meja tadi. Wajah Gavin memerah lalu dia bangkit dan kembali ke kursinya. Isyan berbalik berdiri menghadap Gavin yang sudah duduk.
"Kenapa?"tanya Gavin ketus.
"Hari ini agenda bapak hanya meeting dengan klien jam dua siang. Sisanya kosong Pak"ujar Isyan sembari membaca buku.
"Baiklah"jawab Gavin singkat tanpa menoleh pada Isyan.
Isyan nampak bingung dengan sikap Gavin yang tiba-tiba mengacuhkannya. Saat Isyan hendak keluar dari ruangan Gavin, laki-laki itu mencegahnya.
"Tunggu!"ujar Gavin menghentikan langkah Isyan.
"Iya Pak"jawab Isyan berbalik badan.
"Saya akan keluar kantor, kamu hubungi saya jika waktu meeting sudah dekat"ujar Gavin sambil bangki dari kursi.
Lalu Gavin keluar dari ruangannya dan meninggalkan Isyan yang masih berdiri mematung.
"Dia benar-benar cemburu?"ujar Isyan sedikit senang tapi bingung.
*****
Di rumah sakit.
Dion menemani Rara memeriksakan kandungannya sebelum berangkat ke kantor. Dokter mengatakan kandungan Rara menginjak usia lima bulan, bayinya sehat dan keadaan Rara juga sudah sehat.
Masih di rumah sakit yang sama, ternyata alasan Gavin keluar kantor adalah untuk pergi ke rumah sakit. Karena akhir-akhir ini kepalanya sering sakit dan sering muncul bayangan hitam.
Dia menemui dokter spesialis neurologi, dokter khusus yang menangani masalah di otak. Dokter pun menjelaskan bahwa sepertinya Gavin pernah mengalami kecelakaan besar yang membuatnya gegar otak. Gavin pun mengiyakan karena dulu pernah hampir sebulan di rumah sakit, tapi dia tidak ingat kecelakaan apa. Dan dokter juga menjelaskan bayangan hitam yang sering muncul di otaknya adalah bagian dari ingatannya. Dan ingatan itu muncul jika Gavin sedang mengalami peristiwa yang hampir mirip seperti yang dia alami di masa lalu.
Setelah selesai berkonsultasi, Gavin meninggalkan ruangan dokter itu. Di waktu yang bersamaan Rara dan Dion juga baru keluar dari ruang dokter kandungan. Mereka berpapasan di pertigaan koridor rumah sakit.
"Loh Gavin!"sapa Dion mendahului.
__ADS_1
"Hai Dion"balas Gavin tersenyum.
"Kak Gavin sedang apa di rumah sakit?"tanya Rara.
"Oh aku baru konsultasi dengan dokter neurologi"ujar Gavin.
"Kamu punya masalah di otak? Saraf? Atau..."
"Aku belum gila Dion"ujar glGavin memotong perkataan Dion.
Dion dan Rara tertawa mendengar perkataan Gavin yang tahu bahwa Dion akan menyebut kata gila.
"Baik-baik. Bagaimana kalau kita ngobrol sambil makan. Apa kamu sedang sibuk?"tanya Dion.
"Tidak...aku meeting siang nanti"jawab Gavin.
"Baiklah istriku..kamu pasti lapar juga kan. Ayo kita makan bersama Gavin"ajak Dion.
Mereka bertiga pun meninggalkan rumah sakit dan pergi ke restoran yang tak jauh dari rumah sakit. Setelah sampai mereka pun memilih tempat duduk dan memesan makanan. 20 menit kemudian makanan yang mereka pesan pun sudah diantar dan segera mereka makan terlebih dahulu.
"Baik Gavin, katakan apa kamu gila?"ledek Dion tertawa.
"Kalau aku gila harusnya aku ke rumah sakit jiwa"ujar Gavin.
"Ayolah Kak cerita"pinta Rara.
Gavin pun menceritakan apa yang dikatakan dokter. Rara dan Dion pun saling memandang dan nampak terkejut. Tapi mereka berusaha mengontrol rasa terkejut mereka.
"Aku sudah sering bertanya. Katanya cuma kecelakaan mobil"jawab Gavin.
"Ya mungkin Kak Gavin tidak ingat kan. Tak masalah Kak, yang penting kamu sehat"ujar Rara dengan senyum manis.
Gavin yang mendapat senyuman itu dari Rara merasa tersentuh oleh perkataan rara. Seperti ada rasa kasih sayang di hatinya untuk wanita di depannya. Tapi bukan rasa sayang pada seorang pria tapi lebih kepada rasa sayang untuk kakak.
Hal ini membuat keheningan di tengah obrolan mereka. Dion pun memecahkan suasana dengan bercerita tentang kandungan Rara dan seberapa antusiasnya menyambut kelahiran calon anaknya. Gavin pun merasa antusias dengan kelahiran calon anak Sion. Entah mengapa dia merasa seperti itu. Padahal dia tidak ada hubungan dengan mereka.
Setelah puas mengobrol mereka hendak pulang.
"Maaf Dion, bolehkah aku memegang perut istrimu"ujar Gavin setelah beranjak dari kursi
Rara dan Dion saling memandang penuh kebingungan.
"Aku tidak bermaksud mendekati istrimu. Aku tidak menyukai istri orang. Aku hanya merasa rlRara seperti adikku"ujar Gavin menjelaskan.
Mendengar perkataan Gavin, mata Rara mulai berkaca-kaca. Hatinya bergetar mendengarnya. Lalu Dion merangkul bahu Rara memberi isyarat agar mengiyakan permintaan Gavin. Rara memberi anggukan. Dengan senyum bahagia Gavin memegang lalu mengelus perut Rara dengan lembut.
"Hai adik bayi...sehat-sehat disana ya nanti setelah kamu lahir bisa main sama Om"ujar Gavin mendekat pada perut Rara.
Setelah itu Gavin pamit kembali ke kantor, sementara Dion mengantar Rara pulang dulu baru dia akan ke kantor.
__ADS_1
*****
Sesampainya di kantor, Gavin langsung rapat dengan klien ditemani oleh Ratna sekertarisnya. Isyan nampak bingung dengan sikap Gavin yang lebih diam dari biasanya. Setelah satu jam rapat pun selesai. Gavin pun kembali ke ruangannya.
"Ratna!"panggil Gavin sebelum masuk ke ruangannya.
"Iya Pak"jawab Isyan.
Gavin melirik dua kotak makan yang ada di pojok meja kerja Isyan. Dia merasa sekertarisnya pasti membawakannya makan siang sesuai permintaannya kemarin.
"Kamu belum makan siang?"tanya Gavin.
Isyan menggelengkan kepalanya. Sebenarnya Gavin sudah makan tadi bersama Rara dan Dion. Tapi itu sebelum jam makan siang, dan sekarang dia sudah lapar lagi.
"Makanlah di ruangan saya"ujar ^avin lalu masuk ke ruangannya.
Isyan tersenyum mendengar perkataan Gavin. Lalu Isyan masuk ke ruangan Gavin dan membawa bekal yang dia bawa. Gavin duduk di sofa menunggu Isyan. Isyan langsung membuka kotak makan dan mereka pun makan bersama.
"Bagaimana kamu bisa pintar masak?"tanya Gavin.
"Karena saya belajar memasak bukan belajar karate, Pak"jawab Isyan datar.
Gavin mendengus kesal mendengar jawaban nyeleneh sekertarisnya itu.
"Kamu ada hubungan apa dengan Aldo?"tanya Gavin.
Isyan tersedak mendengar pertanyaan Gavin. Gavin pun langsung memberikan Isyan minum..
"Aduh imanku jadi luntur nih kalau ditanyain kayak gini"batin Isyan sambil mencengkeram gelas.
"Kenapa diam?"tanya Gavin.
"Lagi nelen air Pak"jawab Isyan ketus.
"Kamu beneran nggak ada huhungan sama Aldo kan?"tanya Gavin lagi.
"Memang kenapa Pak?"tanya Isyan balik.
"Saya nggak suka jika ada karyawan yang menjalin hubungan dengan sesama karyawan. Kalau sampai ada yang seperti itu maka saya akan memecatnya"tegas Gavin.
Bukannya takut isyan malah tertawa mendengar perkataan Gavin yang menurutnya lucu dan tidak masuk akal.
"Pak, waktu saya menandatangani kontrak kerja nggak ada tuh peraturan kaya gitu. Bapak ngaco nih"ujar Isyan terkekeh.
"Loh saya bosnya, kenapa jadi kamu yang ngatur"seru Gavin yang membuat Isyan berhenti tertawa.
"Iya iya..bos mah bebas"ujar Isyan sambil merapikan kotak makan lalu dia berdiri.
"Kalau bapak emang cemburu juga nggak papa"gumam Isyan.
__ADS_1
"Apa?"tanya Gavin menoleh cepat.
"Oh nggak papa kok Pak. Saya permisi"ujar Isyan buru-buru keluar.