
Setelah makan siang, tentu saja tak berhenti sampai situ drama mereka. Karena masih ada kelanjutannya.
Seusai makan, Rara memasang wajah cemberut sambil mengelus perutnya. Isyan dan Dion saling memandang, pikiran mereka sama. Pasti akan ada permintaan absurd dari Rara.
"Mas aku masih laper"ujar Rara menatap Dion.
"Kamu pengin makan apalagi sayang?"tanya Dion sambil mengelus rambut Rara.
"Cake coklat"jawab Rara.
"Ya udah, aku minta pelayan buat bikinin kamu cake coklat"jelas Dion.
"Aku nggak mau cake bikinan pelayan"seru Rara.
"Terus siapa yang bikin? Aku?"tanya Dion menunjuk dirinya.
Rara menggelengkan kepala seraya menoleh ke arah Gavin dan Isyan yang ada di seberang.
"Aku pengin yang bikin cakenya Kak Gavin sama Ratna"ujar Rara dengan polosnya.
"APA???"
Gavin dan Isyan berteriak bersamaan karena terkejut mendengar permintaan Rara. Gavin dan Isyan saling memandang penuh kebingungan.
"Gavin, Ratna, bisakah kalian membuat cake coklat untuk rlRara? Tolong dia sedang nyidam. Aku tidak mau membuat dia sedih dan mempengaruhi janinnya"ujar Dion dengan wajah memelas
Jujur Isyan antara mau dan tidak mau. Melihat wajah memelas Dion rasanya ingin Isyan menyiramnya dengan jus jeruk yang ada di hadapannya. Ini sebenarnya akal-akalan Rara atau memang beneran dia nyidam. Hanya itu yang Isyan pikirkan. Sementara Gavin masih melongo dan belum memberikan jawaban.
"Aku mohon..."sambung Rara dengan isakannya.
Akhirnya Gavin dan Isyan pun mengiyakan permintaan Rara. Mereka pergi menuju dapur, pelayan sudah menyiapkan bahan untuk membuat cake coklat. Gavin dan Isyan berdiskusi dulu untuk membagi tugas sebelum membuat cakenya.
"Apa yang harus aku lakukan?"tanya Gavin.
"Ayak dulu tepung terigu, baking powder dan bubuk coklatnya"ujar Isyan sambil menunjukkan alat dan bahannya.
Sementara Isyan punya tugas mengocok telur dan gula di mixer duduk atau mixer stand.
"Aku sudah selesai mengayak"ujar Gavin.
"Bawa kemari semuanya"ujar Isyan.
__ADS_1
Gavin pun mengampiri Isyan dan memberi wadah stainless steel berisi adonan kering. Isyan pun menuangkan secara perlahan tepung itu. Tapi karena gerakan mixer yang cepat membuat tepungnya berhamburan di udara.
"HACHUU!!"
Tiba-tiba Gavin bersin persis di depan Isyan yang sedang menuangkan tepung. Isyan terkejut saat Gavin bersin dan sudah dipastikan butir-butir air yang keluar dari hidung dan mulut Gavin berjatuhan ke dalam adonan kue.
"Yah Pak Gavin, nularin virus nih"celoteh Isyan lalu mematikan mixer.
"Ya maaf, ini hidung nggak ngode dulu mau bersin"bela Gavin sambil mengusap hidungnya.
Mau tidak mau Isyan harus membuang adonan tadi yang terkontaminasi bersinnya Gavin. Isyan hendak pergi menuju tempat sampah yang ada di belakang Gavin, sementara Gavin hendak ke wastafel yang ada di belakang Isyan. Mereka pun bergerak secara bersamaan.
Mereka saling bertabrakan hingga wadah berisi tepung terlempar dan tepung pun berhamburan mengotori lantai dan tubuh mereka.
"Ih Pak Gavin gimana sih jalannya nggak lihat-lihat. Jadi kotor kan?"celoteh Isyan mengibaskan kaosnya yang kotor.
"Kok jadi saya yang salah. Kamu juga mau jalan nggak bilang"ujar Gavin tak mau kalah.
Isyan merasa kesal dan hendak beranjak ke kamar mandi. Tapi karena lantai licin akibat tepung, Isyan pun terpeleset. Gavin dengan sigap meraih tubuh Isyan, tapi karena kaki Gavin tidak bertumpu dengan baik dia pun ikut terjatuh ke lantai dan menindih Isyan.
Wajah mereka hanya berjarak lima senti membuat jantung Isyan berdetak kencang. Isyan merasakan sentuhan Gavin di pinggangnya. Gavin menatap Isyan begitu dalam dengan napas yang saling bersahutan.
"Aduh Pak berat tauu..."ujar iIyan memecahkan lamunan.
Sementara Dion dan Rara, sedang tertawa di dalam kamar. Sebenarnya mereka melihat semua yang terjadi di dapur. Saat mendengar suara jatuhnya wadah stainlees steel, mereka keluar dari kamar. Dan terkejut melihat adegan tindih menindih di dapur. Mereka menyaksikannya dari balik tembok pembatas antara dapur dan ruang makan.
"Ya ampun, aku nggak nyangka bisa lihat kejadian itu"ujar Rara masih tertawa.
"Ternyata nyidammu itu bermanfaat juga ya sayang"ujar Dion tak kalah hebohnya.
Setelah dua jam bergelut di dapur, akhirnya cake coklatnya matang. Isyan menyuruh pelayan memanggilkan Dion dan Rara. Mereka pun berkumpul di ruang tamu untuk menikmati cake coklat bersama.
"Kalian itu habis bikin cake coklat apa habis jadi kuli? Kenapa baju kalian kotor gitu?"tanya Dion pura-pura tidak tahu.
"Ah tadi ada insiden sedikit"ujar Gavin menggaruk tengkuk kepalanyam
"Ayo Rara...nikmati cake coklatnya"ujar Isyan dengan penakanan di setiap kata dan pelototan kepada Rara.
"Ah terima kasih Kak Gavin dan Ratna. Kalian sudah menuruti nyidamanku. Kalian sangat baik, semoga kalian berjodoh ya"ujar Rara dengan gemulai.
Mendengar ocehan istrinya, Dion menahan tawanya karena melihat tatapan tajam dari Isyan yang diarahkan pada Rara. Dion pun hanya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Dion, hari sudah sore sepertinya aku harus pulang"ujar Gavin.
"Oh baiklah"balas Dion.
"Maaf ya atas kesalahanku kemarin"ujar Gavin.
"Tak apa Gavin. Kamu kan tidak tahu jika aku alergi kerang"ujar Dion menepuk bahu Gavin.
"Ratna, kamu pulang sekalian bareng saya"ajak Gavin.
Isyan mengernyitkan dahinya mendengar ajakan Gavin untuk pulang bersama. Padahal weekend biasanya Isyan tidur di rumah utama. Dion memberi kode pada Rara untuk bicara.
"Iya Ratna, daripada kamu naik taksi kan lumayan irit ongkos"ujar Rara mengedipkan kedua matanya.
Isyan memanyunkan bibirnya melihat keusilan saudaranya itu. Sebenarnya Isyan dijemput oleh sopir pribadi untuk ke rumah utama bukan naik taksi. Tapi Isyan heran dengan ide konyol Rara menyuruhnya pulang bersama dengam Gavin.
"Aku tidak mau. Aku bisa pulang sendiri"tolak Isyan.
"Memang kamu mau ngapain di sini? Lebih baik pulang kan?"ujar Gavin.
"Ayolah Eatna, dianterin cowok ganteng kok nggak mau sih"goda Rara sambil menyenggol-nyenggol tubuh Isyan.
Isyan memutar bola matanya dengan malas. Lalu dia menurut untuk pulang bersama Gavin karena sudah malas berdebat. Sementara Dion dan Rara tertawa puas dengan drama hari ini yang sangat menyenangkan.
Di dalam mobil, Isyan hanya diam menatap ke arah luar jendela.
"Kamu sepertinya dekat dengan keluarga Wijaya? Kamu sering ke sana?"tanya Gavin memecahkan keheningan.
"Saya baru pertama ke rumah itu dan saya cuma deket dengan Rara. Saya juga nggak tahu kalau suaminya Rara itu Pak Dion"ujar Isyan memberi penjelasan.
"Oohh gitu. Tapi sepertinya kamu sudah tahu seluk beluk rumah itu"tambah Gavin.
Isyan memejamkan mata karena merasa pertanyaan Gavin seperti menaruh rasa curiga terhadapnya.
"Itu cuma perasaan bapak aja. Sebelum bapak datang, saya kan udah diajak keliling sama Tara"jelas Isyan.
"Kamu sedang tidak menyembunyikan sesuatu kan?"tanya Gavin.
Isyan terbrlalak mendengar pertanyaan Gavin. Bingung harus jawab apa. Tapi Isyan berusaha setenang mungkin.
"Menurut bapak, tampang kaya saya pantes jadi anggota keluarga Wijaya? Bapak ini ada-ada aja?"ujar Isyan santai.
__ADS_1
Gavin hanya memandangi Isyan. Masih mencoba menerka-nerka. Apa yang diucapkannya benar atau tidak. Tapi entah tiba-tiba senyum simpul terlukis di bibirnya. Gavin teringat dengan kejadian saat membuat cake. Sungguh itu membuat jantung Gavin berdetak lebih kencang. Rasaya sangat aneh ketika berada dekat dengan Ratna. Seperti ada sesuatu rasa yang dia nantikan sejak lama.